Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Menahan Hasrat


__ADS_3

Selepas Magribh aku dan Deri telah sampai kembali di Jakarta. Kami langsung menuju rumah Ferdi untuk mengambil Uwais di sana.


Tangis haru pecah saat aku merangkul tubuhnya yang mungil. Rasa rindu dan bersalahku karena tak bisa menyusuinya langsung selama dua malam kemarin.


Tubuhnya yang mulai menggeliat sembari perlahan membuka matanya dari lelap tidurnya, spontan membuatku segera pergi ke dalam kamar untuk menyusuinya.


Tak beda dengan Deri, ia pun terus mengikutiku dan menciumi pipi Uwais saat aku sedang menyusuinya. Seketika aku menyingkapkan bajuku yang sedikit terbuka akibat menyusui. Rasa risihku saat dirinya mendekati Uwais bersamaan dekat dengan tubuhku itu membuatku sangat gugup.


Meski aku sudah resmi menjadi istrinya, tentu aku masih merasa canggung untuk memperlihatkan auratku padanya.


Melihatku yang tengah gugup, ia pun segera mengindar dariku. Raut wajahnya tampak kecewa. Terbayang sudah perasaannya yang mungkin ingin ikut membelai Uwais disaat sedang menyusui, layaknya pasangan suami istri dalam merawat anaknya.


Tak lama dari itu kami pun pulang ke rumah kontrakkan. Di dalam rumah pun kami masih merasa sangat canggung dan lebih banyak terdiam.


Tak lupa aku pun menyiapkan kamar tersendiri untuk Deri. Dia pun sepertinya sudah paham dan segera memasuki kamar yang baru saja aku siapkan untuknya.


Hampir setiap pagi kini Deri menyiapkan makanan untukku sebelum ia berangkat kerja. Tugasnya merangkap sebagai bapak rumah tangga dan pencari nafkah. Sementara aku dibiarkan fokus merawat Uwais.


"Sayang... sarapan dulu...Aku siapkan masakan spesial buat kamu...." seru Deri dari ruang makan.


Tak lama aku pun menghampirinya di meja makan. Dengan perasaan gengsi, aku mulai menyantap masakannya.


"Enak nggak?" tanya dirinya penasaran.


"Nggak! kurang gurih...." jawabku mencela. Padahal yang aku rasakan di lidahku masakan itu begitu lezat melebihi masakanku.


"Oh.. ya udah besok aku perbaiki...." ujar dirinya sembari tersenyum padaku.


Aku hanya diam tak bergeming.

__ADS_1


"Ya udah, aku berangkat dulu ya... jangan lupa kamu makan yang banyak, biar air susu untuk Uwais banyak....Assalamu'alaikum?" kalimatnya sembari pergi meninggalkan aku dan Uwais.


"Walaikumsalam" jawabku datar.


Melihat dirinya sudah pergi, tak lengah aku menghabiskan masakan itu dengan begitu lahap.


Sore harinya, Deri pun pulang disaat aku dan Uwais masih terlelap tidur di kamar.


"Assalamu'alaikum?" sapa Deri namun aku tak menjawab salamnya karena sedang terlelap.


Perlahan ia masuk ke dalam rumah dan mengintip aku dan Uwais di dalam kamar. Seketika ia pergi ke ruang makan bermaksud mengisi perutnya yang sejak tadi sudah keroncongan.


Dibukanya tudung saji di atas meja makan itu. Spontan matanya terbelahak mendapati masakkan yang tadi pagi ia buat hanya tersisa bekasnya saja di sebuah mangkuk. Padahal yang ia tau, tadi pagi aku tampak tak terlalu suka menyantap makanan itu.


Tak lama kemudian aku pun terbangun dari tidurku. Segera aku keluar kamarku dan mendapati Deri sedang duduk melamun di di depan meja makan dengan raut wajah kecewa. Namun melihatku datang ia segera melontarkan senyum padaku.


"Udah bangun ya?" sapa dirinya sembari tersenyum.


"Mau makan tapi sayurnya abis... hehehe" sahutnya dan seketika pipiku memerah menahan malu.


"Oh... tadi aku kelaparan, entah kenapa Uwais nyusunya kenceng banget sampe bikin aku kelaperan, jadi apa yang ada di meja terpaksa aku makan semua" jawabku beralasan.


Deri hanya menatapku dengan senyuman, seolah ia tau kalau aku sedanglah berbohong, tapi dia memilih untuk diam.


"Baiklah, aku buatkan nasi goreng sebentar buat kamu" kalimatku mencoba mengelabuhi agar aku tak terlalu malu.


"Alhamdulillah.... Udah lama aku nggak ngrasain masakkan kamu yang enak..."


Tanpa basa basi aku mulai menggoreng nasi untuknya. Setelah matang, aku sugukan di hadapan dirinya.

__ADS_1


"Makasih istriku sayang...." ujar dirinya dengan senyum merekah penuh girang.


"Jangan kamu anggap karena aku melayanimu ya, itu aku buatkan buat gantiin masakkan kamu yang aku habisin tadi, ngerti?" sahutku ketus dan berlalu kembali ke kamar.


"Nasi gorengnya enak banget.... hmmmm" sahutnya yang aku tau pasti dia hanya ingin memujiku, sebab tadi aku sempat mencicipinya dan rasanya biasa saja menurutku.


Hari demi hari kami lalui dengan sikapku yang masih dingin. Namun Deri masih sama, tetap sabar menghadapiku.


Suatu malam ini aku terbangun dari tidurku karena merasa sangat haus. Segera aku pergi ke dapur untuk mengambil minum di sana. Aku yang mengenakan pakaian serba mini itu tak menyadari bahwa Deri juga sedang berada di dapur untuk mengambil minum.


Spontan aku terkejut dan sangat malu melihatnya dirinya yang menatapku tengah mengenakan pakaian mini tanpa hijab yang seperti biasanya aku pakai sehari-hari itu. Selama menikah, mungkin baru kali ini ia melihatku dengan pakaian seperti itu, sebab waktu malam pertama kita menikah pun aku tidur mengenakan hijabku dengannya, karena masih canggung untuk memperlihatkan auratku padanya.


"Deri....!" seruku sembari berusaha menutupi tubuhku dengan kedua tanganku.


Namun tampak Deri tersenyum dan terus menatapku seolah akan menerkamku seketika.


"Kamu jangan kurang ajar ya... Ngapain kamu liat aku kayak gitu?" tanyaku ketus menahan malu.


"Harusnya aku yang tanya, memangnya suaminya sendiri nggak boleh mandangi istrinya heheheh?" ucapnya dengan sedikit tawa.


Seketika aku ingin berlari ke kembali ke dalam kamar. Namun Deri segera menyambar tubuhku dalam dekapannya. Aku yang meronta ingin berteriak melihat wajahnya semakin mendekati wajahku dan hampir menempel. Aku sangat panik saat itu, aku tak sanggup jika aku harus melayaninya saat itu juga.


"Kumohon Deri jangan lupakan perjanjian kita.... Atau aku akan pergi meninggalkan kamu dan membawa Uwais pergi dari hadapanmu..." ucapku sembari memejamkan mata karena menganggap Deri akan segera menerkamku.


Seketika ia melepaskan tubuhku dari cengkramannya dan menghela nafas panjang. Raut wajahnya tampak begitu kecewa. Aku bisa merasakan gejolak jiwanya yang sangat ingin diberikan layanan dariku, namun ia tahan sekeras mungkin.


"Ya udah sana kamu tidur lagi.... Kalo kamu memang belum siap melayani aku, jangan sampe kamu tampakkan lagi wajah cantikmu dihadapanku, apalagi dengan pakaian seksi begitu... sumpah aku nggak kuat...." kalimatnya sembari masuk ke dalam kamar meninggalkan aku dengan kepalan tanggannya yang terus ia hantamkan dari tangan kiri ke tangan kanan.


Maafkan aku suamiku.... Gumamku dalam hati yang tak lama juga kembali ke dalam kamar dan membaringkan tubuhku di atas kasurku. Semenjak itu aku tak bisa tidur dan terus terbayang wajah Deri. Ada sedikit rasa bersalahku padanya.Rasa takutpun mulai merebah pada hatiku malam itu. Apakah aku akan dilaknat atas sikapku ini.... Gumamku yang membuatku gusar dan membolak-balikkan badanku berusaha tidur namun tak bisa.

__ADS_1


Sementara dalam kamarnya, Deri hanya mampu memelukku dalam khayalannya. Membayangkan mencumbuiku di setiap lekuk bentuk tubuhku dalam angan-angannya. Dalam batinnya mungkin tersiksa, tapi rasa sayangnya terhadapku membuat ia tak mampu mengeluhkan hal ini.


__ADS_2