Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Kontrakkan untuk Uwais


__ADS_3

Pagi ini Deri datang seperti biasa membawakan aku makanan, sebab dia tau kalau menu makan di rumah sakit tidak terlalu enak dan jarang aku makan. Untuk menarik perhatianku dia selalu membawakan aku makan dan beberapa buah-buahan untukku.


Tak seperti biasanya, hari ini dirinya terlihat sangat singkat bertemu denganku. Hanya sebatas mengantar makanan lalu pamit pulang. Padahal biasanya ia gunakan kesempatan ini untuk menimang bayiku dan ngobrol muluk-muluk padaku. Namun hari ini sepertinya ia terburu-buru.


Entah karena aku mengusirnya tadi malam atau ada keperluan lain.


Sementara itu Deri keliling di beberapa komplek perumahan untuk mencari sebuah kontrakkan yang kelak akan diberikan padaku. Setelah beberapa jam ia berkeliling menggunakan motor, akhirnya ia berhasil mendapatkan sebuah kontrakkan yang cukup sederhana namun layak untuk ditinggali.


Tak lama dari itu, tanpa sepengetahuanku ia memboyong semua barang-barang dan perlengkapanku yang masih berada di ruko Kak Arif. Dibantu oleh Ferdi, mereka mengangkut semua barang-barangku dan menyiapkannya di rumah kontrakkan yang baru saja mereka bereskan. Beberapa perabotan juga diisi olehnya meski tak selengkap sewaktu tinggal di ruko Kak Arif.


"Assalamu'alaikum?" sapa Deri yang akhirnya datang ke kamarku selepas magribh.


"Walaikumsalam" jawabku datar sembari menimang bayiku selepas aku susui.


"Bunga, kata bidan jaga besok pagi kamu udah boleh pulang" ujarnya memberiku kabar yang seolah gembira itu.


"Glek" aku hanya menelan ludah dan terdiam. Aku bingung aku harus pulang kemana. Lama aku terdiam Deri pun menjelaskan padaku kegiatannya seharian tadi.


"Kamu jangan khawatir, aku udah siapkan tempat tinggal buat kamu" ujarnya yang seketika membuatku terkejut.


"Maksud kamu?" tanyaku penasaran.


"Iya, aku tadi siang udah cari kontrakkan buat kamu, dan aku sama Ferdi udah beresin semua barang-barang kamu, jadi kamu tinggal nempatin" ujar dirinya dengan senyuman yang menurutku palsu karena kebencianku.


"Ngapain kamu repot-repot carikan aku tempat tinggal segala?" jawabku ketus.


"Bunga, anggap aja ini untuk Uwais, yah...untuk kebaikan Uwais, bukan cuma kamu..." ujarnya lagi mencoba menenangkanku yang sebetulnya sedikit lega karena tidak lagi harus memikirkan tempat tinggal, namun masih gengsi pada Deri.

__ADS_1


"Deg" seketika aku merasa gugup. Lagi-lagi aku harus menentukkan pilihan yang sulit bagiku. Ingin rasanya aku menolak tawaran Deri, namun keuanganku tak mungkin bisa mencukupi untuk mengontrak sebuah rumah layak,terutama untuk bayiku. Belum lagi kondisiku yang tak lagi bekerja tentu akan membuatku semakin sulit untuk memenuhi kebutuhanku nantinya.


Tapi di satu sisi aku sangat bimbang, jika aku terus mengandalkan Deri, tentu akan membuat dirinya selalu punya celah kesempatan untuk meluluhkan hatiku.


"Ya Allah....lindungi hambamu yang lemah ini..." gumamku dalam hati.


Tak lama setelah menyampaikan kabar itu, Deri segera pamit pulang, tak seperti biasanya yang menunggu aku usir terlebih dahulu baru ia akan pulang.


Keesokkan harinya, Deri datang menjemputku bersama Ferdi. Aku yang sudah bersiap membereskan barang-barangku pun harus bersiap dengan ini. Tak ada pilihan lain, mau tak mau aku harus mengikuti tawaran Deri untuk tinggal di kontrakkan yang sudah ia siapkan untukku. Aku pikir ini sementara saja sampai nanti aku bisa mendapatkan pekerjaan dan berpenghasilan, maka aku tak akan lagi bergantung padanya lagi.


Dalam perjalanan, di dalam mobil Deri terlihat sangat ceria. Sesekali ia menggodai bayiku dengan tingkahnya yang garing menurutku. Wajahku hanya tampak datar dihadapan mereka, hanya sesekali aku tampak menimang bayiku menenangkan rengekkan kecilnya.


Beberapa menit kemudian, sampailah kami pada rumah kontrakkan itu. Bergegas Deri menurunkan barang-barangku dari dalam mobil dan mengajakku masuk ke sana.


"Ini tempat tinggal kalian berdua sekarang, maaf nggak ada AC kayak waktu di tempat Arif, tapi mudah-mudahan kalian betah dan nyaman tinggal di sini, mudah-mudahan nanti kalo ada rejeki, aku carikan tempat yang lebih layak lagi" jelasnya padaku.


"Jangan gitu lah Bunga, haragailah usaha Deri buat kamu sedikit..." ujar Ferdi sedikit geram padaku.


"Ssst" Deri mencoba menghentikan ocehan Ferdi.


Aku hanya terdiam dengan wajah datar dan seolah tak ingin melihat mereka berdua lagi.


"Ya udah, kita pamit dulu, ini ada uang sedikit buat keperluaan kamu, jangan lupa kabari aku kalo kamu butuh apa-apa, Assalamu'alaikum" pamit Deri sembari meninggalkan sebuah amplop putih di atas meja ruang makan.


"Walaikumsalam" jawabku singkat yang tak ingin menyentuh amplop itu sebelum mereka pergi.


Aku langkahkan kakiku ke dalam kamar yang sudah ia siapkan lengkap dengan sebuah ranjang bayi untuk Uwais. Aku tidurkan Uwais di atas sana. Seketika bibirkun tersenyum memandangai wajahnya yang masih polos itu.

__ADS_1


Langkahku kembali ke dapur. Aku cek beberara lemari sudah lengkap dengan perlatan dapur. Aku buka kulkas yang sudah ia belikan untukku, terlihat beberapa stok makanan juga Deri siapkan untukku. Aku hanya terdiam dalam bimbang, entah aku harus bersyukur atas datangnya rejeki ini, ataukah aku harus bersedih karena kembalinya seorang penjahat dalam hidupku.


Dalam perjalanan pulang, Deri dan Ferdi pun berunding masalahku dengan Deri.


"Fer, kayaknya gue bakal pindah cari kerja di sini aja" ujar Deri pada Ferdi yang sedang melajukan mobilnya.


"Trus usaha elo yang di kampung gimana? kan udah elo rintis?" ujar Ferdi.


"Nggak apa, kapan-kapan bisa gue lanjut di sini, sekarang bagi gue gimana caranya gue bisa ngidupin anak gue"


"Iya sih, bagusnya memang gitu"


"Bantuin gue cari kerja Fer"


"Iya nanti gue usahain di perusahaan temen gua, lah trus kalo nantinya Bunga tetep kekeh nggak mau nikah sama elo gimana?"


"Nggak tau ah, gua mah pasrah aja, yang penting gua usaha dulu, habis ini gua pulang kampung dulu, gua ijin bokap nyokap dulu, sama coba sedikit-sedikit ngenalin Bunga sama mereka, dari dulu kan gue belum sempet bilang tentang Bunga sama mereka" ujar Deri menjelaskan.


"Lah, terus gimana tentang anak elo?"


"Ya kalo itu sih gue nggak akan bilang dulu, nanti liat dulu gimana perkembangan Bunga sama gue, nanti gue juga bakal coba ketemu nyokapnya Bunga lagi, gue coba nglamar dia dulu ke nyokapnya, biar ada signyal buat Bunga" Ujar Deri mengutarakan rencananya penuh dengan keyakinan.


Malam hari setelah itu, Deri pergi ke Lampung menaiki bus. Dia pamit padaku lewat pesan hijau yang ia kirim sesaat saat busnya baru saja melaju.


[Bunga, aku pamit dulu kembali ke Lampung, InsyaAllah setelah ini aku balik lagi ke Jakarta dan bekerja di sana, jaga diri kalian ya, aku sangat menyayangi kalian, kecup sayangku buat Uwais....] isi dari chat Deri padaku yang tak membuat aku ingin membalasnya.


Dalam benakku sudah kehilangan kepercayaan lagi padanya. Teringat dahulu saat ia pamit padaku dengan manis, merayuku dalam bujukan iblis, namun janjinya tak semanis gombalannya. Selepas aku membaca pamitnya, tak ada lagi aku mengharapkan Deri kembali padaku, dan hatiku pun mulai sedikit lega karena tak akan lagi ada yang mengangguku.

__ADS_1


__ADS_2