Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Awal Terungkap Perselingkuhan


__ADS_3

Mendengar suara lutut yang tersungkur di depan kursi di mana aku terlelap itu, aku pun terkejut dan terbangun. Di hadapanku telah tampak seorang Deri dengan derai air matanya yang mengalir seolah penuh penyesalan dan kesedihan yang tak terhingga.


"Sayang udah dateng? Kenapa nggak bangunin aku?? Kenapa sedih begitu....? Uwais dan Umar kata dokter kondisinya akan cepat membaik karena aku cepat membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat....." Ucapku mendekatinya.


Ia menatapku dengan raut wajah penuh dengan rasa bersalah. Di sambarnya tubuhku seketika dan dipeluknya olehnya erat-erat. Hatiku bertanya-tanya atas sikapnya itu. Entah apa yang ada dibenaknya sehingga seolah penuh sesal begitu.


Padahal telah kujelaskan bahwa kondisi kedua anakku tak cukup kritis. Namun seolah dirinya begitu penuh sesal dan sesekali sesenggukan menghampiri kedua anakku yang sedang terlelap itu.


Di usapnya kedua kening Uwais dan Umar, kemudian ia cium dengan begitu lembut.


"Sabar sayang.... InsyaAllah Uwais dan Umar sembuh secepatnya... Janganlah begitu...." ucap diriku sembari menepuk punggungnya itu.


"Sayang.... Maafin aku.... Maafin aku karena nggak bisa di samping kalian di saat-saat seperti ini...." kalimatnya sembari menghapus air matanya yang baru saja jatuh membasahi pipinya.


Ada apa sih suamiku ini....Uwais dan Umar memang sakit bersamaan.... Tapi nggak biasanya dia menampakkan sepanik ini.... Apa jangan-jangan ada yang ia sembunyikam dariku....??? Gumamku yang menatapnya semakin penuh dengan tanda tanya.


"Abi sayang....Aku tau saat ini abi tengah sibuk dengan pekerjaan di kantor, jadi aku maklumi.... Udah jangan bersedih lagi ya... Doakan semua baik-baik saja...." ucapku mencoba menenangkannya.


Netranya menatapku begitu nanar dan masih dalam keadaan berkaca-kaca. Seumur hidupku mengenal Deri baru kali ini wajahnya tampak begitu bersalah terhadapku.


Meski dahulu ia pernah melakukan hal serupa saat mengetahui keadaanku tengah hamil Uwais, namun tak sepanik ini yang ia tampakkan.


"Abi....Abi...." suara Uwais terdengar dan tampak mulai membuka matanya perlahan.


"Uwais....Sayang....!!" seruku dan Deri bersamaan. Spontan kami berdua mendekatinya.


"Umi...." ucapnya lirih menatapku dan menolntarkan senyumnya meski dengan wajah yang masih tampak pucat.


"Iya sayang....Gimana keadaanmu nak? Apa yang kamu rasakan nak....hemmm?" Tanyaku dengan penuh kelembutan sembari menggenggam erat tangannya. Sesekali aku usapkan tangannya pada pipiku dan kuciumi dengan lembut.

__ADS_1


Begitu pun dengan Deri. Tampak dirinya menciumi tangan Uwais dalam genggamannya itu. Sesekali ia masih sesenggukan berurai air mata.


"Abi....Apa Abi sedih?" ucap Uwais dengan bahasanya yang masih sedikit tidak jelas artikulasinya itu.


"Iya nak....Maafkan Abi...." ucapnya sembari terisak.


"Memangnya abi salah apa? Kog minta maaf?" kalimatnya mulai menandakan kekuatan diri Uwais yang sejak tadi tampak lemah.


"Iya abi salah nak....." ucap Deri dengan nada lemah dan serak akibat tangisannya itu.


"Memangnya abi berbuat apa sih? Kog nangis begitu??" ucap Uwais dengan polos.


"Abi salah karena abi sibuk dan ninggalin kalian yang lagi sakit begini...." ujar Deri mencoba menegakkan badannya.


"Oohhh...Itu kan karena abi sibuk mencari uang buat jajan Uwais sama Umar kan?" celotehnya yang begitu menggemaskan.


"Sayang....Uwais pingin makan apa nak? Biar Umi belikan?" ujarku menawarkan padanya yang sejak tadi pagi belum ada asupan makanan apapun karena beberapa kali aku coba suapi makanan jatah rumah sakit tapi selalu dimuntahkan.


"Ehmmm, kalo roti atau biskuit coklat mau?" tanyaku dengan penuh semangat.


"Ooooiya mau...mau... Mau Um...Tapi mau yang ada kejunya juga..." ujarnya mulai semangat.


"Baiklah, kalo begitu Umi keluar sebentar buat beli itu ya...." kalimatku memohon ijin untuk membelikan biskuit kesukaannya itu.


"Ehmmm sayang....Biar aku aja yang beli.... Kamu di sini jaga Uwais dan Umar.... Siapa tau nanti Umar bangun minta susu..." kalimatnya mencegahku yang hendak keluar itu.


Aku pun mengangguk tanda setuju. Seketika dirinya segera keluar dari ruangan dan pergi menuju sebuah minimarket yang tak jauh dari rumah sakit.


Tiba-tiba gawainya yang tertinggal di atas kasur tempat Uwais terbaring bergetar tanda ada pesan masuk. Seketika aku baca pesan itu yang tak lain datang dari Lani.

__ADS_1


Lani??? Apa ini dari Lani mantan pacar Deri dahulu yang pernah ia ceritakan dahulu saat pertama aku mengenalnya?? Gumamku sebelum aku membuka pesan itu.


Gawainya yang tak terkunci membuatku bebas membaca seluruh isi dari benda yang sudah lama ia jauhkan dariku itu.


[Der...Aku udah nggak di hotel lagi, kamu lama aku tunggu nggak balik-balik juga... hemmm, padahal aku masih pingin loh mengulang adegan kita yang hot tadi....] Isi pesan dari Lani yang baru saja ia kirimkan.


Jantungku berdegup begitu kencang. Wajahku memerah menahan emosiku yang kian memuncak saat itu. Kepalaku terasa berat, dan seketika pandanganku terasa kabur.


Aku tersungkur dalam keadaan yang begitu lemas dan kaki yang gemetar. Ingin rasanya aku menjerit, dan ingin sekali rasannya aku menangis sekencang-kencangnya.


"Umi....Umi...Kenapa???" ucap Uwais yang melihatku tergeletak di atas lantai.


Seketika aku tersadar dan mencobavmengkokohkan kakiku agar bisa berdiri di hadapan Uwais tanpa terlihat adanya sesuatu.


"Nggak sayang.... Umi itu kebelet pup, perutnya nahan mules....Sekarang umi mau ke kamar mandi dulu ya...." kataku yang berkspresi seolah tak ada masalah itu.


Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Aku hidupkan keran agar suara jeritanku tak terdengar siapapun. Aku bungkam mulutku untuk menahan isak tangisku yang tengah menahan kesakitan hatiku saat itu.


Kucoba membuka isi-isi pesan dari beberapa chattingan antara Deri dan Lani yang lain, namun rasa hati sudah sangat tak sanggup. Ditambah lagi kedua mataku yang sudah buram dengan deraian air mata begitu derasnya.


Kenapa kisahku harus sesakit ini..... Gumamku dalam isakku.


Beberapa foto kemesraan antara Lani dan Deri pun ada di salah satu galeri dalam gawainya itu. Tentu ini menambah bara api dalam hatiku yang begitu panas membara.


Kalian sungguh tega....Kalian sungguh menjijihkan....Naudzubillahminzalik....


Suara hatiku berkecambuk begitu dasyat, seolah ingin segera menghujam perbuatan mereka berdua yang telah berkhianat di belakangku. Terutama pada Deri yang segalanya seperti terbungkus rapi atas kelembuttannya, atas bujuk rayuannya terhadapku. Ternyata semua itu bohong belaka, dirinya tak lebih dari seorang pecundang penggerogot hati nurani perempuan.


"Sayang.....Sayang.... Tok...Tok...Tok...." Tak lama dari itu terdengar suara Deri mengetuk pintu kamar mandi dimana aku mengunci diri di sana.

__ADS_1


Aku yang teringat akan Uwais dan Umar seketika berusaha menghapus air mataku. Aku basuh wajahku dengan air supaya menghilangkan mata sembabku. Aku rapihkan keadaanku, dan aku hela nafas panjang untuk meredam emosiku di hadapan mereka.


Walau bagaimana pun aku harus berpura-pura tak ada masalah apapun, terutama saat Uwais san Umar di rawat di rumah sakit ini.


__ADS_2