Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Deri menghilang


__ADS_3

"Aku lihat wajah kamu semakin pucat? Mungkin kamu butuh istirahat...Tidurlah dulu, nanti dilanjut lagi kerjanya.. ". Ujar Deri yang menatapku dalam perasaan yang iba. Yang dia pikir saat itu aku tengah lelah karena kurang tidur.


"Hmmm". Sahutku dengan nada datar. Rasa hatiku kembali memanas melihat dirinya setelah aku baca pesan dari Lani itu. Namun sebisa mungkin aku sembunyikan agar tak mengacaukan suasana kegembiraan anak-anakku.


"Tok...Tok....". Terdengar suara ketukan pintu dari luar yang seketika terlihat langkah kaki masuk ke dalam.


"Ibu Bunga, silahkan ke apotik dulu karena ada obat yang harus ditebus. Ini resepnya, tolong obatnya secepatnya diambil ya bu, kami tunggu...". Ucap seorang perawat yang seketika membuatku berdiri dan bergegas menuju apotik.


Deri yang saat itu baru saja menidurkan anak-anak akhirnya duduk di samping labtopku yang rupanya aku lupa untuk menutupnya. Seketika Deri bermaksud untuk membereskan beberapa buku milikku yang berserakan di meja. Kemudian dirinya pun bermaksud untuk mematikan labtopku agar selepas pulang dari apotik nanti aku bisa istirahat.


Ketika tangannya mulai menyentuh layar labtopku, tak sengaja netranya tertuju pada tulisan yang baru aku saja aku baca itu. Dahinya mengernyit menatap sekilas sebuah pesan yang tampak nama pengirimnya adalah Lani.


Matanya terbelangak menatap layar itu. Ia perhatikan secara seksama untuk memastikan bahwa nama pengirim pesan itu adalah benar-benar Lani. Perlahan tangannya meraba tombol pembuka pesan dengan jemarinya yang mulai bergetar.


Kata demi kata dalam pesan itu ia baca perlahan dengan jantung yang berdegup semakin kencang. Terus ia baca kalimat Lani yang tertulis itu hingga keringat dinginnya mengucur di sekujur tubuhnya.


Sesekali ia menyeka keringatnya yang keluar membasahi kerah di lehernya itu. Ia begitu terkejut setelah merampungan membaca isi dari pesan milik Lani itu. Hatinya yang dulu pernah menahan luka padanya kembali menganga seperti pengulangan sayatan luka yang bertubi-tubi.


Tangannya menggenggam jemarinya dan mengayunkannnya ke arah dinding hingga menimbulkan getaran. Beberapa kali ia menonjokkan kepalan tangannya itu hingga menimbulkan luka lecet pada beberapa bagian jarinya.


Begitu pun dengan kepalanya. Beberapa kali ia membenturkannya pada dinding yang keras itu layaknya orang gila yang sedang meratapi penyesalan nasib. Tak lama itu ia menghela nafas panjang untuk meredam amarahnya pada diri sendiri itu. Tubuhnya mulai berdiri dan kakinya melangkah ke arah anak-anaknya.


Air matanya tak tertahan lagi bercucuran di hadapan ketiga anaknya itu. Dipandanginya wajah mereka satu per satu dengan penuh rasa bersalah.


Maafkan abi anak-anakku... Abi memang tak berguna bagi kalian... Perilaku abi tak pantas kalian contoh.... Gumamnya dalam hati dan seketika mendekati ketiga anak-anaknya dan menghujani ciuman lembut pada mereka.

__ADS_1


Tak lama dari itu ia segera menyambar tas rangsel miliknya yang berisikan beberapa pakaian yang awalnya bermaksud hendak menginap di rumah sakit. Dengan berat hati, ia terpaksa pergi dari rumah sakit itu menuju kota Jakarta untuk menemui Ferdi sahabatnya. Langkahnya dengan cepat ia lakukan agar tak sampai aku pergoki.


"Assalamu'alaikum?". Ucapku yang baru saja pulang dari mengambil obat di apotik dan langsung masuk ke dalam ruangan.


Perasaanku sedikit terheran melihat ketidak beradaan Deri di tempat. Aku perhatikan dengan seksama di setiap sudut ruangan rumah sakit, namun yang aku lihat hanya ketiga anakku yang sedang terlelap.


Aku pun semakin terkejut mendapati sebuah tas milik Deri yang sudah tidak berada di tempat. Langkahku pun mencoba ke arah toilet, namun tak kutemukan juga dirinya di sana.


Seketika aku mencoba menghubunginya melalui telepon. Namun masih sama seperti dulu, nomornya kini sudah tidak aktif lagi. Aku semakin bingung atas sikapnya yang tiba-tiba menghilang itu. Sedikit cemas bila nanti Uwasi terbangun dan menanyakan keberadaannya itu.


"Hah??". Mataku melotot ke arah labtopku yang baru aku sadar belum mematikannya.


Pasti Deri sudah baca pesan dari Lani.... Mungkinkah dia frustasi... Atau kenapa?? Kenapa dia harus pergi tanpa pamit?? Alakah dia marah? Tapi.... Seharusnya akulah yang marah.... "Huft.....". Gumamku seraya menghela nafas panjangku dengan pikiran yang tak menentu.


****


Deri


Secepat kilat ia menaiki bis ke arah kota itu tanpa pikir panjang lagi. Perasaannya yang sungguh kacau telah membulatkan tekadnya untuk tidak ingin lagi menampakkan diri di kota kelahirannya itu


Perasaan malu, jijik pada dirinya sendiri, dan marah bercampur menjadi satu menemani perjalanannya saat itu.


"Elo Der?? Lah... Mendadak banget ke sini nggak kabar-kabar??". Tanya Ferdi yang terkejut melihat kedatangan Deri.


"Hp gua dijual buat ongkos...!". Ujarnya dengan wajah tampak kusut dan lelah.

__ADS_1


"Trus ngapain elo bela-belain ke sini?"


"Tolongin gua Fer, gua mau ke kerja ke luar jadi TKI. Gua udah mentok Fer mau ngapain, gua udah ngerasa nggak berguna banget buat anak-anak gua.... Plis Fer... Gua pinjem duit dulu buat berangkat, besok kalo udah terima gaji gua ganti....". Kalimat Deri dengan raut wajah tampak kebingungan.


"Elo serius mau berangkat? Elo udah tau resikonya??". Tanya Ferdi mencoba meyakinkan.


"Biar taruhan nyawa juga bakal gua jabanin Fer... Gua nggak tau lagi harus gimana, gua udah nggak punya harga diri lagi....". Ucap Deri seraya merebahkan dirinya di atas sofa.


"Oke... Ntar gua usahain. Tapi kalo nanti ada apa-apa elo harus siap tanggung resikonya. Gua ada canel orang yang bisa berangkatin elo jadi TKI dengan cepet dan biaya murah, tapi ilegal...."


"Ya gua siap Fer. Mau ilegal juga yang penting gua bisa menghasilkan duit... Gua harus bisa kasih nafkah buat anak-anak gua.... Gua malu sama Bunga yang sekarang udah sukses. Sementara gua kerjanya nyakitin dia mulu....". Jawab Deri dengan yakin.


Setelah percakapan itu Ferdi mulai menghubungi rekannya yang berurusan dengan perihal itu. Sementara Deri terlelap melepas lelahnya akibat perjalanan jauh yang ia tempuh.


Beberapa hari kemudian akhirnya Deri diberangkatkan menuju Negara Malaysia untuk mengais rejeki di negeri itu. Tanpa memberikan kabar pada siapapun ia pergi dengan membawa perasaan gundah yang terus merasuk.


***


Sementara itu aku mencoba mencari keberadaan Deri. Sebab beberapa kali Uwais selalu menanyakan dimana keberadaanya itu. Saat di rumah sakit, sampai kini telah di rawat di rumah pun ia terus menanyakan Deri dengan polosnya. Seolah ada perasaan cemas dihatinya.


"Assalamu'alaikum? Maaf mak, apa Deri ada di rumah?". Tanyaku yang mencoba melacak keberadaan Deri di rumahnya.


"Bukannya kemarin pergi sama kamu??!". Jawab ibunya Deri ketus.


"Iya mak, tapi Deri pergi begitu aja tanpa pamit...". Sahutku mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Nah.... Jangan-jangan gara-gara kamu lagi Deri minggat kan??? Kamu ini selalu cari gara-gara sih...!!! Dasar perempuan nggak bener...! Apa yang kamu perbuat sehingga Deri minggat??". Hardik Emaknya Deri padaku yang membuatku hanya sanggup terdiam tanpa kata.


Aku yang tak tahan atas sikapnya akhirnya kuputuskan untuk segera pergi dari rumah itu. Sepanjang perjalanan aku terus penasaran dimana sebenarnya keberadaan Deri yang tiba-tiba menghilang itu.


__ADS_2