Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Gara-gara Haid


__ADS_3

Setelah tiga hari lama nya Deri terbaring lemah karena sakitnya, kini ia pun mulai bangkit dan beraktivitas seperti biasa. Meski dengan badan yang masih sedikit lesu, ia mencoba berangkat ke kantornya untuk bekerja, sebab dirinya merupakan karyawan yang masih terbilang baru dan tak enak hati pada bosnya jika ijin terlalu lama.


Melihat tubuhnya yang masih lemah, aku pun membuatkan sarapan dan bekal untuknya.


"Makasih sayang...." ucap Deri padaku yang tengah menyodorkan sarapan untuknya.


"Hmmm" sahutku datar.


"Ada hikmahnya juga aku sakit, sekarang kamu jadi rajin masak buat aku....." ujar Deri tersenyum merekah.


Aku hanya diam tak bergeming sembari membereskan bekal makanan untuknya. Segera kuletakkan bekal makanan itu di sampingnya yang tengah sarapan itu.


"Wah..... ini buat aku juga?" tanya Deri terkejut seperti baru saja mendapatkan hadiah.


"Itu karena kamu lagi sakit aja aku bawain bekal, huft...." jawabku sedikit malas, lalu pergi menuju kamar.


Tak lama dari itu Deri pun pamit untuk berangkat.


"Sayang.... aku mau pamit dulu...." Seru dirinya yang namun tak segera beranjak seperti masih menunggu sesuatu.


"Sayang.... kamu kog nggak ke sini?" tanya dirinya padaku.


"Emangnya ada apa sih?" seruku dari dalam kamar.


Kemudian ia segera mendekatiku ke dalam kamar.


"Kamu nggak mau anterin aku sampe depan dan mencium tanganku?" ujar dirinya di depan pintu kamarku.


"Biasanya juga enggak kan?" jawabku ketus.


"Ya udah deh... kalo kamu nggak mau cium tanganku, biar sini aku yang cium tangan kamu...." kalimatnya sembari meraih tanganku dan ia cium punggung tangaku dengan lembut. Setelah itu dia masih terdiam menatapku tajam.


"Itu Uwais kenapa?" tanya dirinya yang seketika menolehkan pandanganku ke arahnya. Tak di sangka ia segera menyambar keningku dan menciumnya mesra. Seketika bulu kudukku terasa merinding dibuatnya. Jantungku berdebar kencang berasa melayang perasaanku saat itu.


Tak lama ia pun melangkah keluar segera berangkat.


"Aku pamit ya sayang... Assalamu'alaikum?" kalimatnya sembari melambaikan tangannya padaku.


"Walaikumsalam". Pipiku pun mulai memerah pertanda menahan malu.

__ADS_1


Malam harinya, udara cukup panas membuatku gerah dan mencoba mengenakan pakaian terbuka agar sedikit melepaskan rasa gerahku. Deri yang ingin melihat Uwais ke dalam kamarku pun terkejut melihatku yang akhirnya berani mengenakkan pakaian itu kembali.


Aku pun tak terlalu bereaksi ketika ia memasuki dalam kamarku. Perlahan aku punguti rasa maluku terhadapnya. Yah, mungkin kali ini aku sudah mulai bosan menahan gengsiku padany. Sedikit demi sedikit kini aku persiapkan bila ia mulai menuntut untuk aku layani.


"Kamu pake pakaian itu lagi? sengaja mau goda aku ya? hehehe?" tanya dirinya sedikit cengengesan sembari menatapku.


Aku yang masih terdiam tanpa berekspresi kemudian mendekat pada jendela kamar yang aku buka seketika untuk mengobati rasa gerahku.


Perlahan Deri mendekatiku dari belakang. Seketika ia memeluk tubuhku dari belakang. Sungguh aroma parfumnya mengingatkanku saat dahulu pertama aku jatuh cinta padanya.


Merinding buluromaku saat ia mulai mencumbui rambut dan bagian leherku dari belakang itu. Aku pun mulai terbuai dengan perlakuannya saat itu. Deru nafasnya semakin beradu dengan nafasku. Pandangannya pun semakin mendekat pada wajahku tanpa jarak.


"Apa yang buat kamu yakin tetap kekeh menikah dengan aku? sementara dulu kamu anggap aku bukanlah wanita baik-baik?" tanyaku pelan melengkapi pelukkan hangat kami.


"Karena aku tau, cuma kamu satu-satunya perempuan yang tulus sayang sama aku...." jawabnya sembari menambah erat pelukkan itu.


"Dari mana kamu yakin? bukankah sikapku selalu jutek sama kamu?"


"Yang jutek cuma raga kamu... tapi hatimu enggak...." kalimatnya yang seolah selalu mampu menebak hatiku membuat mataku berbinar-binar.


Dibalikkan badanku menghadap pada tubuhnya. Aku yang mulai merengkuh kehangatan belaian cintanya memejamkan mataku perlahan ketika dirinya mulai meraih kepalaku dan mendekatkan pada wajahnya untuk mencumbui bibirku dengan lembut.


Seketika ia membopong tubuhku untuk di rebahkan pada kasurku yang menjadi saksi kemesraan kami. Perlahan ia mulai menjamahku dengan penuh cinta dan begitu memeriahkan hatiku.


"Kamu siap melayani aku?" tanya dirinya sebelum melucuti seluruh pakaianku.


Aku hanya terdiam dan mengangguk tanda setuju. Raut wajahnya pun tampak sangat bahagia saat itu.


"Makasih sayang...." ucapnya sembari memulainya.


"Yah..... kenapa ada darah?" tanya dirinya yang baru saja melepaskan celana dalamku.


"Oh... ini pasti haid pertamaku setelah masa nifas kemarin..... Maaf aku nggak tau, karena habis melahirkan aku belum paham siklusku...." jawabku sembari kembali mengenakan pakaianku dan segera lari ke kamar mandi untuk membersihkan diriku.


"Yah.... gagal lagi..... arrgggghhhh!!" kalimat Deri sangat kecewa malam itu.


Aku pun tertawa melihat raut wajahnya saat berlari ke kamar mandi.


"Hihihihi" tawaku saat itu.

__ADS_1


Akhirnya Deri pergi ke luar kakar dan membuat secangkir kopi hitam untuk menenangkan dirinya.


"Sini... aku mau ditemenin ngopi sama kamu..." seru Deri padaku yang naru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya deh...." sahutku mendekatinya.


"Aku mau kamu duduk dipangkuanku...." ucapnya seraya memberi tanda untuk duduk diatas pahanya.


Segera aku mendekatinya dan menuruti apa maunya. Tak lama aku duduk diatas pahanya. Dipeluknya tubuhku dengan belaian rambutku oleh Deri dengan lembut.


"Nyesel aku kenapa nggak dari dulu aku nikahin kamu...." ujar dia yang tengah membelai rambutku.


"Hmmm.... baru sadar?" ujarku sedikit ketus tapi manja.


"Yah.... untung aku masih dikasih kesempatan buat nikahin kamu, padahal hampir aja kamu disambar Arif...." kalimat dia manja.


"Ye... emang seharusnya aku sama Kak Arif...kan kamu yang tiba-tiba dateng ngerebut...." ujarku ketus.


"Yakin kamu mau sama dia?" ujarnya sembari tersenyum.


"Emangnya kenapa nggak mau?"


"Cieh...cieh...." sahutnya merasa cemburu.


"Ye...Cemburu?" tanyaku balik meledek.


"Nggak.... ngapain cemburu... aku aja yakin kamu cuma cintanya kan sama aku..." ujarnya percaya diri.


"Hmmm.... apa buktinya kamu kira aku cinta sama kamu?" tanyaku seolah tak percaya.


"Pertama.... kamu tulis namaku di buku periksa kehamilan kamu.... yang kedua, kamu simpen foto kita pas waktu di Kawah Putih di lemari kamu kan? hayo ngaku....?" ujarnya sembari mencubit hidungku gemas.


"Ih.... GeEr kamu!" sahutku manja.


"Oek....oek...." tak lama itu terdengar suara tangisan Uwais yang membuyarkan kemesraan kami.


Spontan aku beranjak menuju kamar untuk melihatnya. Benar saja, aku cek popoknya basah karena pipisnya. Segera aku hendak mengganti popoknya.


Deri yang sejak tadi mengekor dibelakangku seketika menepis tanganku yang hendak menggantikan popok Uwais. Ia pun segera mengambil alih untuk menggantikan pekerjaanku seperti biasanya itu. Perlahan aku perhatikan ia mulai membersihkan pipis Uwais yang membasahi bagian bawah tubuhnya dan menggantikkan popoknya dengan yang baru.

__ADS_1


Meski tampak masih kaku, dengan hati-hati ia melakukannya serius. Aku pun tersenyum merekah melihat pemandangan itu.


__ADS_2