Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Jagoan Lagi


__ADS_3

Hari ini jadwal kontrol kehamilanku, dengan usia kehamilan yang semakin besar membuat jadwalku periksaku semakin intens.


Seperti biasa Deri selalu menemaniku saat aku pergi ke dokter. Kebahagiaan selalu menyelimuti rumah tangga kami. Kasih sayang Deri padaku seakan-akan bertubi-tubi menutupi segala kekurangannya yang pernah ia lakukan.


"Hmmm leganya bisa nemenin istriku periksa kehamilan.... nggak kayak dulu, kamu ditemenin periksa malah marah-marah...." ujarnya ketika mengemudikan mobil hendak mengantarku periksa sembari tertawa kecil.


"Iya kan dulu kita belom nikah, kamu sih lancang masuk-masuk nggak permisi.... huft..." sahutku tersipu malu.


"Heheheh iya.... Alhamdulillah sekarang kita bisa nikah.... dan aku akan selalu nemenin istriku yang terrrrrcinta ini saat periksa dan melahirkan nanti secara halal...." kalimatnya menggombal dan penuh semangat.


Aku hanya tersenyum dan meliriknya.


Tak lama kami pun sampai di rumah sakit tempat seperti biasa aku periksa. Selama mengantri, ia selalu menggenggam tanganku. Kemanapun aku melangkah,ia selalu mendampingiku. Uwais pun tetap dalam gendongannya tak luput dari perhatiannya, meski beberapa kali rewel karena lelah mengantri.


Saatnya tiba kini aku di USG oleh dokter. Tampak jenis kelamin bayiku adalah laki-laki.


"Bayinya cowok lagi ini pak...." ujar dokter sembari menunjuk ke layar USG.


"Yah... cowok lagi... padahal saya kira perempuan loh dok...." sahut suamiku itu.


"Biarin dong sayang... kan kita jadi punya 2 jagoan, cewek cowok kan sama aja, Allah yang kasih...." sahutku mencoba tetap bersyukur.


"Iya... yang penting sehat...." sahutnya lagi.


Selesai dari dokter, kami pun mampir ke sebuah toko perlengkapan bayi untuk membeli beberapa pakaian bayi dan persiapan kelahiran lainnya.


"Bahagianya anak kita yang kedua.... Semasa hamil kedua orang tuanya saling menjaga... kehidupan ekonominya tercukupi... Nggak seperti Uwasi waktu itu..." kalimatku sembari membelai rambutnya yang tengah tidur di atas kereta bayinya.


Netraku berkaca-kaca menatap wajah polosnya. Teringat saat dulu aku mengandungnya sangat memimpikan bisa berbelanja perlengkapan bayi seperti ini namun tak kesampaian.


"Sudahlah sayang.... jangan diingat lagi... yang terpenting sekarang masa depan Uwais tetap kita jaga berikan yang terbaik.... setiap anak memang meiliki jatah rejeki yang berbeda...." kalimat suamiku menenagkanku.


"He em.... BTW... kita mau kasih nama siapa ya sayang?" tanyaku sembari memilih beberapa pakaian bayiku.

__ADS_1


"Emmm.... siapa ya? kamu ada ide?" tanya suamiku sedikit bingung.


"Aku pingin sekarang gantian kamu yang kasih nama, dulu kan Uwais udah aku yang kasih nama..." sahutku lagi.


"Oh ya... Gimana kalo Umar? Umar Salahudin Al ayubi... iyah... itu nama yang aku pingin... gimana? kamu suka?" ujar suamiku semangat.


"Iya... aku suka nama itu, biar anak kita tangguh kayak Umar bin Khatab" sahutku penuh harap.


"Aamiin..."


Tak lama lama dari itu kami pun kembali ke rumah.


****


Dua bulan hari penantian persalinan berlalu. Pukul 02.00 WIB dini hari aku merasakan perutku begitu mules karena kontraksi. Deri yang tengah tertidur pulas di sampingku segera aku bangunkan untuk mengantarku periksa ke rumah sakit.


"Sayang.... bangun... perutku mules kontraksi.... kayaknya mau lahiran... ayo sayang anter aku ke rumah sakit...!" seruanku memekik suasana malam itu.


Seketika beberapa perlengkapan bayi yang sudah aku persiapkan di masukkannya ke dalam mobil beserta beberapa pakaianku. Uwais yang tengah tertidur pun akhirnya harus pindah posisi tidur di dalam mobil demi bisa ikut bersama kita.


Empat jam setelah aku berjibaku dengan kontraksiku, akhirnya lahirlah anak kami yang kedua itu. Sang Umar dengan wajah tak kalah tampan dengan Uwais. Aku dan Deri pun menyambut gembira atas kedatangannya ke dunia.


Beberapa kalimat syukur pun terlontar dari mulutku maupun Deri kala itu. Tangisannya yang sungguh memecahkan ruangan pagi itu membuat dirinya tampak begitu sehat tanpa ada masalah sedikit pun.


Sedikit kerepotanku, sebab ketika masih memperkenalkan ASI pada Umar, aku pun masih harus menyusui Uwais yang saat itu memang belum aku sapih sebab usianya belum genap 2 tahun.


Deri terus membantuku dan menyemangatiku agar aku tak merasa lelah dengan kondisi itu. Perhatian Deri pun membuatku selalu semangat, meski orang yang melihat, terlihat sungguh merepotkan.


Semakin lama aku rasakan, tangisan kedua bayiku ini justru membahagiakanku. Dua buah hati penyemangat hidupku kini telah menambah suasana rumah tanggaku semakin harmonis.


Sesaat setelah kelahiran Umar, tak lupa kami memberi kabar gembira itu pada keluarga kami di kampung. Orang tua Deri pun tak sabar ingin segera datang ke rumahku melihat cucunya yang baru saja lahir itu.


Sementara ibuku masih di Kalimantan menjenguk adik perempuanku yang juga baru saja melahirkan.

__ADS_1


Setelah beberapa hari kondisiku dinyatakan sehat pasca melahirkan, aku pun kembali ke rumah. Baik Deri maupun aku pun mulai sibuk menyiapkan kedatangan ibu dan bapak mertuaku nanti.


Hingga suatu sore saat Deri tengah pulang dari kerjanya.


"Sayang.... kenapa kamu tidur di kursi?" tanya dirinya terkejut melihatku tidur dalam posisi duduk di kursi.


"Hoam.... Ohh... Ya Allah... aku kog bisa ketiduran di sini ya..." ujarku panik dan masih sangat mengantuk itu.


"Oh... mungkin kamu kelelahan ya sayang..." ujar suamiku sembari memapahku ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur.


Betapa tidak, semenjak kehadiran Umar, malam hariku hanya bisa tidur sekitar satu jam, selebihnya terbangun untuk menyusui Umar dan beberapa kali menggantikan popoknya. Belum lama Umar tertidur, Uwais menangis ingin juga disusui. Seperti itu kegiatan malamku, hingga pagi menjelang.


Siang tadi aku bermaksud membuatkan makanan untuk suamiku tercinta. Namun tenryata aku kelelahan dan akhirnya tertidur di ruang tamu.


Deri yang sore itu pulang dalam keadaan lapar pun harus kecewa sebab ketika ia buka tudung saji tak ada makanan di sana.


Akhirnya dia pergi membeli makan di luar sekaligus membelinya untukku karena dia tau aku pun belum sempat makan.


"Sayang...Gimana kalo nanti mamak tinggal di sini sementara waktu... nanti bisa bantu kamu ngerawat Uwais dan Umar... biar kamu nggak terlalu kerepotan?" tanya Deri padaku sembari menyantap makanan yang baru saja ia beli.


"Iya juga sih.... tapi memangnya si mamak nggak keberatan? bagaimana jika nanti mamak bapak cuma sayang sama Umar? mereka kan cuma taunya Uwais anak adopsi?" pikirku sedikit cemas.


"Nanti biar aku yang atur sayang... kita liat aja nanti" sahutnya sembari menunggu telepon dari orang tuanya itu yang sebentar lagi akan sampai dan minta jemput itu.


"Ya udah kalo gitu... tapi habis ini aku bantuin masak dong sayang.... nanti kalo orang tua kita dateng nggak ada makanan gimana?" ajakku merayu.


"Memangnya kamu nggak capek? kalo kamu masih ngantuk, kamu istirahat aja dulu sayang..." sahutnya padaku.


"Ya masih ngantuk banget, tapi gimana?" ujarku bimbang.


"Udah kamu tenang aja, nanti pas jemput mereka aku sekalian mampir beli makan aja di luar, biar kita nggak repot-repot masak... kamu bisa fokus sama Uwais dan Umar" kalimatnya sembari mengecupku.


Aku pun begitu lega. Sosok suami seperti Deri memang sungguh terlalu menyenangkan bagiku.

__ADS_1


__ADS_2