Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Deri dipecat


__ADS_3

Hai Readers setiaku, sebelum aku lanjut ceritaku, sedikit akan aku bocorkan gambaran para tokoh yang ada di novelku ini ya, biar kalian bisa membayangkan wajah mereka saat membaca, hehehe....


Simak berikut ini :



Ini gambaran wajah Bunga ya guys..☺☺



Penampakan wajah Deri


Dan berikut ini Sang Uwais Alqarni



Dan berikutnya si Umar🤗



Nah, kali ini si Baby Shanum



Ini nih, wajah sang pelakor kita... Lani



Berikut ini sahabat Deri, si Ferdi yang arogan tapi baik hati guys...



Selanjutnya ini si ibu Bunga



Terus, yang dibawah ini adalah wajah emak mertua Bunga yang menjengkelkan...😁



Nah, kalau yang berikut ini si bapak mertua



Dan yang terakhir, gambaran wajah Arif..😁

__ADS_1



Bagaimana guys?? Pasti cekikikan😅


Baik, mari kita simak kisah selanjutnya.


--------------------------------------------


"Bluk" suara Deri yang menjatuhkan tas kerjanya di atas sofa ruang tamu milik Ferdi. Dengan wajahnya yang lusuh pun seketika terduduk di samping tasnya itu.


"Tumben lo jam segini udah pulang?" sapa Ferdi yang sedang memainkan labtopnya.


"Gue dipecat Fer....Huft..."ucap Deri dengan nada melemah.


"Hah?? Serius??" tanya Ferdi dengan wajah terkejut.


"Semenjak gua ada masalah sama Bunga, gua sering nggak konsen di kerjaan...Yah....Gini deh jadinya..." kalimatnya sembari memjamkan matanya sejenak untuk melepas penatnya.


"Sory brow kali ini gua udah mentok nggak bisa bantu elo lagi buat cari kerjaan..." ucap Ferdi yang tampak memikirkan sesuatu.


"Nggak papa Fer, gua habis ini kayaknya balik kampung aja..."


"Mau deketin Bunga lagi??" Tanya Ferdi penasaran.


"Belum tau, gua nggak yakin apa dia masih mau lagi sama gua, tapi yang terpenting buat gua sih bisa sering-sering jenguk anak-anak..."


"Iyah... Gua ngerti... apalagi dengan kondisi gua sekarang, udah nggak memungkinkan lagi sama dia... Gua ngerasa nggak pantes lagi sama dia....Hiks..." ucap Deri dengan nada sedikit terisak.


"Aahhh apaan sih lo...Cemen banget!!! Mewek???Hahahah..." ujar Ferdi meledek, namun sesungguhnya ia pun sedang menyembunyikan kesedihannya atas apa yang terjadi akan sahabatnya itu.


"Terserah elo lah... Mau ketawa kek, mau bully gua ampe kenyang sono....!!" kalimatnya sembari meninggalkan Ferdi melangkah ke dalam kamar.


"Assalamu'alaikum Uwais....??" sapa Deri yang kemudian menelepon kami lewat aplikasi video call seperti biasa.


"Walaikumsalam...Abi... Dedek udah lahir bi... Dedek cantik banget... Umi kasih nama dedek Shanum...!!" teriak Uwais memberi kabar gembira itu pada Deri dengan ceria.


"Alhamdulliah... Mana umi sama dedeknya? Abi pingin lihat..." kalimat Deri sedikit terkejut namun disambut dengan perasaan bahagia.


"Ini bi..." suara Uwais yang mulai mengarahkan gawaiku ke arahku dan bayiku dalam dekapanku.


Aku tatap layar kaca itu dengan senyuman datar padanya. Seketika aku arahkan wajah bayiku pada kamera gawaiku supaya terlihat jelas oleh Deri.


Wajah Deri tampak berkaca-kaca menatap anak ketiganya itu. Tampak ia menutup mulutnya yang terisak dengan satu tangannya.


"Assalamu'alaikum nak... Kamu cantik sekali... Mirip sama umimu...." kalimatnya dengan nada lemah dan sedikit bergetar.

__ADS_1


"Bagimana keadaanmu Bunga?? Kapan anak kamu lahiran? Bukankah semalam kita masih video call?" tanya dirinya penasaran.


"Dini hari tadi..." jawabku singkat yang tak mau menampakkan wajahku di layar itu.


"Di mana kamu lahiran? Kenapa sekarang sudah ada di rumah?" tanya Deri yang sungguh penasaran dan cemas.


Aku hanya terdiam tak mau menjawab pertanyaannya itu.


"Umi lahiran sendiri di rumah bi...!" sahut Uwais yang kemudian mengarahkan gawaiku ke arah wajahnya.


"Astaghfirulloh... Bunga..." ucapnya dengan nada yang kembali terisak menahan rasa sedih yang teramat dalam.


Seketika Deri mematikan percakapan itu. Ia ambil kopernya yang berada di sudut ruang kamarnya itu dan memasukan beberapa pakaiannya ke dalam koper itu. Bergegas ia melangkah ke luar kamar dan berpamitan pada Ferdi.


"Gua balik ke Lampung dulu Fer...!" pamitnya dengan nada tergesa-gesa.


"Serius?? Buru-buru amat??" tanya Ferdi penasaran dengan raut wajah yang tampak salah satu alisnya berkerut.


"Bunga udah lahiran, dan dia lahiran sendiri tanpa bantuan...." ucapnya setengah menyesali dirinya.


"Astaga....!!!" Seru Ferdi terkejut mendengar kabar itu.


"Turut prihatin Der..." ucap Ferdi sembari memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Hiks...Hiks... Gua memang laki-laki nggak berguna Fer....Harusnya gua pantes lenyap dari muka bumi... Gua nggak bisa jagain istri dan anak-anak gua saat situasi genting itu... Gua nggak kebayang sampe Bunga lahiran sendiri... Ini pasti gara-gara nggak ada orang yang selalu berada di sampingnya yang itu harusnya gua...." ujar Deri dengan nada suara serak-serak basar karena menahan isakan tangisnya yang mulai pecah seketika.


Kepalan jemari tangannya ia genggam kuat dan ditonjokkan ke arah dinding ruang tamu itu seolah menggambarkan dirinya yang penuh penyesalan tiada arti dan tak berdaya itu.


"Buk...Buk..."pukulan genggaman tangan Deri beberapa kali terus menghujam dinding rumah milik Ferdi itu.


"Sudah...Sudah... Ini semua sudah terjadi... Jangan ada yang disesali lagi.... Elo jangan larut sama keterpurukan... Fokus sama kehidupan elo selanjutnya... Kalo elo melemah, elo nggak akan berhasil menafkahi anak-anak elo dengan baik" Kalimat Ferdi seraya menepuk pundak Deri mencoba menenangkan hatinya yang sedang berkecambuk.


Seketika Deri terduduk di atas lantai dengan bersandar pada dinding. Masih dengan isaknya tangisnya penuh penyesalan. Wajahnya memerah menahan luka batinnya yang tiada henti berperang melawan rasa sedih yang menggerogoti tubuhnya.


"Yuk... Gua anter elo ke Lampung, sekalian gua mau jenguk bokap nyokap gua..." kalimat Ferdi sembari membantu tubuh Deri agar terbangun.


Beberapa saat ia bersiap-siap membereskan perlengkapannya menuju pulang kampung itu. Setelah berpamit pada istrinya, kemudian mereka mulai melakukan perjalanan menuju Lampung menggunakan mobil milik Ferdi itu.


Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Ferdi mencoba menghibur Deri yang terus bersedih. Keusilan dan kekonyolannya terkadang membuat Deri pun akhirnya harus tersenyum sejenak melupakan kesedihannya, meski sesaat ia mulai teringat kembali akan masalahnya.


Semalaman mereka melakukan perjalanan, akhirnya pada tepat pada fajar menyingsing mereka sampai di depan pintu gerbang rumahku.


"Assalamu'alaikum" ucap Deri mengetuk pintu rumahku dengan wajah yang masih tampak lesu.


"Walaikumsalam" sahutku yang sudah menduga bahwa itu Deri dari suaranya yang aku kenal.

__ADS_1


"Umi... Itu kan suara abi...." seketika Uwais berlari menuju pintu ruang tamu.


"Abi....Abi...!!!" teriak berlari Uwais sembari loncat kegirangan.


__ADS_2