Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Menggugat Cerai


__ADS_3

Setelah dua hari aku mengumpulkan tenagaku, hari ini aku berniat untuk pergi ke pengadilan agama mendaftarkan gugatan cerai pada Deri. Beberapa berkas aku persiapkan dengan lengkap. Tak bingung aku akan hal ini, sebab sebelumnya aku pernah melakukan hal serupa.


"Huft...." Nafas panjangku mengiringi diriku yang memandangi buku pernikahan milik kami. Rasa sesak di dadaku yang tak pernah menyangka bahwa pernikahanku akan kembali berujung pada hal ini.


"Umi....Uwais kangen sama abi um.... Uwais mau ketemua abi...." suara Uwais menyapaku dengan rintisan sedih. Wajahnya tampak memelas, menggambarkan kesedihan atas kerinduannya pada sang ayahnya.


"Uwais sayang harus sabar ya nak.... Umi kan sudah pernah bilang, abi tinggal berjauhan karena abi mencari uang, sabar ya sayang...." ucapku sembari memberikan pelukan hangat meski menatap wajahnya sungguh aku tak tega.


"Tapi kenapa kita nggak bisa tinggal bareng sama abi lagi sih um?? Kemaren-kemaren bisa, kog sekarang nggak??" ucapnya polos.


"Karena ada sesuatu ujian dari Allah untuk abi sama umi yang bikin kita nggak bisa tinggal bersama lagi..... Jadi, Uwais harus sabar menerima ujian dari Allah ini ya...." Kalimatku aku ucapkan dengan lembut. Sembari aku usap wajahnya yang lugu itu. Yah, wajahnya sungguh mirip dengan Deri. Sejenak terlintas bayangan dirinya saat bermesraan denganku. Secepatnya aku tepis agar tak mempengaruhi tekadku yang sudah bulat untuk segera mengajukan cerai saat itu juga.


Wajah polos itu terdiam menatapku yang tengah bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan agama.


"Umi mau kemana?" tanya dirinya lagi.


"Umi ada perlu nak.... Nanti Uwais sama Umar di rumah dulu sama eyang uti ya..."


"Kenapa kita nggak diajak um?"


"Umi ada perlu yang nggak bisa bawa anak kecil sayang...."


"Ya udah, tapi umi jangan lama-lama ya..."


"Iya sayang...."


Dua jam aku mengendarai mobil, akhirnya sampailah aku pada tempat dimana aku pernah melakukan sidang perceraian dulu. Aku tatap gedung itu dengan nafas panjangku. Meski terasa berat, langkah kakiku tetap kulajukan untuk memasuki gedung itu.


Beberapa jam setelah aku berjibaku dengan urusan administrasi, akhirnya aku berhasil mendaftarkan diri sebagai penggugat atas Deri suamiku. Lega rasa hatiku, akhirnya aku bergegas kembali pulang untuk segera bertemu kedua anakku yang sudah menunggu di rumah.


***


Hari berikutnya, tibalah Deri pergi menyusulku. Selepas pulang bekerja, ia segera bersiap menuju bandara diantar oleh Ferdi.


Beberapa jam kemudian sampailah pesawat yang ia tumpangi mendarat di kota kami. Ia turun dengan penuh harapan agar bisa mengambil hatiku kembali untuknya.


"Assalamu'alaikum" ucap Deri di depan pintu rumah ibuku.


"Walaikumsalam" jawabku yang sedikit terkejut melihat kedatangannya kemari.


"Abi....Abi... Hore....abi dateng....!!!" suara riang Uwais menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Uwais sayang...." ucap Deri yang seketika memeluknya erat-erat. Diciuminya seluruh wajahnya untuk melepas kerinduannya.


Tak lama ia menatapku yang tengah berdiri menggendong Umar. Sesaat kami saling terdiam.


"Boleh aku gendong Umar?" tanya dirinya yang saat itu wajahku mulai memerah pertanda menahan emosi.


Aku ulurkan gendonganku ke arahnya untuk memberikan Umar padanya.


"Bunga...." dia memanggilku seolah ingin berbicara sesuatu padaku.


Sementara aku tak sedikitpun menggubris dirinya.


"Deri...." ucap ibuku yang menghampiri kami beberapa saat kemudian.


"Ibu..." sahutnya sembari mencium tangan ibuku takzim.


"Apa kabar bu?" sapa Deri pada ibuku.


"Alhamdulillah sehat, kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah sehat juga".


"Hemmm mulai deh akting.... Nggak usah sok baik di depan ibu.... Bau busuk kamu udah kecium..." ucapku yang sungguh benci melihat Deri berbincang dengan ibuku.


"Deri ayo ikut aku" sahutku sembari mengeluarkan motor ke halaman.


"Bu, nitip Uwais sama Umar, aku pergi dulu sama Deri" ucapku menyuruh Deri segera menghidupkan mesin motor itu.


"Umi sama abi pergi dulu ya nak...." kataku pada Uwais yang menatap ke arah kami seolah ingin sekali ikut dan masih menahan rindu dengan Deri. Ia hanya mengangguk pelan.


Aku ajak Deri di sekitaran lahan persawahan kampungku. Aku tak mau ada pertengkaran di hadapan kedua anakku dan ibuku. Di pinggir sawah nan hijau motor kami berhenti dan segera kami menurunkan diri dari motor itu. Suara gemuruh angin yang berhembus tak bisa memadamkan rasa emosiku yang kembali memuncak.


"Masih berani kamu menampakkan diri di hadapan aku? Nggak malu??" ucapku sinis padanya.


Seketika ia tersungkur di hadapanku dan bersujud di depan kakiku.


"Aku minta maaf Bunga... Maafkan aku yang menyakitimu...." ucap dirinya seraya menahan isak.


"Sudah.... Sudah cukup akting kamu.... Sekarang berdiri...!"


"Aku nggak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku"

__ADS_1


"Hemmmm modusmu selalu aja gitu..... Baik, aku maafkan..."


"Benarkah??" seketika ia pun terbangun dari sujudnya dengan wajah semringah.


"Tapi sayang, aku sudah mengajukan gugatan cerai, jadi jangan harap kita bisa hidup kembali seperti dulu...." ucapku sembari menunjukan bukti administrasiku padanya.


"Bunga.... Aku mohon... Batalkan ini..."


"Enak sekali kamu bilang... Ini juga bukan kemauanku... Justru ini kemauan kamu... ! Kalo bukan karena kamu yang memulai, nggak akan mungkin ini terjadi...!!!" seruanku dengan wajah yang bersungut.


"Iya aku yang salah.... Aku khilaf..."


"Khilaf kamu bilang?? Suami yang perangainya sedemikian alim terbongkar berzina, lalu dengan gampangnya mengatakan khilaf???"


"Aku sudah menikah dengan Lani Bunga...."


"Apa??? Menikah??? Owhhhh siri??? Hemmm? Lancang sekali..."


"Dengar dulu penjelasanku.... Lani yang datang padaku, dia bilang kalo suaminya lama meninggalkan dirinya, dia butuh sosok pelindung selama di Jakarta, itulah sebabnya aku bermaksud menolong dia..."


"Menolong seorang mantan dengan mengorbankan rumah tangganya??? Sungguh nggak masuk di akal..."


"Aku berniat pologami, jika memang kamu setuju maka aku akan lanjutkan, tapi jika memang kamu keberatan, aku akan tinggalkan Lani...."


"Pologami?? Hahaha... Nggak ada poligami seperti ini..... ini mah bukan karena uzur syar'i.... Ehmmm sudahlah kamu nggak usah buat-buat alasan.... Lucu sekali yah tingkahmu.... Setelah menikmati tidur dengan perempuan lain, lalu baru mengatakan akan meninggalkan dia??" Kalimatku dengan nada mengejek.


"Aku nggak tau lagi harus bilang apa, aku memang salah, tapi jujur aku sayang banget sama kamu... Aku nggak mau kehilangan kalian...." Ucapnya sembari terisak.


"Bulsit....!!! Nggak ada orang sayang tapi tega berselingkuh?? Untung ketahuan, coba kalo nggak?? Wah..."


Sejenak kami terdiam karena lelah dengan pertengkaran.


"Ini nggak adil buat aku dan anak-anak Der.... Kamu yang udah hancurkan semuanya, sekarang kamu harus berani melepaskan kami... Jangan lagi ganggu aku, silahkan kamu lanjutkan kisah hidupmu bersama Lani pujaan hatimu sejak dulu..."


"Nggak Bunga... Kamu tetap istriku yang paling aku sayang...."


"Sudah... Cukup.... Aku muak...!!! Ucapanmu nggak singkron dengan kelakuanmu.... Jijik sekali aku mengingat perbuatan kalian....!!!" ucapku dengan tangisan yang mulai terpecah.


"Aku nggak akan bisa mengabulkan gugatan kamu...." ucapnya seolah mengancam.


"Dan kamu nggak akan bisa mengelak.... Celana dalam kalian dan video yang pernah aku buat akan menjadi saksi di persidangan....!!"

__ADS_1


Deri pun terdiam kehabisan kata. Wajahnya tampak sangat menyesal oleh sebab yang tak lama lagi akan kehilangan segalanya baginya.


"Brukkk..." Badanku tiba-tiba terhempas di tepi sawah itu. Kepalaku yang sesaat terasa berputar dan perutku yang mual seperti yang aku rasakan sejak kemarin mulai menyerangku dan membuatku seketika tak sadarkan diri.


__ADS_2