
Hari ini Deri gajian tepat di penghujung minggu. Kebetulan ada 2 tanggal merah pada kalender yang membuat liburan lebih panjang dari biasanya. Ia menyempatkan untuk pulang ke Lampung bertemu dengan anak-anak, sekaligus memenuhi jadwal panggilan sidang berikutnya.
"Ting" Gawaiku berbunyi. Aku lihat ada sebuah pesan dari Deri.
[Hari ini aku maen ke rumah mau ketemu sama anak-anak, dan juga kamu] isi pesan dari Deri itu.
[Jadwal sidang masih beberapa hari lagi, apa kamu sudah berada di Lampung?] Balasku padanya.
[Iya, aku sudah di sini, aku rindu anak-anak, dan juga......] isi pesan selanjutnya yang tak ia teruskan itu.
[Iya aku di rumah] balasku singkat.
Tak lama berselang ia datang mengetuk pintu rumahku. Di rumah saat itu aku hanya bersama anak-anak, sementara ibuku masih berada di rumah kakakku.
"Assalamu'alaikum" sapa dirinya di depan pintu.
"Walaikumsalam" sahutku yang kemudian memanggil Uwais yang tengah asik bermain di halaman belakang namun tak ada sahutan.
"Kamu apa kabar?" tanya Deri yang menatapku dengan pandangan nanar.
"Alhamdulillah baik..." ucapku datar.
"Gimana keadaan kehamilan kamu?" tanya dirinya dengan nada yang datar dan memandangku dengan tatapan kosong.
"Baik" sahutku sembari pergi ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi untuknya.
"Uwais....!!! Ada abi nak....!!!" seruanku beberapa kali namun tak ada sahutan darinya. Terdengar suaranya sayup-sayup dari sebelah rumah. Rupanya dia sedang bermain bersama anak dari sepupuku yang rumahnya berjejer dengan rumahku.
"Umar dimana?" tanya Deri yang tak lama menyusulku ke dapur.
__ADS_1
"Dia masih tidur, paling sebentar lagi bangun..." ucapku yang tengah mengaduk kopi hitam kesukaannya.
Seketika Deri mendekat ke arahku. Tiba-tiba ia memelukku dari belakang, seperti biasa yang ia lakukan dahulu saat masih tinggal serumah.
Aku menghela nafas panjang sejenak. Ingin rasanya aku membrontak untuk melepaskan pelukkan itu. Namun entah mengapa rasa hatiku seolah sangat merindukan hal romantis yang hampir setiap aku melakukan aktivitas di dapur, ia selalu melakukan itu.
Kehangatan dari dekapannya itu membuatku sejenak mengenang akan masa itu. Dimana sosok Deri sangat membuatku makin jatuh cinta dari hari ke hari. Mataku mulai berkaca-kaca menahan rasa itu. Sejenak aku tarik nafas dalam-dalam.
Tanpa sadar aku membalikkan tubuhku ke arahnya seolah aku ingin membalas segala kerinduannya. Aku tatap matanya yang mulai penuh dengan air. Tangannya Segera meraih wajahku dan mendekatkan ke arah wajahnya sambil terisak. Yah, saat itu kami saling tatap dan saling terisak diantara dua hidung yang saling menyentuh.
Emosiku sejenak berganti dengan rasa sedih akan perpisahan yang begitu mendalam. Rasa cinta yang sudah terpupuk sekian lama dan mendarah daging kini akan segera sirna akibat ulah tangan hawa nafsu manusia yang sesaat.
"Aku belum pernah mentalakmu... Kamu masih milikku sampai nanti hakim mengetuk palu... Kamu masih milikku... Kamu masih istriku... Istri terbaikku dari aku yang seorang pengkhianat...." Kalimatnya dengan nada bergetar sembari terus mendekap wajahku dan makin terisak.
Air mata kami membanjiri wajah kami yang saat itu saling mendekap tanpa jarak dan beradu.
"Kamu menghancurkan impianku... Kamu menghancurkan segalanya.... Aku benci kamu...." Ucapku dengan lirih dan tak kalah terisak.
Entah mengapa perasaanku yang biasanya sangat emosi melihatnya kini berubah menjadi sayatan hati yang hendak dipisahkan. Ada rasa tak rela melepas perpisahanku dengannya. Namun bayangan perilakunya yang tak patut dicontoh itu membuatku tak sanggup untuk mengurungkan gugatannku padanya.
"Baik... Ku turuti apa maumu..., akan aku obati luka hatiku untuk 3 hari ini... Bukan buatmu, melainkan buat anak-anak kita..." ucapku sembari menghela nafas panjang.
"Terima kasih sayang...." Bisiknya lembut.
Seketika ia membopong tubuhku dan melangkah perlahan. Kami saling tatap seolah pasangan yang baru saja menikah yang akan melaksanakan malam pertama. Tapi ini lain, tatapan kami bukan dengan rasa cinta yang menggebu, tapi rasa pahit akan perpisahan.
Tanganku yang aku rangkulkan pada lehernya menemani langkahnya perlahan menuju kamarku dimana Umar tengah terlelap di sebuah box bayi miliknya.
Ia baringkan tubuhku ke atas kasur. Aku bisa membaca pikirannya apa yang ia mau saat itu.
__ADS_1
"Kamu tau, aku akan jijik bila kamu memintaku untuk melayanimu.... Sebab aku selalu terbayang saat kau dengan Lani..." ucapku menahan rasa gundahku yang saling beradu.
"Maafkan aku... Entah harus berapa kali maafku untukmu sampai perbuatanku termaafkan aku pun tak tau... Mungkin dengan jalan perpisahan itulah hukuman terbaik buatku.... Aku memang tak pantas mendampingimu... Kamu istri terbaik... Kamu wanita hebat yang pernah aku kenal..." Ucapnya dengan tatapan yang paling cengeng yang pernah aku lihat selama hidupku dengannya.
Sejenak kami pun hanya saling terdiam dan memandang. Tubuhnya yang berada di atasku yang seolah siap menerkamku namun kala itu tangannya terlihat begitu gemetar. Ada rasa beradu dalam hatinya yang membuatnya ragu untuk menyentuhku.
"Aku tau perasaanmu istriku sayang.... Layani aku dengan pejaman matamu... Sedikitpun jangan kamu buka matamu agar kau tak merasa jijik dengan diriku.... Aku mohon.... Aku sangat merindukanmu... Detik-detik ini sangat berarti bagiku sebelum aku tak dapat menyentuhmu sama sekali..." Ucapnya dengan kembali terisak.
"Baik, silahkan sentuh aku... Aku tak akan membuka mataku sampai kamu selesai..." Ucapku dengan luapan air mataku dan sesaat aku segera memjamkan mataku, meski air mata tetaplah bergulir.
Saat itulah kami melakukan hubungan suami istri yang mungkin tak pernah dirasakan oleh siapapun. Bukan hawa nafsu yang bergerak saat itu. Namun rasa kesedihan yang terus menghujam jiwa kami berdua.
Sentuhan perlahan yang ia lakukan padaku tak luput dengan tetesan air mata yang terus bergulir turut menggerayangi setiap lekuk tubuhku. Nafas yang saling beradu menderu pada setiap gerakan, bukan karena sebuah kepuasan, melainkan sedang menggambarkan raungan kami yang protes akan perpisahan ini.
Dalam isak kami bercumbu untuk menyalurkan hasrat yang berbaur dengan kegundahan yang berkecambuk. Sesekali ia berhenti dari aktivitasnya dan mengusap air mataku dan air matanya yang menutup pandangannya itu.
"Mengapa mencintaimu harus sesakit ini....??" rintihku selepas aktivitas pengabdianku itu.
Tanpa banyak kata, ia raih tanganku. Digenggamnya dengan remasan erat. Sesekali ia ciumi genggaman tanganku dalam isaknya.
"Setelah berpisah denganku, carilah pendamping hidupmu yang sesuai denganmu.... Yang setia, dan tak akan menyakitimu kelak..." ucapnya berbisik telingaku.
"Lantas kamu?" tanyaku balik seraya menatap ke arah langit-langit dalam kamarku dengan pandangan kosong.
"Biarkan aku mencintaimu selamanya, meski tak bisa lagi menyentuh ragamu... Aku ingin membawa namamu sampai tiba saat ajalku menjelang..." Kalimatnya dengan nada yang begitu lemah.
"Itu tidak baik.... Jangan lakukan itu..." sahutku dengan nada datar.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku pada wanita terbaikku... Sebab aku yakin aku tak akan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darimu..." Ucapnya sedikit menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Itulah cinta... Yang dibutuhkan adalah kesetiaan.... Bukan perbandingan mana yang lebih baik, dan mana yang tidak baik. Perbandingan hanya akan didapat dalam sebuah penghianatan, setelah kamu dapati mana yang terbaik, maka luka telah menggores pada hati yang tak akan pernah kau satukan lagi..."