
Sekian lama Deri menghilang tanpa kabar dan jejak, Uwais pun mulai berhenti menanyakan keberdaan dirinya. Mungkin dirinya lelah seiring dengan bertambah dewasanya umurnya kini.
Memasuki bangku SD kelas 3, dirinya telah merampungkan hafalan Al-qur'an hingga 30 juz. Menyusul sang adiknya Umar yang masih dalam perjalanan 29 juz dan aku sangat yakin sebentar lagi akan mengikuti jejak kakaknya itu.
Suara merdu sang kakak dalam melantunkan ayat suci itu membuat orang kerap kali dibuat merinding apabila dia ditunjuk untuk mengisi pembacaan kitab suci di sebuah acara-acara resmi.
Jejak Deri yang ia tanamkan mengajarinya untuk selalu Sholat di masjid pun ia lakukan selalu bersama adiknya itu. Mereka berdua sangat akrab dan selalu pergi ke masjid bersama-sama. Bahkan tak jarang mereka secara bergantian melantunkan Adzan dan Iqomah dengan suara yang membuat pendengar merinding pastinya. Mereka berdua sangat terkenal di kampungku dengan suara merdunya saat mengaji.
Ada sebagian tetanggaku yang kagum atas kegigihan diriku dalam memberikan pendidikan pada anak-anakku. Namun tak jarang ada pula yang iri melihat keberhasilanku. Memfitnah diriku yang hanya sebatas berkedok alim untuk menutupi diriku yang selalu berkencan dengan laki-laki lain.
"Kapan kamu siap menerima lamaranku?". Tanya seorang dokter patnerku bekerja yang bertugas di salah satu rumah sakit di kotaku memohon padaku. Dia seorang duda beranak satu yang usianya jauh lebih muda dari aku.
Setahun yang lalu ia mengenalku. Sampai saat ini ia terus berusaha untuk bisa menjadi pendamping hidupku. Namun entah mengapa hatiku sedikit pun belum terbesit untuk kembali merajut kasih dengan lelaki semenjak hubunganku dengan Deri kandas. Tak ada lagi gairah untukku memikirkan laki-laki.
"Maaf... Sebaiknya kamu cari perempuan lain saja... Aku masih belum siap untuk menikah lagi...". Jawabku dengan nada pelan dan sedikit merasa tak enak hati.
"Memangnnya sampai kapan kamu mau membuka hati kembali untuk laki-laki? Aku tau banyak yang mendekatimu... Kamu masih belum bisa melupakan mantan suamimu? Atau kamu sudah punya pilihan diantara orang yang mendekatimu?". Tanya dirinya yang seolah sudah sangat ingin perasaannya itu berlabuh padaku.
"Bukan itu... Aku memang masih ingin fokus merawat anak-anakku dulu...". Jawabku dengan santai.
"Sebetulnya tak ada halangan bagi kamu merawat anak-anakmu bila kamu menikah lagi bukan?"
"Ehmmmm.... Maaf, aku belum ingin membagi kasih sayangku untuk ketiga anakku dengan lelaki... Aku mohon mengerti...". Jawabku mencoba menolak secara halus.
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu belum bisa membuka hatimu untukku... Semoga kelak kamu bisa mendapatkan yang terbaik...". Ujar dirinya mencoba berbesar hati.
"Aamiin... Terima kasih kamu mau mengerti, semoga kelak kamu juga bisa mendapatkan yang terbaik...". Balasku dengan senyum manisku yang seketika ia balas pula dengan senyuman tak kalah manis pula.
Tak lama ia pamit meninggalkan klinikku itu. Meski perasaannya kecewa padaku, tapi ia berusaha menunjukan sikap baiknya padaku.
Selain dirinya, beberapa lelaki yang lain pun sempat demikian. Mencoba mendekatiku bermaksud untuk meminangku. Tak jarang juga ada beberapa lelaki jahil yang hanya ingin berusaha mendekatiku dengan cara tidak baik. Entah hanya sebagai candaan, atau memang berniat bersikap kurang ajar padaku.
Gawaiku ramai dipenuhi beberapa chat dari seorang laki-laki yang mencoba merayuku untuk bisa menjadi suamiku. Sampai aku bosan sekali menanggapi mereka yang terkadang menggombal tak jelas.
Banyaknya lelaki yang datang mendekatiku itulah yang membuat segelintir tetanggaku menebar fitnah tak baik padaku. Namun ini tak berpengaruh bagiku. Sejak awal aku menjada,telingaku sudah tebal akan cibiran mereka.
Sekalipun aku tak pernah berkencan dengan lelaki bukan mahramku di luaran sana. Bila ada yang menemuiku tentunya akan datang ke klinikku dimana di sana akan ada beberapa karyawanku yang turut mengawasi kehadiran lelaki yang datang menemuiku itu.
Di lahan lain yang aku beli setahun yang lalu itu, kini telah berdiri sebuah bangunan dimana aku melayani segala kebutuhan kesehatan. Baik itu berobat jalan, maupun rawat inap.
Banyak orang-orang diluaran sana terkagum atas tindakanku ini. Namanku harum tersohor di jagad tenaga kesehatan daerahku. Bahkan sekali waktu aku pernah dipanggil pada salah satu acara di stasiun tv swasta untuk menceritakan kisahku sebagai pemilik rumah sakit gratis itu.
Bukan sesuatu yang gampang aku melakukan itu. Beberapa kali aku terkena teguran dari teman sejawat yang merasa dirugikan akibat pelayanan gratis yang aku sediakan itu. Banyak pemberi jasa layanan kesehatan yang berpaling ke rumah sakitku itu untuk dapat menikmati fasilitas gratis tentunya. Namun hal ini mampu aku atasi, sebab masih banyak masyarakat lain yang membelaku atas usaha yang aku lakukan ini.
***
Malam itu saat aku baru saja memastikan ketiga anakku tidur di kamarnya kini, ada sebuah telepon yang nomernya belum ada di kontakku. Sejenak aku tatap layar ponselku itu hendak mengangkat namun ada keraguan muncul, khawatir itu adalah dari lelaki yang mencoba menggodaku.
__ADS_1
Beberapa menit aku diamkan gawaiku itu terus berbunyi tiada henti. Aku mencoba menerimanya, khawatir jika itu adalah dari orang yang membutuhkanku.
"Hallo...?". Ucapku menyapa telepon itu dengan hati sedikit gundah.
"Hallo nyonya Bunga cantik... Masih ingatkah dengan suaraku??". Deg... Jantungku seketika berdegup kencang dan tanganku mulai gemetar. Aku masih ingat dan mengenal suara orang yang beberapa tahun yang lalu pernah menjadi suamiku itu. Yah, dia tak lain adalah Bagas. Suami pertamaku dulu yang berparas tampan namun perangainya kasar itu.
"Kamu?? Ada perlu apa kamu telepon aku malam-malam?". Tanyaku dengan perasaan curiga.
"Nggak ada apa-apa... Cuma mau tanya kabar kamu aja...". Jawabnya dengan santai.
"Maaf, sekiranya tidak ada keperluan mendesak sebaiknya jangan menghubungi aku... Kita bukanlah mahram, tak baik berbicara tanpa ada maksud dan tujuan yang jelas...". Kalimatku mencoba memberinya pengertian.
"Oh... Sekarang kamu udah berasa ustadzah... Hehehe...". Sahutnya meledek dengan tertawa kecil.
"Aku biacara serius. Hargailah perempuan sedikit...!". Ucapku dengan nada mulai ketus.
"Baiklah... Baiklah.... Aku mengerti Ibu Bunga yang cantik... Wanita cantik dan seorang muslimah yang taat... Hemmm tapi sayang.... Janda yang malang.... Hahaha!". Kalimatnya yang segera mengakhiri percakapan kami.
"Huft...". Aku menghela nafas panjang dan meletakkan meletakkan gawaiku ke atas ranjang.
Hatiku terus bertanya-tanya mengapa bisa dirinya tiba-tiba menghubungiku dengan kalimat tidak jelas begitu. Padahal sudah bertahun-tahun sedikit pun aku tak pernah berkomunikasi lagi padanya semenjak perceraianku dulu.
__ADS_1
Seperti ini kira-kira penampakan wajah Bagas saat masih menjadi suami Bunga yang belum berhijrah mendalami agama.