
Semenjak awal kehamilanku, sekalipun aku belum pernah memeriksakan kehamilanku. Terlebih karena aku adalah seorang bidan yang setiap saat bisa mengontrol diriku sendiri, keadaan ekonomi pun membuatku selalu mengurungkan niat untuk periksa kehamilan pada fasilitas yang memadai.
Siang itu aku ingin sekali melihat anak yang ada dalam rahimku ini yang sudah semakin membesar. Kusisihkan uang sisa peganganku untuk pergi ke dokter siang hari itu.
Bermodalkan pakaian syar'i yang telah melekat ditubuhku yang selalu aku cuci kering pakai, aku berjalan menelusuri Kota Jakarta ini menuju klinik bersalin terdekat yang terdapat dokter SPOG.
"Bayinya sehat, irama jantungnya bagus, air ketuban juga cukup, yah... kondisi umum cukup baik, tinggal dijaga kesehatannya aja". Tutur seorang dokter perempuan yang sedang memeriksaku memaju mundurkan alat USG yang ia pegang.
"Alhamdulillah.... sehat ya dok bayi saya?" tanyaku sembari menatap layar USG dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
"Oya, ini jenis kelaminnya kemungkinan laki-laki sih kalo dilihat dari ciri-cirinya" jelasnya lagi.
"Laki-laki atau perempuan yang terpenting kondisinya sehat dok... InsyaAllah saya akan menerima dengan senang hati". Ucapku sembari mengelus perutku yang baru saja selesai dilakukan pemeriksaan.
"Ini resep vitaminnya ya, jangan lupa diminum, nanti bulan depan kontrol lagi ya" tutur dokter sembari menyodorkan resep padaku.
"Iya dok"
"Oya, kog suaminya nggak ikut ngantar? ibu sendirian aja?" tanya dokter yang sedari tadi memperhatikan kedatanganku yang hanya seorang diri, lain dengan beberapa pasien ibu hamil lainya yang digandeng oleh suaminya penuh manja.
"Kebetulan suami sedang kerja keluar kota dok, jadi terpakasa saya sendirian". Alasanku singkat.
__ADS_1
"Owh, tapi ibu hamil kemana-kemana sendiri nggak baik loh, lain kali coba ajak teman, bisa siapa aja, asal ada yang mendampingi, kalo dijalan ada apa-apa gimana?" ujar dokter khawatir.
Aku hanya terdiam menganggukan kepala dihadapan dokter. "Bismillah" ucapku dalam hati yang berharap tak akan pernah terjadi sesatu yang membahayakan dalam kandunganku.
Kuambil resep yang telah diberikan oleh dokter dan sebuah buku catatan dokter yang tertulis namaku dan nama suami aku isi dengan nama Deri. Yah, meski aku telah lama merelakannya, namun tak bisa dipungkiri kalau rasaku padanya belumlah padam. Hanya saja perasaan sakitku yang membuat aku tak lagi mencarinya untuk kehidupanku.
Keluar dari pintu dokter, kupandangi beberapa pasien yang hendak memeriksakan kehamilannya sepertiku. Beberapa mata memandangku seolah aneh, namun tak aku hiraukan.
"Ah, andai saja ada seorang pendampingku yang mengantarku periksa seperti mereka, tentunya saat ini aku adalah orang yang bahagia, tapi tak apa ya nak... yang penting umi selalu menyayangi kamu... kamu harus jadi orang yang kuat, kelak nanti jika lahir ke dunia" gumamku dalam hati sembari mengelus perutku dan berjalan menuju kasir pembayaran.
"Ibu bunga, totalnya 500rb" jelas seorang kasir padaku yang baru saja menghitung total pembayaran periksa yang harus aku bayar.
"Hhhahh!" desahku sembari menutup mulutku dengan penuh rasa terkejut. " Ya Allah, kenapa mahal sekali, ini uangku pas-passan, masih buat aku makan juga" gumamku dengan cemas.
"Oya, baik, nanti saya akan konfirmasi ke pihak farmasi agar dicancel pesanan ibu, tunggi sebentar ya bu" jelasnya sembari meninggalkanku di depan meja kasir.
Aku yang berharap cemas pun bingung sebenarnya harus berbuat apa, disatu sisi aku tau vitamin resep dokter yang harus aku tebus sangatlah bermanfaat untuk perkembangan kehamilanku, namun jika melihat kondisi uangku tak memungkinkan. Akhirnya kuputar otak untuk membeli vitamin yang lebih murah saja di apotik luar.
"Bismillah, kamu harus tetap sehat dan kuat ya nak... maafkan umi yang belum bisa memberikan kamu yang terbaik... tapi kami jarus kuat ya sayang...." ucapku yang selalu mengelus perutku dengan tetesan air mata yang tak terasa bergulir.
"Ibu Bunga, silahkan ini bill nya sudah dikurangi dengan biaya resep, jadi totalnya 300rb bu". ujar kasir tadi yang melayani setelah kembali dari farmasi.
__ADS_1
"Oya, ini mbak" Kusodorkan uang pembayaran itu dengan berat hati, meski sudah mendapat potongan, bagiku jumlah uang itu sangatlah banyak bagiku yang belum berpenghasilan ini.
Beberapa saat setelah meninggalkan klinik itu, aku berjalan menuju sebuah apotik yang aku jumpai dalam perjalanan pulangku. Aku beli beberapa vitamin dengan harga yang cukup murah untuk menggantikan resep dokter yang tadi tidak jadi aku tebus.
Terik matahari yang menyengat membuat sedikit nafasku terengah-engah ditengah langkah kakiku. Sesekali aku menyeka keringat yang mengucur di dahiku dan membusungkan perutku yang mulai terasa berat.
Tak jarang mata iba melirikku memperhatikkanku seorang ibu hamil yang berjalan cukup jauh seorang diri. Dengan penuh senyuman seolah tak terjadi apapun padaku, aku berusaha tegar terus melangkah tak menghiraukan pandangan orang yang sejak tadi menatapku.
Tak lama aku sampai di rumah kontrakkanku. Kuselonjorkan kakiku yang sejak tadi sudah mulai pegal dan membengkak. Kupijat sedikit-sedikit pada betis kakiku. Kemudian aku mengambil segelas air putih untuk menghilangkan dahagaku dan sekaligus meminum vitamin yang telah aku beli tadi.
"Bismillah" ucapku sebelum meneguk segelas air dari tangaku.
"Sehat terus ya nak, meski dengan nutrisi sederhana,kamu harus jadi lelaki soleh yang kuat dan bertanggung jawab kelak" ucapku sembari mengelus perutku yang saat ini sering aku lakukan sebagai komunikasiku dengan bayiku yang sudah aku anggap sebagai teman sehari-hariku.
Kubayangkan wajahnya yang mungkin akan mirip dengan sosok Deri ayah biologisnya. Yah, meski hidupku kandas ditemani oleh Deri, namun kini aku telah mendapatkan seorang Deri junior, yang akan melengkapi sepanjang hidupku kelak.
Hampir setiap malam aku lantunkan ayat-ayat Al-quran sembari mengusap perutku yang berasa aku sedang mengusap kepala anakku itu. Berharap kelak anakku bisa tumbuh menjadi anak yang soleh, jauh dari segala kehidupannku yang kelam.
Selain itu, beberapa buku-buku agama pun tak luput aku pelajari untuk merubah kehidupanku supaya lebih baik dan tak lagi terjerumus dalam rayuan kemaksiatan yang membuatku kelam. Buku-buku itu aku dapatkan dari Rianti yang dengan semangat meminjamiku koleksi bukunya yang sudah khatam ia baca.
Darinya pula aku belajar lebih dalam tentang ilmu agama, menjadikanku lebih rajin beribadah, baik wajib, maupun sunnah-sunnah yang bahkan sejak dulu jarang aku lakukan. Bahkan dengan kondisiku yang hamil, aku sering melakukan puasa sunnah, karena sebab ingin melunturkan dosaku, dan sekaligus menghemat biaya makanku.
__ADS_1
Lafas dzikir selalu aku lantunkan hampir pada setiap aktivitasku kini. Hatiku kini mulai sedikit tenang, tabah meskipun berbagai badai aku hadapi dalam kehidupanku saat ini. Jauh dari kata putus asa seperti dulu sebelum aku mengenal agama lebih dekat.