
"Assalamu'alaikum Rianti? apa kabar?" sapa ku menelepon Rianti pagi ini.
"Walaikumsalam, iya ukhti, Alhamdulillah baik, anti sendiri gimana kabarnya?" balas Rianti.
"Alhamdulillah sehat juga, oh iya, aku boleh cerita?" tanyaku tanpa ragu.
"Iya, silahkan atuh?"
"Jadi Kak Arif udah ngelamar aku Rianti, dan aku sangat bingung...." ujarku yang tengah duduk santai di kursi mungil.
"Apa yang membuat anti ragu pada Kak Arif? dia orangnya baik, InsyaAllah soleh dan imam yang baik, ya walaupun ia belum lama hijrah sama seperti Bunga, nantinya bisa sama-sama saling belajar".
"Iya, bukan karena itu, tapi entah mengapa pintu hatiku seolah tak terketuk pada Kak Arif, Rianti.....aku takut kalau nantinya nggak bisa mencintai dia..." sahutku dengan cemas.
"Cinta bisa hadir karena ketaqwaan Bunga, jika kita sudah memupuk iman dihati, maka Allah yang kelak akan menghadirkan rasa cinta itu" ujar dirinya penuh semangat.
"Lalu bagaimana jika dalam rumah tangga itu tak bisa juga hadirkan cinta? aku taku mendzalimi Kak Arif karena aku membohongi diriku sendiri...." ujarku sedih.
"Bunga, mintalah petunjuk pada Allah..."
"Sudah Rianti, tapi sepertinya hatiku belum berpihak pada Kak Arif, entah mengapa, meski Kak Arif terlampau baik padaku" ujarku lemah dengan pandangan nanar.
"Sepertinya ada yang membuatmu ragu anti?" tanya dirinya seolah tau isi hatiku.
"Entahlah... dan beberapa hari yang lalu, Deri datang kepadaku Rianti, ia mulai menggangguku lagi..."
"Subanalloh.... Wawllohi, jauhi dia anti, dia pemuda tak baik untuk anti, terkecuali...."
"Terkecuali apa Rianti?"
"Terkecuali dia juga telah berhijrah, telah berubah segala perilakunya dari yang dulu".
"Entahlah kalo itu, tapi sepertinya belum, hanya saja yang aku lihat sekarang ia jauh lebih baik, tapi entah karena hendak mengelabuhi seperti dulu, atau bagaimana aku tak tau".
"Hati-hati ukti.... jangan sampai terjerumus, sebaiknya anti banyak berdoa agar terlindung dari keburukan".
"InsyaAllah Rianti.... ya sudah, aku pamit dulu... Assalamu'alaikum?" ujarku menutup percakapan itu.
"Iya, Walaikumsalam".
__ADS_1
Beberapa hari aku melaksanankan sholat Istikharah, namun tak satu pun perasaan menjawab atas Kak Arif. Aku seperti semakin tak ingin menerima lamarannya. Namun aku bingung, jika aku menolaknya, maka aku akan sangat malu bila masih bekerja di sini menggantungkan fasilitas dan gaji darinya, tentu ini pilihan yang sulit buatku. Sementara aku harus selalu berpenghasilan untuk memenuhi kebutuhanku dan bayiku kelak.
"Bunga?" sapa seorang Deri yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
"Deri? mau sampe kapan kamu ganggu aku terus?!" seruku padanya dengan geram.
"Aku bukan mau ganggu, aku cuma mau bilang sesuatu sama kamu,... tolong jika nanti kamu menikah sama Arif, kasih aku kesempatan untuk tetap menjenguk anak kita sewaktu-waktu, dan ijinkan aku untuk tetap memberikan nafkah untukknya meski calon suamimu lebih mapan dan sepertinya tak terlalu membutuhkan uang dariku". Ujar dirinya memelas.
"Memangnya kamu tau aku akan menikah dengan Kak Arif?" tanyaku kesal.
"Iya, aku tau dari sikapnya sama kamu, dia perhatian sama kamu kog, dan sepertinya sayang sama kamu?" ujar dia menatapku nanar.
"Sok tau kamu!" balasku meremas jemariku.
"Menikahlah sama Arif, atau siapapun pilihan kamu, aku ikhlas, asalkan kamu bahagia dan dia mau menerima kamu dan anak kita tentunya, Arif orangnya baik, dia cocok sama kamu dibandingkan dengan aku". Ujar Deri dengan mata berkaca-kaca seperti tak rela melepasku.
"Jadi, anak yang ada dalam kamdungan kamu adalah anaknya Deri?" sahut Kak Arif yang ternyata sedari tadi sudah tiba di samping ruko. Tak seperti biasa ia datang memakirkan mobilnya di depan ruko, sebab sedang ada pembangunan selokan yang membuat dirinya harus parkir di samping. Tanpa kami sadari sudah sejak lama dia berdiri di samping ruko memdengarkan percakapan kami.
"Kak Arif?" tanyaku yang sontak sangat terkejut mengetahui bahwa ia mendengar percakapan kami.
"Nggak papa kog, aku udah denger semuanya" ujar Kak Arif dengan raut wajah kecewa.
Sejenak kami bertiga hanya berdiam saling tatap. Wajahku memucat menahan malu. Keringat dingin bercucuran jatuh pada kening dan sekujur tubuhku.
"Bunga?!" teriak Deri dan Kak Arif bersamaan dengan penuh kepanikan.
Kak Arif yang mencoba ingin menolongku namun ia urungkan dan menatap Deri yang dengan sigap membopongku seolah mengeluarkan segala tenaganya untuk ukuran tubuhku yang cukup berat karena berbadan dua.
"Bawa ke rumah sakit aja!" seru Deri yang tengah membopongku.
"Ya udah ayok kita antar pake mobilku!" seru Kak Arif tanpa berpikir panjang.
Kak Arif segera membuka pintu mobil bagian tengah, ditidurkannya tubuhku oleh Deri. Tak lama kemudian ia segera masuk dan duduk di depan bersama Kak Arif yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena panik.
Sesampainya di rumah sakit, beberapa perawat dan dokter menanganiku di ruang UGD. Riuh gemuruh suara mondar-mandir petugas medis yang melakukan tindakan padaku.
Tampak wajah Deri begitu cemas saat melihatku tengah terbaring di atas bed dengan selang oksigen dan infus yang terpasang. Begitu pun dengan Kak Arif, meski diliputi perasaan kecewa, dia pun tampak kebingungan sama seperi Deri.
"Siapakah suami dari ibu Bunga?" tanya seorang perawat pada Deri dan Kak Arif.
__ADS_1
Lama mereka terdiam dan saling tatap.
"Dia sus!" seru Kak Arif menunjuk Deri dengan tatapan datar.
"Eeee...." jawab Deri tak bisa mengelak.
Seketika Kak Arif mendekat ke arah telinga Deri dan berbisik,
"Kamu kan ayah biologisnya, kamu lebih berhak daripada aku" ujar dirinya yang tak lama pergi meninggalkan aku dan Deri di rumah sakit.
"Iya suster, saya suaminya?" jawab Deri gugup.
"Ibu Bunga sudah masuk fase persalinan, sekarang sudah pembukaan 2, tapi tadi sepertinya ia mengalami stres berat, sehingga tubuhnya lemas, dan sekarang sedang dilakukan pemulihan supaya tenaganya bisa pulih dan bisa melakukan persalinan normal" ujar salah satu perawat menjelaskan pada Deri yang tengah cemas.
"Lakukan yang terbaik sus..." balas Deri.
Tak lama ia mendekatiku yang terbaring di atas bed dengan mata yang baru saja terbuka dan tersadar dari pingsanku. Deri tengah duduk di kursi bersebelahan dengan tempat tidurku. Wajahnya yang cemas, membuat ia setia menemaniku berjam-jam di sana tanpa rasa bosan.
"Kamu wanita tegar Bungaku sayang.... kamu harus kuat ya.... Maafkan aku yang pernah mencampakanmu..." bisik Deri padaku dengan raut wajah tak tega menatapku yang mulai berjibaku dengan kontraksi perutku yang semakin hebat.
Seharian aku berjibaku dengan beberapa suntikan dan tindakan. Kini tibalah aku memasuki ruang persalinan untuk segera di pimpin persalinan. Deri tampak bingung saat itu. Antara ingin ikut masuk, atau di luar saja sebab kami bukanlah pasangan suami istri.
"Bapak Deri, tolong temani istrinya ya, beri dia dukungan agar semangat" ujar salah seorang bidan memanggil Deri yang tengah berada di depan pintu ruang persalinan.
Ia yang tak bisa mengelak sebab namanya pernah tercantum dalam rekam medis milikku akibat dulu aku yang menuliskan identitasnya membuat dirinya mau tidak mau masuk ke dalam ruangan persalinan itu.
Aku yang sedari tadi berjibaku menahan sakitnya kontraksi rahimku, tak peduli lagi dengan apa dan siapa aku akan ditemani bersalin. Tak bisa lagi aku berpikir apa pun, sebab yang aku rasakan adalah bagaimana aku bisa meredam rasa sakitku yang luar biasa saat itu.
"Ayo terus bu....terus...." pimpin bidan dan beberapa patnernya padaku.
"Aaakhhhhgggg.... huft....huft...."teriakku mengejan dan menahan sakitnya kontraksiku sembari sesekali menarik nafas panjang.
"Oek....oek...." akhirlah lahirlah seorang putraku yang sangat lucu membuatku menangis haru.
Suara isak tangis Deri pun akhinya terdengar olehku, ia menatap sesosok bayi laki-laki oleh tangan sang bidan dan sangat menakjubkan. Ini menyadarkan aku bahwa sedari tadi dirinya menemaniku dalam proses persalinan.
Spontan aku berbisik padanya untuk segera meninggalkanku yang tengah kotor dan akan dilakukan tindakan selanjutnya. Tentu aku mulai terasa malu sebab akan banyak auratku yang terlihat saat itu.
"Tolong kamu keluar" bisiku lirih padanya.
__ADS_1
"Iya, aku mengerti,maafkan aku... kamu kuat ya... aku sayang kamu...." balasnya lirih seolah ingin mengecup keningku seperti sepasang suami istri yang penuh haru menerima kehadiran buah hatinya. Setelah meminta ijin pada sang bidan, ia pun pergi meninggalkanku.
"Ya Allah... sungguh memang diriku pernah mengharapkan ini, ditemani persalinan oleh sang Deri, namun sebagai suamiku, bukan sebagai musuhku seperti ini, lantas apakah ini jawaban dari semuanya Ya Allah... Gumamku dalam hati dengan tetesan air mata yang tak terbendung.