Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Perjalananku II


__ADS_3

"Umi....Kita mau kemana sih?? Kog nggak sampek-sampek? Jalannya kog jadi jauh ya??" Celoteh Uwais yang mulai bosan dengan perjalanan kami.


"Kita kan mau ke rumah nenek sayang... Sekarang kita mau tinggal di sana..." Ucapku sembari terus menyetir.


"Kog abi nggak ikut?" tanya dirinya dengan nada manja.


"Abi kan kerja.... Jadi nggak bisa ikut nak...."


"Yah.... Berati nanti bakal jarang ketemu abi um?"


"Iya nak...Nggak papa ya? Kan abi cari uang buat Uwais sama dek Umar...."


"Tapi Uwais sedih kalo nggak ada abi um...." Ucapnya yang melemah dan membuatku tak tega.


"Uwais harus sabar.... Karena ini ujian dari Allah.... Jangan mengeluh lagi ya... Biar Allah makin sayang sama Uwais...." Kalimatku dengan lembut mencoba menenangkan hatinya.


Seketika aku berhenti di depan sebuah outlet makanan siap saji kesukaan Uwais. Kebetulan kami melewatinya searah dengan arah tujuanku.


"Uwais mau makan ayam goreng?" tawaranku supaya hatinya kembali ceria.


"Iya....Mau...Mau umi...." ucapnya penuh semangat.


"Ya udah yuk... Kita makan dulu...."


"Iya um ayok... Asik....!!!" Serunya penuh girang.


"Eitts... katakan apa untuk setiap rejeki dari Allah??" tanyaku sembari meraih Umar yang sedari tadi tak kalah berceloteh lucu.


"Alhamdulillah...." kata Uwais dengan lidahnya yang masih cadel.


Aku tersenyum padanya. Segera aku gandeng tangan Uwais untuk masuk ke dalam toko itu. Sementata Umar dalam gendonganku sudah menunjuk-nunjuk beberapa gambar kartun yang menempel di kaca toko itu, seraya berceloteh tanda gembira.


*****


Deri


"Eh Der....ngapain ke kantor bawa-bawa koper??" ujar salah satu teman kerjanya saat dirinya sudah sampai di kantornya.

__ADS_1


"Ini koper adeku, nanti habis kerja mau langsung aku anter cabut ke kampung..." Jawabnya sembari berjalan menuju meja kerjanya itu.


"Lesu amat wajah elo??? Tuh dari tadi bos nyariin... Kayanya sih marah-marah gitu... Katanya elo udah 3 hari nggak kerja, eh...hari ini telat dateng juga...." Ucap teman satu ruangan dengannya itu.


"Huft..." Deri menghela nafas panjang. Segera ia menemui bosnya itu ke ruangannya.


"Permisi pak...." ucapnya sedikit menahan rasa takut.


"Ya... Silahkan..." sahut bosnya seraya mempersilahkan duduk.


"Maaf pak hari ini saya datang terlambat..."


"Apa alasan kamu?"


"Tadi pagi saya harus menyelesaikan administrasi rumah sakit kedua anakku dulu pak, oleh karena itu saya datang terlambat...." jawabnya gugup.


"Sebetulnya saya bisa kenakan kamu sangsi, tapi karena anak kamu sakit, aku beri sedikit toleransi... Tapi dengan satu syarat, 3 hari ini kamu akan pulang malam untuk lembur pekerjaan kamu yang terbengkalai...."


"Eeee...." Deri bingung apa yang harus ia katakan. Dirinya ingin sekali menolak karena sesungguhnya pikirannya sedang tidak berkonsentrasi untuk bekerja saat ini, apalgi harus lembur.


"Kenapa??? Nggak sanggup...? Yah hitung-hitung buat gantiin libur kamu kemaren, kalo nggak kamu saya pecat..." Tegas bosnya saat itu.


Setelah itu Deri mencoba mengumpulkan tenaganya untuk memulai pekerjaannya itu. Sesekali konsentrasinya terbuyar akan bayangan wajah Bunga, Uwais, Umar, dan begitu juga dengan Lani.


Tak ada waktu baginya untuk menghubungi Bunga, atau pun mencoba mencari tau dimana keberadaannya saat ini. Hatinya mulai kacau dan teriris. Dirinya begitu khawatir akan kehilangan istri dan kedua anaknya yang teramat ia sayangi itu.


*


Waktu sudah mulai menunjukkan waktu malam. Deri pun bersiap untuk pulang dari kantornya itu. Ia teringat bahwa dirinya tak lagi bisa pulang ke rumahnya. Segera ia putuskan untuk pulang ke kost Lani.


Tubuhnya sungguh terlihat sangat lemas. Wajahnya begitu sayu dan pucat memendam banyak pikiran dan seharian tenaganya terkuras akan pekerjaannya itu. Perlahan ia mengendarai motornya beserta kopernya yang ia selipkan di depan jok motornya itu.


"Lani...." panggil Deri yang baru saja tiba di depan kamar kostnya itu.


"Deri... Ngapain bawa-bawa koper ke sini?" Tanya Lani heran.


"Bunga udah pergi... Kemungkinan kembali ke Lampung bersama kedua anakku..." Sahutnya lesu dan sesaat merebahkan tubuhnya di atas kasur.

__ADS_1


" Memangnya kamu nggak pegang kunci rumahmu?" tanya Lani penasaran.


"Enggak, itu rumah milik Bunga, dibelikan ibunya sama kakaknya, dan sekarang mau dijual..." sahutnya dengan mimik wajah datar penuh penyesalan.


"Terus.... Mobil juga dia bawa??"


"Iya... Itu mobil Bunga, hadiah dari ibunya waktu hamil Umar..." sahutnya yang kemudian dirinya langsung terlelap sebab sejak tadi sudah sangat menahan lelah.


Brengsek....Huftt....Rupanya Deri masih kere.... Gumam Lani menatap Deri yang mulai mendengkur itu.


****


Meski perjalananku yang menyetir seorang diri sangatlah melelahkan, namun aku kuatkan tenagaku agar aku bisa mencapai tujuanku dengan selamat. Sekali lagi emosi jiwakulah yang telah memupuk tenagaku hingga tiba-tiba aku memiliki kekuatan super power berbeda dengan hari-hariku biasanya.


Sesekali aku menghentikan perjalananku untuk menyusui Umar dan memastikan kedua anakku dalam keadaan baik. Sebab mereka baru saja keluar dari rumah sakit. Ada rasa cemas melanda, namun beberapa obat telah aku persiapkan manakala terjadi sesuatu yang tidak aku duga.


Petang menjelang, akhirnya sampailah aku pada Pelabuhan Merak. Segera aku mencari dermaga kapal untuk menyebrangi ke tujuan Pelabuhan Bakauheni itu.


Sesampainya dinatas kapal, aku menggendong kedua anakku seperti biasa. Tak lupa masih membawa tas jinjing yang berisi perlengkapan Uwais dan Umar itu. Mereka yang sedang terlelap, perlahan aku posisikan supaya tak membangunkan mereka.


Beberapa orang di atas kapal pun menatapku kembali dengan rasa iba dan heran.


"Neng....? Kemana suaminya atuh neng?? Sendirian wae??? Kasian amat gendong anak dua gitu, mana bawaannya banyak pisan euy...Boleh saya bantu?" Tanya salah satu dari awak kapal yang sedang menjaga pintu VIP itu.


"Nggak usah A' makasih....Saya bisa sendiri kog" ujarku sembari berlalu dan segera mengambil posisi di atas kursi penumpang itu. Seketika aku turunkan kedua anakku dari gendonganku. Aku posisikan Uwais tidur di atas kursi yang cukup empuk dan nyaman itu. Sementata Umar tetap pada posisi gendonganku.


Mataku yang mulai lelah pun akhirnya tertidur. Meski beberapa saat harus terjaga untuk melihat keadaan kedua anakku. Tanganku yang tak lepas dari tubuh Uwais yang berada di sampingku pun mengurangi rasa cemasku untuk memastikan ia tetap pada posisi itu.


***


Deri


"Kamu udahan deh numpangnya di kamar kostku...." ujar Lani pada Deri yang baru saja terbangun dari tidurnya dan masih terlihat lesu.


"Apa??? Kamu bilang aku numpang?? Aku ini suami kamu... Dan jangan lupa kalo aku yang bayar sewa kost ini..." Sahut Deri dengan wajah mulai emosi.


"Iya tapi kamarnya sempit.... Kalo kamu terus di sini aku sumpek dan nggak nyaman...." Ujarnya mulai mengeluh.

__ADS_1


"Oke.... Nanti malem aku nggak akan nginep di sini lagi...!! Istri macam apa kamu....!!!" Ucap Deri yang emosinya mulai memuncak. Rasa ngantuk, lelah, dan kesal meringkup dalam pikirannya beradu jadi satu. Sedikit dia disinggung maka emosinya akan meledak seketika.


__ADS_2