Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Kabar Kak Arif


__ADS_3

Hari ini aku kembali berangkat kajiyan setelah lama aku meliburkan diri karena persalinaku kemarin. Tak lupa Uwais aku gendong turut serta menemaniku pergi ke kajiyan. Aku sengaja membawanya bersamaku, sebab di pengajian itu juga beberapa teman membawa anak-anaknya, dari mulai bayi sampai balita, meski terkadang suara tangisnya cukup mengganggu saat kajiyan berlangsung, namun kami saling memaklumi.


Tampak Rianti sudah menunggu di sana bersama beberapa teman yang lain. Malu sekali rasanya aku bertemu dengannya, namun aku berpikikr dia adalah orang baik, jadi tak mungkin hatinya berpikir buruk tentang aku.


"Assalamu'alaikum?" sapaku pada Rianti dan teman-teman yang lain.


"Walaikumsalam"


"Alhamdulillah.... anti udah lahiran to? kog nggak kabar-kabar?" celetuk salah satu temanku yang duduk di samping Rianti.


"Iya, sudah 2 minggu yang lalu" sahutku sedikit malu.


"MasyaAllah imutnya bayinya, siapa namanya nak?" sapa salah satu temanku yang lain dengan ramah.


"Uwais tante.... Uwais Al-qarni" jawabku tersenyum.


"MasyaAllah.... nama yang indah".


Tak lama setelah bercakap-cakap dengan teman-temanku, kajiyan pun dimulai. Hari ini tampak teman-temanku begitu ramah, disamping mungkin karena merindukanku yang lama tak berjumpa, dan kini aku datang membawa bayiku yang mungil dan menggemaskan ini. Hampir semua temanku ingin menimangnya dan sekedar membelai pipinya yang menggemaskan. Hatiku bertambah bersyukur atas kehadiran Uwais dalam hidupku. Meski dengan penuh kepedihan, namun kehadirannya sungguh mampu meluruhkan luka batinku kala menatap wajahnya.


Dua jam pun berlalu dan kajiyan kali ini pun selesai. Beberapa teman-temanku pun berkumpul memberi ucapan selamat padaku, dan beberapa ada yang memberiku amplop berisi uang layaknya orang kondangan. Sungguh solidatitas mereka membuatku terharu. Meski di pengajian ini aku terbilang baru, mereka sangat antusias merangkulku, dan memang tak ada yang tau mengenai kisahku, terkecuali Rianti. Tak ada juga teman yang mengorek masalah keadaanku, sebab mereka bukanlah tipe orang-orang seperti tetangga kontrakan yang biasa aku temui. Komitmen kami adalah saling menjaga aib bila sudah terlanjur mengetahui, dan berusaha tidak saling mengoreknya bila memang belum mengetahui.


"Bunga pulang dengan siapa?" sapa Rianti padaku, tak aku sangka sikapnya pun masih sangat ramah seperti dulu aku mengenalnya.

__ADS_1


"Aku sendiri aja, tadi kesini naek angkot" jawabku sembari menimang Uwais.


"Owh...jadi Anti sekarang tinggal dimana?"


"Di komplek perumahan Puri Indah, ngontrak di sana, kapan-kapan maen ke rumahku ya?" jawabku padanya.


"Oh iya,emmm,... Maaf, tapi anti tidak tinggal bersama.....?"


"Deri maksudnya?" sahutku sebelum ia meneruskan kalimatnya.


"Iya maafkan ana, cuma ingin mengingatkan untuk jangan terlalu bebas dengan lelaki bukan mahram" kalimatnya menasehatiku.


"Iya Rianti, aku paham itu, Deri memang yang memberiku kontrakan rumah itu, tapi sekarang dia udah pulang kembali ke Lampung" jawabku menjelaskan.


"Iya Rianti... mungkin karena kehadiran Deri juga yang membuat Kak Arif kecewa padaku" kalimatku lesu.


"Qadarulloh, semua memang sudah di atur sama Allah...mungkin akan ada kisah lagi setelah ini yang kita tidak tau" balas Rianti.


"Oh iya, bagaimana dengan kabar Kak Arif? tadi aku sempat lewat depan rukonya, tapi tak tampak ada dirinya di sana, aku pun mau mampir sungkan" tanyaku yang penasaran dengan Kak Arif yang lama tak berjumpa itu.


"Dia sekarang sedang di kalimantan bersama kedua orang tuanya, kabarnya sih menghadiri sodaranya menikah, tapi agak lama di sana karena mau buka cabang baru di Kalimantan kerja sama dengan sodaranya yang di sana" ujar Rianti menjelaskan.


"Ohh... begitu.." sahutku tertunduk yang ingin tau lebih banyak tetntang Kak Arif namun sungkan.

__ADS_1


"Apakah anti masih ingin melanjutkan ta'aruf dengan Kak Arif? nanti biar aku coba bantu, siapa tau Kak Arif masih bersedia dengan Anti, bukankah anti belum pernah menolak lamarannya?" tanya Rianti yang seketika mengadahkan daguku menatap wajahnya sedikit terkejut.


"Ehmm... tapi Rianti.... aku tak sampai hati... aku malu sekali pada Kak Arif..." sahutku tak yakin.


"Mungkin kemarin Kak Arif hanya kecewa dengan kehadiran Deri, lantas dia mencoba menghindar, karena anti sendiri juga belum menjawab lamaran Kak Arif tempo hari".


"Ini semua memang salahku Rianti.... aku yang terlalu lama bimbang.... sebab semua seperti terlalu cepat bagiku, belum lama Deri datang melukai aku hingga dia pergi meninggalkan aku, seketika aku harus berusaha meyakinkan hatiku agar aku bisa kembali yakin dengan laki-laki, hanya saja Kak Arif datang terlalu dini, di saat mungkin hatiku belum siap dan sama sekali belum memikirkan pernikahan, aku terlampau fokus dengan kehamilanku, terlebih tiba-tiba datang Deri mengusik kehidupanku kembali membuat hatiku semakin galau Rianti.... sungguh aku tak sanggup...." ujarku mengungkapkan apa yang aku rasakan sembari terisak lirih.


"Sudahlah Bunga, jangan bersedih, ana tau apa yang anti rasakan, pastikan bahwa semua ini sudah taqdir dari Allah... semua akan ada hikmahnya, biarkan waktu yang menjawab, tunggu Kak Arif pulang dari Kalimantan, bila memang kalian berjodoh, ana yakin pasti bisa bersatu..." ujarnya menenangkan aku.


Seketika aku hapus air mataku yang mengalir di pipiku. Tak lama aku pulang kembali ke rumah kontrakanku diantar oleh Rianti berboncengan dengan motornya. Dia sekalian ingin tau dimana aku tinggal, agar sewaktu-waktu bisa datang membantuku saat aku perlu sesuatu.


Beberapa hari setelah itu, aku mendapat pesan dari Rianti yang isinya mengabarkan kabar tentang Kak Arif. Seketika aku buka gawaiku dan aku baca isi pesannya.


[Assalamu'alaikum, Bunga, ana mau kasih kabar tentang Kak Arif, rupanya di Kalimantan dia sudah menikah sehari yang lalu, baru saja dia menghubungiku untuk memberi kabar itu, keluarganya di sana yang telah menjodohkan Kak Arif dengan istrinya sekarang, qadarulloh dia tak berjodoh dengan anti.... kita doakan saja semoga ini yang terbaik untuk Kak Arif, juga anti setelah ini akan mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi tentunya, Wasallamu'alaikum]. Isi chat dari Rianti yang seketika menggetarkan sekujur tubuhku.


Aku tutup mulutku menahan isak tangisku haru. Pupus sudah untuk aku melanjutkan hubunganku dengannya, namun di satu sisi ada rasa bahagia muncul dalam benakku. Seorang Kak Arif yang sungguh baik hati bagiku, kini telah mendapatkan tambatan hatinya yang sepadan dengannya tentunya. Dengan tanganku yang masih bergetar, aku balas chat Rianti.


[ Walaikumsalam Rianti, Alhamdulillah, aku senang mendapatkan kabar darimu tentang Kak Arif, semoga Kak Arif bahagia dengan istrinya saat ini, tak mengapa bila aku tak berjodoh dengannya, asal kini dia telah menemukan jodoh yang lebih pantas untuknya, aku sudah sangat bahagia, Wassalamu'alaikum]. Balasku yang seketika pun bermaksud mengirimkan pesan ucapan untuk Kak Arif. Tanpa ragu aku pun mulai mengetik pesan untukknya.


[Assalamu'alaikum... Kak Arif selamat ya atas pernikahannya, semoga kelak menjadi keluarga yang Sakinah Mawadah dan Warrahmah.... Aamiin...] isi pesanku tak panjang lebar.


[Walaikumsalam... Aamiin... terimakasih Bunga atas doanya, semoga kelak kamu juga akan dipertemukan dengan jodoh yang baik] balasan pesan dari Kak Arif tak lama kemudian.

__ADS_1


[Aamiin....] jawabku singkat yang seketika membuat hatiku lega dan kembali menimang Uwais dan menyusuinya.


__ADS_2