Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Deri mencariku


__ADS_3

Semenjak beberapa kejadian tak mengenakkan yang ia alami di rumahnya, termasuk penolakkan beberapa perempuan dalam pencarian jodohnya, kini hati Deri terbuka untuk mencari Bunga kembali. Beberapa kejadian telah membuat ia merasa bersalah atas perbuatannya pada Bunga, oleh karena itu ia memutuskan untuk pergi menemui Bunga.


Tepat waktu subuh, Deri sampai di Kota Bandung menaiki bis yang biasa aku tumpangi dari Lampung ke Bandung saat aku masih tinggal di sana.


Ia turun dengan menggendong sebuah tas rangsel besar yang biasa ia pakai dulu saat ia akan mudik. Di terminal Kota Bandung, ia menaiki ojeg online untuk menuju kontrakakan dimana aku tinggal dulu.


"Tok...tok..." suara Deri mengetuk pintu rumah kontrakkan dimana aku pernah tinggal dulu. Dengan perasan gundahnya atas kesalahannya, ia menunggu pintu itu segera di buka.


"Krek..." suara pintu terbuka dan terlihat sosok wanita paruh baya di pintu rumah itu dan seketika tampak membuat Deri kaget, sebab dugaan Deri yang membuka pintu adalah Bunga ternyata salah.


"Maaf bu, Bunganya ada?" tanya dia dengan heran.


"Bunga siapa mas? di sini nggak ada yang namanya Bunga" jawab seorang ibu tadi dengan tegas.


"Owh, maaf bu berarti mungkin udah nggak tinggal di sini, maaf saya salah..." ujar Deri sembari pergi meninggalkan rumah itu.


Ia berjalan melangkah menuju benerapa tetangga kontrakkan Bunga yang ia masih kenal. Tak ada yang tau dimana keberadaan Bunga pergi. Namun diantara mereka tak ada yang bercerita jika saat dulu Bunga pergi tengah hamil, sebab mereka tak tau pasti apakah Bunga hamil beneran, atau hanya sekedar gosip.


Langkah Deri terhenti tepat di depan rumah kontrakkan tempat tinggalnya dulu. Sejenak ia duduk di teras rumah itu, yang tampak sudah berpenghuni namun sedang tak ada di rumah itu. Ia keluarkan sebatang rokok, lalu dihisapnya sembari duduk termenung di depan teras itu.


Terlintas dipikirannya kenangan saat-saat ia tinggal di rumah itu. Begitu pun kenangan bersama Bunga di sana. Ia ingat semua kejadian saat bersama Bunga. Bermesaraan bersama, sampai pada suatu malam ia merayunya untuk menuruti hasratnya.


"Huft...Bunga nggak salah...aku memang yang brengsek...!!!" ujar dirinya mengumpat dirinya sendiri sembari mematikkan rokok yang belum habis ia hisap.


Seketika itu ia langkahkan kakinya menuju rumah sakit tempat ia bekerja dulu. Ia masuk ke dalam rumah sakit itu. Tampak beberapa karyawan sedang berlalu lalang menjalankan aktivitasnya di sana.


Ia bingung akan bertanya dengan siapa, sementara dirinya seperti orang asing di sana dan tak satu pun mengenal teman-teman Bunga di sana. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui salah satu satpam rumah sakit itu.


"Pak, apa bapak kenal yang namanya Bunga?" tanya Deri pada seorang satpam bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam itu.

__ADS_1


"Bunga yang mana ya? Kog sepertinya di sini nggak ada karyawan yang namanya Bunga" ujar dia sedikit bingung.


"Bunga bidan pak, kalo nggak salah dulu ia kerja di bangsal persalinan tapi saya nggak tau apa nama bangsalnya" ujarku mencoba agar ia mengingatnya.


"Oh....Mbak Bunga yang itu....dia mah udah lama resign mas, udah nggak kerja di sini lagi..." jawabnya yang akhirnya ia ingat siapa Bunga.


"Oh, ya udah makasih pak" sahut Deri sembari berlalu.


Hatinya terasa begitu lemas dan tak percaya jika Bunga telah pergi entah kemana.


"Harus aku cari kemana Bunga???" gumanya dalam hati yang tampak raut wajahnya pucat dan bingung.


"Kenapa aneh ya, ibunya Bunga bilang kalo dia lagi sibuk kerja dan ada pelatihan, tapi di sini bilang Bunga udah keluar...Kog jadi aneh gini" bisiknya lirih yang mulai merasakan firasat aneh.


"Huft....apa yang terjadi sama bunga sebenernya??" gumamnya sembari meremas jemarinya menyesali diri.


"Bunga...kamu dimana...baru sekarang aku sadar kalo aku kehilangan kamu.... aku sayang sama kamu, hanya saja aku gengsi dengan status kamu, aku egois yang menginginkan pendamping hidupku hanyalah seorang gadis, tapi sepertinya aku telah salah langkah.


Kini Deri menyadari bahwa menikah tak harus memilih pada seorang gadis seperti idealisnya. Sebab beberapa kali mengalami penolakan dari wanita, membuka mata hatinya bahwa Bungalah wanita terbaik yang mau menerima apa adanya dirinya, tanpa embel-embel harus mapan atau pun latar belakang orang kaya.


"Bunga maafin aku....kamu sekarang dimana...????" bisik Deri lirih sembari melangkah meninggalkan rumah sakit itu.


Langkahnya terhenti di sebuah warteg tempat dimana ia sering langganan makan dulu. Perutnya yang sudah lapar selepas perjalanan tadi, akhirnya membuat ia masuk ke dalam sana untuk memesan makan.


Ia duduk di pojok dimana dulu ia selalu berada di situ ketika sedang makan. Dan di situ pula ia pernah mengajak Bunga ngobrol basa-basi saat baru-baru bertemu dengannya.


"Bunga...Bunga..." suara bisiknya sembari menyeruput es teh dari sedotannya yang ia minum.


"Eh...Aa.... udah lama teh nggak di sini? sekarang udah di sini lagi, apa mau kerja di sini lagi A?" tanya ibu warteg yang lama sudah tidak bertemu.

__ADS_1


"Enggak kog bu, saya ke sini cuma maen aja".


"Oh iya, si eneng Bunga juga udah pergi sepertinya, lama nggak kelihatan soalnya".


"Oya bu, apa ibu tau kapan Bunga pergi dari sini?"


"Udah lama atuh A, setau saya perginya selang sekitar dua bulan semenjak kepergian Aa".


"Oh..."


Jadi Bunga udah lama pergi dari sini, lantas kemana dia....kenapa ibunya cuma tau kalo bunga masih kerja dan pelatihan, bahkan dia nggak pulang mudik... aduh...ada apa ini sebenernya?? gumam ia lagi sembari menunggu pesanan makan di warung itu.


Di sana Deri bingung entah harus kemana, sementara waktu juga sudah semakin sore. Jika dibiarkan di sana maka ia akan bingung dimana ia akan menginap.


Seketika ia teringat akan sahabatnya yang di Jakarta, lalu ia coba menghubunginya.


"Halo Ferdi, elo dimana?"


"Di kantorlah, biasa begawe, apa kabar loe, tumben nelpon?" jawab Ferdi yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan santai.


"Gua di Bandung sekarang, bingung gua mau nginep dimana, gua ke Jakarta aja ya nebeng tempat elo?"


"Lah, ngapain elo ke Bandung lagi sih? mau nyari pekcun apa jualan pekcun loe?" tanya Ferdi meledek.


"Diem loe ***, ntr gua cerita kalo udah sampe sana, ntr malem jemput gua di stasiun ya!"


"Oke...oke, buruan kesini gue tunggu, ntr gua siapin cewek-cewek bohay, elu tinggal pilih yang elu suka....hahahaha!!"


"Huuuh dasar...!!!" sahut Deri yang mengakhiri pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2