
Siang hari yang terik itu, langkah kakiku yang hampir bergetar, bercampur dengan cucuran peluh keringat lelah terus menelusuri gang demi gang di sebuah permukiman yang aku tak tau sama sekali apa nama daerah itu.
Setiap kutemui seseorang aku tanyakan dimana ada kontrakan yang harganya murah. Tak banyak jawaban dari mereka yang sejak tadi aku temui, namun pelan-pelan aku terus menyusuri tiap lorong jalan itu. Tak jarang beberapa mata memandang aneh dan curiga, sebab aku adalah orang asing yang mungkin dikhawatirkan membuat kegaduhan.
"Aduh neng, ini Jakarta, mana ade kontrakan murah neng, di sini mah apa-apa bayar mah". Ucap salah satu ibu-ibu paruh baya yang sedang menggendong balita.
"Owh, iya bu makasih, nanti coba saya cari-cari lagi". Sembariku terus melangkah.
Tetiba itu pun pandanganku terasa gelap, keringat dingin mengucur deras hingga membasahi punggung dan kerah di bajuku.
"Bluk" tubuhku terhempas jatuh ke tanah yang kemudian aku tak ingat lagi situasi waktu itu.
"Neng....neng.... bangun..." tak lama terdengar sayup-sayup seorang ibu di telingaku. Perlahan aku buka mataku meski dengan kepala yang masih terasa berat.
"Ini neng minum dulu" tampak seorang ibu paruh baya mengenakan gamis dan berhijab lebar warna gelap itu menyodorkan segelas air putih untukku.
Segera aku teguk air itu hingga membasahi tenggorokkanku yang sejak tadi hampir mengering.
"Makasih bu" sapaku sembari mengembalikan gelas bekas aku minum tadi.
"Iya, kalo masih pusing istirahatlah dulu" ujar ia padaku penuh perhatian.
"Nggak kog bu, saya udah baikkan" balasku sembari memandangi sudut ruangan yang tak cukup lebar itu dengan sehelai kasur tipis yang sejak tadi aku gunakkan untuk merebahkan tubuhku saat aku tak sadarkan diri tadi.
"Eneng dari mana? kenapa sendirian?" tanya ibu itu lagi.
"Saya dari Bandung bu, ke sini mau cari kontrakkan, karena mau coba nyari kerja di sini". Balasku yang masih dengan keadaan lemah.
"Owh, kalo mau eneng ngontrak di sini aja, jadi ini kemaren saya yang nempatin sama suami, tapi berhubung saya baru melahirkan anak kedua, jadi di sini kerasa sempit, suami ngajak pindah balik ke kampung neng, sisa kontrak ini masih ada sekitar 2 bulan lagi, eneng bisa tempatin dulu, ini saya niatannya ke sini mau balikin kunci sama yang punya kost, sekalian ambil barang saya yang masih ketinggalan". Jelas ia padaku dengan ramah.
"Beneran bu, Alhamdulillah saya memang sedang cari kontrakan, tapi maaf bu sebulan berapa?"
"Kalo di sini rata-rata ukuran segini 500 ribuan neng, maklumlah Jakarta apa-apa mah mahal".
"Owh, ini udah yang paling murah ya bu?" tanyaku lagi sembari memperhatikan kamar yang kira-kira ukurannya 3x3 meter itu dipotong dengan kamar mandi kecil disudut ruangan dan tampak cat dindingnya sudah begitu kusam terlihat bangunan usang.
"Iya neng, ini udah paling murah, selain ini nggak ada lagi neng".
"Ya udah bu, saya mau tinggal di sini, tapi apa saya harus langsung bayar sisa oper kontrak yang 2 bulan tadi bu?" tanyaku memelas.
__ADS_1
"Ohh, itu mah nggak usah, kamu pake aja nggak apa-apa, nanti kalo kamu di sini udah kerja, baru besok bisa mulai bayaran sama yang punya kost setelah 2 bulan". Jelasnya meyakinkan.
"Tapi, gimana dengan sama yang punya kost bu?" tanyaku ragu.
"Nanti biar saya yang kasih tau kalo udah ada yang nempatin sama aku oper kontrak".
"Makasih banyak ya bu, makasih atas bantuan ibu". Ujarku sembari memegang tangan ibu itu.
"Allah yang udah bantu eneng lewat saya, semoga nantinya bermanfaat ya neng, oya maaf, saya cuma bisa ninggalin kasur tipis ini aja, mudah-mudahan bisa dipake sama eneng sementara". Sembari dirinya pergi ke rumah yang punya kost untuk mengembalikan kunci dan memberitahu tentang aku.
Aku terharu atas kebaikkannya. Tak aku sangka di sini masih bisa kutemui orang baik seperti beliau. Tutur katanya yang lembut dan pakaian yang nyaris tak menampakkan sedikit pun auratnya sungguh mengispirasiku saat itu.
"Kring" terdengar suara ponselku bergetar tanda ada panggilan masuk. Kulihat nama ibuku pada layar ponselku.
"Assalamu'alaikum bu?" sapaku.
"Walaikumsalam, lagi apa nak? Nggak lagi kerja apa?" tanya dirinya padaku seperti biasa ingin mengetahui keadaanku.
"Nggak ini nanti dinas malam" ujarku sedikit gugup, oh ibu maafkan aku harus membohongimu, sebab keadaanku yang tak memungkinkan kuberi tahu.
"Bu, nanti tengah Ramadhan aku ada pelatihan khusus dari rumah sakit untuk penetapan karyawan, waktunya sampe lebaran juga dilanjut, kayaknya aku nggak bakal bisa mudik tahun ini" jelasku berbohong sama ibuku yang terpaksa aku lakukan, sebab ibuku tak boleh sampai tau kalau sebenarnya aku sedang menutupi kehamilanku sampai nanti aku melahirkan.
"Iya bu, tapi nanti kalo pelatihan udah selesai mungkin aku bisa pulang walopun nggak lebaran" jawabku yang terus berbohong.
"Ya udah kalo mau istirahat, nanti kan jaga malem, jangan lupa makan ya?" balasnya terakhir.
"Iya" ujarku sembari menutup teleponku yang aku ganggam di atas dadaku. Tanpa terasa air mataku pun menetes, sesak rasa di dadaku karena harus terus menerus membohongi ibuku. Tapi aku tak lagi bisa berpikir mau bagaimana, sementara untuk mempertahankan kehidupanku saja aku tak berdaya.
Di kamar baru ini aku mulai menata kehidupanku, di lingkungan yang baru yang semua serba asing. Aku yang lebih banyak diam mengurung dikamar berpikir keras bagaimana supaya tetangga kostku tak curiga dengan kehamilanku.
Sesaat aku terpikir akan pakaian ibu-ibu yang telah menolongku tempo hari. Tak lama itu aku membeli sebuah baju gamis lengkap dengan kerudung lebarnya, tak mahal harganya, aku beli sesuai dengan kantongku dengan sisa uang harus aku irit sampai nanti aku punya penghasilan lagi.
Setiap keluar, aku mulai mengenakan pakaian itu, beberapa mata menatapku tak ada yang menaruh curiga bahwa diriku sedanglah mengandung seorang janin yang sudah cukup membesar.
"Ukhti, mau berangkat kajiyan di masjid Al'Amin ya? bareng ana ya, soalnya ana mau ke sana tapi nggak ada temennya, qadarullah ada anti?" sapa seorang perempuan muda yang mungkin jarak usianya kurang kebih setahun lebih muda daripada aku, mengenakan gamis serupa denganku.
"Eeemmmm" Aku yang tak mampu berkata-kata hanya tersenyum sembari terus melangkah pada jalan sempit itu yang memang terlihat sebuah masjid yang tak cukup besar di sudut sana.
"Kenalkan, nama ana Rianti, siapa nama Anti? kayaknya jarang ngeliat?"
__ADS_1
"Aaaku Bunga" jawabku sembari menunduk tersipu malu dan bahkan sedikit tak mengerti kosa kata yang diucapkan perempuan berjilbab lebar bernama Rianti ini.
"Ohh, yuk Bunga kita bergegas ke masjid, sepertinya kajiyan udah dimulai, kita agak terlambat nih". Ujarnya sembari menggandeng tanganku menarik ke arah masjid itu.
Tanpa berpikir panjang, aku hanya pasrah mengikuti langkahnya. Lagi pula bagiku, kapan lagi bisa mendapatkan teman di perantauan seperti ini, apalagi teman-teman baik seperti Rianti ini. Gumamku dalam hati sembari mendengar sayup-sayup suara ustad yang sedang mengisi ceramah.
Seketika aku dan Rianti pun memasuki masjid itu perlahan tanpa menimbulkan suara agar tak mengganggu mereka yang sedang konstentrasi mendengarkan isi ceramah itu. Terlihat beberapa wajah wanita-wanita muslim yang sebagian besar berusia muda duduk berjajar di sana. Beberapa pun tampak ada yang mengenakan cadar namun di buka saat sedang mengikuti pengajian itu.
Lirak-lirik mataku tampak asing yang memperhatikan suara ustad yang ternyata berasal dari depan masjid yang hanya sama sekali tidak tampak batang hidungnya. Hanya selembar kain pembatas menutupi antara jamaah pengajian dan sang ustad.
Senyum terlontar dari beberapa jemaah di sana padaku. Terlihat ramah dan bersahaja. Akhwat namanya, yang disematkan pada perempuan-perempuan soleha seperti di sini. Terasa tertampar hatiku saat itu. Entah aroma hidayah dari mana yang bisa membawaku di situ saat itu.
Aroma-aroma dimana sang pencipta memperingatkanku untuk segera bertaubat dan mendekatinya. Sembari mendengarkan isi ceramah sang ustad, tanpa terasa air mataku menetes terasa malu pada Allahku Tuhanku satu-satunya yang telah lama aku mendzaliminya dengan perbuatanku yang menjijihkan ini.
"Bagaimanapun, AllahTa'ala adalah Maha pengampun, Maha menerima taubat, bagi siapa saja pendosa yang mau bertaubat, meski dosa itu sebesar lautan tak tak terukur jumlahnya" tutur kalimat sang ustad terdengar jelas di telingaku, hingga membuat sedikit sesenggukan pada diriku yang sejak tadi menahan air mataku.
"Anti kenapa?" tanya Rianti yang duduk di sampingku memperhatikanku dalam tangisanku.
"Enggak Rianti, aku nggak papa" sambil kuusap air mataku yang membasahi pipiku dan tampak basah dijilbabku.
Betapa bodohnya aku yang mengenakan pakaian taqwa ini hanya untuk menutupi aibku, sementara ketika dulu aku berbuat dosa, sama sekali tak terpikir olehku untuk mengenakkan pakaian ini padahal adalah kewajibanku sebagai seorang muslim.
Kupandangi wajah mereka satu persatu. Mereka bersih, wajah mereka bercahaya, mereka masih muda-muda dan masih ada harapan meniti masa depan yang cerah, bukan seperti aku. Ah, andai saja aku mengenal pengajian ini jauh sebelum aku berbuat dosa.... Tapi entahlah, mungkin ini sudah takdirku...Gumamku waktu itu dengan mata yang terus beair.
"Bunga, ana liat mungkin Bunga sedang dalam masalah ya? mungkin ana bisa bantu?" Sapa Rianti diantara para Akhwat yang sedang membubarkan diri dari pengajian itu. Beberapa tampak ada yang saling mengobrol, ada pula yang sudah di jemput oleh suaminya hendak pulang.
"Rianti, boleh aku cerita sedikit tentang aku? mau kamu dengerin aku dan nyempetin waktumu buat aku sebentar?" tanyaku yang entah saat itu aku beranikan diri ingin bercerita pada seseorang, padahal biasanya aku sangatlah tertutup pada siapapun.
"Jangan sungkan Bunga, cerita aja apa keluh kesah anti, siapa tau ana bisa bantu?" ujar dia yang sedikit-demi sedikit aku mulai memahami kosa katanya.
Dengan pandangan nanar dan berkaca-kaca, aku mulai menceritakan tentang diriku pada Rianti. Dengan seksama ia memperhatikan caraku bercerita secara perlahan dengan sedikit malu.
Meski sempat tercengang dengan tuturan kataku yang memberitahunya akan kehamilanku, namun ia terus mencoba menyemangatiku dan membesarkan hatiku.
Sungguh beruntung aku memiliki teman seperti Rianti, harapanku aku bisa mengenal banyak teman-teman yang lain seperti Rianti ini.
Hingga saat itu aku pun melakukan taubatan nasuha. Sosok Rianti yang terus mendampingiku dan memberiku nasehat satu demi satu membuat aku semakin terbuka untuk belajar agama lebih lanjut.
Kini aku menjadi rajin datang ke kajiyan itu. Satu per satu ilmu aku dapatkan dan bisa membawaku untuk tabah menjalani hidupku.
__ADS_1