Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Aqiqah Umar


__ADS_3

"Alhamdulillah... dapet paket dari pakde dan Mbah Uti di Lampung nak...." ucapku yang tengah membuka sebuah kiriman paket berisikan kereta bayi dan beberapa perlengkapan bayi yang cukup banyak dari ibuku dan Abangku.


"Banyak amat kirimannya?? apa kamu yang minta-minta sama ibumu?" tanya emak mertuaku yang tengah melirik paketan yang baru saja aku buka bersama Uwais itu.


"Nggak kog mak, ini juga bukan cuma dari ibu, tapi dari masku juga...." sahutku.


"Nanti kamu kebiasaan nggak bisa mandiri kalo apa-apa dikirimin gitu.... mana banyak banget..." ujar dia lagi sembari memegang beberapa benda paketan itu.


"Ya nggak lah mak.... ini kan hadiah buat Umar.... wajar dong namanya seorang kakak sama adeknya....ibuku kan juga pingin kasih hadiah ke cucunya yang baru aja lahir...." sahutku lagi dan tampak dirinya mlengos berlalu menuju ruang depan menghampiri bapak mertuaku yang sedang asik menyeruput secangkir kopi.


"Mbok kamu jangan terlalu ikut campur sama Bunga... apalagi menyangkut keluarganya... nanti kalo Deri tau kan nggak enak..." ujar bapak mertuaku pada emak mertua yang mimik wajahnya masih menyimpan kedengkian padaku.


"Aku nggak ikut campur lah pak, wong niatku kan baik ngasih tau Bunga, dia kan baru aja jadi ibu rumah tangga belum lama, pasti belum pengalaman apa-apa soal urusan rumah tangga.... ya wajar lah aku sering-sering kasih nasehat...." kalimat emak yang tak mau kalah.


Bapak pun terdiam tak bisa lagi mengingatkannya sebab tak ingin beradu argumen panjang pada emak mertuaku itu.


Tak lama pun ia pergi ke kamarku untuk melihat Umar yang sedang terlelap tidur.


"Nduk... kalo mamakmu cerewet jangan diambil ati ya.... mamakmu memang gitu... tapi sebetulnya niatnya sayang sama anak-anaknya... pingin yang terbaik untuk anak dan menantunya..." kalimat bapak mertuaku menghampiriku yang sedang membereskan paketanku itu.


"Iya pak..." sahutku yang sebetulnya sudah mulai bosan dengan ocehan mertuaku. Dalam hati aku hanya bisa menahan dan beristighfar agar aku tak meledak emosiku.


Deri.... kapan sih orang tuamu ini pulang....huft...aku capek....pingin bebas.... Ujarku dalam hati menggerutu namun kucoba melembutkan hatiku dan mengambil nafas panjang sebisaku.


"Kring....kring" gawaiku berbunyi dan aku lihat Deri meneleponku.


"Sayang... nanti sore pesanan catering aqiqahnya dateng.... nanti kamu tunggu aku pulang dari kantor dulu ya baru kita bagikan ke tetangga bareng-bareng..." kalimat Deri memberitahuku.

__ADS_1


"Oh...iya... tapi nanti gimana sama mamak? dia kan nggak setuju kalo kita catering?" ujarku sedikit cemas.


"Biar nanti aku yang handel kalo diomelin lagi..." ujarnya menenangkanku.


"Tapi nanti pasti aku duluan yang kena omel... kan kamu datengnya belakangan..."


"Oke... nanti aku coba usahakan pulang lebih cepet.... udah kamu tenang aja..."


"Ya udah...."


"Kamu sabar ya sayang.... Assalamu'alaikum..."


"Walaikumsalam"


Sore hari pun tiba. Katering yang sudah Deri pesan itu pun datang. Aku pun segera menuju teras depan untuk mengambil pesanan nasi kotak yang sudah siap dibagikan itu.


"Loh....loh... ini apa? kog pesen nasi kotak banyak banget?" ujar emak terkejut sebab kami memang tak memberi tahu bahwa kami akan melakukan aqiqah hari ini juga padanya.


"Apa-apaan ini? kog aqiqah kaya begini!" seru emak sembari memeriksa isi dari nasi kotak itu.


Aku hanya terdiam dan malas menjelaskan padanya. Beruntung tak lama itu Deri segera sampai di rumah.


Alhamdulillah.... Gumamku dalam hati melihat dirinya yang telah sampai dan segera menghampiri kami.


"Kamu ini gimana sih Der? niat aqiqahan apa nggak? dan ini apaan, kog nasi kotak isisnya cuma masakan daging kambing aja sama kue-kue basah.... kog nggak ada masakan seperti biasanya yang buat kenduri?" pertanyaan emak bertubi-tubi membuat Deri sedikit pusing dibuatnya.


"Kita bukan mau kenduri mak.... kita cuma aqiqah sederhana, ini nanti langsung dibagiin aja sama tetangga...." sahut Deri dengan wajah lelah sebab baru saja pulang dan kusambut dengan mencium tangannya takzim.

__ADS_1


"Jadi maksud kamu ini nasi nggak di doain gitu? terus namanya aqiqah kalo nggak kambingnya disembelih dan dimasak sendiri itu nggak afdol... ora ilok iki...!!!(nggak bagus ini)...."


"Mak.....Ini di Kota mak,...kalo mau masak-masak nggak ada yang bantuin kayak di kampung, mau nyembelih kambing di rumah juga repot nggak ada lahan buat sembelih mak... repot juga nanti... aku juga kan harus kerja, jadi biar simpel ya gini aja mak, di sini udah biasa kayak gini mak...." Kalimat Deri menjelaskan dengan lembut.


"Yo wes, ya setidaknya pake acara kenduri dulu lah sebelum nasi dibagikan... biar di doain dulu gitu...." sahut emak lagi.


"Doanya udah sama aku sendiri sama Bunga mak.... itu lebih afdol...bukan harus tetangganya yang doain mak..."


"Mang kapan berdoanya? katamu ini langsung dibagi habis ini kan?"


"Kan doa nggak harus pas dihadapan nasi mak... Bunga sama Deri udah doa mak sebelum-sebelum ini.... InsyaAllah dijabah dan berkah... tergantung keikhlasan doa dan pemberian kita...."


"Kamu kog semenjak nikah jadi bantah terus sama mamak ya?" ucap emak sembari berlalu menuju ruang TV kemudian duduk menonton TV seorang diri.


Kemudian aku dan Deri segera membagikan nasi-nasi itu kepada para tetangga. Tak lupa aku ajak Uwais dan Umar bersama kami. Umar yang aku naikkan di atas kereta bayi yang baru saja dikirim tadi siang, sementara Uwais Deri gandeng sembari melatihnya berjalan perlahan.


"Kereta baru ya? kapan belinya?" tanya Deri yang melihat aku tengah mendorong Umar di atas kereta itu.


"Iya, baru aja dikirim ibu dan Mas Rahmat dari rumah..." sahutku merasa senang.


"Oh... Alhamdulillah....dapat rejeki lagi..., kapan mereka dateng ke sini?"


"Belum tau, nanti tunggu ibu pulang dari Pontianak katanya...."


Tak lama kami bolak balik membagikan nasi kotak itu akhirnya pun selesai. Deri yang tampak sedikit kelelahan akhirnya mengajakku untuk beristirahat di kamar.


"Pak, kita besok pulang aja.... percuma di sini kita nggak dihargai... wong Deri sama Bunga nggak bisa diomongin orang tua... ngeyel, apa-apa maunya mereka sendiri...." ucap emak pada bapak yang tengah berbincang sembari menonton TV.

__ADS_1


"Yo mereka kan sudah dewasa to bu....biarkan mereka menentukan apa yang diinginkan...." sahut Bapak dengan wajah datarnya.


"Ah, bapak ini mah bisanya cuma pasrah... Aku yakin Deri pasti dipengaruhi sama Bunga, wong dulu dia nggak gitu kog, apa-apa tuh dia nurut kalo sama omongan orang tua, sekarang kog jadi pembangkang gitu...." sahut emak ketus.


__ADS_2