Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Dapat Pekerjaan


__ADS_3

"Kring-kring" bunyi gawaiku pagi hari selepas aku melaksanakan Sholat Subuh. Segera ku raih dan kulihat nama Rianti di layar gawaiku.


"Assalamu'alaikum?" sapaku menjawab telepon Rianti.


"Walaikumsalam, ukh, kemarin ana udah membicarakan tentang anti dengan saudara sepupu ana yang punya counter pulsa, Qadarulloh ia sedang mencari karyawan untuk menjaga conternya yang sekarang buka cabang, bagaimana? anti mau kerja di counter?" tawaran Rianti padaku yang seketika membuat hatiku senang. Baru saja dalam sujudku aku selipkan masalah ini dengan Allah Tuhanku, dan Dia kini telah menjawab atas doaku.


"Alhamdulillah, benarkah begitu Rianti, ya aku mau...aku mau banget Rianti..." jawabku penuh dengan gembira.


"Kalau begitu, nanti jam 8 anti langsung ke sana ya, temui sodara sepupu saya, nanti ana akan tunggu di sana buat nemenin anti, sepertinya hari ini anti udah bisa mulai bekerja". Ujar Rianti yang membuat mataku semakin berkaca-kaca penuh rasa syukur.


"Alhamdulillah....terimakasih banyak Rianti, kamu memang temanku yang baik, kalo nggak ada kamu, entahlah gimana nasibku". ujarku sembari menghapus setitik air mata haru yang jatuh di pelupuk mataku.


"Bukan karena ana, tapi karena Allah, sekali lagi Allah lah yang mengirimkan ini untukmu lewat ana, maka berterimakasihlah padaNya".


"Iya Rianti, sekali lagi makasih, sampai ketemu nanti ya, jangan lupa alamatnya nanti kirimkan lewat pesan supaya aku mudah mencarinya".


"Baiklah kalo begitu ana pamit dulu, Assalamu'alaikum?"


"Walaikumsalam".


""Hehhh" seketika kuhela nafas panjangku dan kuletakkan gawaiku di atas lantai. Aku baringkan sejenak tubuhku di atas kasur tipis peninggalan ibu yang menolongku waktu itu. Dengan berbantal tas rangselku sebab aku belum bisa menyisihkan uang untuk membelinya, aku tatap langit-langit dengan penuh rasa syukur yang mendalam.

__ADS_1


"Trimakasih ya Allah...Akhirnya kau bukakan jalanku...mudah-mudahan ini awal jalan rejekiku dan anakku" gumamku lirih dengan tangan di atas dadaku.


Tak lama berselang aku pun membeli sarapan untuk mengisi perutku yang sejak tadi sudah meronta. Di sebuah warung makan sederhana tak jauh dari tempat tinggalku, aku beli sebungkus nasi dan dua buah tempe goreng plus sedikit sambel untuk sekedar menambah rasa.


Kunikmati sarapan itu dengan nikmat, semenjak aku hamil memang nafsu makanku mulai menambah banyak, terlebih dengan usia kehamilanku yang semakin membesar. Makanan apapun aku lahap dengan enak, meskipun hanya sebatas nasi dan lauk, atau pun kadang nasi hanya dengan kuah sayur sudah cukup membuat aku bersyukur ada yang bisa mengenyangkan perutku.


Meski hidupku penuh dengan kekurangan, ternyata di luaran sana masih banyak yang lebih menderita dari pada aku. Di kota ini, banyak sekali gepeng atau pun tuna wisma berkeliaran dengan pakaian ala kadarnya. Panas terik yang menyengat, belum apa-apa dibandingkan langkahku yang sering aku lakukan dalam pencarian pekerjaan. Belum lagi kerasanya melawan arus kehidupan sosial yang cukup menyayat hati bagiku. Bersyukur aku masih beruntung dari pada mereka.


Aku masih dipertemukan dengan teman-teman baik, dan kehidupan yang baik. Gumamku sembari menelan beberapa suap nasiku sembari menatap luar jendela yang sedikit aku buka dan memperhatikan beberapa gelandangan yang sesekali melewati depan kontrakkanku.


Setelah nasiku habis tanpa sisa, aku pun bergegas mandi untuk membersihkan diri. Tak lupa aku sempatkan untuk melaksanakan Sholat sunnah Duha setiap kali aku akan beraktifitas di pagi hari.


Kusamber sehelai jilbab lebarku digantungan yang setiap hari ku pakai dan ku cuci lalu ku pakai lagi, begitu juga dengan gamisku. Beruntung aku masih memiliki beberapa baju gamis pemberian ibuku dulu untuk gantiku meski hanya 2 helai, namun setidaknya ada jeda untukku bergonta-ganti sembari menunggu yang kain kering.


Tepat di depan sebuah counter pulsa yang cukup mungil itu, akhirnya aku melihat Rianti dengan seorang lelaki yang mungkin sepupunya itu sudah menunggu. Rianti yang tengah duduk di kursi depan counter tak akan mau berbaur dengan sepupunya yang berada di dalam counter. Rianti adalah sosok wanita yang sangat menjaga fitnah, sebab sepupunya bukanlah mahram baginya, itulah sebabnya ia lebih memilih duduk di luar.


"Assalamu'alaikum?" sapaku terhadap mereka.


"Walaikumsalam". Bunga, anti sudah datang, mari silahkan duduk". Tutur Rianti sembari menyodorkan sebuah kursi plastik tempat duduk pembeli.


"Kak, kenalkan ini Bunga, teman yang sudah ana ceritakan dan mau bekerja di sini". Ujar dirinya memperkenalkanku pada sepupunya sang pemilik counter.

__ADS_1


Aku tatap dirinya dan aku lemparkan senyum ramahku untuk menyapa dirinya.


"Nama saya bunga kak" ujarku sedikit malu.


"Iya, saya udah tau, kenalin, namaku Arif, kamu boleh kerja mulai hari ini, setelah ini aku akan menjelaskan beberapa pekerjaan yang harus kamu lakukan setiap hari, selebihnya nanti kamu bisa belajar sambil berjalan". ujar dia menatapku ramah.


"Terimakasih kakak sudah mengijinkan aku bekerja di sini, maaf karena kondisiku sedang hamil, apakah kakak siap menanggung resiko jika sewaktu-waktu aku akan bersalin?" ujarku penuh cemas.


"Tak apa, nanti kalo kamu pas melahirkan, biar aku sementara yang gantiin posisi kamu di sini. Sebetulnya ini biasa aku pegang sendiri, cuma karena terkadang aku ada urusan untuk belanja perlengkapan, jadi aku butuh orang pengganti buat menjaga counter cabangku yang di sini, kalo yang di lokasi satunya sudah ada 2 karyawan yang menghandel. Di sana cukup besar tidak seperti yang di sini, soalnya yang ini baru coba aku mulai merintis. Doain ya supaya bisa besar juga kayak counter satunya" ujar dia dengan tuturnya yang sangat lembut membuatku nyaman memiliki atasan seperti dia.


"InsyaAllah kak, pasti aku doakan bisnis kakak selalu lancar, apalagi aku akan mengais rejeki di sini, tentu aku akan selalu berdoa untuk kelancaran usaha kakak"


"Hmm baiklah, sini aku ajari beberapa tugasmu sebelum aku tinggal" dengan anggukkan kepalanya, yang tak lama kemudian aku mendekat untuk memperhatikan apa yang akan dijelaskan olehnya.


Beberapa menit ia menjelaskan, akhirnya aku tau apa saja yang harus aku kerjakan. Kini tinggalah aku sendiri di counter itu, sementara Rianti dan Kak Arif telah pamit pulang. Pertama Kak Arif terlebih dahulu karena ada urusan, kemudian di susul dengan Rianti yang hendak pergi ke kampusnya untuk kuliah.


"Ana pamit dulu, semoga sukses dengan pekerjaan anti ya, jaga diri baik-baik dan semoga betah. Oh iya, nanti kalo masih pingin ikut kajiyan, anti bisa pindah jadwal ba'da Magribh, soalnya kalo siang nggak memungkinkan kan anti bekerja" ujar dirinya sebelum pergi meninggalkan aku.


"Iya Rianti, InsyaAllah, nanti aku hubungi kamu kalau mau datang kajiyan, supaya bisa bareng."


"Baiklah, ana pamit dulu, Assalamu'alaikum?"

__ADS_1


"Walaikumsalam" senyumku menutup salamku dengan ramah pada Rianti yang kemudian melangkah meninggalkan tempat kerjaku.


Dengan semangat aku memulai pekerjaanku. Beberapa pelanggan mulai menghampiri untuk membeli pulsa atau perlengkapan Handphone. Dengan raut wajah ramah, aku melayani mereka dengan sepenuh hati. Meski sesekali aku harus membusungkan dadaku lantaran perutku terasa sesak dan mengalami kontraksi palsu.


__ADS_2