
Seminggu telah berlau usai lebaran dirumah. Aku bergegas untuk kembali ke Kota Bandung melanjutkan pekerjaanku seperti biasanya. Seharusnya sudah dari kemarin aku kembali ke sana. Namun ada salah satu temanku yang menukar jadwalku hingga aku bisa dapat libur sampai lebaran satu minggu.
Aku menaiki bis tujuan Kota Bandung yang kebetulan letak lokasinya hanya berjarak sekitar tiga rumah dari rumahku. Peluk hangat dari ibuku menghantarkan aku sebelum menaiki bis yang akan aku tumpangi itu. Hawa haru menyelimuti perpisahan kami sembari melaimbaikan tangannya padaku yang ada di dalam bis perlahan berjalan menjauhi lokasi itu.
Tak lama sampailah aku di pelabuhan penyebrangan kapal. Aku pun harus turun dari bis yang aku tumpangi ketika bis sudah masuk pada area deg kapal, sebab peraturan penumpang memang tidak boleh ada yang di dalam kendaraan semenjak pernah kejadian kebakaran kapal dan salah satu korban meninggal terbanyak adalah penumpang kapal yang berada dalam kendaraan yang terjebak.
Aku yang sedang menyandarkan diri di sisi pagar kapal yang aku tumpangi itu tiba-tiba terperangah saat melihat sosok Deri yang sedang sama-sama menyandarkan tubuhnya di depan pagar kapal yang jaraknya tak jauh dari aku. Kami yang saling tatap keheranan sebab tak habis pikir bisa berbarengan dalam satu kapal itu merasa canggung untuk saling menyapa.
Dalam hatiku bergumam, akhirnya kita bisa dalam perjalanan yang sama meski hanya sebatas diatas kapal, setidaknya merasakan mudik bersama seperti yang pernah ia janjikan. Deri yang tak menyangka bisa jadwal kepulangannya sama denganku hanya berbolak- balik menengokku yang seakan-akan ingin bertegur sapa namun masih ragu.
Aku yang tak banyak berharap pun segera membuang wajahku seperti biasanya. Sebab kini aku sudah terbiasa menganggapnya orang asing yang tidak pernah aku kenal. Netraku kembali fokus ke arah gelombang laut. Desiran angin yang mengibaskan rambutku hingga sedikit menutupi wajahku itu membuat aku harus berbolak-balik merapikannya kembali.
"Bunga" sapa Deri yang mendekatiku.
Sontak aku terkejut tak menyangka Deri akan menyapaku. Aku hanya diam sembari melempar senyuman padanya. Senyuman yang menyimpan penuh dengan kerinduan sejujurnya, namun tak bisa aku ungkapkan.
"Kamu, apa kabar? nggak nyangka kog kita bisa bareng satu kapal ya?" tanya dirinya sembari menghisap batang rokoknya.
"Iya, mungkin kebetulan aja" jawabku singkat, tanpa membalas pertanyaan kabar darinya.
Mataku pun segera kembali menatap birunya laut yang menandakan semakin menjauh dari daratan tempat kelahiranku yang kian mengecil dari pandangan mata dan semakin lama semakin menghilang.
"Kamu sendirian aja?" tanya Deri basa-basi yang terlihat bingung ingin mengobrol namun entah dimulai dari mana, ditambah lagi perasaannya yang malu padaku karena sudah lama tak bertegur sapa denganku, dan aku pun kali ini sangat cuek padanya.
"Kamu mau ngemil?" tawaran dirinya sembari menyodorkan sebungkus biskuit padaku.
"Enggak" jawabku singkat yang masih fokus pada gelombang laut.
Deri menghela nafas panjang, kemudian tak lama ia berlalu dariku sembari pamit beralasan ingin masuk ke dalam kabin karena ingin istirahat.
"Kamu nggak mau ikut?" tanya dia padaku seraya berharap aku mau ikut bersamanya.
__ADS_1
"Enggak, aku di sini aja" jawabku tanpa menoleh.
"Ya udah" ujar dia sambil berlalu.
Tak lama selepas turun dari kapal, aku pun melihat Deri yang sedang melajukan motornya itu dari atas bis yang aku tumpangi. Tentu ia tak melihatku yang sejak tadi memperhatikannya dari kaca jendela itu, lantaran ia berada dibawah bis yang aku tumpangi dan tak mungkin ia menengok ke atas untuk melihatku. Hingga kami pun terpisah di persimpangan jalan menuju pintu tol, sebab Deri tak bisa melewati jalur yang sama denganku.
Keesokan harinya setelah aku sampai dan kembali ke kontrakkanku, seperti biasa aku pun berangkat kerja mendapati shift pagi saat itu. Aku yang berjalan seperti biasanya melewati kontrakkan Deri yang di sana terlihat dirinya sedang mengeluarkan motornya hendak berangkat kerja juga. Aku tetap fokus melajukan langkahku tanpa menoleh ke arah dia, sebab aku sudah terbiasa dengan keadaanku semenjak Deri menjauhiku.
"Bunga!" Seru dirinya sembari menaiki motornya yang berusaha menghampiriku yang terus berjalan.
"Bareng yuk?" ajak dirinya padaku.
"Enggak ah, udah mau sampe kog aku, tuh udah deket, tanggung". Balasku tanpa menoleh dan terus berlalu.
Kemudian Deri pun berlalu dengan perasaan kecewa. Terlihat dirinya menyesal akibat lama mendiamkanku. Namun aku telah menganggapnya itu yang terbaik, dari pada aku harus berharap lebih padanya.
Tak lama setelah aku mengerjakan tugas-tugasku dintempat kerjaku gawaiku pun berbunyi.
[Bunga, aku minta maaf sama kamu, karena selama ini cuek sama kamu] isi pesan Deri rupanya padaku.
"Tok-tok" sore itu terdengar suara ketukan pintu kontrakkanku.
Aku yang baru saja terbangun dari tidurku selepas pulang bekerja tadi bergegas membukakan pintu sembari mengulet-nguletkan tubuhku yang masih lesu. Rambutku yang masih berantakan pun tak aku rapihkan sebab aku mengira hanya tetangga kontrakkanku yang mungkin butuh bantuan meminjam sesuatu padaku seperti biasanya.
"Bunga" sapa seseorang lelaki yang rupanya adalah Deri.
"Aaahhhg" desahku dengan mata melotot sembari kembali menutup pintuku karena terkejut dan berasa belum siap untuk bertemu Deri dengan kondisi yang masih berantakkan ini. Seketika kurapikan rambutku dan mencoba membuka pintu kembali.
"Oh, kamu, ngapain kemari? tumben?" tanyaku sedikit ketus.
"Nggak papa, pingin maen aja, udah lama banget aku nggak ke sini" sembari melepaskan senyuman padaku yang membuat seketika hatiku meleleh.
__ADS_1
Yah, lagi-lagi hatiku dibuat berdebar karenanya. Padahal sudah bersusah payah aku melupakannya semenjak ia menjauhiku, namun kini sepertinya runtuh kembali karena senyuman yang manis yang sejak lama aku rindukan itu.
"Ampun Bunga, pliss...., kamu udah janji nggak bakal jatuh cinta lagi...plis...sadar bunga!!!""" teriakku dalam hati.
"Nggak disuruh masuk nih aku?" tanya Deri padaku.
"Oohh, iya, sini masuk" ujarku sambil salah tingkah.
"Aku mandi dulu ya, barusan bangun tidur nih" tukasku karena ingin menghindari Deri sesaat dan terlihat Deri duduk di sudut ruangan kontrakkanku sambil menatap ke dapur mengamati peralatan dapurnya yang sudah lama tergeletak tak pernah di sentuh.
"Nggak usah mandi udah cantik kog" ujar dia merayuku yang lagi-lagi membuat hatiku meleleh, pipiku memerah, dan hatiku makin tak karuan.
"Halah, kamu ini, gombal digede-gedein" ujarku membalasnya sembari memilin bajuku agar tidak terlihat gugup.
"Kamu udah lama nggak masak?" tanya ia sebelum aku pergi ke kamar mandi.
"Ya kadang-kadang sih masih" jawabku singkat.
"Owh, kirain semenjak aku nggak pernah kesini kamu nggak pernah lagi masak" ujar dirinya sembari memperhatikan peralatan dapur yang mukai berdebu pertanda tak pernah dipakai.
"Oya, aku minta maaf ya, kalo selama ini aku menjauhi kamu, kamu marah ya sama aku?" tanya dirinya sembari mendekati an menatap wajahku.
"Emmmh, udahlah Der, aku nggak papa kog, lupain aja masalah itu, aku menyadari siapa aku. Mungkin dulu aku pun pernah berharap padamu, tapi aku pun tak bisa memungkiri apa statusku, dan tentunya sangat tak pantas buat kamu yang masih bujangan". Jelasku sembari menundukkan wajahku yang berkecil hati.
"Jadi, kamu sebetulnya juga menginginkanku?" tanya dirinya sembari mendongakkan wajahku dengan memegang daguku.
Aku yang tak bisa berkata apapun hanya diam memandangi wajahnya yang begitu membuat jantungku semakin berdetak kencang. Antara rasa bahagia, namun gundah sebab aku malu pada diriku sendiri yang telah berjanji untuk menepis Deri dari kehidupanku namun nyatanya aku tak bisa.
"Ayo jawab Bunga, kenapa kamu diem aja? kamu mau kan sama aku?" tanya ia lagi yang kini wajahnya semakin mendekat dengan wajahku.
"Aku nggak pantes buat kamu Deri!" seruku sembari berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Kuguyur tubuhku dari atas kepala tanpa melepas pakaianku untuk segera menghentikkan harapku pada Deri. Sungguh....sunguh waktu itu ingin rasanya aku menyatakkan padanya bahwa aku mencintainya, dan ingin menjalin cinta dengannya. Namun perasaanku berkecambuk dalam diri. Hatiku terasa berperang melawan diriku sendiri untuk segera menepisnya.
"Tolong aku...pliss..." bisikku lirih dalam kamar mandi yang semakin membuat aku kedinginan.