Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Teror Bagas


__ADS_3

Hari ini adalah acara milad Klinik Baby Spaku yang ke-6 tahun. Susunan acara yang aku buat semua mengarah pada acara sosial. Mulai dari mengumpulkan anak-anak panti dan memberikan mereka santunan, sedekah fakir miskin yang dilakukan oleh seluruh staf karyawanku berkeliling, dan juga pembagian 6 ribu bungkus makanan secara gratis ke seluruh orang di jalanan. 6 ribu bungkus yang aku sesuaikan dengan usia Klinik itu.


Seharian aku berjibaku menyiapkan acara itu dengan beberapa karywanku. Tak lupa ketiga anakku pun turut serta dalam meramaikan acara ini. Mereka tampak sangat bahagia bisa berbagi pada orang-orang yang membutuhkan.


Setiap yang ia temui untuk diberikan sedekah yang berisikan uang dan sembako itu akan selalu membalas dengan senyuman merekah tanda penuh kebahagiaan. Hal inilah yang membuat mereka mengerti akan menebarkan kebahagiaan buat orang lain maka akan menghasilkan pula kebahagiaan untuk diri sendiri. Itulah yang selalu aku ajarkan pada mereka sampai saat ini.


Semenjak Lani aku rawat di rumah sakitku, banyak rejeki datang yang tak disangka-sangka. Klinik Baby Spa yang aku bangun pasiennya bertambah banyak dan namanya pun kini sangat terkenal di seluruh wilayah daerahku.


"Umi... Kenapa mereka tinggal di panti asuhan?". Tanya Umar yang tengah beristirahat seusai turut membagikan sembako keliling. Ia duduk menatap beberapa anak-anak panti yang berhamburan pulang saat acara santunan telah selesai.


"Mereka semua kan tidak punya orang tua... Makanya mereka dititipkan untuk tinggal di panti...". Jawabku yang kemudian duduk di sampingnya.


"Kita juga nggak punya ayah umi.... Abi sudah lama menghilang...". Ucap Umar dengan raut wajah sedih.


"Iya umi... Uwais rindu abi... Kenapa abi pergi ninggalin kita begitu lama...??". Tiba-tiba suara Uwais terdengar di sampingku tampak mendekat ke arah kami berdua.


"Sabar ya sayang... Insya Allah yang terpenting sekarang abi masih ada.... Mungkin suatu hari nanti kita masih bisa dipertemukan.... Lain sama mereka... Kalau orang tua mereka memang benar-benar sudah meninggal...". Ujarku dengan penuh kelembutan mencoba menjelaskan pada mereka. Sesaat mereka pun memelukku erat.


"Umi... Abi itu wajahnya seperti apa sih??". Tanya Shanum dengan nada polos.


Aku menatapnya dan tak kuasa menitikkan air mata.


"Abi wajahnya tampan, mirip seperti Kak Uwais dan Kak Umar....". Ucapku seraya menyaut tubuhnya dan memeluknya bersamaan dengan Uwais dan Umar.


Kami bertiga terisak mengungkapkan perasaan rindu yang sangat pada sang Deri yang telah bertahun-tahun menghilang tanpa ada kabar berita.


"Kring...Kring...". Tiba-tiba gawaiku pun berbunyi. Sebuah nomor tak dikenal tampak pada layar kaca itu.

__ADS_1


Aku menatap layar kaca itu dan meragu untuk mengangkat telepon itu.


"Kenapa nggak diangkat um? Nanti teleponnya kan jadi bunyi terus?". Ucap Uwais dengan penuh penasaran.


Seketika aku menekan tombol penerima telepon karena tak enak hati pada Uwais.


"Hallo?". Sapaku dengan nada meragu.


"Hallo Janda yang malang....". Ucap suara seorang lelaki yang aku kenal dan tak lain adalah Bagas rupanya.


"Huft....". Sejenak aku menghela nafas panjang kemudian melangkah menjauh dari arah ketiga anakku itu.


"Apa yang menyebabkan kamu terus meledekku janda yang malang?? Dan apa sebenarnya tujuanmu terus meneleponku??!". Tanyaku dengan nada ketus.


"Janda yang malang... Iya kamu janda yang malang... Seorang janda yang dinikahi seorang pemuda namun dalam perjalanan ternyata diselingkuhi, dan akhirnya kini kembali menjanda... Hahahah... Sungguh janda yang malang....!!". Kalimatnya yang seolah bernada seperti sedang membacakan puisi dan diakhiri tertawa terbahak itu.


"Jangan kau sebut aku janda yang malang... Aku bukan janda yang malang... Buktinya sekarang aku bahagia... Tak masalah bagiku kembali menjada, nyatanya aku dikaruniai tiga putra-putri yang sangat membanggakan, dan usaha yang aku bangun untuk perekonomianku pun sangat gemilang... Aku janda bahagia... Bukan janda yang malang...!!!". Seruanku dengan perasaan yang bertanya-tanya dengan apa maksud dan tujuannya itu padaku.


"Apa?? Menikah denganmu lagi??? Ini sesuatu yang tidak mungkin...!!!". Tukasku dengan ketus dan nafas yang mulai terasa sesak.


"Oh...Oh...Oh... Bunga cantik... Mengapa kamu tak mau menikah denganku?? Apa karena kamu masih mencintai mantan suamimu yang bernama Deri itu??".


"Sebetulnya kamu tau dari mana tentang hidupku...?? Tolong jangan ganggu aku lagi... Aku tak pernah mengusik kehidupanmu, lantas mengapa kamu ganggu hidupku lagi??". Tanyaku dengan nada memohon.


"Kamu tak perlu tau itu... Dan aku sudah bilang tak akan lagi mengganggumu bila kamu mau menikah denganku lagi.... Hahahah!". Tawanya dengan nada mengejek.


"Kenapa kamu tidak menikah saja dengan orang lain??".

__ADS_1


"Tidak bisa sayang... Itu tidak gampang buatku... Namaku sudah tercemar akibat perbuatanmu dulu yang sering memposting curhatan perbuatan kasarku padamu di Media Sosial... Tak ada perempuan yang mau menikah denganku karena takut....". Jelasnya masih dengan nada yang dibuat-buat.


"Baik... Aku minta maaf... Maafkan aku atas perbuatanku dulu saat pikiranku belum dewasa... Apa yang bisa aku bantu supaya kamu mau memaafkanku??". Kalimatku dengan nada bergetar.


"Sudah kubilang... Untuk menebus kesalahanmu, menikahlah kembali denganku, maka urusanmu akan selesai....". Ucap dirinya kali ini dengan nada mengancam.


"Maaf, kalau yang itu aku tidak bisa.... Aku tidak bisa menikah lagi...". Sahutku dengan perasaan cemas dan takut.


"Mengapa??? Apa Deri penyebabnya?? Kamu masih mencintainya??". Tanya dirinya serius.


"Iyah... Deri adalah ayah dari ketiga anakku... Anak-anak yang selalu berada di sampingku... Tak mungkin aku melupakannya...". Ucapku dengan nada melemah.


"Ooh... Baiklah... Akan aku buktikan bahwa kamu adalah benar-benar janda yang malang... Tunggu saja nanti....!!!". Kalimatnya mengakhiri percakapan yang sungguh membingungkan hatiku itu.


Aku genggam gawaiku diantara dadaku.


"Umi... Umi kenapa....? Umi tidak apa-apa kan??". Tanya Shanum yang menatapku dengan wajah memucat tampak kebingungan.


"Enggak sayang... Umi nggak apa-apa kog... Yuk kita masuk ke dalam...". Ucapku sembari mengatur nafasku dan mengajak anak-anakku untuk masuk dan beristirahat.


Malam hari yang dingin itu aku tak bisa tidur memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi. Rasa penasaranku akan teror Bagas padaku membayangi di pelupuk mataku. Ada rasa khawatir dan takut dalam benakku akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa keluargaku. Mengingat aku sangat paham watak dari mantan suami pertamaku itu yang sangat tempramen dan raja tega itu.


Ya Allah lindungi kami.... Ucapku lirih.


Sejenak aku membangunkan diri dan beranjak dari tempat tidurku. Aku berdiri di sudut ruangan menatap jendela ke arah luar dari kamarku. Dinginnya malam itu membuat kedua tanganku saling mendenkap.


Hatiku semakin mulai merasakan kerinduan yang begitu mendalam terhadap sosok Deri. Yah, Deri yang dahulu selalu memberikan pelukkan hangat nan mesra kapan pun aku membutuhkan. Deri yang selalu berusaha melindungi diriku dari sesuatu yang menimpaku dan membuatku ketakutan, terutama seperti saat sekarang ini. Rasa khawatir akan teror Bagas menyadarkanku bahwa aku kini sangat membutuhkan kehadiran Deri.

__ADS_1


Cintaku yang dulu tertutup ego atas rasa sakit hatiku kini mulai membara dihatiku kembali. Namun entah dimana keberadaannya kini aku tak mengerti. Andai saja mungkin dia dahulu tak menghilang, mungkin saat ini kami sudah bersama lagi dan merajuk cinta kembali seperti sedia kala.


Deri..... Dimanakan kamu berada.... Aku merindukanmu... Kembalilah padaku... Aku telah memaafkan semua kesalahanmu.... Ucapku dengan kedua tangan yang terus mendekap semakin erat dan beberapa kali mengusap air mata yang membasahi pipiku.


__ADS_2