Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Mobil hadiah kehamilan


__ADS_3

"Udah selesai ya haidnya?" tanya Deri padaku yang melihatku setelah mandi keramas.


"Emangnya kenapa?" sahutku jutek.


"Aku punya kejutan buat kamu nanti malem" kalimatnya membuat aku sedikit penasaran.


Sore ini aku pun bersiap-siap mengikuti ajakan Deri yang entah akan kemana aku pun belum tau. Beberapa perlengkapan Uwais pun aku persiapkan, sebab ia bilang kita akan menginap di suatu tempat.


Dengan menggunakan mobil yang ia sewakan untuk kita, kami pun melaju. Dalam perjalanan aku perhatikan kami mengarah ke Kota Bandung.


Sesekali ia menatapku yang duduk disampingnya memangku Uwais, diraihnya tanganku kemudian digenggamnya penuh mesra. Senyumnya yang merekah, sembari menunjuk beberapa lokasi nostalgia kami sewaktu di Bandung.


"Dulu kalo pulang kerja, kamu selalu berdiri di situ nunggu aku jemput kan? wajahnya lusuh... kecapen... lucu deh...." Kalimatnya sembari menunjuk sebuah pinggiran jalan dimana rumah sakit tempat aku bekerja pun berada di sana.


Netraku berkaca-kaca menatapnya, teringat sudah masa kelamku di saat bersama Deri waktu itu.


"Kamu kenapa sayang....? maaf kalo kamu jadi inget masa lalu kita...." ujarnya menatap wajahku.


"Nggak apa..." sahutku datar.


Tak lama dari itu kami pun sampai di puncak Bandung. Di sana Deri telah menyiapkan sebuah vila untuk kami tempati. Vila yang cukup sederhana namun dengan nuansa yang begitu asri.


Udaranya yang sejuk membuat tubuhku sedikit gemetar. Seketika aku bawa Uwais masuk ke dalam dan aku gunakan selimut tebal untuknya. Tidurnya sangat pulas, aku tatap wajahnya yang begitu menggemaskan itu, sembari memastikan bahwa ia tak akan terbangun lagi.


"Sayang... ayo ikut aku..." ujar Deri sembari memelukku dari belakang.


Kemudian ia menutup mataku dan menuntunku ke arah sebuah ruangan. Seketika ia melepaskan tangannya yang menutupiku dan aku buka mataku perlahan.


Sungguh takjub aku melihat hamparan bunga berjejer di pinggiran meja yang di atasnya telah dihidangkan beberapa makanan dan minuman untuk kami nikmati bersama.


Malam ini Deri mengajakku dinner yang sangat romantis. Sungguh tak kalah romantis dari yang ia lakukan dulu semasa pacaran dulu. Ia telah menyiapkan semua sedemikian rupa.


Beberapa kali ia menatap wajahku dengan senyum manisnya, dan melontarkan beberapa kalimat puitis, yang hampir saja melelehkan jiwaku dan seketika memerahkan pipiku malam itu.


Udara yang sejuk dan segar membuat suasana hati semakin saling beradu cinta. Taburan bintang di langit yang menandakan langit sedang cerah pun melengkapi keindahan suasana saat itu.

__ADS_1


Tak lama setelah kita saling bercengkrama mesra, Deri pun mengajakku masuk ke dalam vila, saat malam pun semakin larut.


Seketika ia membopong tubuhku masuk ke dalam kamar. Hati kami saling beradu seperti ABG yang baru saja jatuh cinta. Nafas kami yang saling menderu, pertanda gejolak jiwa ingin saling bercinta malam itu.


Hingga akhirnya malam itu adalah malam yang paling indah setelah beberapa bulan pernikahan kami. Dengan penuh kemesaraan, kami bercinta hingga pagi menjelang. Sungguh kepuasan yang tiada terkira bagi Deri malam itu, sebab kini aku telah menjadi seorang istri yang sesungguhnya baginya.


"Makasih sayang.... Aku sayang banget sama kamu...." ucapnya sembari mengecup keningku penuh kehangatan dalam kelelahan kami selepas malam indah kami.


Kini senyumku tulus aku lontarkan padanya yang membuat hatinya semakin jatuh cinta bertubi-tubi. Uwais yang tertidur lelap seperti sangat bersahabat dengan situasi kami.


Jam menunjukkan pukul 4 pagi, kami pun bergegas mandi dan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Beberapa saat kemudian barulah sang Uwais menangis pertanda ia telah terbangun dari tidurnya.


Segera aku menyusuinya kemudian memandikannya agar bersih badannya. Kemudian ia pun tertidur kembali. Disusul dengan aku yang seketika terlelap di samping Deri yang sudah sejak tadi melelapkan dirinya sebab belum tidur semalaman.


Beberapa jam kami tidur, Deri pun terbangun. Diliriknya aku yang tengah tidur di sampingnya bersama Uwais. Segera ia jauhkan tubuh Uwais dari tubuhku. Kemudian kecupan mesra pun mendarat di keningku yang seketika membangunkan tidurku.


Sorot matanya memberiku kode untuk kembali bercinta seperti semalam. Aku pun dengan penuh cinta menuruti hasratnya yang memang sudah lama ia pendam akibat hukuman dariku. Kini sepertinya ia telah membalaskan dendamnya.


"Krucuk-krucuk" terdengar perutku berbunyi tanda lapar.


"He ehm...." sahutku.


"Ya udah, habis mandi dan Sholat Dzuhur, kita makan sate kelinci yuk di depan?" kalimatnya yang seketika membuatku kembali bersemangat setelah begitu lelah dengan pertempuran kami saat itu.


****


Beberapa hari selepas kemesaraan kami yang sudah tak terhitung berapa kali jumlahnya saat bercinta. Suatu pagi perutku terasa sangat mual. Rasanya persis saat aku tengah mengandung Uwais saat itu.


Meski baru sehari aku terlambat haid, sepertinya perasaanku mengatakan bahwa aku hamil lagi. Segera aku menuju apotik untuk membeli sebuah test pack.


Kuamati batang test pack itu, dan garis merah dua terlihat di sana. Sungguh hatiku gembira saat itu. Meski usia Uwais yang terbilang masih bayi, aku tak terlalu keberatan dengan kehadiran buah hati kami kembali.


"Uwais sayang.... bentar lagi kamu bakal punya adik...." ucapku sembari membelai pipi Uwais yang tengah aku beri beberapa suap makanan pendamping ASI untuknya.


Tak lama dari itu aku menelepon ibuku di kampung. Aku kabari bahwa kini aku tengah hamil muda. Hatinya sunggu gembira, mengingat ini adalah hal yang sudah dinantikannya.

__ADS_1


"Nanti gimana sama Uwais? apa kamu nggak repot bakal ngasuh dua balita sekaligus?" tanya ibuku dalam teleponnya.


"Ya nggak apa lah bu, aku kan sekarang udah nggak kerja, jadi bisa fokus urus anak..." kalimatku meyakinkan.


"Ya udah... yang penting kamu harus tetep ikhlas ngerawat Uwas meskipun bukan anak kandung kamu..." kalimat ibuku yang seketika mendebarkan jantungku.


Sore harinya Deri pulang dari kerjanya. Seketika aku pura-pura tak ada di rumah. Aku bersembunyi di balik pintu kamarku saat ia mulai masuk mencariku. Kulihat ekspresi wajahnya ketika aku beri kejutan sebuah test pack kehamilanku yang aku taruh di atas kasurku.


Wajahnya tampak berbinar bergembira. Spontan aku keluar dari persembunyianku.


"Ini punya kamu sayang?" tanya dirinya dengan ekspresi senang.


"He emh...." sahutku sembari mengangguk.


"Jadi Uwais akan punya adik lagi ya?" tanya dia girang.


"Iya... rumah kita bakal tambah rame...." sahutku yang juga merasakan bahagia.


"Alhamdulillah.... aku senang dapet rejeki lagi.... tapi kamu nggak merasa kerepotan kan sayang?"


"InsyaAllah aku ikhlas...." sahutku dengan senyum meyakinkan.


"Kamu memang istri yang tangguh.... InsyaAllah aku bakal jaga kamu sebisaku.... kita rawat kehamilan ini sama-sama ya.... dulu waktu Uwais aku nggak sempet nemenin masa hamil kamu, sekarang saatnya aku membayar semuanya...." kalimatnya meyakinkan.


Beberapa saat ketika kami sedang mengobrol telepon pun kembali berbunyi.


"Bunga, tadi ibu transferkan uang buat kamu, belikan mobil aja ya, biar nanti kamu nggak repot kemana-kemana bawa anak-anak.... itu uang pensiunan Almarhum bapakmu, dari dulu ibu simpen tapi nggak tau mau buat apa, ibu udah tua, udah nggak kepingin apa-apa, jadi buat kamu aja..." ucap ibuku yang spontan membuatku terkejut.


"Tapi kenapa mesti beli mobil sih bu? rumah aja kita masih ngontrak..." sahutku yang bingung mengapa tiba-tiba ibu menyuruhku membeli mobil.


"Nanti rumah bisa nyusul kalo ibu dapat pencairan Taspen lagi dari pensiunan ibu, kalo rumah harus pelan-pelan diperhitungkan biar bisa bikin rumah yang memuaskan, jangan asal-asalan bikin pake dana minim, pokoknya kamu sementara punya mobil dulu, banyak fungsinya, bisa di pake pas nanti mudik, terus kalo ibu berkunjung ke sana, kamu nggak bingung ngajak ibu keluar-keluar kalo udah ada mobil.... kamu tenang aja, masmu juga udah ibu kasih tau, dia setuju aja, biar anak-anak ibu semua udah pada punya mobil" kalimat ibuku panjang lebar.


"Ya udah kalo itu mau ibu, besok aku sama Deri belikan mobil uangnya.... makasih ya bu..." sahutku yang tak bisa menolak keinginannya itu.


Keesokkan harinya, aku dan Deri pun pergi ke sebuah shorum mobil yang tak jauh dari rumah kami. Dibantu oleh Ferdi, kami tentukan mobil yang akan kami beli itu. Jatulah pada sebuah mobil berwarna putih kesukaanku itu.

__ADS_1


Akhirnya kini kami memiliki sebuah mobil, yang terbilang tak cukup mewah, namun cukup membahagiakan hati kami saat itu.


__ADS_2