
Rasa lelah tentu meliputi diri kami saat ini yang baru saja berjibaku dengan kemacetan saat kembali dari mudik tadi pagi. Deri dan kedua anakku masih terlelap. Sementara aku terbangun untuk memasak nasi dan memanaskan beberapa lauk yang ibu bawakan untuk kami.
Tak lama Deri pun terbangun akibat mencium aroma rendang yang sedang aku panasi itu. Bergegas kami berdua makan bersama sebelum tergangu oleh Umar dan Uwais. Bila mereka berdua telah terbangun, tentu waktuku hanya akan terkuras untuk mengurus kedua anakku itu.
"Hallo....?" suara Deri yang tiba-tiba menerima telepon dari seseorang dan tampak menjauh dariku yang sedang mencuci piring di wastafel dapurku.
"Iya hallo....Deri kamu lagi apa? udah balik ke Jakarta belum?" tanya seorang perempuan yang tak lain adalah Lani.
"Iya, baru aja tadi pagi sampe Jakarta, memangnya ada apa?"
"Kemarin waktu masih di Lampung pingin banget ketemu kamu lagi, tapi keburu pulang...." ujar Lani yang membuat Deri semakin menghindar dariku saat aku mencoba mendekatinya.
Terlihat dirinya langsung ke luar menuju halaman depan untuk menghindariku yang ingin tau siapa yang tengah meneleponnya saat itu.
"Yah... kemaren kan aku sibuk lebaran sama kekuargaku, nggak mungkinlah bisa ketemuan sama kamu, nanti perasaan Bunga gimana, bisa dikira ada apa-apa nanti antara kamu sama aku...." sahut Deri lagi dalam percakapan itu.
"Iya juga sih...tapi percaya kog, aku bukan bermaksud mengganggu hubungan kalian...." ujar Lani meyakinkan.
"Iya....aku percaya sama kamu..." ujar Deri yang seolah mulai nyaman dengan obrolan mereka.
"Der...aku butuh bantuan kamu bisa?"
"Bantuan apa?"
"Rencanaku mau cari kerjaan ke Jakarta, lama-lama aku bosan hidup cuma menunggu suamiku yang tak kunjung pulang, kalo ada kegiatan kan lumayan bisa mengalihkan aku sedikit...." ujar Lani penuh harap.
"Ya kenapa kamu nggak cari kerja di Lampung aja biar lebih gampang, kenapa harus ke Jakarta?"
"Udah aku coba, tapi nggak berhasil, di sini sangat sulit cari kerja, kamu taulah sendiri..."
"Terus di sini juga kamu mau kerja dimana?"
"Aku udah kirim lamaran ke sebuah perusahaan, Alhamdulillah ada panggilan interview, itulah kenapa aku pingin ke Jakarta, kamu bisa tolong aku buat antar aku ke alamat perusaah itu? sama cariin aku tempat tinggal sementara?"
"Ehmmm gimana ya? masalahnya aku besok udah masuk kerja... Memangnya kapan kamu rencana berangkat ke sini?"
__ADS_1
"Kalo nggak nanti malam, ya lusa....kamu bisa jemput aku kan pas nanti aku sampe sana?"
"Aduh... gimana ya....??" ujar Deri bingung sembari menggaruk kepalanya.
"Tolong Deri....aku bingung harus minta tolong siapa, aku nggak ada temen yang tinggal di Jakarta, cuma kamu yang aku kenal...." ujar Lani terus memohon.
"Ya udah nanti aku coba carikan kost buat kamu tinggal sementara..."
"Alhamdulillah, makasih ya Der...kamu mau bantu aku...."
"Iya sama-sama" ujar Deri mengakhiri teleponnya itu.
Tak lama dari itu ia mendekatiku yang tengah memandikan Umar dan Uwais yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Halo anak abi udah pada bangun....!!!" seru Deri menggoda Uwais dan Umar.
"Teleponan sama siapa loh... kog dideketin langsung menghindar gitu.....??" tanyaku penasaran.
"Itu, temenku, kasi kabar masalah bos di kantor... agak serius sih, makanya aku menjauh dari kamu, soalnya takut kamu godain aku yang lagi ngobrol nanti jadi nggak konsen akunya..." ujar Deri mengelak.
"Ya....gimana aku mau cerita....di rumah kamu sibuk terus kan ngurus anak-anak kita, kadang aku mau cerita tapi kamu nya udah tidur kecapean...."
Belum sempat aku menjawab, Umar langsung rewel pertanda segera ingin menyusu. Aku pun bergegas pergi ke dalam kamar untuk menyusuinya. Sementara Deri bermain dengan Uwais.
Malam hari itu, entah mengapa aku ingin sekali menggoda suamiku sendiri. Lama dirinya tak memintaku untuk dilayani di atas ranjang seperti biasanya. Aku yang mengenakan baju lingrie kesukaannya itu mulai melancarkan jurusku saat dirinya tengah duduk di ruang tamu.
"Abi sayang....Uwais sama Umar udah tidur....,yuk..." kalimatku sembari melakukan beberapa rabaan pada tubuhnya.
Tak seperti biasanya yang dirinya langsung semangat dengan kegiatan suami istri yang satu ini, namun kali ini Deri tampak Biasa saja. Meski dirinya mengiyakan keinginanku,namun selama kami melakukan pun aku merasakan dirinya tak seperti biasanya.
"Suamiku.... kenapa kamu kog nggak semangat gitu? apa aku sekarang udah nggak menarik lagi?" tanyaku merasa kecil hati sembari mendekat di samping tubuhnya merapat pada bahunya yang masih telanjang dada.
"Kog kamu bilang begitu sih sayang....aku nggak papa kog, cuma kecapean aja, kan kita baru aja pulang mudik, dan aku nyetir dari kemaren.... jadi masih capek... maaf ya...." ucap dirinya dengan lembut, seraya mendaratkan kecupan mesra di keningku, dan tak lupa membelai rambutku penuh kasih sayang.
"Ya udah kalo gitu...kita istirahat yuk...." ujarku yang kemudian membiarkannya terlelap.
__ADS_1
Keesokkan harinya, aku pun membuatkan sarapan seperti biasa untuk Deri. Tak lupa aku menemaninya menyantap sarapannya di atas meja. Kuamati sejak tadi ia sangat antusias dengan gawainya, sampai sarapan yang aku sodorkan padanya seperti hendak terlupakan.
"Sayank kog main Hape terus??" tanyaku sedikit kesal.
Namun Deri seperti tak menghiraukan aku. Spontan aku rebut gawainya dari tangannya. Aku dapati dirinya sedang mencari informasi kost putri di salah satu aplikasi.
"Kamu ngapain searcing kost putri? mau buat siapa?" tanyaku yang mulai curiga.
"Sayang... kamu jangan salah paham dulu dong....kemaren temenku minta tolong cariin info kost putri buat adeknya cewek yang mau kuliah di Jakarta, ya aku cuma bantuin aja...." sahutnya meyakinkan, sembari mengambil kembali gawainya dari tanganku yang belum sempat aku telusuri lebih jauh.
"Owh.... kirain....???" ujarku menatapnya curiga.
"Kirain apa??? kirain aku punya selingkuhan???" tanya dirinya mengernyitkan dahinya.
"Ya kali.... habis nyari kostnya sampe seserius itu...." ujarku ketus.
"Sayang....berburuk sangka itu nggak baik loh....apa iya aku bakalan selingkuh sementara aku terlalu cinta sama kamu??? nggak kepikiran sama sekali sayang buat aku selingkuh....sekarang bagiku itu fokus gimana caranya membahagiakan istriku dan anak-anakku...." kalimatnya sungguh membuatku merona di pipi.
"Hemmm" sahutku menahan malu.
"Ya udah, aku berangkat dulu ya.. Assalamu'alaikum?"
"Walaikumsalam...." sahutku sembari menyambut tangannya.
****
Deri
Di kantornya Deri pun sibuk mencari info tentang kost putri, mulai dari menanyakan teman-temannya, sampai menghubungi ke beberapa teman yang tinggal di kost.
Sampai siang hari sewaktu jam makan siang, akhirnya ia menemukan sebuah kost putri dari informasi rekan kerjanya.
"Iya di tempat aku kost masih ada yang kosong, nanti aku bilangin ke ibu kostnya kalo kamu memang mau pake buat adek kamu..." kata salah satu teman cewek rekan kerjanya yang masih single dan tinggal di kostan itu.
"Iya aku mau kog, besok aku bawa langsung adekku ke sana ya, tolong kamu bookingin dulu biar nggak diambil orang duluan, ini uang panjernya sementara" ujar Deri sembari menyerahkan sejumlah rupiah pada temannya itu.
__ADS_1