Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Dia ingkar


__ADS_3

Seminggu selepas kepulangan Deri, aku pun masih terus chattingan dengannya. Hingga suatu ketika sampai dua minggu berlalu, ia benar-benar tak bisa aku hubungi. Tak ada balasan chattinganku sama sekali, bahkan nomor Hpnya pun tak aktif waktuku telepon. Aku begitu cemas dibuatnya. Firasatku mulai mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan Deri. Rasanya ingin aku susul ia di sana, tapi saat itu tak memungkinkan, sebab aku masih berstatus karyawan di rumah sakit tempat aku bekerja, dan tak semudah itu aku mengambil cuti. Lagi pula jika aku pulang, aku pun belum tau alamat rumah Deri ada dimana. Sungguh gundah hatiku dibuatnya, kulangkahkan ke sana kemari kakiku sembari tanganku yang tak henti memengang gawaiku dan bolak-balik mengecek apakah ada pesan masuk dari Deri


"Hoek...." tiba-tiba perutku sangat mual dan kepalaku pusing sekali. Kutatap semua benda yang berada dalam rumahku ini hampir semua ada dua bayangan yang membuatku semakin berkunang-kunang.


Bergegas aku lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku. Namun tak begitu banyak yang keluar, hanya sebagian air saja. Rasa mual ini terus menerus aku rasakan hingga aku harus berbaring sejenak di atas kasurku untuk menghilangkan pusing kepalaku.


Seketika aku sadar bahwa hampir dua bulan aku tak dapatkan haid. Cemas sekali rasa hatiku, sungguh aku khawatir jika aku benar-benar hamil.


"Bagaimana ini? gimana kalo aku hamil.... plisss jangan" bisikku seorang diri sembari memeluk bantal gulingku dengan erat.


Siang hari selepas aku pulang kerja, kusempatkan pergi ke apotik untuk membeli sebuah testpack. Rasa hati yang penasaran dengan diriku membuat aku harus segera mengetahui hal ini.


Kutampung urinku di sebuah wadah plastik kecil, dan kucelupkan sebatang testpack yang sudah aku beli tadi. Dua garis merah jelas terlihat pada batang testpack itu. Aku yang berdiri lemas jatuh tersungkur ke lantai kamar mandi. Menyesal namun seperti tak berguna, ditambah lagi Deri yang sudah lama tak bisa dihubungi membuat aku semakin cemas tak karuan.


"Ya Allah.... ampuni aku...." gumamku dalam hati yang tanpa terasa meneteskan air mata penyesalan.


"Kring....kring...." tiba-tiba bunyi Hpku terdengar membuatku segera menghapus air mataku dan segera mengambilnya dengan tertatih.


Kulihat nama Deri dilayar ponselku itu memanggil.


"Alhamdulillah" ucapku lega sembari menerima telepon darinya. Ada secercah harapanku padanya, dan ingin segera kukabarkan berita ini padanya.

__ADS_1


"Halo Deri sayang kamu kemana aja? kenapa dari kemaren susah banget dibubungi, apa kamu nggak kangen sama aku?" tanyaku jengkel.


"Ada yang mau aku omongin sama kamu" ujar dia seperti ada sesuatu yang serius ingin ia bicarakan.


"Yah mungkin tentang rencana pernikahan kami" gumamku dalam hati sembari tersenyum kecil penuh harap.


"Aku udah ijin sama orang tuaku tentang pernikahan kita, tapi sayangnya mereka nggak setuju dengan hubungan kita". ujar dirinya padaku yang sesaat membuatku merebahkan tubuhku di atas kasur terasa lemas.


"Jadi?" tanyaku singkat dengan pandangan berkaca-kaca.


"Iya, kita harus melupakan rencana pernikahan kita, tanpa restu orang tuaku, aku nggak bisa" terang dia lagi.


"Tapi Deri, apa kamu nggak bisa perjuangin aku?" pintaku dengan penuh harap.


"Meskipun setelah kamu pernah meniduri aku?" tanyaku yang juga kesal.


"Ngapain kamu bahas itu? harusnya kamu lupain aja, toh kamu sendiri kog yang nyerahin diri sama aku cuma-cuma, jadi ya jangan kamu nuntut aku, lagian status kamu juga janda, nggak ada yang dipermasalahin kan, kecuali kamu perawan!" terang dia sedikit kasar yang membuat aku semakin emosi dan memecahkan tangis aku seketika.


"Kamu gampangan ngasih tubuhmu ke aku, berati kamu juga bakal gampangan kan ngasih ke orang lain juga!" ketus dia lagi yang membuat air mataku mengalir semakin deras tak sanggup lagi mendengarnya.


"Kenapa ucapanmu saat ini sangat beda dengan sewaktu kamu merayuku untuk mau kamu nodai malam itu, kamu yang selalu meniming-imingi aku dengan pernikahan yang ternyata semu, oh... tenyata hanya modus belaka supaya kamu bisa menikmati tubuhku gratis rupanya" gumamku dalam hati tak mampu berkata lagi padanya.

__ADS_1


"Baik, kalo gitu aku nggak akan ganggu kamu lagi, sumpah aku ngerasa terhina!" ujarku ketus sembari menahan isak tangisku.


"Oke, emang harusnya gitu!" ketus Deri sembari mematikan ponselnya.


Tak ada lagi yang bisa aku jelaskan padanya, termasuk tentang kehamilanku. Tangisku terus menerus pecah dalam tiap hariku semenjak itu. Nomor contakku yang diblokir dan nomornya yang tak lagi aktif membuat aku tak berdaya lagi dan tak bisa berbuat apapun.


Penyesalanku tiada henti membuatu hampir putus asa. Kali ini aku benar-benar bingung harus berbuat apa, terpaan kehidupan yang aku hadapi sepertinya jauh lebih berat dari pada sekedar menghadapi perceraianku dengan Bagas dahulu kala.


"Bagaimana kalo ibuku tau, sungguh akan luar biasa sakit hatinya" gumamku ditemani derasnya air mataku yang terus bergulir tiada henti.


Malam hari selepas aku pulang dari kerja, hujan mengguyur begitu kota tempat tinggalku. Aku yang tengah putus asa terus melangkah tak peduli dengan derasnya hujan ditambah dengan desirnya angin yang mengguncang lengkap dengan petir yang melambai-lambai seolah ingin menyambarku.


Aku yang tak peduli dengan itu justru seolah mempersilahkan jika petir itu ingin menyambar tubuhku yang tak berguna ini. Deru langkahku terus tak menyurutnkan untuk berhenti sejenak mencari tempat berteduh. Hatiku yang sungguh terluka terngiang-ngiang akan kalimat Deri yang diucapkan pada telepon tadi pagi.


Runtuh sudah semangat hidupku yang selama ini telah tersusun semenjak kehadiran Deri dalam hidupku. Rencana pernikahan yang selama ini diharapkan kini menjadi khayalan kosong semata.


Aku pun hanya bisa pasrah tak berusaha mengejarnya untuk sekedar menjelaskan atas kehamilanku, sebab bagiku tak ada gunanya mengemis untuk dinikahi oleh orang yang tak bertanggung jawab. Menikah dengan orang yang tak baik, hanya akan menambah masalah kedua dalam hidupku. Jika Deri adalah orang yang tepat, maka ia akan memperjuangkan aku hingga titik darah penghabisan terlebih setelah ia berani meniduriku, bukan malah menghinaku dan merendahkan statusku.


Seketika aku memperoleh sedikit energi untuk kembali meniti kehidupanku yang hampir hancur ini. Ku seka air mataku yang mulai mengering bersamaan dengan berhentinya air hujan. Kuusap perutku yang sejak tadi aku tunjang kasar dengan tangaku dengan penuh amarah.


Aku teringat bahwa aku menginginkan sosok bayi mungil untuk menemaniku dalam hidupku. Yah, sosok malaikat kecil yang selama ini aku impikan dan hanya bisa memandangi dari pasien-pasienku kini akan terwujud. Meski ia akan lahir dalam luka dan tanpa sosok seorang ayah, namun aku harus tetap menyayanginya dengan sepenuh hatiku.

__ADS_1


Malam itu sepertinya aku mulai menyayangi janin yang telah tumbuh dalam rahimku itu. Anggap saja cintaku yang telah hilang dibawa pergi oleh Deri, kini tergantikan oleh kehadirannya.


"Sehat terus ya nak" bisikku sembari mengusap perutku yang semakin hari semakin kian membesar. Hari-hariku yang biasanya terisi oleh kerinduan pada Deri yang mendalam, kini aku isi untuk menguatkan diriku dengan hadirnya sang jabang bayi ini.


__ADS_2