
"Cieh yang punya adik simpenan di kost-kostan..." celoteh salah satu teman kantor Deri saat dirinya baru saja masuk. Ia mencoba tak mempedulikan, meski dirinya terasa risih dengan celotehan itu.
"Wuih... Nggak nyangka... Tampang alim gitu hobi celingkuh euy..." ejek teman-teman Deri yang saat itu tengah asik berkumpul sebelum melakukan aktivitas.
"Brakkk!!! Bisa diem nggak???!!!" Saat itu emosi Deri mulai memuncak. Sejak tadi dirinya dikecewakan oleh Lani, kini teman-teman kantornya mulai berulah.
Mereka tau kabar berita itu dari salah satu teman kantornya yang satu kost dengan Lani itu. Kabar itu seketika merebak begitu cepat. Hampir setiap sudut ruangan membicarakan perihal Deri. Hingga kini nama Deri seolah menjadi sangatlah buruk dimata mereka.
Seketika teman-teman Deri diam dan kembali ke meja masing-masing setelah melihat kemarahannya yang memuncak.
Deri yang risih dengan perilaku teman-temannya itu menjadi tak konsentrasi bekerja. Beberapa kali ia hanya mampu menghela nafas. Pikirannya begitu kacau, meski beberapa kali dipaksa, ia tampak begitu kesulitan menyelesaikan pekerjaannya.
**
Dua minggu pun berlalu selepas aku mengajukan gugatan cerai. Kini pengadilan memanggil kami untuk melakukan sidang pertama.
Deri yang menerima panggilan sidang gugatan dari pengadilan tak bisa memutuskan untuk hadir. Selain faktor biaya, dirinya juga tak banyak waktu untuk pergi ke Lampung memenuhi panggilan itu.
Beberapa jam aku menunggu di ruang tunggu persidangan, tak ada tanda-tanda Deri hadir. Hingga namaku terpanggil sebagai gilaran aku dan Deri untuk melaksanakan sidang.
"Saudara Bunga, benarkah seperti yang anda ajukan pada gugatan bahwa suami anda berselingkuh?" tanya seorang hakim padaku.
"Ya benar" jawabku singkat.
"Dimana anda mendapati suami anda berselingkuh?"
"Di rumah kost"
"Baik, karena tergugat tidak hadir, untuk sidang berikutnya, silahkan sertakan bukti dan saksi. Jika nantinya bukti dan saksi anda kuat, maka sidang perceraian akan segera diputuskan" jelasnya secara tegas.
"Baik" ucapku dengan perasaan lega.
Alhamdulillah, sebentar lagi aku akan resmi bercerai. Ujarku dalam hati, sembari melangkah ke luar ruangan persidangan.
"Ting...." tiba-tiba gawaiku berbunyi tanda pesan masuk.
[Semoga ini yang terbaik, maaf aku nggak bisa hadir, aku nggak ingin memberatkan kamu perihal aku, sebab aku tau akulah yang bersalah... Aku tau pasti aku akan kalah dipersidangan, namun dipersidangan putusan nanti InsyaAllah aku usahakan hadir sekaligus sebagai salam perpisahan...Semoga kamu bahagia...Aamiin]. Isi dari pesan yang tak lain dari Deri untukku.
__ADS_1
Seketika dadaku terasa sesak, sebab kini aku benar-benar akan kehilangan sosok lelaki yang selama ini aku cintai dengan seoenuh hatiku ini. Namun disisi lain, hatiku terasa lebih lega. Bila Deri telah mengikhlaskan aku, tentu proses perceraianku akan lebih mudah.
**
Hari-hariku kini mulai merasakan kerepotan yang luar biasa. Betapa tidak, disamping aku yang merasakan ngidam atas kehamilanku, aku harus mengurus kedua anak-anakku yang sesekali rewel merindukan abinya, terutama Uwais yang sudah pandai berceloteh.
Beruntung ibuku yang berada di rumah dengan senag hati membantuku mengurus kedua anakku ini. Meski beberapa kali dirinya mengeluhkanku untuk rujuk kembali dengan Deri, namun aku selalu abai.
Cibiran tetangga yang mulai mendengar gosip tentangku pun mulai bertebaran di setiap gang. Ini tentu membuat beban mental ibuku yang berat. Statusku yang hendak kedua kalinya menjada menjadikan penilaian buruk terhadapku.
Aku hanya pasrah, mencoba menutup kedua telingaku akan hal itu. Aku tetap fokus pada tujuanku, meski raut wajah ibuku tampak selalu termenung memikirkanku.
"Kring" terdengar ponselku berbunyi. Segera aku terima telepon dari tetangga rumahku saat di Jakarta.
"Mbk Bunga, rumahnya udah laku, ini tadi barusan dibeli sama orang pindahan dari Kalimantan" ucap dirinya memberiku kabar. Dia tetangga kepercayaanku yang memang selalu aku mintakan tolong jika aku butuh sesuatu.
"Baik teh, makasih ya udah banyak bantu saya. Nanti uangnya tolong ditransferkan ke rekening saya setelah teteh potong jasanya ya..." kalimatku menjawab kabar itu.
"Iya mbak, terima kasih juga..."
"Sama-sama teh"
****
Deri
Suatu hari selepas pulang bekerja, Deri menyempatkan diri untuk melewati rumah tinggal kami yang dulu itu. Ia berharap dapat melepas rindu untuk sekedar mengenang semasa hidup bersamaku.
Wajahnya tampak lesu, sorot matanya begitu nanar dan berkaca-kaca menatap rumah itu yang ternyata sekarang telah berpenghuni orang lain.
Dirinya terus menatap ke arah rumah itu tanpa berpaling. Sampai pada akhirnya ia menangis sejadi-jadinya tak peduli beberapa orang tampak memperhatikannya.
"Eh, Mas Deri....Mampir atuh ke sini mas...!!" teriak salah satu tetanggaku yang dulu sering mengajak dirinya mengobrol.
Deri hanya terdiam tak bergeming. Hanya sekilas menatap dirinya yang tampak bingung melihat Deri yang menangis meratap bak orang yang baru saja kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidupnya.
Selain tetangga yang dipasrahkan atas penjualan rumahku, tak ada lagi yang tau atas masalah kami. Mereka hanya tau jika kami hanya sekedar pindah rumah.
__ADS_1
Sesaat gawai Deri berbunyi. Aku sengaja meneleponnya melalui video call untuk Uwais yang sejak kemarin merengek ingin bertemu dengan abinya. Seketika kepiluannya yang sedang meradang sirna melihat sosok Uwais dalam layar ponselnya itu.
"Abi...Abi...Uwais kangen....Abi lagi apa?" sapa Uwais melambaikan tangan.
"Abi lagi di jalan nak, baru aja pulang kerja... Uwais udah makan?" sahut Deri yang matanya masih berair.
"Udah bi... Abi nangis sedih ya? Abi kangen sama Uwais?" tanya Uwais yang turut sesenggukan.
"Iya sayang....Abi kangen banget sama Uwais...."
Aku pun tak kuasa menahan air mataku melihat percakapan mereka.
"Kalo sama umi kangen juga nggak bi?" ucap dirinya polos.
"Iya pasti sayang... Abi sangat rindu dengan umi..." ucap dirinya dengan terisak seolah tak lagi bisa berkata.
"Abi....huuhuhuuuu...."Suara tangis Uwais memecah. Seketika ia arahkan gawainya ke wajahku yang sedang bersama Umar.
"Umar....Bunga...." Sahut Deri masih dengan sesenggukan. Aku tertunduk tak berani menatap wajahnya. Aku tak berani menampakkan wajahku yang sesungguhnya menahan air mata dan memendam kesedihan yang begitu mendalam.
"Umar.... " sapa Deri lagi mencoba menghibur Umar meski dengan suaranya yang masih terisak.
"Abi.... Kapan kita bisa ketemu lagi bi???" Rengek Uwais sembari kembali mengarahkan ponselnya ke arah wajahnya.
"Nanti ya sayang... Tunggu abi gajian, nanti kita ketemu..."
"Huuuuhuuu... Uwais sayang sama Abi...."
"Abi juga...." Desahan tangisnya terdengar dan air matanya terus bergulir melambangkan kesedihan dari hatinya yang paling dalam.
"Sama umi sayang juga nggak?" celotehnya dengan polos.
"Iya nak...Abi sayang banget sama umi... Sayang juga sama Umar... dan dedek bayi..."
"Dadada abi...Abi cepetan kesini ya...."
"Iya sayang....doain abi dapat rejeki banyak ya biar kita bisa ketemu terus... Assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"Walaikumsalam..."
Seketika Deri tersungkur di tepi jalan. Kakinya gemetar menahan sakit hatinya atas perbuatannya yang bodoh dan membuat dirinya kehilangan segalanya itu.