Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Lani Pasienku


__ADS_3

"Shanum.... Shanum....!". Seruanku memanggil putri bungsuku yang kini telah berusia genap 7 tahun dan sudah duduk di bangku SD kelas 1.


"Ada apa umi?". Sahutnya dengan lembut.


"Ini umi belikan kerudung baru buat kamu, supaya Shanum bisa pakai gonta ganti...". Ucapku seraya menyodorkan sebuah kantong berisikan beberapa kerudung baru yang baru saja aku belikan untuknya.


"Wah... Bagus sekali umi.... Shanum suka banget...". Ujarnya dengan senyum merekah.


"Sekarang kerudung Shanum udah banyak, jadi nggak boleh lagi alasan nggak mau pakai kerudungnya ya sayang?". Nasehatku seraya mengusap keningnya dengan lembut.


"Iya umi... Makasih umi.... Shanum sayang sama umi...". Ujarnya sembari memelukku hangat dan penuh manja. Seketika aku pun membalas pelukkannya dengan penuh kehangatan.


Shanum kini telah tumbuh menjadi gadis cantik nan mungil. Perangainya begitu lembut dengan siapapun, meski sedikit manja. Kedua kakaknya pun teramat menyayanginya. Tak jarang kedua kakaknya selalu membantu tugas-tugas sekolahnya.


Hafalan Al-qur'annya pun tak mau kalah dengan kedua kakaknya itu. Setelah kedua kakaknya lulus hafalan 30 juz, mereka berdualah yang kini membimbing adik kesayangannya itu. Hal ini tentu meringankan bebanku dalam memberikan bimbingan padanya.


"Kring...Kring...". Tiba-tiba gawaiku berbunyi. Segera aku mengambilnya dan aku lihat ada telepon dari seorang karyawanku di rumah sakit.


"Assalamu'alaikum?". Sapa dirinya.


"Walaikumsalam, iya ada apa?". Sahutku dengan santai.


"Ibu bisa kesini sekarang? Kami kedatangan pasien yang sebetulnya keadaanya sudah sangat parah dan seharusnya dirujuk, tapi dia meminta tolong pada kami untuk tetap merawatnya karena terbentur biaya...". Jelasnya padaku.


"Baik, saya segera ke sana". Jawabku yang segera melangkah menuju lokasi mengendarai mobilku. Shanum yang saat itu di rumah sendiri karena kedua kakaknya belum pulang dari sekolahnya pun turut serta bersamaku.


Tak lama berselang sampailah aku di sana. Bergegas aku menuju ruangan UGD dimana pasien berada.


"Deg". Jantungku berdegup terkejut melihat bahwa sosok pasien yang terbaring itu rupanya adalah Lani.


Kudekati dirinya yang tengah terbaring lemah. Seketika aku telan salivaku yang melihat kondisinya begitu memburuk. wajahnya tampak dua kali lipat lebih tua dibandingkan umurnya seharusnya. Aroma anyir tercium dari balik selimut yang menutupi separuh tubuhnya bagian bawah. Perlahan aku mendekatinya, aku singkap sedikit selimutnya untuk memastikan rasa penasaranku dengan apa yang sudah ia derita itu.


"Kamu mau apa? Kamu karyawan di sini? Jangan sentuh aku!". Ucap dirinya yang terkejut melihat keberadaanku. Aku pun mengurungkan niatku untuk memeriksa keadaannya itu.


"Baik, saya akan pergi...". Ujarku dengan santai yang seketika melangkah menuju ruangan perawat jaga.


"Ibu sudah periksa keadaanya?". Tanya salah seorang perawat karyawanku.


"Belum... Dia tidak mau...".


"Kog aneh, kenapa tidak mau...?". Tanya dirinya penasaran.


"Entahlah... Memangnya dia sakit apa?". Tanyaku dengan menggerakkan kedua bahuku ke atas.

__ADS_1


"Menurut ceritanya dia pasca operasi mioma, dari hasil lab ada mengarah tumor keganasan, sang dokter sudah mengarahkan untuk operasi histerektomi (pengangkatan rahim), tapi si ibu menolak. Dia khawatir kalau rahimnya diangkat dirinya tidak akan bisa memiliki kesempatan punya anak, karena sampai saat ini dia belum juga punya anak. Tak disangka kini malah terjadi Prolaps Uteri (Rahim terbalik keluar dari jalan lahir)."


"Subanalloh.... Saya paham, pasti karena indikasi kanker yang sudah menjalar, akibatnya dinding otot rahimnya pun rusak dan terjadi Prolaps. Coba kamu beri dia edukasi bahwa ini tidak bisa kita tangani di sini, harus di rujuk ke tempat yang peralatannya lebih lengkap". Ujarku menjelaskan dengan tegas.


"Sudah kami edukasikan, tapi dirinya kekeh mau di sini karena kebentur biaya...". Ujar perawatku itu.


"Kau coba kembali edukasikan sampai dia paham, karena ini beresiko kematian... Memangnya keluarganya kemana?"


"Dia tadi datang seorang diri diantar seorang laki-laki entah itu siapa, tapi dia hanya mengantar setelah itu pergi".


"Ya sudah, kamu temui si pasien lagi sekarang...". Ucapku dengan tegas.


"Baik bu..".


Seketika perawat itu melangkah ke ruang dimana Lani terbaring.


"Bu, maaf, dari pihak direktur tidak bisa menerima ibu untuk dirawat di sini, karena kondisi ibu yang tidak memungkinkan, terlalu beresiko bu...". Ucap sang perawat dengan halus.


"Saya mohon suster, katakan pada direktur rumah sakit ini untuk mau menerima saya di sini...". Kalimatnya dengan lemah memohon.


"Tadi beliau sudah kemari, mengapa ibu tidak bicara langsung?"


"Apa?? Jadi Buuung...Eh.. Maaf Bu Bunga itu direktur di sini?". Tanya dirinya dengan gugup.


"Betul, Ibu Bunga adalah direktur sekaligus pemilik rumah sakit ini...". Terangnya dengan lugas.


"Suster... Tolong panggil Ibu Bunga kemari... Saya mau bicara...". Perkataannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Tak lama kemudian aku melangkah mendekatinya seperti permintaannya.


Aku berdiri di hadapannya menatapnya dengan senyuman tipis. Aku berusaha memasang mimik wajahku jauh dari perasaanku yang begitu benci terhadapnya.


"Bunga... Maafkan aku... Aku tau mungkin aku sangat tidak pantas kamu maafkan... Tapi aku mohon maafkan aku.... Kini Tuhan sudah membalas perbuatanku...". Ucapnya dengan lirih.


"Aku sudah lama memaafkanmu...". Jawabku yang sesaat menghela nafas panjang.


"Aku mohon ijinkan aku di rawat di sini... Keluargaku bangkrut terlilit hutang, sementara suamiku kini sudah punya istri lagi karena dia pingin punya keturunan, sedangkan aku sudah tidak mungkin lagi ada harapan hamil...". Ujar dirinya menjelaskan dengan bibirnya yang mulai bergetar.


"Fasilitas di sini tidak lengkap, apa kamu sanggup menanggung resikonya?"


"Biarkan aku di sini sampai mati... Aku sudah tidak punya siapa pun yang bisa aku andalkan untuk merawatku...". Kalimatnya dengan raut wajahnya yang memucat.


Seketika dirinya pun merintih menahan kesakitan di sekitar area jalan lahirnya itu. Bibirnya tampak meringis dan matanya merem melek menggambarkan sakit yang luar biasa.

__ADS_1


Shanum yang sejak tadi mengekor di belakangku memelukku erat menahan takut.


"Siapa gadis kecil yang cantik ini Bunga?". Tanya Lani yang mulai memperhatikan Shanum dengan penuh penasaran.


"Dia anakku...". Sahutku sembari membalas pelukkan Shanum.


"Anakmu? Cantik sekali... Mirip sekali denganmu...". Ucapnya seraya terus memandangi putriku itu. Aku pun mencoba mengarahkan Shanum untuk mendekat padanya dan menyapanya.


"Ucapkan salam sama tante nak...". Bisikku pada Shanum.


Netranya melihatku dan mengangguk tanda setuju.


"Assalamu'alaikum tante, namaku Shanum...". Ucapnya dengan nada manja dan mengulurkan tangannya pada Lani.


"Walaikumsalam...". Sahut Lani dan membalas sambutan tangganya kemudian ia membelai pipi Shanum dengan lembut.


"Apa kamu sudah menikah lagi Bunga?". Tanya dirinya penasaran.


"Belum... Selepas bercerai dengan Deri aku tak pernah menikah lagi...". Jawabku dengan santai.


"Lantas.... Dia??". Tanya dirinya dengan raut wajah tampak begitu terkejut.


"Iya... Dia putri bungsu Deri... Aku hamil saat proses perceraian berlangsung...".


"Ya Allah... Ampuni aku.... Hiks...Hiks...". Nadanya dengan isak tangisnya.


Shanum hanya menatapnya tanpa mengerti apa arti percakapan antara aku dan Lani itu.


"Shanum maen sama mbak-mbak perawat dulu di sana ya... Umi mau periksa tantenya dulu...". Ucapku dengan lembut menyuruhnya agar menjauh dari aku dan Lani.


Ia pun mematuhi perintahku dan segera melangkah meninggalkan kami berdua.


Tak lama itu aku segera menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuh Lani itu dengan pelan.


"Astaghfirulloh.....". Ucapku terkejut seraya menutup mulutku dengan kedua tanganku. Mataku terbelangak tajam ke arah organ intim Lani itu.


"Tuhan sedang menghukum aku Bunga.... Hiks...". Kalimatnya lirih dan terisak.


Aku perhatikan dengan seksama bagian rahim yang menjulur keluar itu. Sebagian sudah membusuk dan menimbulkan bau yang begitu menyengat. Air dengan tekstur kental pun mengalir dari bagian itu perlahan dan mengotori bagian bawah bokong Lani.


Sunguh miris dan sesak di dadaku menyaksikan ini. Betapa sesungguhnya aku tak pernah sekalipun mendoakan keburukkan terhadapnya, meski aku begitu menahan sakitku atas perbuatannya padaku dahulu.


Hari ini Allah mentakdirkanku untuk menyaksikan pembalasan ini. Pembalasan yang sesungguhnya membuat aku tak tega menyaksikannya. Aku pun berucap mendoakan kesembuhan atas dirinya.

__ADS_1


Naluriku sebagai wanita tentu tak sanggup melihat dirinya begitu tersiksa begini. Hukuman tidak memiliki keturunan sebetulnya sudah membuat hati setiap wanita teriris, namun kini ditambah lagi harus menyaksikan keburukan dari bentuk organ kebanggaan wanita ini yang sudah tidak lagi berfungsi lagi tentunya.


Di hadapannya aku bertekad merawatnya dengan sepenuh hatiku dan semampuku. Mungkin akan banyak biaya yang akan aku keluarkan untuk hal ini. Meski tak begitu yakin akan berhasil karena melihat keadaannya, namun aku yakin aku sanggup memberinya perawatan dengan baik. Termasuk dana yang akan aku butuhkan selama merawat dirinya.


__ADS_2