Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Baby Shanum


__ADS_3

Suara Adzan di telingaku perlahan mulai menjauh. Sayup-sayup suaranya perlahan mulai melelapkan aku dari segala kelelahanku yang beberapa jam lalu berjibaku dengan proses persalinanku.


Meski sekuat tenaga aku coba menahan rasa kantukku, namun pada akhirnya aku terlelap dengan bayiku yang masih aku dekap dalam selimut itu.


Sementara itu Uwais mulai membuka mataya perlahan. Dia memang sudah terbiasa aku bangunkan saat subuh untuk bisa ikut aku bimbing sholat berjamaah bersamaku.


Namun kali ini dia hanya bisa menatapku dengan pandangan aneh. Ia terus memandangiku dengan sedikit ketakutan. Perlahan ia mendekatiku dan kali ini pandangannya tertuju pada bayi yang aku dekap dalam keadaan menggeliat di atas dadaku.


Uwais tersenyum melihat bayi yang aku dekap itu. Tanpa ragu ia mulai mengusap rambutnya yang masih sedikit berlumuran lendir dan mengering itu. Sesekali ia mencolek kedua pipinya yang mungil.


"Oek...Oek..." suara tangisan keras dari bayiku mulai membangunkanku. Mataku perlahan mulai terbuka dengan sedikit sinar matahari yang sudah mulai mengintip dari jendela kamarku dan menyoroti mataku menimbulkan silau.


"Uwais???" Mataku terbelalak mendapati Uwais yang entah sudah berapa lama ia mencoba bermain dengan adik bayinya yang baru saja lahir itu.


"Umi...Dedek bayi udah lahir ya...?" ucapnya dengan wajah polos dan tersenyum memandangi bayiku.


"Iya nak... Kamu ke tempat pakde sekarang, kasih tau budhe ya kalo dedek bayi Uwais udah lahir..." kalimatku menyuruhnya untuk mengabarkan berita ini pada kakakku.


Ia pun mengangguk tanda setuju, dan segera kakinya melangkah menuju rumah kakakku yang jaraknya tak jauh dari rumahku. Beberapa saat ia kembali ke kamar.


"Um... Pintunya masih dikunci...Uwais nggak bisa buka sendiri..." ucapnya polos.


Seketika perlahan aku mencoba membangunkan diri. Meski beberapa kali mataku tampak berkunang-kunang, aku coba sekuat tenagaku untuk dapat menopang tubuhku agar bisa melangkah.


Meski dengan tertatih akhirnya aku bisa berdiri. Sejenak aku tinggalkan bayiku yang dalam balutan selimut tebalnya di samping Umar yang sedang terlelap dengan wajah polosnya.


Kakiku melangkah dengan penuh gemetar, tanganku perlahan meraba pada dinding untuk membantuku menopang tubuhku agar terus bisa melangkah menuju pintu rumahku yang terkunci.


Beberapa langkahku pelan akhirnya aku sampai meraih pintu rumahku dan berhasil membukanya untuk Uwais. Dirinya pun tersenyum dan penuh semangat melangkah menuju rumah kakakku.


"Oek...oek..." Seketika suara tangisan bayiku pun kembali terdengar. Aku atur nafasku untuk kembali mengumpulkan tenagaku.


Rasa lapar bercampur lemas saat itu membuatku tak segera kembali ke kamar untuk menengok keadaan bayiku, melainkan aku duduk sejenak di depan meja ruang keluarga untuk memakan beberapa biskuit yang ada di atas meja itu.


Secepat mungkin aku kunyah biskuit itu untuk mengganjal perutku yang sudah lapar dan hampir kehabisan tenaga pasca persalinan tadi. Setelah menelan beberapa biskuit, aku kembali melangkahkan kakiku ke dalam kamar.

__ADS_1


Aku pun mendapati Umar mulai terbangun dan menatap keberadaan bayiku. Sorot matanya tampak senang melihat adanya bayiku yang tengah menangis kencang.


"Bunga??? Kamu lahiran sendiri?!" Spontan suara kakak iparku mengejutkanku yang sedang membereskan beberapa kain berserakan di bawah ranjangku itu.


"Iya mbak..." ucapku lirih.


Tampak ia berlari menuju dapur untuk mengambilkan beberapa makanan yang ada untukku dan membuatkan segelas susu untukku.


"Ini kamu makan dulu buat tambah tenaga kamu..." ucapnya sembari menyodorkan beberapa kue dan segelas susu ke tanganku.


Segera aku meraihnya, dan dengan lahap aku makan kue itu dan seketika aku teguk susu itu dengan kilat. Rasa lapar dan lemas mendorongku untuk segera memasukan makanan itu ke dalam perutku yang sejak tadi hampir kehilangan tenaga atas kejadian dini hari tadi.


"Kog bisa kamu lahiran sediri, apa nggak bisa minta bantuan??" tanya kakak iparku yang mukai membantuku membereskan kotoran persalinanku dan memaskukan beberapa kain yang berserakan itu ke dalam ember sebuah ember.


"Semalem HPku ngedrop mbk, mau minta tolong juga aku udah nggak sanggup, bayiku keburu lahir duluan..." ujarku mencoba menjelaskan.


"Terus sekarang gimana? Aku panggil bidan ya?" Tawarannya padaku dengan nada panik.


"Iya mbk, tolong panggilkan bidan terdekat.." ucapku yang mulai membereskan bayiku dan membalutkan pakaian bayi pada tubuhnya.


Sembari menunggu peralatan, aku cek bagian jalan lahirku untuk memastikan adanya robekan atau tidak. Tampak hanya sedikit luka yang tak memerlukan jahitan untuk menanganinya. Hatiku sedikit lega, meski rasa sakit masih aku rasakan pada bagian itu.


"Ini udah..." Kakak iparku menyodorkan peralatan yang sudah aku pesankan itu padaku.


Beberapa jam sudah aku menantikan kehadiran bidan yang tak kunjung berada, akhirnya aku mencoba memotong tali pusat bayiku dengan tanganku sendiri.


"Mbak, tolong Umar dan Uwais diamankan dulu..." pintaku sebelum aku melakukan pemotongan tali pusat pada bayiku.


Seketika kakak iparku membawa mereka berdua kembali ke rumahnya dan sekaligus memberi kabar pada kakakku yang saat itu baru saja kembali dari masjid.


Segera aku potong tali pusat itu dengan gunting yang masih baru dan sama sekali belum pernah aku gunakan itu. Tak ada keraguan padaku, sebab dulu aku sering melakukan itu manakala bekerja di rumah sakit.


"Oek...Oek..." Tangisan bayiku kembali memecahkan ruang kamarku.


Setelah semua beres, kini aku mulai menyusui bayiku dengan nyaman dan mulai lega dengan keadaanku.

__ADS_1


Bersamaan dengan kakakku, beberapa keluargaku mulai berdatangan untuk melihat kondisiku.


"Wah... Mentang-mentang bidan ngelahirin aja sendirian..." kalimat salah satu keluargaku yang menjengukku kala itu.


"Bukan karena pingin ngelahirin sendiri mbak... Tapi memang keadaan kepepet..." ujarku mengelak sembari terus menyusui bayiku.


Beberapa diantara mereka ada yang melihatku iba, namun ada juga yang dengan tatapan sinis.


"Mbak, tolong sampaikan sama Bik Yayah buat bantu-bantu aku di rumah sama urus Uwais dan Umar, karena aku bakal repot setelah ini pastinya...." pintaku pada kakak iparku yang baru saja kembali datang ke rumah membawakan makan untukku.


"Baiklah... Nanti aku panggil, sekalian buat beresin pakaian kamu yang udah kotor itu..." ujar kakak iparku yang memang sudah terbiasa mengandalkan Bik Yayah sebagai tenaga meringankan pekerjaan rumah bila kerepotan.


"Yuk mending kamu kita bawa ke rumah sakit dulu sama bayinya, biar dicek dulu kondisinya..." Pinta kakakku yang sudah menyiapkan mobilnya untuk segera meluncur ke rumah sakit.


"Nggak usah mas, kayaknya aku udah baikkan... Nggak apa nggak perlu ke rumah sakit, aku beliin vitamin aja buat nambah staminaku aja..." ujarku padanya yang sudah merasakan tubuhku membaik.


"Ya udah kalo kamu yakin..."


"InsyaAllah yakin mas..." ucapku dengan yakin. Tampak ia melangkah keluar hendak membeli beberapa vitamin yang sudah aku catatkan paada selembar kertas.


"Umi...Umi...Dedek cantik ya..." Ucap Uwais dan yang baru saja kembali datang dan sudah tampak rapih dimandikan oleh Bik Yayah.


"Iya nak...Kamu kasih salam dulu dong dedeknya..." ucapku dengan wajah penuh ceria.


"Oiya... Assalamu'alaikum dedek cantik..." ucapnya dengan wajah berbinar.


"Walaikumsalam kakak..." sahutku mencoba membalas dengan nada menirukan gaya bahasa seorang bayi itu.


"Oya kak, kita mau kasih nama siapa ya dedeknya?" tanyaku sembari berfikir.


"Uwais nggak tau umi...Umi aja deh yang kasih nama..."


"Gimana kalo Dellisa Shanum? panggilannya Shanum..." ucapku yang memang pernah memperkirakan nama itu dalam benakku saat tengah hamil dulu.


"Iya um... Namanya cantik, sama kayak dedeknya juga cantik..." ujar Uwais yang tampak begitu gembira.

__ADS_1


__ADS_2