
Selepas makan soto berdua kami pun lekas menuju counter tempatku bekerja. Di sana Kak Arif mulai membantuku menata beberapa perlengkapan yang akan aku pakai untuk tinggal di sana.
Ada sebuah ruang kamar bersebelahan dengan counter yang biasa aku pakai saat aku beristirahat makan atau melaksanakan sholat. Di sudut ruangan juga ada sebuah kamar mandi kecil yang cukup nyaman. Selain itu dibelakang juga dilengkapi dapur mini plus jemuran baju namun tak pernah terpakai. Meski Kak Arif dulu pernah menjaga counter ini, namun dipastikan tak pernah menginap di sini.
"Bunga, aku keluar sebentar ya, nanti aku balik lagi ke sini" ujar Kak Arif padaku.
"Iya kak, makasih ya udah bantu aku".
"Iya sama-sama".
Kemudian aku mulai melanjutkan aktivitasku seperti biasa di sana. Kini aku tak perlu lagi memikirkan rasa lelah aku pulang pergi berjalan kaki dari counter ke kontrakkanku yang sebetulnya lumayan jauh itu. Bahkan, tempat tinggalku kini lebih nyaman daripada kontrakanku di sana, di sini justru dilengkapi dapur yang bisa buat aku masak tentunya.
Tak lama berselang, Kak Arif pun datang kembali. Terlihat ia mengeluarkan suatu barang dari dalam mobilnya. Sebuah kasur busa yang lumayan tebal dan berkualitas dan beberapa bantal ia turunkan dari mobilnya.
"Kak, itu untuk apa?" tanyaku heran.
"Iya ini buat kamu lah, mosok wanita hamil tidur dengan alas kasur setipis itu tanpa bantal?" jawabnya sembari mengangkut kasur itu ke dalam ruko.
"Iya tapi aku udah biasa kak tidur dengan itu, bahkan di sini ruangannya udah cukup luas dibanding kostku, aku udah bersyukur banget, kenapa Kakak pake repot segala beli kasur sih Kak?" rengekku yang sangat sungkan.
"Iya nggak papa, emangnya nggak boleh ya?"
"Ya bukan gitu.... tapi aku udah banyak ngrepotin Kak Arif...." jawabku dengan mata berkaca-kaca.
"Udah, kamu jangan mikirin itu, bukannya kita harus saling bantu antar sesama kan?" tutur dia kembali sembari menata kasur ke dalam ruangan. Dan terlihat sebuah bed cover bermotif bunga pun ia pasangkan di sana melengkapi kasur yang terbilang empuk itu.
"Sini kak biar aku aja yang pasang" jawabku mengalihkan dirinya.
"Ya udah ini kamu yang lanjutin" ujar Kak Arif yang kemudian berdiri menatapku membereskan barang-barang yang sudah ia beli itu.
"Kenapa Kak Arif begitu baik padaku ya??? Jangan...jangan.... Ah...pasti ini karena dia kasian sama aku aja!!" gumamku dalam hati berkecambuk dan gugup.
"Oya, Aku pamit dulu ya Bunga, nggak enak di sini berduaan sama kamu, nanti kalo ada apa-apa jangan lupa hubungi aku segera ya, sekarang aku tinggal dulu, mudah-mudahan kamu betah tinggal di sini. Assalamu'alaikum?" Tuturnya sembari pergi meninggalkan aku.
"Walaikumsalam".
__ADS_1
Beberapa hari aku tinggal di ruko, aku mulai memasak sendiri untuk makanku, tak seperti biasanya aku hanya bisa membeli makan di luar, kini aku bisa masak sesuai seleraku. Beberapa kali Kak Arif pun aku ajak mencicipi masakkanku. Ia pun sangat suka, bahkan kami jadi sering makan berdua, terutama sarapan pagi sebelum aku bekerja.
Kak Arif tampak sangat bahagia dengan makan bersamaku. Tak jarang ia pun membawakan beberapa bahan makanan untuk aku masak. Yah, semenjak aku di sini, Kak Arif selalu datang membawa perlengkapan untuk aku di sini. Mencicil satu per satu hingga semuanya lengkap seperti rumah tangga kecil.
Mulai dari perlengkapan dapur, kulkas, mesin cuci, bahkan sampai Ac pun dipasangkan oleh Kak Arif untuk fasilitasku. Entah mengapa semakin hari pun ia semakin baik padaku, ada saja perhatian yang ia berikan padaku. Bila aku tolak apa pemberiannya, ia tetap akan memaksa dan percuma saja buatku. Akhirnya aku pasrah dengan sikapnya yang begitu baik padaku, meski aku begitu sungkan.
"Bunga, aku liat semenjak kamu di sini kog nggak pernah periksa kandungan? apa kamu nggak pingin tau keadaan kehamilan kamu? atau mau aku antar?" tawaran Kak Arif suatu ketika yang membuat aku terkejut.
Dia bukan suamiku, kenapa dia pingin mengantar aku periksa kandungan.... Gumamku dalam hati.
"Eenggak Kak, aku udh cek sendiri kog sebisaku, selama pergerakan janin masih bagus, aku nggak perlu khawatir kog, yang penting vitamin selalu aku minum" jawabku menolak.
"Iya tapi kan kan USG itu penting juga, memangnya kamu nggak pingin liat bayi kamu di dalem perut?"ujar dirinya meyakinkanku.
"Iya nanti aku sempetin buat USG Kak, kakak tenang aja, btw kog kakak seperti paham sekali tentang USG dan kehamilan?" tanyaku heran yang sedari tadi memperhatikan bicaranya seolah-olah pernah menemani perempuan periksa kehamilan dengan menyebut-nyebut pergerakan janin dalam kandungan itu.
"Iya, dulu kan aku juga punya istri, waktu hamil aku selalu nganterin dia periksa" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf kak, aku udah buat Kakak sedih mengingatkan masa lalu Kakak...." ujarku merasa bersalah.
"Nggak papa kog, ngeliat kamu hamil aku jadi keinget istriku dulu, dia akhirnya pergi dengan selingkuhannya, dan ternyata kehamilan itu juga buah cinta dari hubungannya dengan selingkuhannya itu, bukan dari aku". Timpal dia lagi mencoba mengenang masa lalunya yang pahit.
"Iya, ternyata dulu waktu menikah dia udah hamil duluan sama lelaki itu......."
"Udah Kak stop....jangan terusin.... nggak baik menceritakan aib..." ujarku yang tak mau mendengar ceritanya sebab rasa hatiku perih mendegarnya.
Kak Arif tampak berkaca-kaca. Sesekali ia menghela nafas panjang mungkin untuk sekedar mengusik rasa sedihnya.
"Maaf ya kak...gara-gara aku jd buat kakak sedih..." tuturku mencoba menenangkan.
"Aku udah nggak papa kog, itu cuma masa laluku, dan sekarang aku udah bisa nglupain dia kog". Sembari tersenyum padaku.
Aku terdiam sejenak kemudian meneruskan pekerjaanku seperti biasa agar tak terlalu fokus pada Kak Arif yang sejak tadi menatapku.
"Bunga, apa selamanya kamu akan memilih hidup sendiri tanpa seorang pendamping?" tanya dirinya yang seketika membuatku begitu gugup.
__ADS_1
"Emmmm.... belum terpikir kayaknya Kak, lagi pula mana ada yang mau sama perempuan sepertiku yang tak baik ini" jawabku tertunduk malu.
"Memangnya kamu nggak pingin anak kamu punya sosok ayah?"
"Emmm....eeee...Maaf Kak, aku belum berpikir tentang itu..." sungguh bingung jawabku dan salah tingkah dibuatnya.
"Seaindainya aja ada lelaki yang mau menjadikan kamu istri, apa kamu bersedia?" tanya dia lagi.
Aduh....kenapa dia terus menanyaiku kayak gitu.... gumamku dengan detak jantung yang makin tak karuan.
"Hehehe Kak Arif ini aneh-aneh aja, mana ada lelaki yang mau sama aku kakak... satusku janda, dan sekarang aku hamil nggak jelas, mana ada yang mau...." balasku sembari tertawa kecil mencoba memecah suasana agar aku tak terlalu gugup.
"Kamu itu wanita baik, kamu cuma korban laki-laki nggak bertanggung jawab, andai saja kamu bersedia, aku mau jadi ayah dari bayi yang kamu kandung itu".
"Deg...deg...glekk..." Jantungku serasa mau copot mendengarnya dan menelan ludah beberapa kali tak percaya rasanya.
Ya Allah....mimpi apa aku...kenapa bisa ada orang sebaik Kak Arif mau nikah sama aku? apa dia kesambet...gumamku sembari menarik nafas panjang.
"Kakak Maaf, sepertinya aku belum bisa menjawab pertanyaan kakak saat ini..."
"Kenapa? apa kamu nggak suka sama aku? atau kamu masih mau sama lelaki ayah kandung bayi itu?"
Aku hanya diam menundukkan kepalaku tanpa kata. Kemudian dia terus menanyaiku lagi penasaran.
"Bunga, keputusanmu meninggalkan lelaki itu sudah hal yang tepat, sebab aku yakin dia bukanlah lelaki baik untukkmu... seandainya saja kamu menikah dengannya,belum tentu dia akan menyayangimu, sedang atas perbuatannya aja dia nggak tanggung jawab, dan lelaki yang sayang sama wanitanya, nggak akan pernah khilaf menodai wanitanya..." tutur dia seperti menasehatiku.
Hatiku meleleh, dia seolah begitu dewasa dan mampu membaca pikiranku. Hanya saja entah mengapa aku belum sanggup menyetujui keinginannya untuk menikah denganku. Entahlah, sepertinya dengan Kak Arif aku tak ada rasa apa pun. Hanya saja aku terlalu banyak berhutang budi padanya, karena itu aku selalu berusaha ramah padanya.
Terlebih dia adalah atasanku, dan sampai saat ini aku pun belum sepenuhnya percaya diri atas keadaanku. Aku merasa tak pantas untuk siapapun, terlebih seorang Kak Arif.
"Baiklah Bunga, kalo kamu belum bisa jawab pertanyaanku, aku pamit dulu, nggak harus di jawab sekarang nggak apa kog, bisa dipertimbangkan dulu, lagian waktunya juga masih panjang, seandainya kita jodoh, aku hanya bisa menikahimu selepas kamu masa nifas nanti."
"Aku pamit dulu, Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam".
__ADS_1
Dia pun pergi dengan mobilnya dan segera melaju.
"Huft......" aku tarik nafas panjang begitu lega setelah kepergiannya.