Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Sampai di Rumah Ibu


__ADS_3

"Maaf....Der...Maksudku aku mau kita pindah dari sini cari tempat yang lebih nyaman, yang agak luas sedikit...." Ujar Lani pada Deri yang hendak melangkah pergi.


"Iya aku tau, sebelumnya aku juga berniat bawa kamu pindah dari sini... Tapi bukan sekarang...." ucapnya sembari menarik kopernya.


"Eeehh tunggu.... Iya aku ngerti.... Ya udah, kalo gitu aku minta jatah uang belanja aja buat keperluan aku..." ujar Lani sembari menadahkan tangannya pada Deri.


"Lani...Aku belum bisa kasih uang ke kamu sekarang... Aku lagi butuh uang buat ongkos nyusul Bunga ke Lampung...."


"Tapi aku ini istri kamu, aku juga berhak atas nafkah....!" ucapnya dengan nada meninggi.


"Ini...Aku cuma bisa kasih segitu buat kamu..." ucap Deri sembari menyodorkan uang dari dalam dompetnya itu.


"Kog cuma segini? Apa cuma ini gaji kamu di kantor?"


"Terimalah Lani....Bunga juga biasanya aku kasih jatah segitu... Itu uang sisa gajiku yang udah aku bagi dua, separuh buat kirimin biaya kuliah adeku, separuhnya lagi masih kubagi dua lagi buat aku sama Bunga...."


"Hah???" ucap Lani melongo dengan perasaan terheran-heran.


Deri menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia melangkah pergi menuju rumah Ferdi.


Tak lama ia pun sampai di rumah Ferdi.


"Plak!!!" Pukulan itu mendarat ke pipi Deri dari tangan Ferdi setelah mendengar penuturannya.


"Dasar kurang waras!!! Gak tau lagi gua mau ngomong apa sama elo... Alangkah begoknya jadi orang elu ini Deri...Deri.... Sebrengsek-brengseknya gua ya, kagak tega gua nyelingkuhin bini gua, apalagi udah ada anak gini, lah elo...Udah tampang sok alim, eh malah ******* sama istri orang...!!"


"Taulah Fer...Gua juga bingung sama diri gua sendiri...." jawab Deri sembari memegang pipinya yang baru saja kena tamparan Ferdi.


"Denger ya Der...Gua yakin pipi elo yang gua tampar rasa sakitnya nggak sebanding yang Bunga rasain sekarang!!!"


"Iya gua ngerti...."

__ADS_1


"Entah apa yang ada dipikiran elo gua nggak habis pikir.... Bisa-bisanya elo kecantol sama Lani.... Memangnya elo sama Bunga nggak bahagia apa??? Kayaknya mertua elo udah baik bener, ini itu dibelikan semua... Kufur nikmat elo bener-bener....!!!" Ferdi terus menghujam cercaan pada Deri tiada henti.


"Gua bahagia sama Bunga... Bahkan sangat bahagia... Cuman... Gua terobsesi sama keperawanan..." sahut Deri dengan wajah sedikit malu.


"Apa??? Bener-bener ****** elo....****** segoblok-gobloknya....!! Perawan sama kagak apa bedanya??? Hah?? Elu pentingin keperawanan yang cuma dinikmati 5 menit doang, tapi elo kehilangan keluarga yang udah elo bangun??? Sinting!!!"


"Tau Fer... Gua khilaf..."


"Hmmm dah... Males gua, dah nggak tau lagi mau bilang apa sama elo...huft.... Susul Bunga sekarang!!!"


"Iya itu dia... Gua nggak bisa kalo sekarang... Gua dihukum bos gara-gara kemaren ijin dan terlambat.... Terus gua juga nggak ada ongkos, duit gua udah diminta Lani...."


"Hmmm... Gua khawatir Bunga keburu ngajuin gugatan..." Ujar Ferdi yang tampak wajahnya sedang berpikir keras.


"Oke...Oke...Weekand elo bisa kan ke Lampung? pake pesawat aja biar cepet...Pulang kerja elo langsung berangkat.... Soal ongkos biar gua yang tanggung..." ujar Ferdi mencoba memberikan solusi.


"Bisa juga sih... Mudah-mudahan tiga hari kedepan ini Bunga belum sempet ke Pengadilan Agama... Dan gue masih berharap bisa lanjut sama Bunga lagi..."


"Tapi inget ya.... Kalo Bunga bisa balik ke elo, jangan sampe elo berhubungan lagi sama Lani... Kalo sampe itu terjadi, mending udahan aja persahabatan kita.... Gua jijik tau punya sahabat tukang selingkuh..."


"Sana elo bawa koper elo ke kamar, elo nginep di sini sampe bosen boleh, asal jangan nginep lagi sama si *****....!"


"Huft...." Suara nafas panjang Deri. Ia tak dapat berkata banyak saat Ferdi marah-marah padanya, sebab dirinya sadar akan kesalahannya.


*****


Tengah malam yang larut, akhirnya aku sampailah pada rumah ibuku.


"Assalamu'alaikum..." ucapku sembari mengetuk pintu rumah. Beberapa kali aku mengetuk tak ada jawaban. Kemungkinan ibuku sedang larut dalam tidurnya.


Sesaat Umar menangis cukup kencang. Suaranya yang nyaring pun membuat ibuku terbangun dan segera membukakan pintu rumahnya itu.

__ADS_1


"Ya Allah Bunga??? Kog kamu dateng malem-malem gini....?? Deri mana???" Tanya ibuku yang melihat kanan kiri tak ada sosok Deri di samping kami.


Aku sambut tanganya dan kucium takzim. Tak sempat aku peluk, sebab aku masih mendekap Umar yang tengah menangis itu.


"Bu tolong Uwais tidur di mobil..." Hanya itu kalimatku sembari segera menidurkan Umar ke dalam kamarku.


Ibu segera membantuku membawa Uwais masuk ke dalam dan menidurkannya ke dalam kamar. Wajahnya tampak berfirasat bahwa aku dan Deri sedang terjadi sesuatu.


"Besok aja bu kita ngobrolnya... Sekarang aku mau istriahat dulu capek banget...." Kataku yang kemudian berbaring diantara Uwais dan Umar.


Seketika aku pun terlelap bersama luka dan emosiku yang mendalam. Lelahku melenyapkan sejenak amarahku yang sejak tadi memuncak. Ibuku menatap kami dari depan pintu kamarku. Netranya berkaca-kaca melihat kami bertiga yang terbaring penuh lesu.


Subuh hari ibuku membangunkanku untuk melaksanakan Sholat Subuh. Tubuhku yang masih lelah, aku kuatkan untuk melangkah meski dengan sempoyongan. Tak lama selepas itu, ibuku mulai mengintrogasiku.


"Aku mau ngajuin gugatan cerai buat Deri bu...." ucapku pada ibuku yang tengah menyiapkan sarapan.


"Astaghfirulloh.... Apa kamu yakin Bunga?? Apa sudah bulat keputusanmu mengambil langkah perceraian untuk kedua kali?? Apa sudah tidak ada jalan lain?? Apa kata orang nanti nak... kalo kamu kembali menjada???" Kalimat ibuku begitu terkejut.


"Deri selingkuh bu... Aku nggak bisa diperlakukan seperti ini.... Biarlah aku jadi single parent aja... Nggak peduli apa kata orang...." Ucapku yang tak tau lagi harus berkata apa dan berharap ibuku mau mengerti.


"Ya Allah....Kenapa Deri bisa begitu...." suara Ibu melemah, seolah tak percaya dengan keadaan yang telah terjadi.


"Hoek....Hoek..." Tiba-tiba aku merasakan perutku begitu mual. Keringat dingin pun mulai keluar dari sekujur tubuhku. Seketika kepalaku terasa berputar dan pandanganku berkunang-kunang.


"Bunga....Kamu kenapa??? Pasti kamu masuk angin... Kecapean pasti kamu... Sudah sana istirahat, biar Umar sama Uwais ibu yang urus.


Spontan aku lari ke kamar mandi. Rasa mualku semakin menjadi seolah isi perutku harus aku muntahkan semua saat itu.


"Hoek....Hoek..." Suara muntahku terus menerus terdengar hingga menimbulkan cemas antara aku dan ibuku.


Tak lama ia mengambilkan minyak kayu putih untuk ia balurkan di sekujur tubuhku. Lalu aku baringkan tubuhku di atas kasur untuk menghilangkan rasa pusingku.

__ADS_1


Sementara suara Uwais dan Umar terdengar telah terbangun. Aku biarkan mereka bersama ibuku. Selain karena aku lelah, mungkin ibuku pun rindu dengan cucunya yang sudah lama tak bertemu.


Tak lama mataku pun terpejam menahan mualnya perutku yang aku tak sempat berpikir apa penyebabnya.


__ADS_2