
Beberapa bulan berlalu, kini usia Umar genap 6 bulan sudah, dan mulai aku kenalkan dengan berbagai macam makanan pendamping ASI.
Dengan telaten aku memberikan rangkaian variasi makanan yang terbaik untukknya. Meski disela-sela kesibukkan aku cukup kerepotan dengan kedua anakku yang tak bisa lalai dari pengawasan ini, aku terus berusaha memberikan yang terbaik pada mereka.
Sore ini rencana kami melakukan perjalanan mudik menuju kota kelahiran aku dan suamiku. 5 hari sebelum lebaran kami mulai berjibaku dengan kepadatan kendaraan yang hendak mudik ke kampung halaman.
Umar dan Uwais yang tampak kelelahan, sesekali terlihat gembira manakala melihat sepanjang jalan dengan pemandangan beberapa kebun dan ladang, serta gemerlap lampu jalan yang menerangi. Deri pun beberapa kali melakukan pemberhentian untuk beristirahat sejenak sebelum kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Lampung.
Semalam sudah perjalanan kami, akhirnya sampailah pada tujuan kami, yakni rumah ibuku. Sengaja kami tidak menginap di rumah Deri, sebab di sana anggota keluarganya cukup banyak,tentu tak nyaman untuk kami berempat.
Sajian hidangan pun telah disiapkan oleh ibuku untuk menu buka puasa kami. Betapa bahagianya saat itu sebab ini pertama kalinya aku mudik bersama suami dan anak-anakku.
Keakraban kedua putraku dengan ibuku pun tampak pada keramaian saat bermain saling bergurau. Tanpa membedakan Uwais yang dianggapnya anak adopsi itu. Bahkan Uwais yang beranjak Balita terlihat sangat nyaman bermain dengan neneknya itu. Apapun yang mereka berdua pinta, ibuku selalu menuruti kemauan cucu-cucu kesayangannya itu.
"Bunga, si Uwais sama Umar kog mirip sekali ya? kog bisa mirip sekali sama Deri juga, malah kayak anak kandung?" tanya ibuku yang sedang mengiris bawang merah saat tengah memasak menu buka puasa itu.
"Iya sih bu, memang banyak yang bilang gitu... mereka katanya mirip, ya mungkin karena udah biasa bersama kita jadi mirip kali...." Kalimatku mengelak. Deg... seketika jantungku berdegup kencang dan wajahku memucat.
"Nih, wortelnya nanti dimasukin aja, ibu mau ke tempat bulekmu dulu minta jambu katanya buahnya lagi lebet banget, lumayan buat buka puasa nanti" katanya sembari pergi meninggalkanku dan membuat perasaanku lega sebab ia tak terlampau jauh bertanya soal Uwais.
Dua hari di rumah ibuku, Deri mencoba mengajakku ke rumah orang tuanya. Namun aku menolaknya dengan berbagai alasan. Sebenarnya aku takut melangkahkan kakiku ke sana, perasaanku yang tak nyaman dengan orang tuanya Deri membuatku enggan untuk ke sana.
Deri yang mencoba memaklumiku akhirnya melakukan perjalanan sendiri menuju rumahnya itu. Aku tau ada rasa kecewa dalam hatinya sebab aku tak mau menuruti keinginannya ke rumah orang tuannya itu. Hanya saja saat lebaran nanti saja aku ikut pergi ke sana sekaligus dengan kedua anak-anakku.
"Umar.... yuk ikut abi ke rumah embah?" seru Deri memanggil Umar yang tengah aku dudukkan di kereta bayi miliknya itu.
"Kalo Umar diajak, nanti Uwais jadi kepingin ikut juga, kan abi tau embahnya nggak suka sama Uwais?" Ujarku mencegahnya yang baru saja akan menggendongnya namun seketika ia urungkan.
"Tapi aku pingin ajak Umar ketemu embahnya, pasti embahnya juga kangen sama Umar...."
"Seharusnya embahnya kangen sama Uwais juga dong...." sahutku dengan wajah masam.
"Yah.... mau gimana lagi?" tanya dirinya lemas.
"Ya sudah, adilnya jangan dibawa semua, lagian kan Umar butuh aku kalo sewaktu-waktu minta susu, nanti kalo dia nangis gimana?" ujarku merayu.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu aku pergi aja sendiri, Assalamu'alaikum" ucapnya sembari berlalu dan segera mengemudikan mobil.
"Walaikumsalam".
*****
Kisah Deri
Sebelum sampai di rumah orang tuanya, ia sempatkan membeli beberapa oleh-oleh di sebuah supermarket yang ia jumpai saat itu.
"Deri..." terdengar suara lembut dari sosok perempuan bertubuh mungil dari sampingnya saat ia sedang mengambil beberapa biscuit dalam rak.
Seketika ia menoleh ke arah dimana sumber suara itu berasal. Matanya menatap wanita itu tajam. Dahinya mengernyit keheranan memandang bahwa sosok perempuan yang tengah memanggilnya adalah Lani mantan kekasihnya dulu.
"Lani?" sapa dia dengan wajah terkejut.
"Iya, kamu apa kabar?" sapa Lani dengan ramah.
"Alhamdulillah baik" sahutnya dengan wajah datar mencoba sesegera mungkin menghindar darinya.
"Deri tunggu....!!" seru Lani saat Deri hendak buru-buru ke kasir.
"Nggak apa kog, aku cuma mau tanya apa kamu mau pulang ke arah Pagelaran?" tuturnya lembut.
Ini anak ada apa jadi ramah banget gini sama aku, padahal dulu waktu masih pacaran aja jutek banget, kenapa sekarang jadi sok lelembut gini??? Gumam Deri dalam hati.
"Iya aku mau pulang, emang kenapa?"
"Kalo boleh aku mau nebeng" ujar Lani sembari melirik sebuah mobil yang Deri kemudikan terparkir di halaman supermarket itu. Rupanya sejak Deri turun dari mobil Lani sudah mengamatinya dari dalam supermarket.
"Memangnya kamu mau kemana dan sama siapa kamu di sini?" tanya Deri yang sebetulnya sedikit keberatan.
"Aku sendirian.... plis.... aku mau pulang ke rumah orang tuaku juga... tolong ya... jam segini pasti udah susah cari angkot, aku nggak bawa motor...." ujar dirinya memelas mencoba meruntuhkan hati Deri untuk membolehkan ia menumpang dalam mobilnya.
"Ya udah kalo gitu..." dengan berat hati Deri membolehkan ia menebeng, sebab ia tak sampai hati melihat sosok perempuan yang tengah sendirian itu melakukan perjalanan pulang sementara hari sudah hampir waktunya buka puasa.
__ADS_1
"Memangnya kemana suamimu? kenapa kamu pergi nggak sama dia?" tanya Deri sembari membuka pintu mobil hendak menyetir.
"Suamiku udah lama kerja di kapal pesiar semenjak aku baru menikah, dan sampe sekarang belum juga pulang...." sahutnya dengan wajah tampak sedih.
"Oh..." ujar Deri sembari melajukan mobilnya tanpa banyak tanya lagi.
"Deri sejak kapan kamu di sini? kamu tinggal di sini atau?" tanya Lani yang tengah duduk di samping Deri itu.
"Aku tinggal di Jakarta, ini aku lagi mudik aja"
"Oh... kog sendirian?"
"Iya, Bunga istriku sama anakku masih pingin nginep di tempat ibunya, besok lebaran baru aku ajak ke rumah orang tuaku".
"Ohhh.... sayang ya kog nggak sekalian nyempetin ikut kamu...." ujarnya mencoba membuyarkan perasaanku pada Bunga saat itu.
"Nggak papa kog, namanya juga masih kangen sama ibunya, yang penting kan gantian".
"Ehmmm...."
Beberapa lama mereka pun saling terdiam. Deri tampak sangat canggung, meski beberapa kali Lani melontarkan senyum yang begitu manis padanya. Yah... senyum yang begitu menggetarkan jiwanya, dan mengingatkan sosok kekasih impiannya dulu yang setiap saat selalu ia kejar untuk ia nikahi tapi gagal.
"Deri, boleh aku minta nomer telepon kamu?" ujar Lani sembari mengeluarkan ponselnya.
"Buat apa?" tanya Deri seolah keberatan.
"Nggak apa, aku pingin menjalin silaturahmi aja, meski kita udah saling punya kehidupan masing-masing, nggak ada salahnya kan kita saling berkomunikasi, lagi pula, keluarganku dan keluargamu kan sudah saling mengenal juga, nggak enak kalo ketemu di jalan kita tak bertegur sapa"
"Oh... ya udah simpen aja nomorku 08137756333" sahut Deri tanpa pikir panjang.
"Makasih ya...." ucap Lani dalam senyumnya yang begitu merekah.
"Hemmm"
Tak lama itu Deri pun terus melajukan mobilnya, meski tampak rumah orang tuanya sudah terlewati. Ia tau bahwa Lani tak mungkin ia turunkan di jalan begitu saja, sebab rumahnya memang labih jauh sedikit dari rumahnya.
__ADS_1
"Makasih ya Der, udah repot-repot nganter aku sampe rumahku, kamu jadi muter balik nih...." kalimat Lani sebelum turun dari mobil.
"Iya nggak apa..." sahut Deri sembari memandangi dirinya dari belakang. Seketika dalam benaknya terbayang kisah masa lalunya saat dirinya sering mengantarkan Lani selepas sekolah dahulu.