Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Rindu Uwais yang terpendam


__ADS_3

Malam sudah mulai larut, bahkan hampir menunjukan waktu dini hari. Seharian ini aktivitasku begitu padat. Beberapa tugas pembukuan dan pengembangan usahaku pun aku selesaikan setelah ketiga anakku tidur tadi.


Kini tibalah saatnya aku memejamkan kedua mataku yang sudah teramat lelah. Sebelum itu aku pandangi wajah anakku satu persatu. Kakiku melangkah ke arah Shanum yang tidur di dalam box bayinya. Aku pastikan bahwa keadaan tidurnya aman, mulai dari membetulkan selimut dan membetulkan kelambu penghalang nyamuk.


Langkah selanjutnya ke arah Umar yang dalam lelapnya sedikit mendengkur lembut akibat lelah seharian bermain di halaman depan. Aku kecup keningnya dengan lembut. Aku tarik selimutnya yang setengah menyingkap pada tubuhnya itu.


"Abi... Abi... Abi... Rindu Abi.... Hemmmhhh... Huuuu...". Belum sempat aku melangkah ke arah Uwais, rengekannya dalam mimpinya mulai terdengar di telingaku dengan merintih.


Seketika aku pun menghampirinya. Aku usap keningnya yang tampak berkeringat banyak. Betapa terkejutnya aku yang mendapati rabaan tanganku terasa panas yang menandakan bahwa dirinya demam.


Suara rintihan dirinya terus memanggil abinya itu pun memekik suasana di malam yang dingin itu. Perasaanku mulai panik. Mataku yang sejak tadi telah sayu karena menahan kantuk, seketika lupa dengan rasa itu.


Segera aku ambil handuk basah untuk mengkompres keningnya. Tak lama aku mengusap beberapa bagian wajahnya, kemudian aku mengambil obat penurun panas yang ada di kotak obatku itu. Perlahan aku berusaha memposisikan setengah duduk tubuhnya. Aku minumkan obat itu padanya sekaligus memberikan segelas air putih padanya.


Wajahnya tampak memucat. Matanya memandangku sayu dengan tatapan kosong. Seketika aku baringkan kembali dirinya seperti semula. Aku terus perhatikan perkembangan efek obat yang aku berikan untuk memastikan bahwa kondisi demamnya menurun.


Sekuat tenaga aku menahan kantuk dan duduk di samping Uwais. Detik jam dinding mulai terdengar kencang menandakan keheningan malam yang tanpa ada kebisingan suara layaknya siang hari. Meski menahan cemas, sebisa mungkin aku mencoba menenangkan hatiku agar tak kacau dalam memberikan penanganan pada Uwais.


Sejam berlalu, aku kembali menyentuh kening dan pipinya yang masih terus basah akibat keringatnya yang bercucuran. Demamnya masih sama tanpa ada perubahan sedikit pun. Bahkan rintihan suaranya memanggil abinya semakin menjadi.


Perasaanku mulai kacau tak karuan khawatir akan keadaan putra sulungku itu. Aku ambil gawaiku hendak menelepon kakakku, tapi segera aku urungkan, sebab aku ingat ia sedang ada pekerjaan di luar kota.


Seketika pikiranku tertuju pada Deri. Ingin sekali aku menghubungi dirinya untuk membantuku saat itu. Namun hatiku meragu, sebab telah lama ia tak pernah ada kabar kepada kami. Beberapa kali aku menghubunginya namun nomornya seperti sengaja dimatikan. Video call pun tak pernah lagi ia lakukan, bahkan dirinya kini seperti menghindar. Akhirnya aku pun mengurungkan niatku untuk menghubunginya.


Dini hari yang mencekam itu aku melangkah ke luar garasi mobil. Segera aku hidupkan mobilku dan menyiapkan bekal perlengkapan untuk membawa Uwais ke rumah sakit.


Aku pandangi wajah ketiga anak-anakku itu. Tak mungkin aku meninggalkan Umar dan Shanum di rumah tanpa adanya aku. Akhirnya aku putuskan untuk membawa mereka semua ke rumah sakit.


Tubuh Uwais yang sudah semakin berat tidak seperti dahulu kugendong lebih awal menuju mobilku. Aku baringkan dirinya di jok belakang. Setelah dirasa aman, dengan sigap aku berlari menuju kamar kembali untuk mengambil Umar yang tidurnya sedang begitu pulas. Aku bopong dirinya sembari berlari ke arah mobil. Meski ada getaran saat aku bawa ia berlari, namun dirinya tetap pada tidurnya yang pulas.


Setelah itu kembali aku berlari kencang menuju kamar untuk mengambil Shanum dan segera menggendongnya. Sekaligus aku angkut sebuah tas rangselku yang sudah aku isi beberapa pakaian Uwais dan perlengkapan anak-anak yang lain.

__ADS_1


Aku tidurkan Shanum di jok depan agar lebih aman di perjalanan. Aku pastikan Uwais dan Umar dalam kondisi baik tidur di jok belakang. Secepatnya aku melangkah ke arah setir. Dengan nafas terengah-engah, aku duduk perlahan.


Aku menghela nafas panjang sebelum aku melajukan kendaraanku itu. Sebisa mungkin aku membuang perasaan gugupku terhadap kondisi Uwais agar aku bisa menyetir dengan tenang.


Sepanjang perjalanan terdengar rintihan Uwais yang terus memanggil abinya. Hatiku pun tak kuasa pada keadaan ini. Netraku dibuat berair mengiringi perjalananku ini. Diamnya Uwais selama ini rupanya ia memendam rindu yang teramat sangat pada Deri.


Sesampainya di ruang UGD, Uwais pun dengan segera ditangani oleh beberapa perawat dan dokter jaga di sana. Hatiku sedikit lega. Dengan sigap aku pun membopong Umar yang tengah terlelap di dalam mobil bersama Shanum ke arah bed pasien yang masih tersisa di ruang UGD itu. Aku titipkan ia pada perawat jaga di sana.


Sementara itu aku kembali berlari secepatnya ke arah mobil kembali untuk memakirkan mobilku ke halaman parkir dan memastikan keadaan Shanum di dalamnya.


Huft....Alhamdulillah Shanum baik-baik saja. Gumamku seraya menatap wajahnya yang tengah tertidur dengan wajah tanpa beban.


Tak lama kemudian aku kembali ke ruang UGD bersama Shanum dalam dekapanku dan sebuah tas rangsel bekal persiapanku tadi.


"Ibu sendirian aja ke sini?". Tanya salah satu perawat yang iba melihat keadaanku terpontang panting bersama ketiga anakku.


"Iya saya sendiri...". Jawabku sembari memperhatikan Uwais saat ditindak dan Umar yang terbaring di bed bersebelahan dengan Uwais.


"Anak ibu terserang tipus, dia harus dirawat untuk beberapa hari...". Ucap seorang dokter jaga yang sejak tadi menangani Uwais.


Ya Allah.... Berikan aku terus kekuatan untuk mampu menghadapi ini... Gumamku yang seketika menghela nafas panjang.


"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya...". Jawabku sembari menimang Shanum yang sedikit mulai terganggu dari tidurnya.


"Mari bu saya antar ke ruang perawatan... Biar kami bantu bawa anak-anak ibu masuk ke ruangan...". Kata salah seorang perawat tadi yang iba melihatku yang tampak kelelahan dan bermata sayu menahan kantuk.


Aku melangkah mengekor pada kedua perawat yang mendorong kedua anakku itu. Umar didorong menggunakan kursi roda, sementara Uwais dengan brangkart bed rumah sakit dengan posisi terbaring lemah dan sudah terpasang infus di tangan kanannya.


Dalam ruang kamar rawat inap, aku berusaha untuk tak memejamkan mataku, mengingat suhu tubuh Uwais yang belum begitu mereda.


Tak lama itu terdengar sayup-sayup suara Adzan Subuh berkumandang pertanda pagi menjelang.

__ADS_1


"Ehhmmmm.... Umi... Ini dimana??". Tanya Umar yang seketika terbangun dan mulai membuka matanya perlahan serta menggeliatkan tubuhnya. Matanya terbelangak sedikit terkejut memperhatikan ruangan yang lain dari biasanya.


"Kita di rumah sakit nak.... Kak Uwais sakit dan harus di rawat, jadi kalian semua umi bawa ke sini...". Ujarku menjelaskan.


"Hoammmm....". Suara Umar yang menguap.


"Umar jaga Shanum sebentar ya... Umi mau Sholat Subuh dulu....". Ucapku padanya yang masih mengucek-ngucek kedua matanya.


"Umar juga mau sholat umi....". Sahutnya lagi.


"Karena kondisinya mendesak... Kita sholatnya gantian ya nak... Nanti selepas umi selesai, Umar boleh sholat... Kak Uwais juga kan harus diperhatikan...". Pesanku padanya dan mendapati anggukan kepalanya pertanda mengerti.


****


Pagi ini setelah dokter visit ke ruangan, aku ingat bahwa hari ini adalah jadwalku mengisi konsultasi di aplikasi kesehatan wanita bagian dari kegiatan rutinku seminggu sekali itu. Aku pun mulai bingung akan kondisiku. Beberapa langkahku mondar mandir memikirkan bagaimana caraku bisa melakukan pekerjaanku sementara aku sedang begitu kerepotan.


Tak lama terdengar kembali Uwais merintih menyebut abinya. Seketika langkahku terhenti menatap dirinya dengan pandangan nanar. Rasa hatiku semakin tak tega membiarkan dirinya tersiksa batin begitu.


Aku menghela nafas sejenak. Akhirnya aku putuskan untuk menitipkan putra sulungku itu pada perawat.


"Minta tolong sebentar ya sus... Saya hendak pergi menyusul ayahnya anak-anak... Tolong jaga Uwais saat saya tinggal sebentar... Saya janji tak akan lama segera kembali...". Pintaku memohon kepada perawat jaga pagi hari itu.


"Baik bu, nanti biar adik-adik praktikan kami yang menjaga anak ibu di dalam kamarnya supaya terus terpantau...". Ujar salah satu perawat memberiku saran.


"Terima kasih suster...". Ucapku sembari membawa Umar dan Shanum pergi bersamaku hendak menyusul Deri ke rumah orang tuanya.


Selama perjalanan jantungku berdegup tak karuan. Sekujur tubuhku merasakan getaran seolah ingin sekali menolak untuk melangkahkan kakiku ke sana.


Terbayang sudah wajah ibunya Deri. Rasa trauma akan sikapnya sungguh memberatkan hatiku dan terbesit rasa khawatir akan ada sesuatu sikap yang tak mengenakan hatiku kelak.


Namun sebisa mungkin aku tepis itu semua demi Uwaisku yang kini tengah terbaring merindukan sosok ayahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2