
Betapa bahagia perasaan ibuku waktu aku telah mengiyakan keinginannya menikah dengan Deri. Beberapa hari kami menyiapkan administrasi untuk keperluan pernikahan pun sudah mulai kelar satu-per satu.
Kami putuskan untuk pergi ke Lampung malam sebelum acara ijab qobul yang akan diselenggarakan esok malam ba'da Isya. Meski terbilang sangat mepet, namun masih ada waktu seharian untuk aku beristirahat di rumah sebelum kami melaksanankan ijab qobul. Sebab subuh hari kami biasanya telah mendarat di kota kelahiran kami.
Menggunakan bus yang biasa kami tumpangi setiap pulang kampung, aku dan Deri tak duduk bersebelahan. Sengaja kami memesan tiket dengan nomor bangku depan belakang, agar tidak duduk berjejer yang memungkinkan kami saling berhimpitan.
Ada rasa cemas dalam hatiku meninggalkan Uwais tanpa dekapanku. Harapanku dia tidak rewel dalam perawatan Istrin Ferdi saat ini. Jantungku pun tak berhenti berdetak begitu kencang membayangkan prosesi ijab qobulku bersama seorang Deri. Yah, bagaimana pun dialah orang yang sejak dahulu pernah aku impikan untuk menjadi pendamping hidupku, meski hatiku kini masih menyimpan sakit padanya.
Pukul 02.00 WIB dini hari, kami memasuki sebuah Kapal Fery di penyebrangan pelabuhan Merak tujuan Bakauheni. Seperti biasa, seluruh penumpang pun turun ke atas kapal. Ada yang beristirahat di ruangan, ada pula yang di pinggiran pagar menatap laut yang menghitam tanpa cahaya itu.
Begitu pun dengan Kami, baik aku atau pun Deri berdiri bersandar di tepian pagar kapal untuk menikmati udara pagi yang sejuk, diiringi deburan ombak yang saling menderu seperti isi hati kami saat ini.
Aku dan Deri saling diam menatap ke arah langit menantikan fajar datang menyingsing dari ufuk timur. Sesekali aku dan dia saling tatap, dan ia pun beberapa kali melemparkan senyum yang sangat merekah kepadaku, meski hanya sebatas aku sambar dengan senyum kecutku, tapi ia tampak tetap berbinar menebarkan kebahagiaan yang seolah dalam hitungan jam ia akan segera memilikiku.
Ketika Subuh menjelang, kami pun sampai di rumah kami masing-masing. Aku dan Deri tak turun pada titik lokasi yang sama, sebab rumahku terlebih dahulu di lewati bus yang melaju dengan kecepatan tinggi ini dibandingkan rumah Deri yang masih harus ditempuh dengan jemputan orang tuanya lantaran rumahnya tak sampai di lalui rute bus itu.
Sesampainya di rumahku, aku disambut oleh ibuku dan juga beberapa keluargaku yang sudah berkumpul di rumahku untuk menyiapkan acara pernikahanku yang terbilang sangat sederhana. Aku memang yang menginginkan agar pernikahanku ini dilakukan secara sederhana tanpa embel-embel pesta seperti saat aku menikah pertama kali dulu dengan mantan suamiku.
Seharian aku menunggu, kini tiba saatnya malam pun tiba. Setelah menunaikan Sholat Isya, aku kenakan gamisku yang tempo hari dibelikan oleh Deri. Beberapa renda menghiasi tiap ujung jahitan gaun panjang nerwarna putih itu, hingga tubuhku tampak cantik dibalutnya. Make up tipis aku gunakan tanpa bantuan salon seperti layaknya orang mau menikah. Semua serba aku lakukan sendiri untuk merias diriku.
Di depan cermin, beberapa kali aku putar balik badanku. Perasaan cemas mulai beradu dalam hatiku yang buatku semakin kacau dan mendinginkan setiap jemariku.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum....?" suara rombongan pengantin tampak serempak mulai memasuki ruang tamuku yang sudah dipersiapkan untuk prosesi ijab qobul.
"Walaikumsalam...." sahut keluargaku yang tak kalah serempak.
Prosesi ijaq qobul pun dimulai. Aku yang tengah duduk di atas ranjang tempat tidurku menunggu panggilan saat pernyataan sah dilontarkan pun tak henti-hentinya meremas jari jemariku yang semakin dingin. Hingga sesaat pun terdengar lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Bunga Niandari Binti Santoso dengan mas kawin uang sebesar satu juta rupiah dibayar tunai" suara Deri yang seketika menegangkan seisi rumahku malam itu pun terdengar hingga air mata para perempuan yang berada di sini pun membanjiri prosesi yang penuh haru ini.
"Bagaimana saksi?" ucap Bapak Penghulu.
"Sah.... sah...." riuh suara seluruh keluarga menyambut untaian kesakralan ijab qobul ini.
\=\=\=\=\=
Seketika dalam pangkuan Ferdi, Uwais menangis sekencang-kencangnya. Air susu yang aku perah telah aku siapkan untuknya pun sepertinya tak mampu membendung tangisannya yang pecah seolah mengisyaratkan kebahagiaan bersatunya kedua orang tuanya.
\=\=\=\=\=
Tak lama setelah pernyataan sah, ibuku pun menjemputku di dalam kamar. Diserahkannya diriku pada Deri dengan beberapa tatapan mata yang saat itu mengarah ke arahku dan Deri. Aku sambut tangan kanannya, dan kucium takzim. Seketika pun ia mencium keningku dengan lembut, penuh dengan keromantisan yang membuat iri hampir semua orang yang berada di sana saat itu.
Hatiku yang meronta ingin sekali aku menjadi seorang istri yang utuh dan mengabdi padanya. Namun seketika egoku pun bergejolak melakukan penolakkan untuk tetap memberi hukuman atas kesakitanku pada Deri.
__ADS_1
Setelah prosesi selesai dan seluruh keluargaku pulang kembali ke rumah masing-masing dan menampakkan sepi di rumahku. Kini tibalah malam pertamaku sebagai pasangan suami istri antara aku dan Deri.
Jantungku serasa mau copot manakala melihat dirinya memasuki ruang kamarku dan hendak tidur bersamaku. Meski dalam perjanjian aku tak ingin tidur bersamanya, tapi apalah daya, di rumah aku harus berperan seolah aku melayani suamiku sebab khawatir ketahuan oleh ibuku.
Dengan perasaan gugup, Deri perlahan tidur di atas ranjang milikku berjajar denganku. Kami saling diam dan menatap langit-langit kamarku. Deri seolah ingin sekali memulai perjalanan cinta layaknya suamu istri yang baru saja menikah. Namun ia tak mau mengingkari janjinya padaku, hingga ia pun berusaha menahan pergerakan senjata pusakanya yang terus mengeras.
Seketika aku teringat akan kelakuan Deri yang menjijihkan dahulu padaku. Bayang-bayang Deri manakala mencumbuiku di luar halal itu spontan membuatku ingin menangis dan menjerit. Namun aku berusaha menahan, hingga aku balikkan badanku membelakangi Deri.
Deri tampak menghela nafas panjang, seketika ia pun ikut membelakangi tubuhku dengan memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan denganku. Hingga akhirnya kami masing-masing pun terlelap.
"Bunga....." terdengar suara lembut berbisik di telingaku dan spontan membuatku bangun dan tekejut.
Aku kucek beberapa kali mataku menatap wajah Deri yang seolah tak percaya dia tidur denganku satu kamar. Seketika aku mengingat bahwa malam tadi kami telah melakukan ijab qobul, hingga akhirnya aku menenangkan diri.
Suara Adzan subuh pun berkumandang, rupanya bisiknya tadi membangunkanku untuk menunaikan Sholat Subuh. Bergegas aku turun dari ranjangku untuk mengambil air wudhu. Sementara Deri tampak melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju masjid untuk menunaikan sholat berjamaah.
Hatiku begitu terkagum melihatnya. Sungguh diluar kesalahannya padaku dahulu, kini dia adalah sosok lelaki idaman sebagai seorang suami bagiku.
Pagi ini aku mulai mengemasi barang-barangku. Aku dan Deri memutuskan untuk berangkat ke Jakarta saat ini juga, mengingat aku yang selalu terpikir akan keadaan Uwais.
Setelah aku sarapan bersama Deri dan juga ibuku, kami berbincang sebentar untuk sekedar melepas rasa rinduku pada ibuku yang lama tak jumpa. Tak lama dari itu pun kami berangkat kembali ke Jakarta.
__ADS_1