Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Perjalananku


__ADS_3

"Huhhhhhft...." Tarikan nafasku begitu panjang sebelum aku menyaksikan sesuatu yang menjijihkan di hadapanku sesaat lagi.


"Tok...Tok...." Aku coba ketuk pintu kamar laknat itu.


Beberapa detik tak ada sahutan dari dalam.


"Huuhhhhhft....." Kembali aku tarik nafas panjang. Terbayang sudah apa yang mereka lakukan di dalam sana. Yah, sesuatu yang sangat menjijihkan itu pasti sedang berlangsung di dalam kamar itu. Sungguh rasa hatiku ingin aku gempur pintu kamar itu. Namun sebisa mungkin aku tahan emosiku agar semua berjalan dengan baik.


"Tok...Tok...." Kuketuk kembali pintu itu.


"Siapa?" kali ini terdengar suara perempuan menyahut.


"Laundry...." Sahutku dengan suara yang sedikit aku buat lain.


Beberapa detik aku menunggu pun belum juga terbuka pintu itu. Sungguh makin teriris saja perasaanku. Andai aku tak terus beristigfar, mungkin sudah aku bakar kamar kost ini. Sebab dalam lintasan pikiranku selalu terbayang adegan laknat antara Deri dan Lani yang sungguh menebarkan rasa panas membara dalam sanubariku yang terdalam.


Cemburu, benci, jijik, sedih, semua bercampur aduk sedang berperang menyarang di hatiku. Tapi aku berusaha tegar.


"Cekrek" tiba-tiba bunyi pintu tanda terbuka.


Bismillah....Kuatkan aku Ya Allah.... Doaku merintih dalam hati.


"Mbak ini bajuku yang mau dilaun......" Kalimatnya yang belum sempat Lani teruskan namun terburu terkejut melihatku berdiri di hadapannya itu.


Kedua netrraku menatap tajam dengan seolah sorot yang sedikit melotot. Wajahnya yang tampak memucat aku balas dengan senyuman mengejek padanya. Aku tatap dirinya dari atas ujung rambut sampai ujung kaki itu dengan senyuman sinisku. Tampak dirinya sedikit risih dengan kondisi tubuhnya yang hanya menggunakan kemben sehelai handuk itu.


Setelah senyuman aku lemparkan padanya, spontan aku menyerobot masuk ke dalam kamar itu tanpa basa-basi padanya. Ia pun mengekor dibelakangku dengan panik.


Tampak Deri tengah terbaring santai di atas kasur dengan tubuhnya yang separuh berada dalam selimut, sementara dadanya telanjang.


"Bunga????!" ucapnya spontan begitu menatapku yang tengah berdiri dihadapannya itu.

__ADS_1


"Upsss....Sory....Aku mengganggu adegan kalian... Hmmmm...." Kalimatku santai ditengah bara api dalam hatiku.


Deri tampak gugup dan seketika menarik selimutnya lebih ke atas menutup seluruh tubuhnya.


"Oh...Kamu yang katanya adiknya Deri itu.... Yang kemarin dicariin kost yang katanya kuliah di sini???" kalimatku menyindir sembari menatap sinis ke arah Lani yang tengah berdiri di sudut ruangan itu.


Lani terdiam dengan wajah juteknya.


Sesaat aku melihat wajah Deri tampak gugup dan malu. Wajahnya memerah dan seketika ia meraba pakaiannya untuk segera ia kenakan.


"Kenapa??? mau cari baju??? Ngapain pake baju?? sekalian aja telanjang nggak papa kog, udah memalukan biar malu-maluin sekalian nggak papa..." Ucapku dengan nada tengil sembari menatap beberapa pakaian dalam yang tercecer di sekitar tempat tidur itu.


Spontan aku mengambil celana dalam milik Deri dan Lani yang tercecer itu. Aku jinjing pakaian itu ke arah atas.


"Oh....Cocok ya???" Ucapku sembari mengarah kedua celana dalam itu. Sengaja aku jinjing beberapa kali ke atas seolah memperjelas itu.


"Celana dalem peselingkuh ketemu celana dalem peselingkuh juga.... Ehmmm.... Bagus juga buat diabadikan..."Ucapku dengan nada setengil mungkin.


"Ohh.... Jadi yang sopan itu kayak kamu yah yang berani tidur sama laki orang?" Sindirku lagi.


"Pergi kamu....! Ini kamar aku....!!" ucapnya mengusirku.


"Waw....Aku diusir.... Aku teriak ah.... Biar semua orang pada tau di sini ada pasangan selingkuh....." Kalimatku sembari melirik matanya ke kanan dan ke kiri itu. Seolah mengancam tapi dengan nada lembut.


Deri dan Lani terdiam. Mereka berdua sangat bingung apa yang harus mereka lakukan saat itu. Deri hanya bisa pasrah dan tertunduk malu. Ku ambil kesempatan ini untuk mengambil gawaiku dan aku abadikan hal ini.


"Lagi ngapain mas....? Mbak....? Kog wajahnya pada ditekuk gitu....?? Heheh... Lagi ketauan selingkuh ya??? Ini.... Aku berhasil mengambil celana dalam mereka....Tuh liat...Bagus kan???" Ucapku dengan nada manja nan nyebelin itu sembari memvidio kedua wajah mereka dan seluruh isi ruangan itu, termasuk kedua celana dalam itu yang aku ayun-ayunkan di hadapan kameraku.


Spontan Lani terlihat murka. Ia berusaha ingin mengambil gawaiku.


"Kenapa??? Mau ngrebut Hapeku?? Sini kalo berani,... Biar sekalian aku teriak.... Seru pasti deh kalo orang-orang pada berdatangan ke sini..... Hmmm tenang aja..... Aku nggak akan memviralkan video ini kog.... Aku kan masih punya etika.... Walaupun panutanku ini nggak bermoral...." Kalimatku menunjuk.pada Deri dengan nada seolah sedang membaca puisi indah nan lembut dihadapan mereka.

__ADS_1


Deri semakin malu padaku. Tak sedikit pun ia berani menatapku. Hanya sedikit demi sedikit ia berusaha mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai itu. Namun dengan kakiku secara cekatan aku geser bajunya agar terus menjauh dari jangkauannya.


Aku terus seperti meledek mereka. Padahal sebetulnya hari itu juga aku ingin mencabik-cabik tubuh mereka berdua menjadi beberapa bagian. Hanya saja aku selalu menguatkan imanku agar aku tak sampai mengotori tanganku.


"Oh Ya... Makasih ya adegan aktingmu Der... Makasih juga buat tontonan seru hari ini.... Ini seru banget loh buat aku.... Dan kayaknya sih nggak bakal lupa seumur hidup aku.... Kalian memang luar biasa.... Salut deh...." Kalimat terakhirku sebelum aku pergi.


Akhirnya aku melangkah meninggalkan kamar nan sengit itu. Nafasku menderu disusul dengan isak tangisku yang begitu menggebu menggambarkan hancurnya hatiku saat ini.


Seluruh cintaku padanya hari itu segera melebur dan tak ingin aku meninggalkan sisa.


Dengan derai air mataku yang terus mengalir, aku segera menaiki mobilku.


"Umi kenapa menangis....? Umi sedih?" ucap Sang Uwais dengan nada polos yang menatapku dengan perhatian.


"Nggak apa sayang... Umi cuma terharu.... Barusan Umi ketemu temen lama umi nak...." Ucapku sembari menghapus air mataku.


Aku atur nafasku sebaik mungkin. Sungguh kejadian tadi telah memantapkan jiwaku untuk segera pergi membawa kedua anakku ini.


Beberapa saat aku terdiam menata hatiku, akhirnya aku nyalakan mobilku dan mulai meluncur ke tujuanku sejak awal.


Tampak Deri baru saja keluar dari kamar itu. Mungkin saja ia baru selesai mengenakan seluruh pakaiannya. Ia berusaha mengejarku, namun aku terburu melaju meninggalkan kost laknat itu.


Dengan pandangan matanya yang penuh penyesalan, ia berdiri sembari menatap mobilku yang semakin lama semakin menjauh itu.


Tak lama dari itu ia segera mengambil motornya dan menyalakannya. Ia lajukan motornya secepat mungkin bermaksud mengejarku. Ia berbelok arah menuju rumahku, sementara aku menuju jalan ke kuar kota.


Kemana mobil Bunga, kenapa cepat sekali menghilang??? Guman dirinya sembari terus melaju dengan kecepatan tinggi.


Beberapa menit berlalu sampailah ia di depan rumahku. Dari halaman rumahku, ia menatap sebuah koper tergeletak di teras dan secarik kertas yang terpampang di depan pintu rumahku itu.


Segera ia melangkah dengan sigap ke arahnya. Betapa terkejutnya ia mendapati koper itu berisikan seluruh barang miliknya. Terlebih ia membaca tulisan yang terpajang itu adalah berita bahwa rumah ini dijual.

__ADS_1


Spontan ia ambil gawainya di dalam saku celanannya. Beberapa kali ia mencoba meneleponku namun gagal, sebab gawaiku sudah aku non aktifkan sebelum perjalananku tadi.


__ADS_2