
Perlahan aku buka pintu kamar mandi itu. Tanpa menatap wajah Deri yang menjijhkan, aku bergegas menuju ke arah Uwais.
"Uwais sayang....Yuk makan biskuitnya dulu...." Ucapku sembari merebut kantong plastik yang ada di tangan Deri itu tanpa mau menatap wajahnya.
Aku pasang wajah sesemangat mungkin dihadapan Uwais. Aku suapin satu demi satu biskuit itu ke dalam mulut Uwais dengan lembut. Meski hatiku terasa tak karuan, senyum bahagiaku selalu aku lontarkan agar membuat dirinya bersemangat untuk makan.
"Sayang....Kalo kamu capek, kamu istirahat aja dulu, biar aku yang gantiin nyuapin Uwais...." kalimatnya mencoba mencegahku untuk meneruskan memberi makan pada Uwais.
"Nggak....Biarkan aku merawat Uwais, aku sudah terbiasa kog...." jawabku sedikit ketus. Ingin sekali aku cakar wajahnya yang selalu berpura-pura lembut padaku itu. Namun sekuat tenaga aku berusaha meredam emosiku, meski hatiku berperang keras.
"Umi....Uwais udahan makannya, udah kenyang...." kata Uwais yang mulai menolak aku suapi.
"Sedikit lagi ya sayang, biar habis ini tidurnya nyenyak....Yuk sesuap lagi...Aaa...Aaam....?" Bujukku padanya.
"Udah Umi ya....Uwais udah kenyang kog...."
"Ya udah....Sekarang Uwais bobok ya, biar besok sembuh...." ucapku yang tak lupa mengecup keningnya.
"Iya Umi..... Abi....Uwais bobok dulu ya....Abi sama Umi jangan lupa bobok ya..." Kalimatnya sebelum memejamkan matanya.
Aku dan Deri menganggukan kepala padanya. Seketika Deri menyambar gawainya yang aku letakkan kembali di atas kasur seperti sebelumnya. Dirinya tampak tak mengetahui bahwa aku sudah mencium kebohongan yang ia lakukan dibelakangku.
Sengaja aku menahan amarahku supaya tidak terjadi percekcokan di rumah sakit ini. Belum lagi hal ini akan menambah sakit kedua anakku bila menyaksikan hal ini.
Maka selepas Uwais memejamkan mata, aku pun seolah ikut terlelap berdampingan dengan Umar yang kebetulan saat itu tengah terbangun meminta disusui.
Aku pura-pura memejamkan mataku sebab aku sangat jijik menatap wajah Deri yang sejak tadi berdiri di samping kami. Wajahnya yang tampak bergelimpungan itu tak ada teman yang bisa ia ajak bicara.
Tak lama itu ia pun akhirnya terlelap di kursi penunggu itu. Aku buka sedikit mataku untuk mengintip gerak-geriknya. Melihat dirinya yang tengah terlelap, ingin rasanya aku hantam wajahnya dengan botol minum yang ada di atas meja.
Istighfarku terus aku lanjut untuk meredam setan yang merasukiku untuk membalas perbuatannya itu.
****
__ADS_1
Keesokkan harinya, dokter visite keadaan Uwais dan Umar. Lega rasanya bahwa keadaannya mulai membaik dan menunjukkan perkembangan yang pesat.
"Deri....Tolong kamu jaga Uwais dan Umar sebentar, Aku mau pulang dulu ganti baju dan mencuci beberapa pakaian Uwais dan Umar yang kemarin terkena muntah....." kalimatku dengan wajah datar.
"Iya sayang...."Kamu lelah ya? Kog kayaknya jutek begitu? Kalo pingin istirahat di rumah dulu nggak apa kog, hari ini aku udah ijin cuti sama bos...Kamu tidur aja dulu di rumah, siapa tau di sini tadi malem kurang nyenyak...." Kalimatnya mencoba memberiku perhatian.
"Mana kunci mobilnya, aku mau bawa dulu... Oh ya, bukannya kamu lagi sibuk di kantor? Kog bisa cuti segala?" Ucapku sembari mengambil kunci dari tangannya dan masih tak kuat untuk menatap wajahnya.
"Iya kan ini urgent sayang...Aku katakan pada bos kalo anak kita dua-duanya masuk rumah sakit....Alhamdulillah bosku mengerti...." Jawabnya yang membuatku bergumam bulsit....Ih....hufth....
"Oke, aku pamit dulu" ucapku sembari berlalu.
"Eh sayang....Tuhkan lupa ucapkam salam...." cegah Deri sebelum aku pergi.
"Oh ya....Assalamu'alaikum" kalimatku dengan nada datar dan tak ada kelembutan padanya apalagi mencium tangannya seperti yang sering aku lakukan seperti biasanya jika aku hendak pergi.
"Walaikumsalam"
Tak lama dari itu gawainya pun berbunyi. Tampak nama Lani di layar kaca ponselnya itu. Seketika ia matikan teleponnya dan ia mencoba tak menghiraukannya lagi, meski beberapa kali Lani terus meneleponnya.
Sementara sampai rumah, aku panggil beberapa kuli untuk membereskan perabot rumahku. Sebagian pakaianku dan kedua anakku mulai aku cicil dan aku masukkan ke dalam koper. Begitu juga dengan semua pakaian Deri, semua sudah aku persiapkan ke dalam koper dengan lengkap.
Aku telepon Riyanti teman kajiyanku itu, beberapa perabotan aku pasrahkan padanya untuk disumbangkan pada orang-orang yang membutuhkan. Sebagian lagi ada yang aku bagikan gratis pada tetanggaku. Sebab aku tak mungkin mengemas seluruh perlengkapan yang ada di rumahku itu.
Tentu terlalu banyak dan merepotkan nantinya.Setelah semua selesai aku bereskan, aku masukkan semua perlengkapanku dan kedua anakku ke dalam mobil. Sebagian perkakas berat, sudah aku paketkan lewat jasa angkut ke kota kelahiranku.
Koper dan perlengkapan Deri aku biarkan tergeletak di depan pintu yang sudah aku tulisi secarik kertas bahwa bangunan itu dijual.
Setelah semua beres, aku kembali ke rumah sakit.
"Ini kunci motor kamu...." Ujarku sembari menyerahkan kunci itu pada Deri.
"Loh kog dateng nggak bilang-bilang?" ucapnya padaku.
__ADS_1
"Oh....Iya tadi buru-buru...Khawatir sama keadaan Uwais dan Umar...." sahutku yang seketika mendekat pada kedua anakku itu.
"Emangnya kenapa kunci motorku dibawa segala ke sini?" tanya dirinya sedikit heran.
"Nggak, soalnya mobilnya biar sama aku aja, aku butuh buat wira-wiri, kalo bawa motor aku capek... Jadi tadi motor kamu tadi sekalian diantar tetangga ke sini, biar nanti kalo kamu mau keluar pake motor aja ya...." Kalimatku menjelaskan padanya.
"Oh....Ya sudah nggak papa...."
Tiba-tiba gawainya pun bergetar kembali. Tampak wajahnya begitu gugup saat mendapati nama Lani berada di layar gawainya itu.
"Angkat dong....Siapa tau penting...." ucapku sedikit sinis dengan mendekapkan kedua tanganku dalam perutku.
"Iiiya ini dari temen kantor, pasti deh ada masalah....Sebentar ya aku angkat telepon dulu..." ujarnya sembari berlalu keluar ruangan.
Bibirku hanya tersenyum kecut. Rona wajahku sangat jutek dan tampak bersungut melihat kelihaian akan aktingnya.
Hmmm bohong teros..... Gumaku dalam hati dengan nada perang.
****
Sementara Deri itu di luar ruangan Deri menjawab telepon dari Lani di sudut ruangan.
"Sayang....Kamu kemana aja?? Baru juga kita menikah udah ditinggalin sih....???" ucap Lani dalam teleponnya.
"Iya kan kamu tau,...Kedua anakku masuk rumah sakit, aku nggak bisa kemana-kemana...."
"Jadi kapan kamu jengukin aku ke kostku??"
"Iya besok tunggu anakku keluar dari rumah sakit ya?"
"Hmmm ya udah...Sampe ketemu besok....Emmuach..." Kalimatnya menutup percakapan mereka berdua.
Aku yang tengah mengintip di balik pintu kamar sangat jijik melihat ekspresi Deri yang tengah bercakap-cakap di telepon itu.
__ADS_1