Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Mulai KB


__ADS_3

Pagiku kali ini hampir tiap hari aku tak sempat membuatkan sarapan untuk Deri. Sesekali ia memasak untuk dirinya sendiri, namun kadang juga ia membeli sarapan di luar.


Awalnya ia agak keberatan karena sudah terbiasa makan masakkanku saat sarapan, namun karena keadaan lama-lama ia pun terbiasa.Beberapa kali Deri menawarkan aku untuk menggunakan jasa ART. Namun kondisi ekonomi kami sepertinya belum cukup untuk itu, sementara kebutuhan Uwais dan Umar bertambah dari hari- kehari.


Penghasilan dari bisnis online camilanku juga agak menurun omset lantaran aku sibuk mengurus kedua bayiku. Sementara gaji Deri hampir semua dikirim untuk biaya kuliah adikknya di Yogya.


"Sayang.... kamu udah bersih kan?" tanya Deri saat aku tengah mencuci beberapa popok Umar.


"Ya bersih, ini udah aku cuci...." sembariku memamerkan popok yang sedang aku cuci itu.


"Ih....bukan itu maksudku sayang...." ucapnya sembari menghampiriku dan memelukku dari belakang.


"Terus apanya yang bersih? aku kan belom mandi...." ujarku meneruskan kegiatanku.


"Ya itu loh.... darahnya udah berhenti belom...." ujarnya sembari menggaruk kepalanya malu-malu.


"Ehmmm, emangnya kenapa?"


"Ya kan aku kangen yank....." ujar dirinya manja.


"Heheheh iya... udahan kog" ucapku tersenyum padanya.


"Alhamdulillah.... berati nanti malem bisa dong?" ujarnya bahagia.


"Bisa apaan?" kataku meledek.


"Ih....tuh kan... pura-pura nggak maksud??" ujarnya mulai jengkel.


"Iya...iya... suamiku sayang.... aku kan juga nggak mau dilaknat sama Allah...." sahutku dengan lembut sembari menggerakkan gagang kain pel ke lantai membersihkan air bekas cucianku.


"Nah... gitu dong...."


"Hmmmm"


"Eh tapi kamu udah minum Pilnya belom?"


"Udah... tenang aja..."sahutku meyakinkan.

__ADS_1


"Oke....nanti malem siap-siap ya..." ujarnya penuh semangat sembari menyeruput secangkir kopi buatannya.


"Oya sayang, nasib Uwais gimana ya? apa kita jujur aja sama keluarga kita kalo dia...." ujarku berpikir sejenak.


"Jangan dulu sayang, ini perkara nggak gampang, harus kita pikirkan dulu matang-matang.... kasian Uwais kalo harus tau dari awal, lebih baik nanti saat dia udah dewasa aja..." kalimat Deri padaku.


"Iya sih.... ya udah nanti kapan-kapan kita pikirkan lagi masalah itu.


"Iyah.... ya udah aku berangkat dulu ya... kamu jangan kecapean.... jangan lupa istirahat.... Assalamu'alaikum" pamit Deri tak lupa memberiku sebuah kecupan di keningku.


"Walaikumsalam".


Tak lama ia berangkat, aku bergegas memulai mengerjakkan tugas-tugasku. Mulai dari memandikan kedua bayiku, menyusui, menyuapi Uwasi, sampai mereka benar-benar tidur.


Terkadang rasa lelah muncul di sela-sela aktivitasku. Namun seketika sirna bila menatap wajah mereka yang begitu tampan-tampan. Apalagi Uwais yang tingkahnya mulai lucu-lucunya.


Tak jarang aku sampai lupa mandi dan lupa makan. Sebab beberapa kali Umar terbangun minta menyusui. Sementara Uwais yang baru mulai berjalan perlu pengawasan ketat agar tak terjadi sesuatu yang membahayakan.


Setelah seharian aku berjibaku dengan pekerjaan rumahku, tibalah Deri pulang kembali ke rumah. Seperti biasa ia aku siapkan makan di atas meja. Sambil menggendong Umar, aku menemani Deri yang tengah makan, sementara Uwais berada di atas kasur lantai di depan TV sedang bermain.


"Yank.... aku kangen masakkan kamu yang dulu...." ujar Deri saat menyantap masakkanku.


"Ya... masakkan kamu yang dulu... yang rasanya kayak restaurant..."


"Oh... jadi maksdunya masakkanku sekarang nggak enak ya?" tanyaku lesu.


"Bukan begitu sayang.... ini masih enak kog, tapi kamu pasti masaknya terburu-buru, jadi kadang kurang garam sama kurang gula...."


Aku hanya terdiam. Aku sadar semenjak aku terlalu sibuk dengan kedua anakku waktu masakku semakin sempit, jadi aku lebih sering masak masakkan yang simpel, cepat dan kadang kurang bumbu karena sering terganggu tangisan Umar ataupun Uwais.


"Nggak apa kog sayang.... tapi ini enak kog..." kalimatnya mencoba menenangkanku yang terlihat lesu.


"Iya... nanti aku coba perbaiki sebisaku..." ucapku lemah.


"Doain aku ya biar naek jabatan... biar gajinya naik, nanti kamu aku carikan pembantu biar nggak kecapean...." sahutnya lagi.


"He em... InsyaAllah..."

__ADS_1


Malam pun kini tiba. Saat yang dinantikan Deri setelah janjian tadi pagi pun tiba. Sayangnya aku sudah terlebih dahulu terlelap. Aku merasa sangat lelah dan kurang tidur, sebab seharian aku menemani kedua anakku. Si Uwais yang masih aktif berjakan ke sana kemari, dan Umar yang beberapa kali menangis minta ditimang.


"Sayang..." bisik Deri mencoba membangunkanku seperti biasanya manakala ia ingin mengajakku bercinta tapi aku sedang terlelap. Namun aku belum terbangun.


"Sayang...." bisik dia lagi sembari mengusap kepalaku lembut.


Akhirnya dengan perlahan aku mulai terbangun dan membuka mataku meski masih sangat berat.


"Kamu siapin dulu gih biar nggak ngantuk...." ucapnya menyuruhku mencuci muka.


"Hiiiya...." sahutku sembari menguap dan masih lesu.


Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan melakukan beberapa gerakan menggeliat untuk memulihkan tenagaku.


Tak lama setelah aku mencuci muka, kami pun memuali keromantisan itu. Namun baru saja Deri mulai mencumbuiku, tiba-tiba Umar menangis.


Segera aku menghampirinya dan kuperiksa popoknya yang memang sudah basah. Ternyata Umar pup, dan aku harus membersihkannya terlebih dahulu supaya ia kembali nyaman.


Akhirnya Deri harus merelakan menahan konaknya sambil menungguku selesai. Setelah semua beres, kami mulai melanjutkan acara kami yang tadi sempat tertunda. Namun siapa sangka, Umar kembali menangis, kali ini dia minta disusui.


Segera aku gendong dirinya sembari menyusuinya. Lama ia menyusu mataku pun mulai tersa berat. Tampak Deri yang sejak tadi sudah mulai bosan menungguku pun kini terlelap.


Aku yang sudah selesai menyusui Umar tak tega membangunkannya. Akhirnya aku pun tidur di sampingnya, mengingat mataku juga sudah sangat berat. Rasa lelah dan kantuk berkecambuk menjadi satu, membuatku tak bisa berkompromi untuk meneruskan bercinta dengan Deri.


Beberapa saat setelah aku terlelap, rupanya Deri terbangun. Tampak dirinya ingin melanjutkan percintaan yang sudah lama ia nantikan setelah aku melahirkan Umar kemarin. Namun melihat wajahku yang sudah lelap dan tampak begitu lelah, akhirnya ia tak tega membangunkanku.


Akhirnya malam itu kami sama-sama terlelap dan melupakan perjanjian kita tadi pagi.


Pagi harinya saat kami bangun akan menjalankan Sholat Subuh, ia tampak kecewa, namun ia mencoba memaklumi keadaan. Kami pun akhirnya merencanakan jadwal selanjutnya, berharap kali ini tak akan gagal lagi.


"Maaf ya sayang.... aku semalem nggak bisa nurutin kemauan kamu...." ucapku sesaat setelah Sholat subuh dan tengah merapikan mukenahku.


"Iya... nggak apa...." sahut Deri sembari memperhatikan Uwais dan Umar yang sedang terlelap.


"Sssttt.... mumpung mereka lagi tidur.... yuk..." ujar Deri sembari melirik kedua anak kami.


"Tapi...." sahutku yang kemudian ia sudah tak sabar mencengkeram rambutku memulai menciumi bibirku dengan penuh beringas.

__ADS_1


Akhirnya kami berhasil berpetualang melakukan percintaan yang tertunda. Sementara setelahnya Deri gugup, sebab ia terlambat berangkat ke kantor.


__ADS_2