
Hari ini kesekian kalinya ibuku meneleponku mendesakku untuk segera menikah dengan Deri. Hampir sudah tak ada kata alasan lagi aku padanya. Kebaikan Deri yang ditunjukkan pada ibuku ternyata mampu membuat ibuku sangat ingin memiliki menantu sepertinya.
"Hallo Bunga, Assalamu'alaikum?" sapa Deri dalam telepon yang baru saja berdering.
"Walaikumsalam?" sahutku.
"Kamu lagi apa Bunga? adakah waktu sebentar buatku?".
"Biasa, sedang sama Uwais aja, memangnya ada apa?"
"Bisakah hari ini kamu temui aku di cafe Carolina sore ini? aku ingin membicarakan sesuatu sama kamu?" ajaknya padaku.
"Bicara apa? apa nggak bisa di teleoon aja?"
"Ya... bisa sih, tapi.... jadi begini,...emmm... masalah desakkan ibumu...." sahutnya dengan gugup.
"Apa? ibuku? apa dia sering telepon kamu?" sahutku sedikit terkejut.
"Iya, bahkan sering...." jawabnya santai.
Huft.... seketika aku hembuskan nafas panjangku. Tak aku sangka bukan hanya aku yang di desak untuk mau menerima Deri, tapi ternyata juga Deri mendapatkan tekanan dari ibuku untuk mempercepat pernikahan kami. Padahal, semenjak kembalinya Deri dari Lampung kemarin, dia jarang membahas soal pernikahan seperti sebelum-sebelumnya.
"Jangan bilang kalo ibuku minta kamu segera nikah sama aku?" ketusku padanya.
"Ya.... tapi memang kenyataannya begitu...." kalimatnya seperti tak ada beban.
"Ini semua salah kamu... kenapa juga kamu dulu harus sering-sering main ke rumahku carmuk sama ibuku... akhirnya yang ibuku tau kan kamu ini orang baik-baik... padahal kan.........." sahutku memberondong namun segera ia timpali.
"Sudah...sudah... Bunga, sabar dulu.... kita bicarakan baik-baik... jangan lewat telepon, karena ini masalah serius..." sahutnya.
__ADS_1
"Baik, jam berapa kita mau ketemu?" kalimatku seraya menahan emosi jiwaku.
"Sore ini, sehabis Ashar ya?" balasnya.
"Iya" jawabku yang kemudian menutup teleponku tanpa basa-basi.
"Tut...tut..." suara telepon yang tiba-tiba terputus membuat Deri terheran dengan garukan jari di kepalanya, namun dia berusaha untuk bersabar atas sikapku padanya.
Sore ini selepas aku memandikan Uwais dan melaksanakan Sholat Ashar, aku bersiap-siap untuk segera menemui Deri sesuai perjanjian. Uwais yang sejak tadi sedikit rewel karena cuaca yang cukup panas membuatku harus menenangkannya terlebih dahulu agar tidak repot saat nanti dalam perjalanan.
Lama Deri menungguku di meja yang sudah ia pesan, ia tampak sudah mulai bosan saat aku tiba di lokasi itu.
"Assalamu'alaikum?" sapaku padanya dengan wajah datar.
"Walaikumsalam.... Alhamdulillah kamu dateng, kirain nggak jadi dateng...." ucapnya penuh lega.
"Uwais tadi rewel karena udaranya lagi panas, makanya aku telat" sahutku seperti biasa dengan wajah jutek.
"Terserah kamu aja mau pesan apa" sahutku singkat.
"Ya udah aku yang pesenin ya..." kalimatnya yang menunjukan betapa sabarnya dirinya meski aku teramat jutek padanya.
Setelah ia memesan beberapa makanan, ia pun terlihat menghela nafas panjang sebelum memulai percakapan kami yang serius.
"Bunga....Maaf... bukannya aku bermaksud memaksa kamu, aku tak pernah menghalangimu akan menikah dengan siapapun.... tapi pertimbangkan desakkan ibumu padaku.... sebagai laki-laki aku merasa tak sampai hati menolak keinginan ibumu..." kalimatnya memulai.
"Baru sadar ya sekarang kamu sebagai laki-laki.... hmmmm, dulu kemana aja?? lagian sih kamu carmuk sama ibuku, coba aja kemarin kamu.........." seketika kalimatku ditimpali oleh Deri.
"Bunga tolong.... Aku mohon bersikap dewasa sedikit, lupakan sejenak kesalahan dan kebencianmu sama aku... Coba sekarang kamu fokus sama masa depan kamu dan Uwais... jangan nuruti egomu aja..." sahutnya dengan lembut.
__ADS_1
"Apa... Dewasa?? apa masa depan?? huft...." jawabku yang seperti enggan menimpalinya lagi.
"Ya sudah... kalo memang kamu masih bersih kukuh begitu... tapi tolong pikirkan perasaan ibumu juga..." ujar dirinya yang sepertinya mulai lelah denganku.
"Baik, aku mau nikah sama kamu.... tapi dengan syarat!"
"Syarat apa? Insya Allah aku akan penuhi sebisaku".
"Selama menikah, jangan pernah bocorkan masalah kita dan Uwais dengan keluarga kita, katakan padanya kalo Uwais adalah anak adopsi kita dari seorang teman yang kita tolong, dan satu syarat lagi, selama menikah jangan pernah tuntut aku untuk melayani kamu sebagai istri sampai hatiku bisa melupakan kesalahanmu dahulu padaku... Dan aku tak bisa memastikan itu sampai kapan, bisa satu bulan, dua bulan.... bahkan bertahun-tahun.... apa kamu sanggup?" jelasku tanpa ragu.
"Baik.... aku akan turuti semua apa mau kamu...Anggap aja itu caraku membalas rasa sakitmu dulu atas kesalahanku.... InsyaAllah aku iklhas...." ujarnya meyakinkan.
"Kamu yakin bisa????" tanyaku sinis.
"Kalo kamu aja bisa bertahan dalam masa kehamilan yang begitu sulit dicerca dan dihina orang, kenapa hal itu buat aku nggak bisa? Anggap aja sebagai rasa terima kasihku kamu merawat Uwais dalam kandunganmu. Aku nggak bisa bayangkan seaindainya dulu kamu nggak setegar itu bisa aja Uwais yang lucu ini nggak akan kamu lahirkan ke dunia karena keburu kamu musnahkan...." ujarnya sembari membelai pipi Uwais.
"Astaghfirulloh..... Aku tak akan sekeji itu..." kalimatku yang mulai melunak.
"Aku sangat memahami kenapa kamu ajukan syarat itu sama aku.... Mungkin kamu masih merasa jijik dengan kelakuanku dahulu, dengan perasaan yang masih menghantui itu bagaimana mungkin kamu bisa melayaniku sebagai istri dengan baik bukan?" pernyataannya membuatku begitu kagum.
MasyaAllah.... entah mengapa pikiranku seperti terbaca olehnya. Dia seperti sangat memahamiku kini. Aku nggak tau apakah pernikahan ini adalah kedzaliman, hanya saja inilah saatnya aku menguji ketulusannya terhadapku. Aku wanita yang tak mau lagi tersakiti untuk kesekian kalinya terhadap lelaki..... Gumamku dalam hati.
"Baik, lalu bagaimana caranya kita menyembunyikan Uwais dari keluarga?" tanyaku yang mulai bingung.
"Aku punya ide, bagimana kalo kita titipan Uwais sementara sama istrinya Ferdi, kita minta tolong untuk menjaganya sementara kita menikah di Lampung, setelah pernikahan beres, kita langsung kembali ke sini lagi".
"Tapi aku tak sampai hati.... Uwais masih butuh air susuku...." ujarku yang begitu tak tega menatap wajah Uwais.
"Kita jangan lama-lama di Lampung, surat- menyurat biar keluargaku yang mengurus, kita pulang aja sebentar, maksimal 3 atau 2 hari aja di rumah pas hari ijab qobul aja, dan aku bisa berasalan juga karena masih bekerja sebagai karyawan baru yang belum bisa libur lama, beres kan??" jelasnya meyakinkanku.
__ADS_1
"Hmmm baiklah, nanti aku bisa buat stok ASI di kulkas Ferdi buat Uwais selama aku tinggal, mudah-mudahan nggak rewel...."
"InsyaAllah nggak rewel ya nak.... Ini kan demi Ayah dan Ibu kamu bisa bersatu... Kamu seneng kan?" ujarnya sembari membelai pipi Uwais dan kali ini dengan matanya yang berkaca-kaca. Hati perempuan mana yang tak terharu menyaksikan ini. Namun sebisa mungkin aku tepis demi visi misiku dalam pernikahan bersyarat ini.