
Kepulangan Deri kembali ke kampung halaman tidak begitu disambut gembira oleh keluarganya. Sebab, harapan dari keluarganya Deri tetaplah bekerja di perantauan, supaya bisa terus membantu perekonomian keluarganya yang tak terlalu mapan itu.
Namun tekad Deri ingin sekali membangun usaha di kampungnya tak bisa disurutkan oleh keluarganya itu. Dengan modal uang pesangon yang lumayan banyak, ia telah merencanakan sebuah usaha yang akan ia kembangkan untuk menggantikan pekerjaanya yang dulu sebagai karyawan.
Belum lama ia di rumah, ia mendengar kabar mantar pacarnya dulu yang bernama Lani hingga kini belum melangsungkan pernikahan. Kabar ini sontak membuat Deri ingin mencoba mendekatinya kembali, mengingat sisa cintanya bersamanya dari dulu belum pernah luntur, meksi pernah menjalin cinta dengan Bunga.
Bunga yang berparas cukup cantik bagi Deri, namun statusnya seorang janda itu, ternyata hanya dimanfaatkan oleh Deri sebagai pemuas hawa nafsu sesaat. Usia Deri yang sudah cukup dewasa dan matang untuk menikah, membuat terkadang hasrat dirinya tak tertahankan terhadap wanita. Karena itulah bertemu dengan sosok Bunga saat di Kota Bandung membuat Deri khilaf padanya.
Tepat di hari Minggu pagi, Deri menyempatkan mencoba menemui Lani ke rumahnya, dengan harapan ia bisa mengetahui kabar dirinya yang sampai saat ini belum jadi menikah dengan sosok pria selingkuhannya dulu semasa berpacaran dengan Deri.
"Tok-tok" sebuah ketukan tangan Deri mengawali kedatangan ke rumah Lani.
Tak lama tampak seorang Lani membuka pintu rumahnya itu.
"Krek"
"Assalamu'alaikum?" ucap Deri menyapa Lani ramah dengan penuh senyuman semringah.
"Walaikumsalam" jawab Lani yang terkejut melihat kedatangan sosok Deri ke rumahnya.
"Kamu ngapain ke sini?" sontak tutur Lani dengan nada jutek.
Sifat dasar Lani memang sedari dulu jutek, meski dulu saat masih nerpacaran sikapnya sering jutek pada Deri, entah mengapa Deri seperti budak cinta padanya. Sifatnya yang sedikit egois dan gampang berubah mood itu tak menyurutkan kasih sayang Deri pada Lani dahulu.
__ADS_1
Bahkan ia telah merencanakan untuk menikahinya. Meski beberapa syarat dilontarkan Lani pada Deri yang membuat Deri agak keberatan, namun hal itu tak kunjung membuat ia memperjuangkan Lani sampai titik darah penghabisan. Bagi Deri, Lani adalah segalanya, sangat susah untuk melupakannya, sebab hampir separuh jiwanya ada bersamanya. Ia berteman sejak SD, dan menjalin hubungan pacaran sejak SMP hingga ia bekerja di Kota Bandung, meski beberapa kali putus nyambung.
"Aku pingin tau kabar kamu aja,emang nggak boleh ya?" jawab Deri mencoba mencairkan suasana dengan Lani.
"Ya udah masuk" ujar Lani masih dengan nada juteknya.
Lalu tanpa disuruh pun Deri duduk di kursi berhadapan dengan Lani. Lani masih dengan tatapan sinis, meski beberapa kali Deri melempar semyuman padanya. Tak ada obrolan ramah antara mereka, Lani hanya diam seolah tak menghiraukan Deri saat itu. Ia selalu mencoba membuang muka saat Deri beberapa kali menatap wajahnya.
"Kog kamu masih jutek aja sama aku?" tanya Deri ngeledek.
Lani tak bergeming dengan kedua tanganya yang mendekap pada perutnya. Sikap dingin Lani sebetulnya juga membuat kedua orang tua Deri tak merestui hubungan Deri dengannya. Namun, kedua orang tua Deri tak ingin andil banyak untuk menghalangi hubungan mereka, mereka hanya ingin kebahagiaan Deri terkait pasangan. Meski dalam hati ibunya Deri, selalu menolak jika Deri mengutarakan niat untuk menikahinya.
"Kamu ngapain ke sini sih?" tanya Lani lagi jutek.
"Ya nggak papa sih, kamu kan belum jadi nikah? boleh misal kita balikan lagi kayak dulu, aku pingin banget nikah sama kamu?" ujar Deri merayu.
"Aku bisa duluin nikah sama kamu, persyaratan apa aja aku bakalan turutin kamu kog, aku udah punya modal buat nyenengin kamu, beliin mahar yang kamu pinta, sama pernikahan mewah ala Cinderella kayak yang kamu mau." ujar Deri meyakinkan.
"Kamu itu dari dulu egois, aku nggak suka sifat kamu, apalagi keluarga kamu nggak suka sama aku" tutur Lani.
"Aku udah berubah sekarang, kita perbaiki semuanya bareng-bareng lagi, kamu percaya aku udah nggak kayak dulu lagi." ujar Deri memohon.
"Aku nggak mau, aku udah nggak cinta lagi sama kamu, lagian papahku juga nggak suka sama kamu."
__ADS_1
Yah, sejak dulu keluarga Lani pun sebetulnya tidak menyetujui hubungannya dengan Deri, sebab Deri bukanlah berasal dari keturunan keluarga kaya seperti harapan mereka. Namun entah mengapa, meski begitu banyak rintangan itu, Deri tetap menginginkan Lani sebagai pendamping hidupnya, meski paras wajahnya tak jauh lebih cantik dari Bunga,baik dari segi fisik, maupun perangai.
"Oh...ada Deri? ada apa ke sini?" tanya ayah Lani yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua.
"Eh bapak? apa kabar?" sapa Deri sembari mengulurkan tangannya untuk bersalman, namun tak disambut oleh sang Ayah Lani.
"Lani sudah punya pilihan, dia mau nikah bulan depan, lagian kamu ngapain di sini? bukannya kamu tinggal di perantauan sana?" tanya Ayah Lani ketus.
"Iya pak, saya sudah resign dari tempat kerja"
"Lah terus ngapain kamu di sini pengangguran dong? mau jadi CPNS nggak diterima, sekarang malah mau nganggur?"
"Enggak pak, InsyaAllah saya mau buka usaha aja di sini".
"Hahaha, anak kayak kamu mau usaha apaan? emang punya bakat kamu? nggak gampang jadi pengusaha. Sudah kamu jangan nganggu Lani, masa depan kamu nggak bagus, aku nggak akan pernah setuju kamu dengan Lani, lagian dia sudah ada calon yang lebih mapan dan sudah punya rumah sendiri, bukan kayak kamu"
Perkataan Ayah Lani sontak membuat wajah Deri merah padam pertanda menahan amarah. Deri yang tersinggung tanpa basa basi spontan meninggalkan rumah Lani. Tatapan Lani sinis seolah puas dengan diperlakukannya Deri oleh ayahnya itu.
Deri yang merasa terhina, kini benar-benar membuka mata, ia pun memutuskan untuk tak lagi berharap pada Lani. Ia pun teringat dengan kedua orang tuanya yang pun tak merestui hubungan mereka, terutama ibunya. Oleh sebab itu kini Deri benar-benar berjanji akan melupakan Lani selamanya.
Sore hari setelah pertemuan dengan Lani, ia pergi ke sebuah bukit yang tak jauh dari rumahnya. Ia memandangi sebuah pemandangan gunung yang indah menjulang mendekati langit yang biru tampak cerah berpelangi saat itu. Ia duduk termenung di sudut bukit ini menepi seorang diri. Mencoba membangkitkan diri dari keterpurukan tentang Lani.
"Lani....Lani...shitt!!!"
__ADS_1
Deri tampak geram menggengamkan kepalannya penuh dengan emosi. Sesaat setelah itu ia pun beranjak dari duduknya. Mencoba meniti kehidupannya setelah ini dan akan segera memulai bisnis yang sudah lama ia rencanakan.
Keesokkan harinya, ia mulai menyiapkan perlengkapan usahanya. Deri telah merencanakan usaha pengasapan lele yang akan di kemas dan didistribusikan di kota sekitar tempat tinggalnya itu. Harapannya ia akan bisa sukses merintis usaha itu, mengingat di daerahnya merupakan salah satu penghasil lele terbesar di kotanya.