Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Melamar tanpa sepengetahuanku


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Deri mencoba kembali bertegur sapa dengan bapaknya dan mencoba membenahi hubungannya dengan keluarganya yang lama sempat terguncang karena masalah usahanya yang gagal.


Setelah Deri mengutarakan keinginannya kembali bekerja merantau ke Jakarta, orang tuanya lega. Sebab hal itulah yang sesungguhnya diinginkan oleh mereka. Namun ada suatu yang mengganjal di hati kedua orang tua Deri, masalah jodoh yang tak kunjung dipertemukan olehnya membuat kedua orang tuanya sedikit bertanya-tanya.


"Der, kapan kamu kenalin calon mantu sama kita?" ujar ibunya pada Deri.


Kesempatan ini pun tak lengah digunakan oleh Deri untuk mengenalkan aku pada mereka.


"Aku sebenernya udah lama punya calon, dulu waktu aku kerja di Bandung" ujar Deri yang ingin sekali menjelaskan tentang aku namun sedikit bingung bagaimana cara menyembunyikan masalahnya denganku.


"Kog nggak pernah cerita? ya dikenalin dong sama bapak mamak" timpal ibunya lagi.


Sejenak Deri terdiam memikirkan kalimat yang pas untuk diutarakan pada kedua orang tuanya itu tentang aku.


"Emangnya dia orang Bandung juga?" tanya ibunya lagi penasaran.


"Bukan mak, dia orang sini, tetangga kecamatan kita" ujar Deri mencoba menjelaskan sedikit demi sedikit.


"Oh... ya Alhamdulillah, jadi malahan deket... eits... tapi sebentar, apa jangan-jangan itu Lani lagi?" tanya ibunya cemas.


"Nggak kog mak, bukan Lani, dia lebih cantik, dan lebih ramah juga, nggak kayak Lani, dia juga termasuk anaknya orang berada, beda jauh sama Lani.... cuma sayangnya..." ujar Deri bingung melanjutkan kalimatnya.


"Sayangnya apa?" cecar ibunya penasaran.


"Dia janda mak, dia udah pernah nikah sebelumnya, korban KDRT trus cerai" ujar Deri yang mulai tampak tak ragu lagi menjelaskan.


"Halah lah kog janda? apa udah nggak ada yang masih gadis aja?" sahut bapaknya yang mencoba menimpali padahal sejak tadi hanya terdiam mengamati percakapan ibunya dan Deri saja.


"Memangnya dia sudah punya anak berapa?" tanya ibunya lagi.


"Ehmmm belum ada anak, dulu sama suaminya nggak boleh punya anak karena suaminya nggak mau tanggung jawab" glek, deg, seketika jantung Deri bergetar dan menelan ludah banyak-banyak sebab dia harus menceritakan kondisiku saat dahulu sebelum aku hamil karena ulahnya.


Maafkan aku mak, sebenernya aku juga orang yang nggak tanggung jawab.... gumanya dalam hati.


"Ya udah, kalo itu terserah kamu aja, kalo kamu suka sama dia, mamak cuma bisa merestui aja,tapi mamak pingin tau dulu gimana orangnya". ujar ibunya mencoba menerima.


"Iya nanti kalo aku udah dapet restu dari ibunya aku bawa ke sini biar mamak sama bapak kenalan dulu, aku yakin kalian suka sama orangnya, ramah dan sopan" jawabku meyakinkan.


Keesokkan harinya, Deri pergi ke rumah ibuku. Ibuku yang seorang pensiunan petugas perpajakkan itu hanya tinggal seorang diri, sebab Ayahku sudah lama meninggal akibat kecelakaan saat hendak berangkat bekerja 10 tahun yang lalu. Kedua orang tuaku yang memiliki pekerjaan baik, membuat kehidupanku sebenarnya jauh lebih baik dari segi perekonomian dibandingkan dengan Deri. Namun keadaanlah yang membuatku saat ini menjadi kesulitan ekonomi, terlebih akibat ulah Deri padaku.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" ucap Deri di depan pintu rumahku yang tak lama tampak ibuku datang membukakan pintunya.


"Walaikumsalam" balas ibuku yang kemudian mempersilahkan masuk Deri ke dalam rumah.


"Siapa ya?ada perlu apa?" tanya ibuku ramah dan mencoba mengingat wajah Deri yang tempo hari pernah ke rumah namun sedikit lupa.


"Deri bu, temennya Bunga, yang dulu pernah ke sini" jawabnya sedikit malu-malu.


"Owh, iya ibu lupa, gimana? ada apa kemari?" tanya ibuku penasaran.


"Itu bu....emmm... sebetulnya kedatangan saya kemari berniat mau melamar Bunga, saya mohon ijin sama ibu dulu apa diperkenankan?" jelas Deri tertunduk malu.


"Oh... kalo itu sih saya terserah sama Bunga aja, kalo Bunga mau sama kamu, ya ibu mah InsyaAllah akan merestui... Ngomong-ngomong nak Deri ini Rumahnya mana?" tanya ibuku padanya penasaran.


"Pagelaran bu" jawab Deri singkat.


"Oh... deket juga... tapi apa sebelumnya kamu udah tau tentang Bunga?"


"Udah kog bu, Bunga udah cerita semua tentang dirinya sama saya, dulu saya kerja di Bandung juga, kontrakkan kita deketan, jadi ketemu di sana" tutur Deri menjelaskan.


"Oh, jadi kamu kerja di Bandung juga, kerja di rumah sakit juga?"


"Oh, lah terus kenapa resign? nanti gimana kalo Bunga masih di Bandung dan kamu di sini?"


"Saya mau cari kerja di Jakarta bu, pindah ke sana".


"Kenapa nggak di Bandung aja sekalian biar nggak jauhan sama Bunga?"


"Emmm Bunga sekerang udah di Jakarta kog bu" ujar Deri keceplosan.


"Jakarta? loh, barusan dia telepon kog bilang masih kerja di Bandung kog?" ujar ibuku bingung.


"Oh...anu, maksud saya kemaren Bunga sempet di Jakarta waktu pelatihan, dan saya ketemuan di sana" ujar Deri gugup.


"Oh... kog Bunga nggak cerita ya, biasanya dia apa-apa cerita".


"Mungkin karena dia sibuk bu, jadi dia lupa cerita".


"Iya, akhir-akhir ini dia emang sibuk katanya, jarang telepon juga".

__ADS_1


"Oh iya bu, tapi saya ini berasal dari keluarga kurang berada, beda sama keluarga ibu" ujar Deri yang seketika menundukkan wajahnya merendah.


"Nggak apa nak, ibu mah asal Bunga seneng, ibu ikut seneng, kamu rundingan aja sama Bunga ya, ibu mah nurut aja" sahutnya lagi.


"Ya sudah bu, kalo begitu saya pamit dulu, makasih kalo ibu mau menerima saya, Assalamu'alaikum" ujar Deri menampakkan senyumnya yang seolah baru saja mendapatkan lampu hijau dari ibuku.


"Iya, walaikumsalam" ujar ibuku sembari memandangi Deri yang akan menaiki motor tuanya.


Tak lama berselang, gawaiku pun berbunyi. Aku lihat nama ibuku meneleponku saat aku masih menyusui bayiku.


"Halo Assalamu'alaikum?" sapaku.


"Walaikumsalam"


"Kamu ini dari kemaren ditelepon jarang aktif kemana aja? kamu sibuk ya? kemaren ada pelatihan ke Jakarta juga ya, kog tumben nggak cerita sama ibu?" ujar ibuku memberondong pertanyaan padaku.


"Deg, sekeketika membuat jantungku berdegup kencang terkejut dengan pernyataan ibuku, darimana ibuku tau aku di Jakarta? kenapa bilang aku ada pelatihan di sini, apa sepertinya Deri datang ke rumah menemui ibuku?" gumamku dalam hati.


"Ohh... iya lya kemaren ada pelatihan di Jakarta, lah ibu tau dari mana?" tanyaku penasaran.


"Deri tadi ke rumah yang cerita, dia juga tadi ngomong kalo mau ngelamar kamu"


Deg, huft....benar saja dugaanku, ini pasti ulah Deri, gumamku dalam hati.


"Dia bilang apa aja bu?"


"Ya bilang mau ngelamar kamu gitu katanya, kamu gimana? suka apa nggak? diterima aja nggak papa kog, dia orangnya baik, sopan, yah... walaupun bukan orang kaya, tapi nggak papa lah, asal dia mau nerima apa adanya kamu yang dulu udah pernah nikah mah nggak papa ibu setuju aja" ujar ibuku dengan yakin.


Tak terasa air mataku menetes, ingin sekali aku menceritakan padanya bahwa Deri adalah orang yang sudah menghancurkan hidupku, namun aku tak sampai hati padanya. Terdengar suara gembira dari tutur bahasa ibuku yang mungkin ia berharap bahwa aku mau menikah dengan Deri.


"Oek...oek..." seketika Uwais menangis entah apa sebabnya. Segera aku membopongnya dan menimangnya agar terdiam.


"Bunga, bayi siapa yang nangis?" tanya ibuku penasaran yang selama ini sering meneleponku namun jarang mendengar suara tangis bayi itu.


"Oh... ini bayi pasien bu, kebetulan aku kan lagi dines, ini aku lagi mangku bayi pasienku mau aku vaksin lagi nunggu dokter anaknya" ujarku berbohong.


"Oh... kamu lagi dines ya, ya udah kalo gitu besok lagi teleponnya, nanti ganggu kamu" ujar ibuku peracaya padaku.


"Iya bu, udahan dulu ya... Assalamu'alaikum?"

__ADS_1


"Walaikumsalam". Kemudian aku tutup teleponku dan tersungkur memeluk bayiku dengan erat.


__ADS_2