
Malam ini Deri duduk termenung di ruang tv yang sedari tadi menyala namun tak dihiraukan itu. Ditemani secangkir kopi hitam yang sudah mulai dingin itu. Ia terus berpikir tenang perjalanan hidupnya yang baru saja ia alami.
"Sayang....? Kenapa nggak tidur? Mana udah hampir pagi begini?" tanyaku yang hendak berwudhu melaksanan Sholat Tahajud itu. Sungguh aku begitu terheran dengan Deri saat itu. Sebuah canel TV acara yang tidak masuk akal menemani dirinya saat itu. Tidak seperti biasanya dirinya yang tak teramat suka menonton tv.
"Sayang??!" seruku lagi.
"Ehmmmmm oh... Iya sayang....aku nggak bisa tidur..." jawabnya sedikit gugup.
"Trus kenapa tumben nonton tayangan acara yang kamu benci itu sih? " tanyaku heran.
"Iya...aku lagi nggak konsen...." jawabnya dengan wajah yang sedikit bingung.
"Jadi dari tadi TV yang nontin abi ya, bukan abi yang nonton TV?" jawabku sembari berlalu.
Ia tampak makin bingung. Segera dimatikan TV nya kemudian masuk ke dalam kamar untuk mencoba memejamkan mata. Belum sempat matanya terpejam, Adzan Subuh pun terdengar membuyarkan niatnya untuk tidur.
Tubuhnya yang masih lesu dan mencoba membangunkan diri itu menatapku yang tengah bermunajat itu.
"Abi nggak ke masjid?" tanyaku mencoba membuatnya agar tak mengantuk.
"Aku belum sempat tidur, kayaknya mau sholat di rumah dulu". Jawabnya sembari menguap.
"Tapi akhir-akhir ini memang abi aku liat jarang ke masjid, ada apa?" tanyaku yang memang merasakan keimanannya mulai memudar akhir-akhir ini semenjak ia sibuk.
Sesaat kemudian kami melaksanakan sholat berjamaah. Selesainya ia langsung terburu-buru menyempatkan diri tidur sejenak sebelum berngkat kerja supaya tidak terlampau mengantuk.
*****
Deri
Matanya yang masih terasa berat ia paksakan untuk tetap menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Beberapa saat kemudian saat jam istirahat tiba ia segera peri ke musola untuk melaksanakan Sholat dhuzur, dan sesaat setelahnya ia langsung tergeletak menidurkan diri di sana.
__ADS_1
Gawainya yang sedari tadi bergetar itu tak ia hiraukan oleh sebab matanya yang sungguh mengantuk itu. Lani yang mencoba meneleponnya berkali-kali itu pun akhirnya berhenti.
Tak enyah dari itu ia mencoba menghubunginya lewat pesan hijau.
[ Deri....aku coba telepon kamu berkali-kali tapi kamu nggak angkat? apa kamu menghindar dari aku?]. Isi dari pesan hijau itu. Namun berapa lama ia mengirimnya pun tak ada balasan respon darinya.
"Der....Der....bangun loh, kerja woi....dicariin bos ntar kamu...." sapa seorang teman Deri yang mencoba membangunkan dirinya.
"Hhmmmm iya" sahut Deri dengan tubuhnya yang sangat lesu dan mulai tertaih melangkah menuju ruang kerjanya.
Lam ia bekerja, sore itu saat Deri bersiap-siap hendak pulang, tampak seorang Lani sudah berada di depan kantornya menunggunya keluar.
Segera Lani menghampiri Deri yang baru saja ingin berusaha menghindar namun terlambat sebab Lani sudah mendekatinya terlebih dahulu.
"Deri....kenapa kamu menghindar dari aku?" sapa Lani menarik tangan Deri.
"Kamu ngapain sih ke sini?" tanya Deri sembari melepaskan genggaman tangannya.
"Lani maaf....kita nggak bisa terus kayak gini, kita udah saling berumah tangga,...kumohon jangan ganggu aku lagi..." ujar Deri memohon.
"Aku tau kita udah masing-masing berumah tangga, tapi coba kamu lihat posisi aku Deri.... Aku memang bersuami, tapi aku nggak pernah sekali pun mendapatkan kasih sayang seorang suami... Sementara aku butuh perlindungan sosok suami di sampingku.... Aku mohon Deri... Poligami tidak dilarang...." Kalimat Lani dengan isak tangisnya yang sedang mencoba meruntuhkan benteng pertahanan kesetiaan Deri pada Bunga saat itu.
"Ia aku tau poligami tidak dilarang, tapi aku nggak bisa menyakiti hati Bunga...." Sahut Deri sembari mencoba berlalu.
"Deri.... Sungguh teganya kamu...Aka tau kamu masih punya rasa cinta buat aku....dan sekarang aku bantu wujudtin itu....bukannya udah lama kamu ingin nikah sama aku? Ini kesempatan buatmu Deri....Plisss..." ujar Lani masih dengan rintihan tangisnya.
Mata Deri nanar menatapnya. Sungguh antara perasaan iba dan bimbang terhadap Lani. Hatinya semakin tak karuan dibuatnya.
"Kenapa kamu diam? Atau aku akan datang ke rumahmu dan menjelaskan pada Bunga kalo malam itu kamu hampir tidur di kamar kostku dan kita hampir....."
"Stop Lani....jangan diteruskan....!!" sahut Deri sebelum Lani melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Baik, aku akan menikahimu secara siri, tapi kumohon rahasiakan ini dari siapapun...." kalimat Deri melegakan hati Lani.
"Beneran? Makasih sayang.....?" senyum Lani mereka pertanda kemenangan.
Deri tampak hatinya berkecambuk, antara baru saja tersambut cintannya oleh sang pujaan hatinya sejak dulu, namun di satu sisi ia teringat akan wajah Bunga yang selalu melintas di benaknya. Namun sejenak ia tepis, kalimat sayang yang dilontarkan Lani seolah membuat dirinya melayang, sebab impiannya sejak dulu kini seperti terwujud, meski seolah semua terlambat.
****
Tangis Umar kali ini tak seperti biasanya. Entah apa penyebabnya kali ini aku pun kurang paham. Seharian ia beberapa kali menangis dan sulit sekali ditenangkan. Hal ini tentu cukup menguras tenagaku.
Beruntung Uwais tidak ikut rewel. Bahkan sesekali ia membantuku menenangkan Umar yang tengah histeris itu.
Sesaat setelah Umar berhasil aku tidurkan, tampak Deri pulang dari kantornya. Namun entah mengapa kali ini ia tak mengucapkan salam sepeti biasanya. Bahkan ia langsung masuk dan merebahkan diri di kasur.
Aku berpikir mungkin imbas dari semalam akibat dirinya begadangan itu. Aku biarkan ia terlelap meski masih mengenakan pakaian kerjanya, lengkap dengan sepatu dan tas yang masih melekat pada tubuhnya itu.
Perlahan aku lepaskan satu-persatu agar dirinya tak terbangun. Aku coba gantikan pakaiannya itu dengan kaos santai yang biasa ia gunakan untuk tidur itu.
Belum lama aku merapikan tubuh Deri, Umar kembali histeris. Suara tangisnya spontan membangunkan Deri yang baru saja terlelap itu.
"Aduh....itu kenapa sih Umar nangis kayak gitu....diemin kek! aku ngantuk berat ini....!!!" sentak Deri yang seketika menaikan darahku. Aku tahan sekuat mungkin sebab aku harus menenangkan Umar yang saat itu seperti tengah mengamuk.
Aku bawa dirinya menjauh dari kamar agar suaranya tak mengganggu Deri. Entah mengapa ia sepertinya tampak emosi. Meski ada rasa tak terima hatiku dibentak olehnya, sebab dirinya tak pernah sekali pun melakukan itu padaku, namun aku mencoba berbaik sangka padanya. Aku anggap dirinya di kantor sedang banyak masalah. Maka aku sebisa mungkin diam.
****
Dua hari berlalu setelah itu, kini tibalah sang Deri dengan gagah mengucapkan ikrar ijab qobul dengan Lani pujaan hatinya sejak dahulu kala itu.
Meski hanya berbalut kemeja kerja yang ia gunakan itu, tampak ia begitu sumringah berdampingan dengan Lani yang juga dandan ala kadarnya itu.
Nuansa cinta yang mereka miliki saat itu, seolah telah membutakan mata hati Deri atas aku, Uwais dan Umar.
__ADS_1