
"Ini aku bawakan beberapa baju ganti, tadi kata pak RT rumah kita lagi fokus di fooging biar nggak menularkan ke warga yang laen, tetangga udah tau kalo Uwais dan Umar dirawat karena DBD, untuk sementara waktu kata pak RT rumah kita dikosongkan dulu..." kalimatku sembari memberinya beberapa helai pakaian yang sudah aku persiapkan tadi buat Deri agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu.
"Oh...Ya udah kalo begitu beberapa hari ini aku akan di sini aja sembari jaga anak-anak..." ucapnya yang baru saja masuk ke dalam ruangan selepas menelepon selingkuhannya itu.
"Abi...Umi...Uwais bosen tidur di kasur terus...Uwais pingin main...." ucap Uwais pada kami.
"Ohh...Uwais kepingin main?? Ya udah yuk kita bermain...?" Sahut Deri yang kemudian membopongnya dari tempat tidur.
Akhirnya aku tatakan hatiku untuk memasang wajah sebahagia mungkin. Kami bersenda gurau untuk menghibur kedua anakku itu melepas kebosanan mereka.
Sesekali aku pun mempertontonkan kemesraan aku dan Deri dihadapan mereka, untuk menambah keharmonisan kami saat itu. Meski hatiku menyimpan kehancuran yang begitu mendalam, namun melihat kedua anakku tertawa bahagia adalah obat dari rasa sedihku kala itu.
Hati mereka yang ceria pun tentu membuat mereka akan lebih cepat lekas sembuh dari sakitnya itu.
****
Tiga hari pun berlalu kedua anakku dirawat, pagi ini dokter menjelaskan bahwa hasil lab kedua anakku sudah kembali normal, itu artinya kami sudah boleh pulang ke rumah.
Aku pun bergegas membereskan perlengkapan kami yang ada di ruangan itu untuk segera aku masukkan ke dalam mobil.
"Sayang....Biar aku bantu bawain barang-barang ke dalam mobil ya...." ucap Deri sembari mengangkat beberapa tas rangsel yang sudah aku persiapkan itu.
"Jangan....Aku pulangnya nanti agak siang, soalnya tunggu cairan infus Umar habis, tanggung tinggal sedikit, kamu langsung ke kantor aja, kan udah beberapa hari nggak kerja, takut dimarah bos loh..." cegahku beralasan supaya dirinya tidak mengetahui isi dalam mobilku yang banyak perlengkapan siap meluncur pulang kampung saat itu juga.
"Memangnya kamu nggak keberatan pulang sendiri bawa Uwais dan Umar? apa nanti nggak kerepotan sayang? Kan kamu nyetir...Nanti Umar sama Uwais sapa yang jagain dong?" tanya Deri cemas.
Tenang aja Der....Aku udah setting mobilnya pake kasur perlengkapan mudik kog,hemmm. Gumamku sembari mengernyitkan dahiku dengan wajah bersungut dengan sedikit mimik mengejek ke arahnya.
"Aku udah kirim pesen sama Neny tetangga sebelah, dia katanya udah dalam perjalanan ke sini mau jenguk Uwais dan Umar, jadi nanti pulang sekalian sama aku..." Jawabku yang tak habis alasan.
__ADS_1
"Oh...Ya sudah kalo begitu, aku berangkat dulu ya... Uwais....Umar...Abi berangkat kerja dulu ya..." Ucapnya sembari memberi kecupan pada kedua anakku itu.
Lihat aja....Setelah ini kamu bakal sibuk mencari keberadaan kami... Suara hatiku terus menggerutu menatap dirinya.
"Sayang aku pamit ya.... Assalamu'alaikum..." Ucapnya sembari mengecup keningku penuh dengan kemesraan palsu.
"Walaikumsalam" Jawabku datar.
Setelah ia keluar dari pintu, aku tarik nafas panjang untuk melegakan hatiku yang sejak kemarin beradu perasaan padanya. Antara sedih juga benci dengan situasi ini.
Bergegas aku masukan ke dalam mobil beberapa perlengkapanku itu. Menyusul dengan Uwais dan Umar yang keduanya aku gendong di depan dan di belakang sekaligus.
Beberapa mata memandang diriku begitu iba. Namun rasa sakitku itulah yang telah menumbuhkan kekuatannku supaya seketika aku menjadi wonder women agar tak banyak mengharapkan bantuan orang lain demi kepergianku saat ini.
Tubuh Uwais yang semakin berat pun sebenarnya tak seimbang dengan bobot tubuhku jika harus menggedong merkea berdua sekaligus.
"Bu...Kenapa suaminya tadi tidak membantu ibu? Dari tadi ibu bolak balik bawa barang, sekarang gendong anak dua begitu?" Tanya salah satu perawat yang sejak kemarin merawat kedua anakku ini saat bertemu kami di lorong rumah sakit itu.
Seraya menggelengkan kepala tanda iba, perawat itu menatapku yang terus berjalan. Tubuhku yang berukuran sedang, mungkin membuat orang berpikir mengapa aku bisa sekuat itu menggendong kedua anakku dari lantai 3 ke lantar dasar dimana aku memakirkan mobilku itu.
Tak ada yang tau bila powerku hadir oleh sebab hatiku yang sedang teramat perih dan berkecambuk saat itu.
Meski dengan keringat yang bercucuran dan nafas yang terengah-engah, akhirnya aku sampai pada mobilku. Segera aku tidurkan kedua anakku ke dalam mobilku.
Sejenak aku atur nafasku terlebih dahulu supaya kekuatanku kembali untuk bisa menyetir. Di depan pelupuk mataku, bayangan sosok Deri dan Lani sungguh menghatui diriku. Bayangan itu terus membuat emosi jiwaku seolah bergemuruh dalam hatiku.
Seketika aku teringat akan alamat kost Lani yang sempat aku baca di gawai Deri kemarin. Bergegas aku menuju ke sana untuk memastikan keberadaan mereka.
Meski yang aku tau Deri mungkin sudah berangkat ke kantor, namun entah mengapa hatiku begitu tergugah ingin pergi ke tempat kost Lani itu sebelum aku melaju ke Lampung.
__ADS_1
Beberapa saat aku melajukan mobilku ke alamat itu, akhirnya sampailah aku tepat di depan pintu gerbang kost yang mungkin milik Lani itu. Benar saja, aku lihat motor Deri terparkir di sana.
Yah, tak salah lagi. Sebelum berangkat ke kantor, mungkin Deri menyempatkan dulu menjenguk Lani.
"Uwais dan Umar anak umi sayang.... Umi minta ijin sebentar ya mau ke kost temen umi dulu.... Kalian jangan kemana-mana ya sebelum umi balik... Umi sebentar aja kog..." ucapku sebelum turun dari mobil.
"Iya Umi..." Jawab Uwais mengangguk setuju.
Setelah aku pastikan kedua anakku dalam keadaan aman, aku siapkan mentalku untuk segera melihat apa yang akan temui di kost itu.
Jantungku terus menderu bagai dipompa dengan kekuatan tercepat selama hidupku. Aku genggam erat jemariku untuk sekedar melepas dinginnya telapak tanganku yang sejujurnya sungguh tak siap dengan apa yang akan aku saksikan nanti.
"Eh mbak ini istrinya Pak Deri kan?" tanya salah seorang wanita yang kemungkinan rekan kerja Deri itu
"Iya..." sahutku singkat.
"Mau nyusul Pak Deri ya? Itu dari pagi juga udah di sini..." ucapnya yang tampak tengah bersiap akan berangkat ke kantornya.
"Apa Deri sering ke sini?" tanyaku penasaran.
"Iya...Dia memang sering menjenguk adiknya yang namanya Lani itu... Katanya sih kuliah di sini..." ujar dirinya sembari melangkah hendak bekerja itu.
Huft....Subanalloh....Sejak kapan adik Deri berubah nama jadi Lani.... Sejak kapan adiknya kuliah di Jakarta... Deri...Deri... Sebegitukah dirimu menyimpan kebohongan????. Gumamku dengan netra yang menatap nanar dan kosong. Beberapa kali aku menghela nafas panjang seolah tidak percaya bahwa banyak sekali kebohongan yang telah Deri lakukan itu.
"Mbak....?"
"Mbak....???!" serunya padaku yang terlihat melamun itu.
"Oh....Iya..." sahutku gugup.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya..." ucapnya sembari berlalu.
"Iya..." sahutku yang kemudian aku lanjutkan langkahku perlahan ke arah kamar Lani yang telah ditunjukkan oleh wanita tadi.