Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Akhirnya Deri menemukan Bunga


__ADS_3

"Woi, bangun ***!!" seru Ferdi yang baru saja bangun tidur dan berusaha membangunkan Deri yang sedang lelap di sofa.


"Hehh???" desah Deri yang masih lesu dengan mata yang sedikit mulai terbuka.


"Sarapan dulu, udah siang juga malahan, yah sarapan rapel makan siang ini mah..." ajak Ferdi mengarah ke meja makan yang di sana telah disiapkan beberapa makanan oleh istrinya.


Setelah mencuci muka Deri pun bergegas menghampiri Ferdi di meja makan untuk makan bersama. Di sana obrolan pun mulai dilanjutkan.


"Der, elo coba cari informasi Bunga di FB kek, IG ato medsos-medsos laen lah, kali aja dia aktif dan bisa elo lacak keberadaannya" tutur Ferdi seraya mengunyah makanan di mulutnya.


"Iya juga ya, kenapa nggak dari dulu gua coba kepoin FBnya ya??" ujar Deri sembari menyaut gawainya yang berada di sebelahnya sembari sarapan.


"Yaelah...kuota gua abis ***!!!" seruh Deri yang mendapati pulsa kuotanya abis merasa kecewa.


"Beli sono, itu di pertigaan pojok banyak counter pulsa berjejer, elu tinggal pilih sono mau beli yang mana" ujar Ferdi menjelaskan.


"Oke, abis ini gua keluar beli pulsa" dengan lahap Deri menghabiskan makanannya tanpa tersisa. Kemudian ia beranjak dari tempak duduknya dan bergegas ke luar rumah Ferdi.


Dengan berjalan kaki, ia menyusuri jalan lewat pinggir trotoar. Matanya yang melirak-lirik sisi jalan memperhatikan dimana letak lokasi yang akan di tuju.


Seketika langkahnya terhenti pada sebuah counter mini tepat di sudut perempatan jalan yang telah ia susuri itu. Dengan semangat ia bergegas menemui sang pelayan counter yang tampak dari jauh mengenakan gamis dan jilbab biru lebar nyaris menutupi sekujur tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.


"Mbak, beli voucer kuota Four 10 Giga mbak?" sapa Deri yang tengah memperhatikan sang pelayan counter yang saat itu sedang sibuk merapikan barang di dalam etalase terlihat menunduk fokus.


"Iya mas, tunggu sebentar ya...silahkan..." dengan suara melemah dan kaget Bunga mendapati bahwa pembeli tersebut adalah Deri.


"Bunga???" Alhamdulillah...akhirnya ketemu juga, aku cari-cari kamu kemana-kemana ternyata kamu ada di sini sekarang?" ujar Deri penuh girang sekaligus terkejut.


"Oh iya mas ini voucernya, harganya 50 ribu, silahkan" dengan nada datar Bunga menyodorkan sebuah kartu voucer pada Deri sembari kembali melanjutkan aktivitasnya, pura-pura menulis pembukuan agar bisa selalu tertunduk dan tak mau tau akan kehadiran Deri.


"Bunga??? kamu beneran Bunga kan??" tanya Deri kembali yang tak mau menerima voucer yang telah di sodorkan oleh Bunga.


Deg, Ya Allah....ngapain sih orang ini??? kenapa dia tiba-tiba bisa datang ke sini?? Ya Allah kenapa hamba kau pertemukan lagi dengannya... tolonglah diri hamba... lindungi diri hamba Ya Allah... Guman Bunga yang terus menulis seolah tak mau memperhatikan Deri.


"Oya mas udah aku kasih kan kuotanya, silahkan di bayar dulu, maaf saya sedang sibuk tidak bisa melayani mengobrol selain masalah pulsa" Bunga menutup bukunya lalu pergi ke belakang untuk menghindari Deri.

__ADS_1


Seketika Deri meraih lengan tangannya dari depan etalase dimana ia sedang berdiri. Na'as gerak Bunga terlambat, Deri terlebih dahulu menyambar tangan Bunga meskin terhalang kaca etalase.


"Bunga....pliss... tolong jangan menghindar, aku mau ngomong sebentar...aku mohon?" pinta Deri memelas.


"Maaf mas, saya nggak kenal anda, saya bukan Bunga yang anda maksud, tolong jangan ganggu saya karena saya harus bekerja!!" ujar Bunga yang meronta mencoba melepaskan genggaman tangan Deri.


"Bunga...kamu itu Bunga yang aku cari-cari.... aku tau kamu sangat membenci aku makanya kamu pura-pura udah nggak kenal aku kan?? Bunga pliss.... aku mau ngomong sebentar aja, aku minta maaf kalo aku salah sama kamu, tapi tolong kasih kesempatan aku bicara sebentar aja??" ujar Deri memohon dan berusaha untuk tidak melepaskan tangan Bunga yang terus meronta.


"Tolong lepaskan tangan saya, tolong hargai saya, kamu bukan mahram aku, nggak seharusnya kamu pegang-pegang tangan aku, atau aku akan teriak minta tolong dan menuduhmu penjahat!!" kalimat Bunga terlihat mengancam dan seketika Deri melepaskan genggaman tangannya.


"Maaf Bunga... iya maaf... seharusnya aku paham kalo sekarang kamu udah berubah... kamu hijrah sekarang... tambah cantik" ujar Deri merayu sembari memperhatikan tubuh Bunga dengan mata yang tak berkedip.


"Huft...." desah bunga menarik nafas panjang yang merasa lelah karena sejak tadi dikeluarkan untuk melepas genggaman Deri.


Tanpa sadar, tampak Bunga membusungkan dadanya karena terasa sesak. Seketika Deri pun terperangah melihat perut Bunga yang membuncit.


"Bunga, kamu hamil???" tanya Deri terkejut namun sedikit kegirangan.


"Iya, aku udah nikah, tuh suamiku dateng, makanya kamu jangan ganggu aku lagi!" ketus Bunga yang menunjuk pada mobil Kak Arif yang baru saja berhenti di depan counter seperti biasa untuk mengecek pekerjaan Bunga.


Tak lama Kak Arif pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju ruang counter dan menyapa Bunga.


"Walaikumsalam" jawab Bunga ramah.


"Ya udah Bunga, aku pamit dulu" dengan perasaan kecewa Deri pun berlalu setelah beberapa kali memperhatikan Kak Arif dengan seksama. Ia kembali ke rumah Ferdi.


"Siapa dia Bunga?" tanya Kak Arif sedikit heran.


"Oh...itu teman SMP aku, kebetulan dia kerja di sini, nggak sengaja tadi beli pulsa di sini dan akhirnya ngobrol" jawab Bunga beralasan.


"Oh... " ujar Kak Arif singkat sembari memperhatikan sebuah kartu voucer yang tertinggal di atas etalase.


Bunga yang menyadari kalau voucer yang akan dibeli oleh Deri tadi masih tertinggal, maka segera ia ambil dan meletakkan kembali ke dalam etalase, supaya Kak Arif tidak banyak tanya lagi. Tak lama berselang, Kak Arif pun pergi buru-buru karena akan mengecek ke counter cabang sebab ia ditelepon karyawannya mengabarkan jika ada masalah.


Bunga tampak pucat dan cemas mengingat Deri yang ada di sini.

__ADS_1


"Waduh...kira-kira dia bakal tau nggak ya kalo aku boong soal Kak Arif adalah suamiku... tapi aku rasa dia percaya, soalnya tadi begitu Kak Arif dateng dia langsung pulang" gumam Bunga sembari meremas jemarinya cemas.


Sesampainya Deri di Rumah Ferdi, ia pun menceritakan kembali kejadian bertemu dengan Bunga pada Ferdi.


"***, gua ketemu Bunga ***!!" seru Deri yang baru saja masuk ke dalam pintu.


"Oya?? trus...trus.. gimana?" tanya Ferdi penasaran.


"Dia sekarang udah hijrah... pake hijab lebar... tambah cantik... tapi sayang.... huft!" ujar deri yang kemudian merebahkan tubuhnya di sofa.


"Tapi sayang kenapa? belom selesai cerita udah keok duluan lo!" ujar Ferdi mengejek.


"Dia udah nikah Fer... dan sekarang lagi hamil gede... kayaknya bentar lagi mbrojol tuh... gue telat.." tutur Deri melemah.


"Ya udah, baguslah, kalo gitu kan elo nggak susah-susah mikirin dia toh, itu artinya dia sekarang udah bahagia kan?"


"Ehmmm tapi entar deh, kog kayak ada yang janggal ya?" pikir Deri memegang dagunya mencoba menganalisa.


"Janggal gimana sih maksud loe?" timpal Ferdi yang sembari mengetik pekerjaannya di hadapan labtop.


"Iya kan dia hamilnya udah gede banget gitu, trus kapan nikahnya coba?? trus waktu gua ke rumahnya di Lampung kemaren masak iya ibunya nggak ngejelasin ke aku kalo dia udah nikah, apa iya ibunya nggak tau?? dia juga nggak mudik lebaran kemaren ngapain coba?? ibunya malah bilang dia pelatihan, kan aneh?? lagian, secepat itukah dia move on sama gua?? waktu gua putusin dulu aja dia sedih banget ampe keisek tangisannya".


"Kalo dia waktu itu langsung nikah sih mungkin sekarang bisa hamil segede itu, tapi apa iya dia nggak proses move on dulu dari gue?? setau gue dia tuh cinta banget sama gue, kayaknya nggak mungkin deh dia bisa nikah secepat itu??" ujar Deri kembali berpikir.


"Emang tadi elo ketemu dia dimana?" tanya Ferdi.


"Dia kerja di counter pas gue mau beli pulsa, gua kaget ternyata dia yang layanin, tapi nggak lama itu suaminya dateng bawa mobil, katanya sih yang punya counter itu juga... yah... kalah saing sih gua... eit... tapi kalo tampang masih menang gue ding, hahahah!"


"Halah, hare gene cewek mah butuh modal brow... bukan tampang, emang tampang bikin kenyang?? gua yang dulu ganteng aja sekarang nggak ada guna kalo dompet kosong, ngomel-ngomel deh bini gua!" ujar Ferdi.


"Gua masih penasaran banget sama Bunga Fer" ujar Deri mondar-mandir dan berpikir.


"Ya udah elo temuin aja lagi besok,tanyain sedetail-detailnya,kalo perlu culik dia, hahahah!"


"Iya...iya... gue ntar bakal ke sana lagi buat mastiin".

__ADS_1


"Jangan entar, habis ini elo temenin gue ke rumah sakit, gue mau cek up, jadi elo besok aja ketemu Bunga lagi" ujar Ferdi mengajaknya ke rumah sakit menemani kontrol luka bekas operasi mata ikan seminggu yang lalu.


"Okelah kalo begitu" ujar Deri yang sungkan menolak Ferdi.


__ADS_2