Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Galau


__ADS_3

Selepas Deri mengantarku kembali ke ruko, ia pun segera pamit pulang. Tampak Kak Arif sedang menunggui toko seorang diri menatapku yang turun dari mobilnya Ferdi.


"Assalamu'alaikum?" sapaku pada Kak Arif.


"Walaikumsalam, kamu pulang sama siapa?" tanya dia sedikit heran.


"Itu temanku sekolah dulu kak, kebetulan tadi bertemu pas di rumah sakit, jadi sekalian dia antarkan aku" jawabku sedikit cemas.


"Oh...., oya gimana keadaan janin kamu? sehat?"


"Iya Alhamdulillah semua sehat, tinggal nunggu masa persalinan".


Sejenak kami saling berdiam. Kak Arif sepertinya memendam sesuatu yang ingin ia ungkapkan, namun sedang berpikir bagaimana cara mengungkapkannya.


"Eee Bunga, aku mau tanya sesuatu...boleh?"


"Ehmmm sesuatu apa kak?" tanyaku yang mulai dengan debaran jantung.


"Selepas bayi kamu lahir nanti, apa kamu nggak mau cari sosok ayah untuk anak kamu? kasian kalo dia besar tanpa ayah". ujar dia menatapku tajam.


"Maksud kak Arif?"


"Ya maksudku apa kamu nggak pingin menikah?"


"Oh... kalo untuk itu saat ini belum terpikir kak" jawabku gugup.


"Kenapa belum terpikir? bukankah menikah itu baik?"


"Iya, tapi bukan begitu maksudku....".


"Lantas? kenapa? apa kamu masih trauma dengan laki-laki?"


"Yah... bisa dibilang begitu mungkin"


"Jangan berpikir seperti itu, trauma menikah yang berkepanjangan itu rentan dengan bisikan syaiton loh?" ujar Kak Arif membesarkan hatiku


"Bukan aku nggak mau menikah kak, tapi...entahlah..." jawabku menggerakkan bahu.


"Tapi karena belum ada calon?" tanya dia lagi.


Aku terdiam tanpa kata. Namun sesaat Kak Arif pun melanjutkan pertanyaan kembali yang seolah menghujam hatiku semakin tak karuan. Baru saja aku berperang dengan Deri, kali ini aku harus siap mental untuk berperang hati dengan Kak Arif.


"Bunga, aku... e.... aku... bermaksud melamar kamu."


Glek, mulutku seketika menelan ludah dengan jantung yang semakin berderbar.


"Kenapa harus secepat itu kak? bukankah Kak Arif belum cukup mengenalku?".

__ADS_1


"Dengan kamu kerja jadi karyawanku, aku udah cukup mengenalmu, kamu orangnya jujur..."


"Tapi kak....maaf, aku belum bisa jawab sekarang" jawabku lesu.


"Kamu boleh Shalat Iskharah dulu buat mantapin pilihan kamu, aku tunggu sebelum persalinan kamu,.... rencanaku selepas masa nifas kamu nanti, aku ingin menikahi mu...."


Benar apa yang dikatakan Rianti, Kak Arif ingin menikahiku selepas masa nifas nanti. Ah, apakah ini takdirku? atau.... huft... aku bingung, haruskah aku memilih Kak Arif sebagai suamiku, sementara aku sama sekali tak mencintainya, tapi jika aku menolaknya, apa ini akan adil dengan segala kebaikkannya padaku? Gumam hatiku berkecambuk.


"Beri aku waktu seminggu untuk menjawab kak, sembari aku istikharah,InsyaAllah sebelum persalinan aku sudah menyiapkan jawaban" ucapku dengan perasaan tak menentu.


"Baik kalo begitu, aku pamit dulu, aku akan tunggu jawaban kamu, Assalamu'alaikum?"


"Walaikumsalam".


*****


Sementara itu Deri di rumah Ferdi.


"***, beneran ***... anak yang dikandung Bunga itu anak gua..." seru Deri kegirangan.


"Weits.... trus, gimana dengan suaminya itu?"


"Dia kemaren boong, dia itu belom nikah, Arif itu atasan Bunga yang kasih kerjaan sama Bunga waktu terpuruk...."


"Jadi apa rencana loe setelah ini?"


"Belom tau, kayaknya Bunga udah nggak mau lagi sama gua... dia udah terlanjur benci sama gua".


"Iya... tapi gue nggak yakin sih Fer, secara dia udah benci banget sama gue".


"Butuh waktu oleh Bunga buat maafin loe lah ***! ya secara elo udah brengsek sama dia, nggak semudah itu lah dia mau nerima elo lagi. Tapi nanti gue coba bantu".


"Iya sih....gue emang brengsek... gue takut kena karma Fer, gue takut banget sebenernya..." tutur Deri mengepalkan genggamannya memukuli dirinya dengan penuh penyesalan.


"Waktu khilaf elo kemana aja?? sekarang baru sadar kan? coba kalo yang di posisi Bunga itu adek loe? atau elo yang ngalamin di posisi Bunga sebagai cewek?"


"Kayaknya gua bakal bunuh tuh yang namanya Deri" ujar Deri sembari menampari wajahnya.


"Nah, itu elo tau, ya makanya elo harus bisa maklumin dia gimana perasaannya saat ini ***".


"Gua janji Fer, gua bakal nglakuin apa aja biar Bunga mau maafin gua, tapi gua bingung harus gimana....? ujar Deri berkaca-kaca pada matanya.


"Udah.... jangan cengeng, kita liat aja, biar waktu yang jawab, besok coba elo temuin dia lagi" sahut Ferdi mencoba menenangkan.


*****


Malam pun mulai larut, mataku tak dapat terpejam memikirkan Kak Arif. Terlebih kejadian siang tadi bertemu Deri. Tak habis pikir mengapa Deri kembali hadir dalam hidupku, ditambah pula Kak Arif yang ingin menikahiku.

__ADS_1


Tak terasa pukul 01.00 dini hari mata ku pun belum terpejam, meski beberapa kali perutku berkontraksi karena gerakan janinku seakan memprotes diriku untuk segera tidur. Akhirnya aku ambil air wudhu dan melaksanakan sholat istikharah untuk perkara ini.


Aku adukan dengan segenap jiwa ragaku akan perkara ini di hadapan Allah ta'ala. Dengan berderai air mata, aku ceritakan segala kegalauanku mendapati ini semua. Berharap sang ilahi memberiku petunjuk agar aku tak salah dalam menentukkan pilihanku.


Selepas melaksanankan sholat, hatiku mulai tenang, seketika aku bisa melelapkan diriku.


Keesokkan harinya, aku pun memulai aktivitas seperti biasa. Membuka counter dan melakukan pekerjaanku yang lain, hanya saja semenjak kehamilanku semakin besar, aku mulai jarang memasak dan lebih memilih untuk membeli di luar agar tak terlalu lelah badanku.


"Bunga?" sosok Deri memanggilku yang telah duduk di kursi pelanggan.


"Deri?" tanyaku terperanggah menatap kehadiranya sepagi ini.


"Ini aku bawain kamu bubur ayam buat sarapan, kamu belum sarapan kan?" tanya dirinya sembari menyodorkan sebuah bungkusan beraroma gurih itu.


Aku hanya diam menatap bungkusan itu tak bergeming. Aku lanjutkan aktivitasku agar tak banyak meladeni Deri saat itu.


"Istirahat dulu Bunga, nanti kecapean loh, kata dokter kan kamu nggak boleh kecapean karena udah menjelang persalinan, ayolah sarapan dulu". Bujuknya yang tak membuatku bergeming.


Tak lama dari itu Kak Arif pun turun dari mobilnya segera menghampiri kami. Sebuah bungkusan makanan pun berada dalam genggamannya dalam wadah kantong plastik.


"Assalamu'alaikum ? Bunga pagi-pagi udah ada customer aja?" sapa Kak Arif padaku yang spontan membuatku salah tingkah.


Deri pun segera menoleh ke arah Kak Arif dengan tatapan sinis. Namun di sambut senyum oleh Kak Arif.


"Sepertinya wajahnya udah nggak asing, apa mas ini langganan di sini ya? oh.... iya, yang kemaren pagi juga datang ke sini kan ya?" tanya Kak Arif pada Deri yang seketika membuat wajahku memerah.


"Oya, kenalin, aku temennya Bunga, Deri namaku" sapa Deri pada Kak Arif sembari mengulurkan tangan.


"Oh iya, aku Arif" balasnya dengan senyum ramah.


"Oya Bunga, ini aku bawakan kamu sarapan, soto ayam kesukaan kamu, yang tempo hari kita makan bareng di sana" ujar Kak Arif menyodorkan bungkusan plastik dalam genggamannya, sembari melirik bungkusan yang dibawa oleh Deri di atas etalase itu.


"Wah, ini mah bukan sekedar atasan, tapi ada benih-benih calon suami juga, mana ada bos seperhatian gitu pagi-pagi bawain sarapan kalo nggak ada apa-apa, trus makan bareng juga?? huft...." guman Deri memandang Kak Arif.


"Oya Bunga, aku pamit dulu ya, maaf udah ganggu kamu kerja". Akhirnya Deri mengundurkan diri sebab bingung akan berbuat apa di sini. Langkahnya begitu cepat menghilang seolah penuh dengan rasa kecewa.


"Bunga, ini sarapan kamu yang beli? atau si Deri tadi yang bawain buat kamu?" tanya Kak Arif curiga.


"Eee... iya tadi aku yang nitip kog kak, kebetulan tadi dia ngabari kalo mau ke sini beli pulsa, jadi sekalian aku nitip" ujarku gugup karena terpaksa berbohong.


"Oh, jadi kamu kepingin bubur ayam? kenapa nggak ngabarin aku, tau gitu tadi aku beliin kamu" ujar Kak Arif sedikit kecewa karena ia membawakan soto ayam.


"Ohh, ya nggak apa kak, ini tadi karena aku bingung mau makan apa, jadi aku asal nitip aja, aku makan soto ayamnya dulu aja kog kak, lagian kalo udah dingin kan nggak enak, bubur ayamnya biar aku simpan untuk nanti siang" kataku mengelabuhi Kak Arif.


"Oh, ya udah terserah kamu aja yang penting kamu sarapan dan jaga kesehatan ya?" ujar dia memperhatikkanku namun tak membuat hatiku meleleh seperti perhatian Deri padaku.


"Iya kak makasih..." balasku.

__ADS_1


"Ya udah, kamu sarapan dulu, aku pamit dulu ya, Assalamu'alaikum?"


"Walaikumsalam".


__ADS_2