Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Mentalak Lani


__ADS_3

"Bunga.... Ibu masih berharap kamu jangan bercerai sama Deri... Apalagi sekarang kamu kan lagi hamil, ibu khawatir nanti beban kamu justru akan bertambah karena harus mengurus ketiga anakmu yang masih kecil-kecil.... Kasian anak-anakmu..." ujar ibuku padaku yang tengah menidurkan kedua anakku dinatas kasur.


"Bu... Biarlah Bunga menjalani kehidupan single parent, sekalipun harus menghidupi ketiga anakku, aku masih sanggup dari pada harus hidup dengan laki-laki peselingkuh bu... Itu lebih menyakitkan...." Ucapku dengan sabar mencoba memberi pengertian pada ibuku.


"Tapi mereka butuh sosok ayah dalam kehidupannya... Apa iya kamu biarkan mereka tumbuh besar tanpa sosok ayah?"


"Meskipun aku dan Deri tak lagi bersama, aku nggak akan membatasi pertemuan anak-anakku dengan abinya.."


"Hehhh" terdengar suara ibu yang menghela nafas pertanda keinginannya tak lagi terpenuhi itu.


Maafkan aku bu....Kali ini aku tak bisa penuhi keinginanmu...


*****


Deri


"Gimana? Berhasil?" tanya Ferdi pada Deri yang baru saja sampai di rumahnya.


"Huft... Entahlah... Sepertinya berat... Bunga kekeh tetep mau bercerai, bahkan dia sudah ngajukan gugatan ke pengadilan" tukasnya dengan wajah lesu.


"Kapan kalian sidang?"


"Kemungkinan 2 minggu lagi, nanti Bunga akan kasih kabar..."


"Elo harus datang ajukan banding, mohon sama hakim kalo elo nggak mau bercerai dan pingin rujuk..."


"Gua nggak yakin, Bunga bawa barang bukti celana dalam sama video yang kemren gua ceritain itu..."


"Waduh... Berat, sepertinya kalian memang bakal bercerai..."


"Gua nggak tau lagi Fer... Gua nyesel seumur hidup....Gua bodoh..." ucap Deri sedikit terisak.


"Udah... Udah... Elo jangan cengeng begitu, elo udah berbuat, ya sekarang kudu terima konsekuensinya..."


"Bunga hamil Fer... Gua makin bingung... Gua nggak rela dia ngalamin kejadian hamil anak gua tanpa pendampingan gua terulang...."


"Astaga.....Huft....Deri...Deri... Entahlah gua juga ikut bingung... Pingin gua jitakin pala loe!!" Ucap Ferdi dengan nada mengejek.


Sejenak Deri termenung duduk di atas sofa. Sementara Ferdi membuatkan secangkir kopi hitam untuk mencairkan suasana malam itu.


"Gini aja Der.... Nasi udah menjadi bubur, dan ini akibat ulah elo sendiri... Daripada hidup elo nantinya nggak jelas, sekarang elo kudu ikhlasin Bunga... Biarin dia bebas, dari pada dia sama elo nahan sakit...."

__ADS_1


"Tapi gua bakal kepikiran terus gimana nasib anak-anak gua..."


"Bunga itu dari keluarga ekonomi mampu Der, gua yakin anak-anak elo nggak bakal terlantar, Bunga juga pintar ngerawat anak elo... Percaya sama gua..." ucap Ferdi sembari menyeruput secangkir kopi.


"Yah, kalo masalah ekonomi gua yakin, bahkan Bunga lebih mampu kasih yang terbaik dari pada gua bapaknya sendiri..."


"Nah itu elo sadar.. Hahah...." ejek sang Ferdi. "Eh...eh...minum kopinya biar nggak bete"


"Kalo gua udahan sama Bunga, terus gua hidup sama siapa Fer.... Cuma Bunga yang paling mengerti sama kondisi gua..."


"Ya kan elo masih punya istri kedua... Resmiin aja elo sama si Lani, hidup normal lagi dan jangan macem-macem lagi... Beres kan...?"


"Tapi Lani nggak sebaik Bunga Fer...."


"Yaelah... Udah kelar elo tidurin juga baru nyadar... Bukannya elo udah lama kenal sama dia dan tau wataknya....? Ya udahlah, baik nggak baik terima aja konsekuensinya... Anggap aja istri pilihan elo sendiri kan...Ya udah dirawat aja..."


"Yah coba nanti gua usahkan dulu sama Bunga, kalo nanti udah bener-bener mentok, yah mau nggak mau mungkin gua berjodoh sama Lani..."


"Sekarang aja elo coba temuin dia, gimanapun dia istri elo kan? ya nggak ada salahnya jengukin dia gih... "


"Ya udah besok sebelum berangkat kerja gua mampir ke sana..."


**


"Ngapain kamu kesini?" ucap Lani yang tengah membereskan pakaiannya ke dalam koper.


"Memangnya nggak boleh ya suami ketemu sama istri?" Sahut Deri dengan wajah mulai memanas.


Lani tampak terdiam dan fokus mengemasi barang-barang miliknya.


"Kamu mau kemana?" tanya Deri penasaran.


Lani tetap membisu tak menghiraukan Deri.


"Lani... !Jawab aku....Aku ke sini berniat ngajak kamu nikah resmi sama aku... Aku udah terlanjur kehilangan Bunga.... Huft.." Ujar Deri sembari menghela nafas panjang.


"Kamu pikir aku mau nikah resmi sama kamu?"


"Apa?? Tega sekali kamu ngomong begitu?? Kamu bilang kamu cinta sama aku, kamu bilang sejak dulu kamu cuma ingin hidup sama aku... Bukannya seharusnya ini bisa kita wujudkan??"


"Suamiku mau jemput aku nanti siang, aku mau balik ke Lampung..." ucapnya dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


"Kamu bilang kamu nggak cinta sama suamimu, harusnya kamu pilih aku....!" ujar Deri semakin emosi.


"Untuk apa aku pilih kamu... Aku nggak akan sejahtera hidup sama kamu, karena kamu nggak punya apa-apa..."


"Oh... Jadi kamu deketin aku dulu karena kamu pikir aku udah banyak harta gitu?? Kamu lihat aku bawa mobil dan keliatan mapan kamu pingin balik sama aku, sedangkan sekarang kamu tau kalo itu semua milik Bunga kamu nyesel udah sama aku???" ucapnya dengan perasaan yang semakin tak karuan.


"Yah... Mungkin begitu..." ucap Lani dengan nada tengil.


"Dasar matre...!!!" Seru Deri dengan genggaman tangannya dan diantonjokan ke arah dinding.


"Emang dari dulu.... Kan kamu tau, kenapa kamu mau.... Hahaha" nada Lani mulai mengejek.


"Aku nggak yakin suamimu masih mau sama kamu... Aku yang udah perawanin kamu duluan....!" ucap Deri dengan yakin.


"Itu memang suamiku yang pinta, sebelum dia pergi dia sendiri kog yang nawari aku buat cari pendamping bila aku bosan, dia sendiri di sana juga sama perempuan.... Kita cuma saling janji, saat kembali kami sama-sama kembali memiliki..." Jelas Lani yang membuat Deri tampak terkejut.


"Gilak....!!! Gilak...!!! Kalian semua gila... Mempermainkan pernikahan..." Emosi Deri yang mulai memuncak.


"Biarin... Dari pada kamu tukang selingkuh, mending kita sama-sama komitmen.... wek..." ucap Lani yang terus mengejek dan membuat hati Deri geram.


"Gara-gara kalian aku jadi korban....!!"


"Ye.... Salah kamu


sendiri kenapa nggak setia....??"


"Huftt.... "


Deri mengambil nafas panjang meredam emosinya yang membakar. Amarahnya mengguncang seolah ingin sekali memukul Lani namun ia ingat bahwa dirinya adalah laki-laki dan Lani adalah perempuan.


"Baik... Sekarang kamu aku talak...!!"


"Oke... Terima kasih..." ucap Lani dengan senyum.


"Pergi kamu dari sini....!!" ujar Deri pada Lani.


"Kenapa aku yang harus pergi??? ya kamu lah... Kan udah nggak ada kepentingan??"


"Ini kost aku yang bayar....!!"


"Ih... Peritungan banget sih jadi cowok... Nggak malu apa...?? suamiku aja yang nggak pernah aku layanin kirim uang berjuta-juta... Kamu mah apaan??"

__ADS_1


"Cukup Lani... Kamu terlalu merendahkan aku...!!!" Kalimat Deri seraya pergi meninggalkannya. Wajahnya memerah tampak menahan malu dan marah menjadi satu.


__ADS_2