Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Bahagia di atas Penderitaan


__ADS_3

Tak seperti biasanya setiap hari minggu Deri sering mengajak kami bermain di luar. Atau pun sekedar meluangkan waktu di halaman belakang. Aku pastikan hampir tiap hari libur itu membuat masakan spesial untuk disantap kami bertiga menemani kami bermain bersama.


Pagi sekali Deri telah rapi bersiap hendak meluncur entah kemana. Menurut pengakuannya ia ada meeting tambahan di kantor yang harus segera dislesaikan. Padahal, seumur aku menemani Deri bekerja di kantor itu, baru kali ini ia mengalami lembur di hari minggu.


Meski sempat menaruh curiga, aku tak dapat berkata banyak padanya. Aku biarkan dirinya pergi pagi itu menggunakan kemeja putih, lengkap dengan jas hitam dan terlihat sangat rapih.


Selang beberapa saat kemudian setelah kepergian Deri, tangis Umar pecah tiada henti. Kupegang tubuhnya yang ternyata suhu tubuhnya memanas itu. Segera aku berikan kompres untuk menekan panas tubuhnya sesaat, sembari aku menyiapkan untuk aku bawa ke dokter.


Belum lama aku berberes barang-barang Umar, terdengar suara rintihan dari Uwais yang memang sejak kepergian Deri tadi pagi belum tampak bangun meski sudah aku panggil berkali-kali. Padahal biasanya saat Subuh ia selalu mengikuti aku bangun dan melaksanankan sholat walau dengan kekacauannya.


Aku yang tak begitu peka menganggap dirinya kelelahan sebab bermain semalam,karena itu dirinya belum terbangun hingga sekarang. Namun siapa sangka, tak lama selang Umar mulai rewel, tampak tubuh Uwais begitu menggigil. Rintihannya membuatku mendekat penasaran. Spontan aku sentuh badannya, dan benar saja, panas tubuhnya tak kalah dengan Umar yang saat itu tengah rewel merasakan badannya yang tak enak.


Saat itu aku mulai panik. Aku ambil obat penurun panas dan kuminumkan pada kedua anakku itu untuk mencegah kejang. Sementara itu aku segera memesan taksi untuk bisa segera sampai ke rumah sakit, mengingingat biasanya mobilku terparkir di garasi khusus Deri tinggalkan untuk kepentingan kami, namun akhir-akhir ini dirinya selalu pergi membawa mobil alih-alih capek karena banyak kerjaan.


Segera aku kemasi beberapa pakaian dan perlengkapan Uwais. Tak lupa aku beri ia minum sebanyak-banyaknya agar suhu tubuhnya turun. Umar aku gendong dibelakangku dan aku ikat kencang agar tak lepas dari punggunggu. Sementara Uwais aku bopong tubuhnya yang mulai berat itu.


Sambil menunggu, aku mencoba menenangkan tangisan Umar yang begitu nyaring itu, dan rintihan Uwais yang meremukkan hati seorang ibu saat itu.Tak lama berselang sebuah taxi datang menghampiriku dan segera aku bawa kedua anakku ke rumah sakit terdekat.


Sepanjang jalan aku terus beristighfar untuk menghilangkan kepanikannku melihat kedua anakku dengan rintihan kesakitannya. Disisi lain, hatiku terasa begitu kacau seolah ada sesuatu yang menghantui diriku selepas kepergian Deri tadi pagi.


Di depan ruang UGD aku mondar-mandir dalam suasana kalut. Beberapa kali aku mencoba menelepon Deri, namun tak kunjung berhasil. Nomornya tidak aktif saat itu. Aku berpikir mungkin dirinya sangat sibuk akan pekerjaannya oleh karena itu gawainya harus dimatikan, meski beberapa kali hatiku seolah tak percaya.


Seketika aku kirimkan kabar melalui pesan hijau. Berharap saat gawainya aktif ia akan membaca pesanku yang berisi bahwa kedua anaknya saat ini tengah di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


Setelah dokter memeriksa Uwais dan Umar, beberapa perawat membawa kedua anakku ke ruang rawat inap untuk dilanjutkan perawatan selanjutnya beberapa hari di rumah sakit.


Diagnosa sementara saat itu Uwais dan Umar terkena demam berdarah. Hatiku berangsur menurun kecemasan sejak dokter menjelaskan bahwa keadaan anakku akan kembali pulih secepatnya, sebab aku segera cekatan membawanya ke rumah sakit dan teratasi dengan segera.


Aku duduk diantara tempat tidur kedua anakku yang sedang terbaring lemah itu. Air mataku tak terbendung melihat penderitaan mereka. Sesekali tanganku mengusapkan pada masing-masing kening Umar dan Uwais yang sudah terpasang infus pada tangannya itu.


"Sabar ya sayang....Kita semua berdoa, supaya Umar dan Kak Uwais cepet sembuh...." kalimatku yang seketika menggedong Umar yang tengah rewel ingin merusak infus dalam tangannya itu.


"Abi....Abi...." sementara itu di sampingku terdengar suara rintihan Uwais dalam tidurnya seolah menggambarkan kerinduan pada Deri yang telah lama tak mengajakknya bermain semenjak kesibukannya itu.


****


Deri


Kedua pasangan yang sedang menikmati candu asmara itu telah amnesia atas rumah tangganya masing-masing. Begitupun dengan Deri. Tak sedikit pun ia mengingat untuk segera mengaktifkan gawainya agar telepon dari Bunga yang menghubunginya berkali-kali itu bisa masuk.


Hari itu adalah hari impian Deri, dimana ia akan segera melaksanakan kewajiban pertama sebagai suami atas Lani. Asmara yang telah lama ia pendam, mulai bangkit dan bergairah, segairah hawa nafsunya yang tak lagi terbendung hendak bercinta dengan Lani yang sampai saat ini masih perawan itu.


Seharian ia memadu kasih dengan penuh hasrat hingga petang menjelang. Dengan tubuhnya yang sedikit lelah akibat pertempuran menjijihkan bagi sang Bunga itu, akhirnya ia mulai membuka matanya dari lelap tidurnya satu selimut dengan Lani tanpa selehelai benang pun.


"Akhirnya impianku tercapai....." ucap Deri puas, sembari mengecup kening Lani yang merebahkan tubuhnya dibahunya itu.


"Puas karena apa sayang? apa karena servisku tadi?" balas Lani sedikit menggoda.

__ADS_1


"Hmmm, bukan cuma itu...." sahutnya sembari mengeluarkan gawainya dan mencoba mengaktifkannya kembali.


"Akhirnya aku adalah orang pertama yang menikmati keperawanan kamu....itu kan cita-citaku sewaktu masa pacaran kita dulu...."


"Ohhh pantesan dari dulu kamu nggak berhenti berjuang ngedapetin aku...." ujar Lani penuh manja.


"Iya...dulu aku pernah janji kan sama kamu buat perjuangin kamu sampai titik darah penghabisanku...karena aku juga nggak rela kalo kamu dimiliki dan tidur dengan laki-laki lain....." ucapnya yang tak lama membaca pesan hijau dariku itu.


"Dan kini.....tapi sudah tercapai kan???" ucap Lani begitu semringah.


Deri tampak fokus membaca pesan yang mengabarkan kedua anaknya tengah dirawat di rumah sakit itu.


Bergegas ia memakai pakainnya dan merapikannya.


"Maaf Lani, aku harus pergi....anakku semua masuk rumah sakit...." ucap dirinya yang tampak begitu buru-buru dan panik itu.


"Sayang....tapi kan ini hari pernikahan kita, kamu nggak bisa luangkan waktumu dulu buat kita berdua....aku ini juga istrimu loh...." kalimat Lani yang tak sedikit pun mendapat respon dari Deri.


Ia terus berlalu dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana, ia menatap kedua anaknya yang tengah terbaring lemah. Di antara kedua anaknya itu, tampak diriku yang sedang terlelap dengan wajah yang teramat lusuh akibat lelah seharian berjibaku dalam kerepotan mengurus kedua anak yang sakit ini.


Maafkan abi....maafkan abi...kalian semua menderita gara-gara aku.....

__ADS_1


Gumamnya sembari tersungkur di hadapan mereka. Kedua kakinya yang bergetar, dibenturkannya pada lantai ruang rawat inap itu dan seketika menimbulkan bunyi yang membangunkan diriku dari lelapku.


__ADS_2