
"Bu... Itu beberapa pasien yang di rawat di sini mengeluh aroma nggak sedap...". Kata perawatku mengabariku yang baru saja datang ke rumah sakit untuk mengecek kondisi di sana.
"Apa itu dari ruangan Pasien Lani?". Tanyaku yang sudah menebak.
Sang perawat hanya mengangguk tanpa kata. Sepertinya dirinya pun mulai jengah untuk merawat Lani. Bau busuk bercampur amis itu sungguh mengganggu indera penciuman para perawat jaga. Hal ini juga yang membuat mereka enggan mendekat untuk memberikan perawatan pada Lani.
"Begini saja, sekarang pindahkan dia ke ruang isolasi yang ada di pojok supaya aromanya tidak tercium ke area pasien yang lain...". Ujarku memberi saran.
Netranya menatapku tajam dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Kalau begitu sekarang bantu aku memindahkan dia, kalau kalian keberatan merawatnya, biar aku saja... Kalian cukup memantau perkembangannya saja, biar aku yang membersihkan membersihkan dirinya setiap hari....". Ujarku agar mereka tidak cemas terhadap pekerjaan yang memberatkan mereka itu.
"Baik bu...". Ucap dirinya yang kemudian bergegas memanggil teman-temannya untuk membantu memindahkan Lani ke ruang isolasi yang tertutup.
Seusai dipindahkan, aku pun bergegas menuju ruangan untuk merawat bagian tubuh Lani yang terserang kanker itu. Nafasku sedikit aku tahan untuk menjaga agar aromanya tak terlalu tercium pada hidungku.
Wajahnya tampak canggung kala aku bersihkan bagian organ intim miliknya itu. Dia merasa bahwa aku menahan jijik saat tengah merawatnya.
"Maaf Bunga... aku merepotkanmu...". Ucap dirinya dengan nada lemah.
"Sudah... Kamu jangan memikirkan itu, yang terpenting sekarang bagimu adalah memikirkan kesembuhanmu...". Jelas diriku dengan ramah.
"Tapi... Apakah mungkin aku bisa sembuh dengan kondisi seperti ini?? Dan aku tau diriku sangat bau... Terbukti cuma kamu yang mau mendekatiku selama ini... Perawat yang lain tidak ada...".
"Ini tugasku... Sudah sepantasnya aku merawatmu dengan baik... Masalah kamu sembuh atau tidak,itu sudah takdir Tuhan... Berdoalah... Jika Allah berkehendak, maka tak ada yang tak mungkin".
"Mulia sekali hatimu Bunga... Mengapa kamu begitu baik pada orang yang sudah melukai hatimu??".
"Allah maha penyayang pada setiap umat yang apapun kesalahannya, maka dari itulah aku belajar menyayangimu meski kamu pernah berbuat salah padaku...". Kalimatku seraya meninggalkan dirinya yang telah selesai aku berikan perawatan.
Baru saja langkahku ke luar ruangan itu, gawaiku bergetar tanda ada yang menelepon. Jantungku selalu berdegup kencang manakala ada suara ponselku ini berbunyi, sebab aku begitu khawatir jika Bagas akan menerorku lagi.
Aku tatap layar kaca di ponselku dengan seksama. Lagi-lagi sebuah nomor baru muncul di layar. Namun kali ini nomor yang lain, bukan nomor yang beberapa hari yang lalu digunakan oleh Bagas. Hatiku bertanya-tanya siapakah yang menelponku kali ini. Dengan hati meragu dan tangan bergetar, terpaksa akhirnya aku angkat telepon itu.
"Hallo...?". Sapaku dengan sedikit gugup.
"Assalamu'alaikum Bunga...?". Sapa seseorang laki-laki yang menelponku itu dan sedikit melegakan hatiku, sebab suaranya bukanlah suara Bagas.
__ADS_1
"Walaikumsalam... Siapa ya?". Sahutku yang sedikit lupa dengan suaranya.
"Aku Ferdi... Masak lupa?".
"Oh... Iya maaf... Tadinya mau nebak itu tapi takut salah.... Oh iya apa kabar? Tumben telepon ada apa?". Tanyaku penasaran dan dalam hati mencoba menebak apakah dirinya akan membawa kabar berita dari Deri.
"Deri kecelakaan di Malaysia.... Jatuh dari lantai 2 pas bersiin jendela gedung dan terluka parah....". Kalimatnya yang seketika membuatku terkejut.
"Astaghfirulloh...". Sahutku seraya menutup mulutku dengan tanganku kiriku. "Mengapa dia bisa di Malaysia??".
"Dulu dia memintaku untuk bantu menyalurkan jadi TKI... Maaf aku nggak kasih kabar ke kamu... Karena Deri yang melarangku...".
"Lalu sekarang bagaimana kondisinya??". Tanyaku begitu cemas.
"Nah itu yang ingin aku bicarakan... Kondisi Deri sekarang lumpuh total, Kaki dan tangannya patah. Beberapa tulang rusuknya juga remuk, sampe sekarang dia juga belum sadarkan diri. Pihak KBRI nggak mau nanggung buat mulangin dia ke tanah air karena waktu itu dia berangkat secara ilegal biar bisa cepet prosesnya. Biaya pemulangan lumayan besar, aku nggak tau Deri punya tabungan hasil kerjanya apa enggak karena dia nggak bisa diajak bicara... Kamu bisa bantu?". Kalimatnya menjelaskan padaku yang aku dengarkan secara seksama dengan deraian air mata yang tak terbendung.
"Pulangkan Deri dengan segera... Semua biaya biar aku yang menanggung...". Ucapku dengan nada terisak.
"Baik, nanti aku kirimkan nomor rekeningku lewat pesan...".
"Baik... Aku tunggu kedatangan Deri... Jaga dia baik-baik... Hiks...".
"Hiya... Aamiin....". Nadaku mulai melemas.
"Aku pamit dulu... Nanti aku kabari berita selanjutnya... Assalamu'alaikum?".
"Walaikumsalam... Hiks... Hiks...".
Seketika tangisku pecah. Lututku mulai bergetar dan melemah hingga tak mampu lagi menopang tubuhku untuk berdiri. Aku pun tersungkur di lantai depan ruangan isolasi itu. Nafasku sesak dan tubuhku melemas.
Rasa cemasku berkecambuk terbayang akan sosok Deri yang sedang menahan sakit dan terluka parah itu.
Selamatkan Deri ya Allah.... Selamatkan Deri... Selamatkan ayah dari anak-anakku itu... Bisik doaku dalam isak tangisku.
"Bu... Ada telepon dari klinik Baby Spa... Pasien senam hamil sudah menunggu untuk jadwal senam hari ini...". Ujar seorang perawatku yang mengingatkanku untuk mengisi kelas ibu hamil yang merupakan salah satu pelayanan yang aku sediakan di klinikku itu.
Segera aku bangkit dari tubuhku yang tersungkur. Perlahan aku berdiri sambil kedua tanganku menopang di dinding. Aku seka air mataku yang mengalir agar para perawat tak tau jika aku sedang menangis.
__ADS_1
Tak lama itu aku pun melangkahkan kakiku dengan cepat untuk mengalihkan pandangan para perawat yang sedang sibuk melayani pasien.
"Aku pamit dulu.... Assalamu'alaikum...". Ucapku yang terus melangkah ke arah halaman parkir.
"Walaikumsalam...". Jawab sang perawat yang memberi kabarku tadi.
Dalam perjalanan aku mencoba menenangkan diriku agar hatiku tak kacau sebab akan bertemu banyak pasien yang akan aku bimbing senam hamil sesaat lagi. Sesekali aku menghela nafas panjang dan mengatur iramanya agar tak terlihat seperti sedang menahan gundah gulana.
*****
Sudah dua malam mataku tak dapat terpejam akibat terus memikirkan keadaan Deri. Beberapa kali aku mencoba menghubungi Ferdi namun nomornya tidak pernah aktif. Mungkin karena dia sedang berada di luar negeri yang menyebabkan jaringan sedikit terganggu untuk bisa terhubung.
Tiada doa yang terlepas aku panjatkan untuk mantan suamiku yang masih sangat aku cintai itu dalam setiap sholatku.
"Umi kenapa?? Koga matanya seperti habis nangis semalaman?". Tanya Uwais saat kami tengah sarapan pagi.
"Umi nggak papa nak... Mata umi memang sedikit sakit... Oh iya... Insya Allah sebentar lagi abi pulang loh...". Kataku membuyarkan pikiran mereka agar tak banyak tanya tentang tangisanku.
"Beneran umi?? Alhamdulillah... Asik....". Ucap mereka bertiga secara serempak dengan riang gembira.
"Doakan abi agar selamat sampai datang ke sini ya... ". Kalimatku dengan senyum melihat kebahagiaan mereka, meski harus menyembunyikan dukaku.
"Memangnya abi sekarang dimana um?". Tanya Umar yang tak kalah seru.
"Umi juga belum tau... Tapi mungkin sekarang sedang perjalanan... Kita doakan saja ya semoga cepat sampai dan kita bisa berkumpul lagi...".
"Iya umi...". Sahut mereka yang kemudian bergegas menyelesaikan sarapannya dan masuk ke dalam mobil untuk aku antarkan mereka ke sekolah.
Wajah mereka begitu sumringah menantikan kedatangan ayah kandungnya yang sudah teramat lama dirindukan oleh mereka, terutama Uwais. Kebahagiaan terpancar dari tingkahnya yang sejak dalam perjalanan selalu bersenda gurau.
Beberapa saat kemudian gawaiku pun berbunyi. Seketika aku pinggirkan mobilku sejenak untuk menerima telepon itu yang aku yakin dari Ferdi.
Yah benar, nomor Ferdi muncul di layar kaca. Aku pun bergegas menekan tombol penerima.
"Assalamu'alaikum Ferdi... Gimana Kabar Deri??". Sapaku yang sudah tidak sabar untuk segera mendengar kabar Deri.
"Walaikumsalam... Alhamdulillah aku sudah sampe Jakarta, keadaan Deri masih belum sadar. Masih ada rangkaian operasi yang harus dilakukan untuk penyembuhan...".
__ADS_1
"Kalau begitu lakukan yang terbaik Fer... Cari rumah sakit yang fasilitasnya paling lengkap. Aku segera menyusul ke Jakarta sekarang...!". Tukasku dengan sigap.
"Baik... Aku tunggu...". Kalimatnya mengakhiri teleoponnya.