Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Mencari kerja


__ADS_3

Beberapa kali aku berpikir untuk berjualan sesuatu tapi tak kunjung menemukan ide. Disamping modalku yang tidaklah banyak, aku pun tak banyak tau seluk beluk tentang Kota Jakarta. Salah-salah seperti awal aku menginjakkan kaki di sini mencoba menjadi tukang asongan pun pada akhirnya harus diusik lantaran tak memahami aturan para penjual setempat. Aku sangat trauma akan hal itu. Sisa jajanan yang aku beli untuk modal jualanku waktu itu pun akhirnya habis kupakai sendiri.


Siang hari terik ini aku mencoba keluar menelusuri jalan, berharap mendapatkan pekerjaan saat ini. Aku bayangkan mungkin ada salah satu rumah makan yang membutuhkan tenagaku. Tak lama berselang aku mendapati salah satu rumah makan yang cukup ramai itu. Aku pun menghela nafas sejenak, dan kuberanikan diri untuk ijin bekerja di sana pada sang pemilik warung.


"Bu, maaf, apa disini masih butuh orang kerja?" tanyaku sopan.


"Oh, udah nggak ada neng, udah ada yang kerja semua, emangnya sapa yang mau kerja? kamu?" tanya dirinya padaku menatapku tajam.


"Iya bu, buat saya". jawabku penuh harap.


"Kamu lagi hamil gitu mana bisa kerja berat, di sini kalo kerja juga berat neng, walopun butuh juga nggak mau nanggung resiko mempekerjakan orang hamil besar kayak kamu" jelasnya sembari pergi meninggalkan diriku yang berdiri di depan pintu warungnya.


"Tapi saya masih kuat kerja kog bu, tolonglah, saya butuh pekerjaan bu, saya mau kog kerja apa aja walau berat sekali pun" seruku pada sang pemilik warung disusul dengan pandangan mata iba dari beberapa pelanggan yang sedang makan atau pun karyawan warung itu yang lain.


Lama aku berdiri di depan pintu tanpa respon, akhirnya aku putuskan untuk pergi dari sana. Kusadari sekarang, dengan perutku yang sudah makin membuncit tak akan mudah bagiku untuk bisa mendapatkan kerja.


Aku buka isi dompetku yang kian menipis, bahkan mungkin aku tak akan bisa membayar kontrakkanku lagi. Sebab kuhitung uangku hanya tinggal cukup untuk makan sampai besok pagi saja.


"Ya Allah... Aku harus gimana... kalau saja aku hanya seorang diri, mungkin tak apa aku bertahan tak makan, tapi bagaimana dengan anak yang ada di perutku ini, dia tak mungkin bisa bertahan lama tanpa makan, hhhhehhh.... desahku sembari menarik nafas panjang. Sabar ya nak.... umi akan berjuang sekuat tenaga untuk kamu, doakan umi agar bisa dapat pekerjaan untuk biaya hidup kita".


Sebisa mungkin aku tahan untuk tidak menitikan air mataku. Telah lelah sudah jika aku harus selalu menangisi hidupku. Bahkan jika aku kebanyakan menangis, tak jarang bayiku bergerak-gerak tak karuan, seolah-olah ia ikut merasakan stres sepertiku. Aku tak mau itu terjadi.

__ADS_1


Lama aku duduk termenung di sebuah kursi taman kota yang cukup ramai lalu lalang orang itu. Aku pun terpikir untuk meminta bantuan Rianti. Kebetulan sore itu ada jadwal kajiyan rutin yang saat ini sering aku ikuti. Sudah kurencanakan untuk membicarakan hal ini pada Rianti, mungkin ia bisa membantu.


"Mudah-mudahan ada rejeki buat kita ya nak, doain umi...." bisiku pada bayiku sembari mengusap lembut perutku dengan senyum tegar.


Waktu Ashar pun segera tiba, bergegas aku menuju masjid tempat aku mengikuti kajiyan sekaligus menunaikan sholat Ashar berjamaah di sana. Perlahan kulangkahkan kakiku ke sana. Beberapa makmum sudah cukup meramaikan masjid itu hendak melaksanakan sholat.


Segera kuambil air wudhu ke ruang wudhu khusus perempuan. Aku basuh bagian tubuhku sesuai dengan tuntunan wudhu, sedikit menyegarkan kulitku yang sedari tadi kering bersisik karena panas matahari yang menyengat. Wajah kusamku pun seketika luntur dengan segarnya air wudhu itu.


Setelah melaksanakan sholat berjamaah di masjid itu, aku pun duduk menepi di sudut masjid sembari menunggu teman-teman kajiyanku. Aku lantunkan beberapa ayat Al-quran menemani waktu aku menunggu saat itu.


"Assalamu'alaikum" sapa seorang teman kajiyan datang satu per satu silih berganti.


"Bunga, Assalamu'alaikum?" sapa Rianti yang tak lama itu pun segera hadir.


"Walaikumsalam Rianti?" jawabku senang dan lega karen memang aku sudah menunggu kehadirannya.


"Rianti, maaf, aku bisa meminta bantuan sesuatu sama kamu?"


"Jangan sungkan, katakanlah, mungkin aku bisa membantu?" jawabnya meyakinkan sembari memegang pundakku.


"Aku butuh pekerjaan ukh, persediaan uangku sudah semakin menipis, aku harus tetap bertahan demi bayiku, belum nanti aku juga butuh untuk biaya persalinanku, aku bingung Rianti, aku sudah mencoba mencari pekerjaan, tapi tak ada yang mau mempekerjakan orang hamil sepertiku, apa kamu bisa membantuku? pekerjaan apa saja aku mau, asal bisa untuk aku makan?" ucapku penuh harap dengan pandangan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sedih sebetulnya mendengar cerita anti, sebaiknya anti pulang ke rumah kembali pada ibu anti, katakan sejujurnya, walau itu akan sangat menyakitkan, tapi setidaknya anti akan bisa merawat bayi anti di sana" ujar Rianti padaku.


"Maaf Rianti, aku belum bisa, aku sangat takut akan melukai hati ibuku. Ibuku yang dulu masih terkula karena kegagalan pernikahanku dengan suamiku yang dulu tak mungkin aku perdengarkan kabar buruk ini. Aku mohon Rianti, mengerti keadaanku". Tangisku pun seketika pecah, namun isakku sebisa mungkin aku tahan agar tak terdengar oleh teman-temanku yang lain.


"Bunga, seandainya suatu saat ada seorang ikhwan yang mau menikahimu, apa kamu mau? tentu ia adalah seorang yang akan mau menerimamu dan merawat anakmu kelak"


"Apa mungkin ada seorang ikhwan yang mau menerima dengan keadaanku seperti ini, masih banyak perempuan di sana yang jauh lebih baik daripada aku ini?" jawabku penuh rasa rendah diri.


"Anti harus tau, tidak semua diantara kita tidak memiliki masa lalu kelam, manusia tempatnya dosa, hanya saja jika ia bersunguh-sungguh mau bertaubat, maka ia akan dipertemukan dengan orang-orang yang bisa mendekatkan dirinya pada Allah Ta'ala. Lihatlah anti sekarang, bukankah perjalanan anti Allah telah tunjukan sampai di sini? itu artinya, anti juga punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Suatu saat pasti anti menemukan calon yang mau menerima diri anti" ujarnya menenangkanku.


"Aku belum terpikir kesana Rianti, bagiku sekarang yang terpenting adalah bisa bertahan hidup dan mencukupi kebutuhanku dan bayiku kelak, soal jodoh aku pasrahkan saja sama Allah"


"InsyaAllah ada jalan, biar Allah yang permudah niatan baik, nanti kalau sudah siap, anti bisa hubungi ana untuk ana salurkan ta'aruf. Soal pekerjaan, nanti ana coba carikan info dengan teman-teman yang lain, siapa tau ada yang bisa membantu, anti coba tenang dan berdoa" ujar dia sembari tersenyum memegang kedua pundakku.


"Termakasih Rianti, maaf aku selalu merepotkan kamu, aku nggak tau lagi harus minta bantuan siapa selain kamu".


"Allah yang telah menakdirkan kita untuk bertemu, Allah juga yang membantumu, mungkin dilewatkan dengan pertemuan kita"


Senyum dan anggukkanku menutup percakapan itu yang kemudian disusul dengan kajiyan yang sudah akan dimulai oleh sang ustad yang baru saja datang.


NB : Anti berarti kamu untuk perempuan, kalau laki-laki di sebut antum, bahasa yang sering digunakan oleh teman-teman kajiyan dan Ana berarti Aku. Kemudian Akhwat artinya para wanita muslim, sedangkan Ikhwan lelaki muslim bagi kalangan muda.

__ADS_1


__ADS_2