Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Belajar jalan


__ADS_3

Semenjak menikah, keadaan ekonomi yang aku rasakan semakin hari semakin membaik. Setelah hadiah mobil dari ibuku kemarin, beberapa bulan kemudian ibuku dan kakak laki-laki satu-satunya yang aku miliki berpatungan mengirimkan uang untuk membeli sebuah rumah agar kami tak lagi mengontrak.


Deri pun semakin bahagia dan penuh syukur memiliki istri sepertiku. Bahagianya semakin hari semakin bertubi-tubi. Tidak seperti saat sewaktu ia sedang sendiri, dirinya terus mengeluh kekurangan masalah ekonomi.


Kini pun kami telah menempati rumah baru yang terbilang cukup nyaman, meski tidak terlalu mewah namun tidak mengontrak lagi.


Ditengah kesibukanku merawat Uwais pun aku sempatkan untuk membangun bisnis camilan yang dulu pernah Deri kembangkan saat sebelum menikah denganku. Bisnis yang jatuh bangun ia lakoni dulu kini aku perjuangkan dan membuahkan hasil yang lumayan. Meski beberapa kali Deri menyuruhku untuk berhenti lantaran banyaknya rintangan, namun aku tetap penuh keyakinan mengolah usaha itu.


Beriringan dengan itu, Uwais pun tumbuh menjadi anak yang sangat lincah dan cerdas. Apapun yang aku ajarkan padanya selalu gampang menangkap. Celotehnya selalu mampu menirukan apa saja yang aku ucapkan, terlebih bacaan Alquran, meski terbilang belum terlalu jelas ia mengucapkan apa, namun ia sangat gampang menghafal manakala aku ajarkan surat-surat Alqur'an.


"Ayo Uwais.... Ayo sayang... sini mendekat ke umi.... ayo...ayo..." seruanku yang sedang memimpinnya berjalan.


Dengan tertaih, ia sangat bersemangat mendekati ke arahku yang sedang mengarahkan dirinya. Kadang berjalan lambat, kadang pun berlari membuatku sangat gemas melihatnya.


"Bruk...." tiba-tiba Uwais terjatuh saat berusaha menghampiriku. Kepalanya membentur lantai rumahku yang terbilang cukup keras. Seketika ia pun tak sadarkan diri.


Aku berlari dan segera mendekapnya penuh kepanikan. Aku coba menepuk kedua pipinya namun tak bersahut tangisannya.


Segera aku larikan dirinya ke rumah sakit dengan menggunakan mobilku yang terparkir di halaman depan rumah. Deri memang tak pernah pergi bekerja menggunakan mobil, ia lebih memilih menggunakan motornya, sebab ia merasa aku lebih membutuhkan mobil manakala aku akan keluar bersama Uwais.


Keadaanku yang sedang hamil besar membuatku sedikit kesulitan menyetir, sebab sesekali aku harus menghela nafas panjang mengingat jarak antara setir dan perutku yang terasa sedikit sesak.


Di ruang UGD, Uwais segera mendapatkan tindakan pertolongan. Aku tak henti-hentinya menangis penuh sesal. Andai saja aku tak membiarkan dirinya yang baru saja belajar berjalan itu terlalu jauh, ini tak akan terjadi menimpanya.


Ketika Uwais sedang ditangani oleh dokter, aku pun segera menelpon Deri untuk memberitahu perihal ini.


Deri yang kuberi kabar, spontan langsung menuju rumah sakit. Ia sangat cemas sama sepertiku.


"Gimana keadaan Uwais?" tanya dirinya dengan nafas terengah-engah karena berlari.


"Masih ditangani dokter..." jawabku sembari meremas jemariku cemas.


"Kenapa bisa jatuh begitu, kog ceroboh banget kamu ini! kalo gegar otak gimana?" ujar dirinya setengah ketus karena panik.

__ADS_1


Aku hanya terdiam tak berani menatap wajahnya, aku sangat takut, sebab baru saat itulah Deri berani membentakku semenjak menikah dengannya.


Air mataku bertambah mengalir deras. Kini tidak hanya kecemasan pada sang Uwais, namun karena sikap Deri padaku juga. Aku yang terbiasa dengan kelembutannya tidak mampu menerima bentaknya saat itu.


"Oaakk...aaakkk....akkkkk...." seketika suara Uwais terdengar menangis.


Aku pun berlari ke arahnya, dan seketika menggedongnya. Begitu pun dengan Deri, ia segera menghampiri Uwais untuk segera mengetahui keadaannya.


Tampak kepala Uwais sedikit benjol dan menghitam. Ada sedikit luka lebam akibat benturan kepalanya yang mengakibatkan dirinya pingsan tadi.


"Gimana dokter keadaan Uwais?" tanyaku panik.


"Kalo dilihat kondisinya nggak apa bu, itu cuma lebam karena benturan, tapi nanti kita akan lakukan rongthen supaya tau keadaanya yang ada di dalam bagaimana, mudah-mudahan baik-baik saja" jelas seorang dokter yang baru saja memeriksa Uwais.


Aku yang sedikit takut akan kemarahan Deri pun duduk menciut dipojok ranjang dimana Uwais dibaringkan. Ia mencoba mendekat, namun wajahku terlihat pucat. Ia yang menatapku menangis seketika iba dan merasa bersalah padaku atas bentakkannya.


"Maaf tadi aku bentak kamu.... soalnya aku panik...." ujarnya sembari memelukku bersama Uwais.


Aku hanya terdiam tak bergeming, disamping terkejut akan sikapnya, aku masih fokus dengan keadaan Uwais.


"Kita tunggu hasil rongthen" sahutku.


Beberapa jam kemudian hasil ronthen pun datang. Tak ada tanda bahaya pada kepala Uwais. Dokter pun tidak menyarankan untuk dirawat menginap maupun resep. Dan kami akhirnya pulang dalam keadaan lega.


"Sayang... pasti tadi kamu kecapean ya? kondisi kehamilan kamu sudah makin besar, Uwais juga lagi lincah-lincahnya, jadi kamu harus hati-hati, besok biar aku aja yang latih Uwais jalan...." ujar dirinya sembari menyetir mobil.


"Aku nggak apa kog, aku masih kuat, mungkin tadi karena kecelakaan aja, entah aku hamil atau tidak, namanya anak lagi lincah-lincahnya pasti resiko jatuh..." kalimatku mencoba membela.


"Iya tapi kamu harus hati-hati ya.... untung tadi nggak apa-apa, coba kalo sampe Uwais gegar otak gimana?"


"Bisa nggak sih kamu nggak nyalahin aku terus, udah aku bilang ini kecelakaan, apa bisa aku menghindar, mungkin kamu sendiri juga belum tentu kalo ada di posisi aku" sahutku ketus.


Deri pun terdiam. Setelah itu kami terus terdiam dan canggung. Hingga sampai rumah pun kami masih saling diam.

__ADS_1


Malam hari selepas Uwais tertidur, Deri mendekatiku dan mendekapku dari belakang seperti biasa.


"Sayang.... aku minta maaf kalo aku tadi kasar sama kamu... udah kamu jangan marah lagi ya....?" bisiknya padaku.


"Hmmm" sahutku sedikit malas sebab masih marah padanya.


"Kog nggak jawab? kamu masih marah sama aku?" tanya dirinya yang kemudian membalikkan badanku.


"Iya aku udah nggak marah kog" ucapku dengan wajah tertunduk.


"Kalo kamu nggak marah, coba mulai sekarang kamu panggil aku sayang.... biar mesra kitanya...." kalimatnya sembari memegang daguku dan diangkatnya mengarah pada wajahnya.


"Iya sayang....." sahutku mencoba menurutinya.


"Senyum dong...." ujar dirinya.


Seketika aku tersenyum padanya. Sebuah ciuman pun mendarat pada bibirku malam itu. Ia pun memberiku kode akan mengajakku bercinta.


"Tapi pelan.... kan aku lagi hamil... takut ketuban pecah..." bisikku ditelinganya mengingatkannya.


"He em...." sahutnya sedikit keberatan namun terpaksa ia lakukan demi aku dan bayiku.


Selang beberapa saat kita bercinta, dalam kelelahannya ia berkata.


"Sayang... setelah kamu lahiran nanti, gimana kalo kamu KB dulu aja, biar nggak terlalu repot..." ujar dirinya sembari membelai rambutku manja.


"Aku yang repot, apa kamu yang repot karena nggak bisa melakukan penyerangan dipertempuran kasur? heheheh?" sahutku sembari tertawa menatap wajahnya yang tampak lucu.


"Ih... kog kamu tau maksudku?" ya dua-duanya sih..." sahutnya.


"Iya... tenang aja...nanti aku KB, tapi jangan lama-lama ya... aku kan pingin punya anak banyak sayang...." sahutku manja.


"Iya tapi setidaknya ada jaraklah dua atau tiga tahun..."

__ADS_1


"Iya deh..." ujarku mencoba menuruti.


__ADS_2