
"Bunga.....Sayang....!!!" seruan Deri yang menatapku terjatuh ke tepi sawah. Spontan ia mengangkat tubuhku dan disanggah oleh badannya untuk menopangku berdiri. Ia tepuk-tepuk pipiku dengan lembut. Sesaat aku pun mulai tersadar dan membuka mataku sedikit demi sedikit.
"Kamu kenapa sayang???" ucap Deri cemas dan mendekap tubuhku.
Aku yang mulai tersadar, dan seketika mendorong tubuhnya agar tak lagi berkesempatan memelukku. Mataku yang masih berkunang-kunang membuatku sedikit berasa melayang. Hampir setiap objek aku lihat berbayang. Kupegang kepalaku yang masih terasa pusing itu. Sekuat tenaga aku coba untuk memulihkan rasa itu.
"Bunga.... Aku antar kamu ke dokter ya... Mungkin kamu sakit..." ucap Deri padaku yang langsung memapahku naik ke atas motor?
"Aku bisa sendiri.. !!" segera aku tepis dirinya dan aku coba menaik ke atas motor sendiri.
"Kamu kuat kan sayang??? Tolong pegang pinggangku... Aku khawatir kalo kamu jatuh..." Ujar Deri sebelum menyalahkan motor.
Meski rasa hati berat sekali, aku mencoba mendekap pinggangnya dengan tanganku. Kepalaku yang terasa pusing memang mengkhawatirkan bila aku akan terjatuh saat motor melaju nanti. Yah, mau tak mau aku menuruti keinginannya saat ini.
Perlahan ia melajukan motornya ke arah klinik terdekat.
Sesampainya di klinik itu, dia berusaha memapahku untuk masuk ke dalam klinik. Namun aku tolak, dan aku berusaha jalan sendiri tanpa bantuan dirinya.
"Apa yang ibu keluhkan?" tanya seorang dokter di klinik itu.
"Akhir-akhir ini saya sering pusing dok... Kadang-kadang mual, pandanganku berkunang-kunang...." Jawabku yang masih sedikit merasakan mual pada perutku.
"Mungkin ibu kelelahan, bisa juga karena stres, atau juga HB ibu rendah, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk itu" Ujar sang dokter menjelaskan.
"Tadi dia sempat pingsan dok...." ucap Deri yang duduk di sampingku.
"Oh... Iya, maaf apakah ibu sebelumnya terlambat haid?" tanya dokter lagi.
Glek. Seketika aku menelan ludah.
Ya Allah....Kenapa aku sampai lupa kalau bulan ini aku sama sekali nggak haid... Apa jangan-jangan aku hamil.... Gumamku yang terkejut dengan pertanyaan dokter itu. Aku yang baru saat itu menyadari bahwa aku terlambat haid, sebab pikiranku selama ini hanya terpaku pada masalahku yang berat ini.
"Iiiya dok saya bulan ini belum datang bulan... Tapi saya KB pil dok..." ucapku sedikit gugup dan penuh rasa cemas.
"Ya... mungkin saja ibu ada jadwal yang lupa diminum??" tanya dokter mengorek penjelasanku.
__ADS_1
Seketika aku tersadar, beberapa minggu yang lalu aku lupa jadwal minum pil sebab teramat sibuk mengurus kedua anakku.
"Saya juga lupa dok... Tapi saya yakin saya nggak hamil..." ujarku mengelak dan menyesali diriku mengapa harus ke klinik saat itu.
Wajah Deri tampak semringah mendengar penjelasan dokter. Sorot matanya berharap bahwa aku memang benar hamil.
Bodohnya aku.... Andai aku ingat kalau aku belum haid, pasti aku bisa tespack sendiri, dan Deri nggak perlu tau keadaanku...Huft... Gumamku yang terus menyesal.
"Baik bu, mari kita lakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk lebih meyakinkan" ujar dokter mempersilhakan aku masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Sebuah urine aku tampung dalam sebuah cawan yang kemudian aku serahkan pada petugas lab untuk dilakukan pemeriksaan.
Beberapa menit kami harus menunggu untuk melihat hasil itu. Kami pun duduk di depan ruangan pemeriksaan. Meski beberapa kali Deri mencoba mendekat, namun aku terus berusaha menjauh agar tak duduk berjejer dengannya.
"Ibu Bunga... Hasil labnya sudah keluar, silahkan masuk ke ruangan dokter kembali" ujar petugas lab itu mempersilahkan kami masuk ke ruangan.
Perasaanku mulai tak karuan. Getaran jantungku semakin kuat, dan terasa tak sanggup menerima kenyataan jika memang benar diriku hamil. Aku tarik nafasku dalam-dalam sebelum memasuki ruangan dokter.
"Ibu Bunga... Selamat ya... Benar bahwa ibu hamil... Jadi ibu tidak perlu khawatir bila sering pusing, karena itu gejala awal kehamilan....Selamat ya pak..." ucap dokter padaku dan juga deri dengan wajahnya yang gembira.
"Alhamdulillah.... Terima kasih ya dok... Saya senang sekali istri saya hamil lagi..." ucap Deri dengan begitu bersemangat.
Aku hanya diam tertegun menatap dinding.
Tak lama dari itu kami pun kembali ke rumah selepas dokter memberikanku beberapa vitamin yang harus aku minum.
Dalam perjalanan Deri tampak sangat bahagia. Seolah ia memperoleh kesempatan untuk tetap bersamaku.
"Bu.... Bunga hamil lagi bu...." ucap Deri sesaat selepas kami turun dari motor di halaman rumahku.
"Alhamdulillah....Dapet rejeki lagi..."
"Iya Alhamdulillah... Uwais sayang... Sebentar lagi kamu akan punya dedek bayi lagi..." ucap Deri pada Uwais yang tengah asyik bermain.
"Hore....Beneran ya um Uwais mau punya dedek lagi?" Ucap Uwais padaku.
__ADS_1
"Iya sayang...." sahutku datar.
"Bu tolong ajak Uwais maen dulu sama Umar..." pintaku pada ibuku. Segera ibu mengajak Uwais menjauh dariku.
"Jangan harap lantaran aku hamil aku mengurungkan niat menceraikan kamu...!!! Itu nggak akan terjadi... Hamil atau tidak, aku pastikan kita akan berpisah... Ngerti kamu!!!" ucapku denga nada tinggi.
"Jangan begitu nak... Ibu harap jika masih bisa diperbaiki, baiknya kalian jangan berpisah...." Ucap ibu yang tiba-tiba menghampiri kami dan mendengar percakapan kami.
Kami pun hanya terdiam. Baik aku ataupun Deri kehabisan kata. Meski begitu, dalam hatiku tetaplah kekeh dengan pendirianku.
Sesaat Deri menatap jam tangan yang ia kenakan di lengannya. Waktu menunjukkan bahwa pesawat yang akan ia tumpangi ke Jakarta sebentar lagi berangkat.
"Bunga dan Ibu... Maaf aku harus balik ke Jakarta secepatnya, karena besok aku harus kerja.... Bunga, aku mohon pikirkan baik-baik... Aku masih ingin kita hidup bersama anak-anak kita..." Kalimatnya menandakan dirinya akan segera pamit.
"Uwais.... Abi pulang dulu ke Jakarta ya..." seru Deri pada Uwais yang tengah bermain di halaman. Seketika ia mendekat ke arah kami.
"Abi... Kenapa abi nggak kerja di sini aja biar tinggal sama kita.....??Biar Uwais nggak kangen-kangen terus sama abi...." Rengeknya yang membuat hati kami teriris.
"Hmmm... Abi juga maunya gitu... Uwais bilang ya sama umi, biar kita bisa tinggal sama-sama lagi kayak dulu..." ujar Deri merayu.
Hemmm dasar, beraninya mempengaruhi anak kecil. Gumamku dengan wajah geram.
"Umi....Umi kenapa tega sih biarin abi ke Jakarta sendiri? Kenapa kita nggak pulang ke Jakarta aja barengan.... Ayo umi...Ayo kita balik ke Jakarta sama abi...." rengekan Uwais yang tentu membuat hati siapa saja iba.
Netra kami berkaca-kaca menyaksikan itu. Ibuku yang berharap kami tidak berpisah pun terisak di samping kami. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Semua keputusan ada di tanganku.
"Uwais sayang.... Umi kan udah pernah bilang... Kita harus bersabar menerima ujian dari Allah... Jadi Uwais jangan begitu lagi ya....Biarkan abi pergi, karena abi harus bekerja.... Laen waktu kalo Uwais pingin berjumpa dengan abi, Uwais bisa telepon abi suruh dateng....Ya sayang...." Rayuanku mencoba mengambil hatinya.
Spontan ia lari ke kamar dan terisak. Hingga akhirnya aku, ibuku dan Deri pun ikut terisak merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Aku merasakan bahwa dirinya mungkin lebih terpukul karena perpisahan ini dari pada sekedar rasa sakit hatiku atas perlakuan Deri.
"Sudah Deri... Sana kalo mau pergi... Biarkan Uwais nanti aku yang urus...." kalimatku mencoba menguatkan hatiku.
"Tolong Bunga, pikirkan lagi sebelum terlambat dan melukai hati Uwais... belum lagi atas kehamilan kamu ini...Pikirkan nantinya ketiga anak kita...." ucap Deri seraya meraih tangan ibuku untuk berpamit. Tak lupa ia memeluk dan menciumi Umar yang digendong oleh ibuku.
Gelagatnya ingin sekali memelukku sebagai tanda perpisahan. Namun aku tak menghiraukan. Seketika aku segera pergi menyusul Uwais ke dalam kamar.
__ADS_1