
Bucin, itukah sebutan yang pantas untukku yang tak bisa menyingkirkan Deri dari kehidupanku. Semudah itukah aku berulang jatuh cinta pada seorang lelaki yang aku belum mengenal lebih jauh hanya bermodalkan teman SMP dan satu daerah namun sejujurnya aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya.
Deri yang telah mengetahui statusku dan telah lama menjauhiku entah mengapa kini berusaha mendekatiku kembali, merobohkan pertahanan hatiku yang telah tertutup olehnya.
Pagiku membuka pintu untuk membereskan kontrakkanku yang sedikit kotor dan bermaksud menyapunya. Kudapati sekuntum mawar merah kesukaanku diletakkan tepat di depan pintu kontrakkanku yang baru saja kubuka.
Spontan aku terkejut dan penasaran siapa gerangan seorang romantis yang telah menaruh mawar kesukaanku di sini. Kupungut sebatang mawar merah segar yang terbungkus plastik hias dilengkapi hiasan pita cantik itu. Kuhirup aromanya yang wangi menenangkan hatiku kala itu, dan sungguh penasaran aku dibuatnya atas kejutan itu.
"Ting" bunyi sebuah pesan dari gawaiku.
[Bunga mawar cantik, seperti orang yang menerimanya]. Itulah isi dari pesan yang rupanya Derilah yang telah memberikan pawar padaku pagi ini.
Kali ini sepertinya luntur sudah kecambuk di dalam hatiku yang awalnya harus berusaha menolak Deri itu. Kini aku pun mulai terbuai dengan keromantisan-keromantisan nyata yang telah ia buat.
[Makasih ya mawarnya, btw kamu kog tau aku suka mawar?]. Tanyaku membalas chattnya tanpa ragu untuk menjauh padanya.
[Tau dong, karena kamu cantik seperti mawar, makanya aku kasih juga yang sama cantiknya kayak kamu. Btw hari ini kamu shift apa?]. Isi dari chattnya yang kembali merayuku dan seketika membuat tubuhku loncat kegirangan.
[Aku shift siang]. Balasku
[Ya udah ati-ati berangkatnya, nanti malam pulangnya aku jemput]. Tutup dari chattnya yang saat itu dirinya sedang dalam bekerja.
Hari ini langkahku tampak dengan wajah yang berbinar menuju tempat kerjaku. Pipiku yang merona sepanjang perjalanan diiringi dengan senyumanku yang terasa begitu girang tak sabar menunggu nanti malam dijemput oleh Deri.
Entah mengapa aku sangat menantikkan itu seperti menahan rindu yang lama kupendam padanya sebab telah lama aku tak mengalami dijemput olehnya semenjak kejadian itu.
Ditempat kerjaku, tak henti-hentinya aku menengok jam yang ada di tanganku disela-sela kesibukkanku menjalankan aktivitas bekerja. Ingin rasanya waktuku percepat untuk bertemu dengan Deri menikmati malam bersamanya meski hanya sekedar dijemput lalu diantar kembali ke kontrakkanku.
Akhirnya malam yang dinantikan pun tiba dimana aku pulang kerja dan menantikan Deri di depan gerbang rumah sakit tempat kerjaku. Kulihat Deri yang biasanya sudah menunggu di sana namun saat ini tak ada batang hidungnya.
"Kemana dia, apa nggak jadi jemput aku" gumamku dalam hati yang tampak kecewa.
__ADS_1
"Lama nunggunya ya sayang? maaf telat, tadi banku bocor" sapa dirinya tiba-tiba dari arah yang waktu itu sedang tak perhatikan hingga sedikit menganggetkanku.
"Hmmm, kirain nggak jadi jemput aku" jawabku sedikit ketus.
"Enggak dong sayangku, harusnya aku udah nungguin kamu dari tadi di sini, tapi aku harus nambal ban dulu, makanya jadi telat deh, yuk naik". Jelasnya sembari mengajakku segera naik di motornya.
"Kenapa kamu panggil-panggil aku sayang?" tanyaku dalam boncengannya yang ternyata tak menuju ke arah kontrakkanku itu.
"Emangnya nggak boleh ya aku panggil orang yang aku suka dengan sebutan sayang?" sembari meraih tanganku untuk merengkuh pinggangnya agar lebih berdekatan di punggungnya yang wangi parfumnya membuatku begitu makim jatuh cinta.
"Tapi kan aku bukan pacar kamu?" balasku dengan sedikit heran namun senang dan mencoba tak sungkan untuk memeluk punggungnya dengan lembut.
Senyumnya lebar mengiringi perjalanan kami menuju tempat yang rupanya telah ia persiapkan untuk kami berdua.
Diberhentikkanya motornya dan segera digandengnya tanganku untuk turun dari motornya. Tampak sebuah bukit berbintang adalah lokasi yang dipilihkan untukku malam ini. Romantis sekali suasana malam itu, ditambah lagi perasaanku pada Deri yang sedang berbunga-bunganya seperti namaku.
"Kenapa kamu ngajak aku kesini?" tanyaku sembari melihat sekitar yang tampak sepi di bukit itu, hanya kami berdua yang kini saling tatap.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi di motor?" tanyaku membalas tatapan wajahnya.
"Pertanyaan yang mana loh?" tanya dirinya dengan senyum yang melelehkan lahar jiwaku.
"Sejak kapan kita pacaran dan buat kamu panggil aku sayang?" tanyaku sedikit tersipu malu.
"Kamu emang bukan pacar aku" jawabnya dengan senyuman mengejek.
"Lantas?" tanyaku kecewa.
"Iya, bukan pacar, tapi calon istri" ujar dirinya semakin mendekatkan tubuhnya yang hampir saling berpelukkan itu.
Jantungku yang semakin berdetak kencang tak mampu lagi menatap wajahnya. Tangannya dengan lembut membelai pipiku yang sejak tadi menunduk tersipu malu.
__ADS_1
"Jadi?" tanyaku singkat masih dalam tundukkanku.
"Iya, mulai malam ini kamu milik aku, kamu mau kan?" tanya dia yang lekas memegang pundakku.
Tanpa pertahanan gundah lagi aku pun mengangguk tanda setuju.
Diraihnya daguku yang sejak tadi tak tampak darinya sebab aku yang terus menunduk. Tatapan wajahnya yang semakin mendekati wajahku membuatku semakin nervous dan akhirnya memejamkan mataku dengan cemas.
Sebuah kecupan manis mendarat di keningku yang seketika membuat segenap jiwa ragaku berguncang ingin sekali berteriak bahagia saat itu. Aku yang sungguh sangat merindukan belaian seorang lelaki dengan penuh keromantisan kini telah aku dapatkan pada seorang Deri yang malam telah menjadi milikku.
Pelukkan hangat ia berikan pada tubuhku yang langsing. Seketika aku menyambut pelukkanya dengan merengkuh tanganku pada tubunya dengan penuh getaran jiwa yang dulu pun aku tak pernah dapatkan dari seorang Bagas meski telah menjadi istrinya.
Malam yang semakin dingin dan mulai berkabut, memudarkan taburan bintang yang sejak tadi menemani pelukkan hangat kami yang tak ingi kami lepaskan begitu saja.
Nafasku yang mulai sesak karena ia begitu erat memelukku pun akhirnya aku mencoba memundurkan sedikit. Namun tak kusangka Deri malah semakin merapatkan tubuhnya kembali padaku dengan pelukkan yang kian membuatku pun tak ingin lepas.
"Deri, sungguhkah kamu benar-benar mencintaiku? bukankah aku ini tak pantas untukmu? sejujurnya aku belum sepenuhnya yakin sama kamu kalo kamu beneran sayang sama aku?" tanyaku yang entah mengapa tiba-tiba meragu teringat tentang statusku yang sejak tadi terbuai dengan keromantisan.
"Aku tulus sama kamu, tolong kamu jangan bahas masalah statusmu lagi, aku terima kamu apa adanya" ujar dirinya meyakinkanku yang kemudian kembali memelukku hangat.
"Aku cuma mau kamu, percayalah sama aku, aku nggak akan jauh-jauh dari kamu lagi". Kembali dia meyakinkanku yang membuat hatiku kini tak ragu lagi padanya.
Seketika ia melepas pelukkannya, dan memandangi wajahku yang masih dalam rangkulannya. Di raihnya tanganku kemudian ditaruh pada pundaknya. Dibelainya pipiku sembari menatap wajahku, dan terlihat wajahnya semakin mendekatiku hingga tak berjarak itu hendak mengecup bibirku yang sejak tadi sebetulnya melambai ingin di cium namun belum berani.
Segera kupalingkan wajahku, dan kulepaskan tanganku dari pundaknya. Kubalikkan badanku membelakangi badannya dengan penuh rasa malu.
"Ya udah, udah larut malem, kamu juga pasti capek habis pulang kerja, yuk aku anter kamu ke kontrakkan". Tawarinya dengan raut wajah yang tidak begitu nampak kecewa akibat ku tolak ciuman bibirnya padaku.
Aku pun segera menaiki motornya dengan sigap. Kali ini tanpa ia meraih tanganku, aku pun segera memeluk tubuhnya dari belakang begitu mesra. Jarak yang tak terlalu jauh membuat perjalananku begitu singkat. Padahal aku masing ingin selalu bersamanya seolah-olah tak ingin lepas darinya.
"Dasar Bucin bodoh" gumamku dalam hati namun tak bergeming tetap larut dalam buaian cintaku pada Deri yang semakin dalam.
__ADS_1