
Pagi ini seperti biasa aku berberes rumahku. Tak seperti biasanya Deri membuatkan sarapan untukku, kali ini bahkan dirinya belum keluar kamar sejak tadi. Aku pun mulai sedikit cemas dan curiga. Kucoba mengintip lewat pintu kamarnya yang aku buka sedikit itu.
Tampak Deri tengah tertidur namun terdengar seperti suara mengigau. Segera aku coba mendekati dirinya perlahan.
"Deri.... kamu nggak kerja hari ini?" kalimatku berbisik pelan mencoba membangunkannya.
Namun beberapa detik aku berdiri di sampingnya tak ada respon sedikitpun darinya.
"Bunga sayang....maafkan aku.... Bunga sayang.... aku kangen sama kamu...." kalimatnya berceloteh sembari matanya terpejam seperti mengigau.
Aku yang semakin penasaran mencoba mendekat pada tubuhnya. Perlahan aku sentuh bagian dahinya. Spontan aku pun terkejut dengan suhu tubuhnya yang begitu panas. Aku raba beberapa bagian seperti leher dan pipinya pun sama panasnya. Rasa panik berkecambuk saat itu, bingung apa yang harus aku lakukan. Ingin rasanya aku bawa ia ke dokter, namun aku tak kuat membopong tubuhnya yang berat.
Kutatap wajahnya yang mulai mengucurkan keringat dan terus mengigau. Seketika aku bergegas menuju kamar untuk menggendong Uwais. Dan aku pun segera meluncur ke apotik untuk membeli beberapa obat dan infus set.
Uwais terdiam dalam gendonganku yang kubawa menaiki motor milik Deri melaju kencang dan gugup sebab khawatir akan keadaan Deri di rumah.
Sesampainya di rumah, segera aku pasangkan infus pada Deri. Aku atur sedemikian rupa untuk mengatasi agar ia tak dehidrasi. Seketika aku tepuk pipinya dengan lembut mencoba membangunkannya.
Tampak matanya mulai sedikit terbuka. Lalu ku coba menawarkan minum padanya. Aku bantu ia pada posisi setengah duduk agar mudah untuk meneguk air. Setelah dirasa sedikit baikkan, lalu aku sodorkan beberapa obat yang telah aku beli dari apotik tadi.
"Kamu minum obat dulu ya?" kalimatku sembari menyodorkan beberapa obat dan air putih dalam gelas.
Deri mengangguk tanda setuju dan segera meminum obat itu dengan aku bantu. Tampak ia mengamati keadaan dirinya yang sudah tepasang infus dan sedikit keheranan.
"Ini kamu yang pasang?" tanya dirinya dengan nada melemah.
"Iya, soalnya panas kamu tinggi banget..." jawabku sembari menyiapkan kompres untuknya.
"Apa kamu cemas sama keadaanku?" tanya dirinya sembari tersenyum padaku.
"Sapa bilang cemas... ?" sahutku ketus.
"Trus kalo nggak, kenapa kamu rawat aku begini?" kalimatnya terkesan meledek meski masih dengan nada lemahnya.
"Kalo kamu sakit kan nanti kamu nggak bisa kerja kan? makanya aku rawat, huft.... jangan GeEr ya..." jawabku sembari memasangkan handuk kompres pada dahinya lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuknya.
Deri tersenyum menatapku yang salah tingkah. Dia tau kecemasanku terhadap dirinya. Hanya saja aku enggan mengakuinya.
Beberapa menit kemudian aku membawakan makan untuknya. Tampak ia menyambutku dengan senyumnya meski dalam keadaan lemah.
"Kamu makan dulu nih...?" sembari menyodorkan sepiring makan padanya.
"Tanganku kan diinfus yang sebelah kanan, trus aku gimana makannya ya? kalo pake tangan kiri kan susah.... kamu bisa bantu aku?" ujarnya menatapku penuh harap.
"Huft.... ya udah sini aku suapin!" sahutku sembari berpura-pura ketus. Padahal memang naluriku ingin sekali menyuapinya makanan.
__ADS_1
Sesuap demi suapan ia makan masakkanku meski dengan lambat. Sebab mulutnya belum begitu merasakan nikmatnya makanan seperti biasanya.
"Kog aku jadi pingin sakit terus ya.... hmmm?" ujar dirinya tersenyum.
"Emangnya enak jadi orang sakit?"
"Enggak sih... tapi aku seneng karena jadi dirawat sama kamu...." jawabnya tersenyum merekah menatap wajahku yang semakin salah tingkah.
"Huft.... dasar...!" sahutku yang kemudian pergi meniggalkan dirinya yang telah habis melahap makannya itu.
"Bunga.... Sayang......!!!" seru Deri dari dalam kamarnya.
Bergegas aku mendatanginya meski dengan perasaan yang masih jengkel.
"Ada apa lagi panggil-panggil aku?" tanyaku ketus.
"Aku minta tolong teleponin bossku, hari ini aku nggak bisa masuk, tolong ijinin sama beliau ya?" kalimat suruhannya sembari menyodorkan ponselnya yang sudah ia siapkan contac nomor bossnya itu.
Seketika aku tekan nomornya dan menelepon bossnya seperti dengan perintah Deri. Setelah selesai dan aku hendak kembali ke dapur, ia pun meraih tanganku seketika.
"Bunga.... badanku gerah.... tolong dilap dong......" bisik dirinya padaku.
"Ih.... manja banget sih.... nggak mau ah, malu aku liat badan kamu....!" ketusku sembari mencoba menarik tanganku dari genggamannya yang erat. Namun ia tak sedikit pun coba melepaskan tanganku.
Aku yang tak sampai hati akhirnya aku mengiyakan agar tanganku pun segera ia lepaskan.
"Baik, tapi cepetan lepasin tanganku, aku mau ke dapur ambil air anget!" ketusku.
Seketika ia melepaskan tanganku dan tersenyum semringah. Aku pun melangkah keluar kamarnya sembari menggerutu tak henti-hentinya.
Beberapa menit kemudian aku bawakan ia air hangat untuk membersihkan tubuhnya seperti perintahnya itu.
"Nih airnya udah siap...." ujarku seraya menyodorkan sebuah baskom berisi air hangat di samping tempat tidurnya.
"Ya udah.... Yuk mulai...." ajaknya untuk segera mengelap tubuhnya.
"Ya gimana aku mau ngelap badan kamu kalo masih pake baju gitu?" tanyaku tertunduk malu.
"Ya kamu bukain dong.... Kan aku nggak bisa buka sendiri, kamu liat sendiri tanganku kamu pasang infus...."
"Huft....." aku menghela nafas pangjang. Akhirnya perlahan aku melucuti pakaian yang melekat pada tubuhnya satu per satu sembari merem melek mataku karena malu melihat tubunya.
Ia pun tampak mesam mesem melihat tingkahku.
"Kog ini belum dilepas juga?" tanya dirinya sembari menunjuk pada celana dalamnya.
__ADS_1
"Hahhhh...." Seruku yang semakin membuatku salah tingkah dan sangat malu.
"Emangnya harus semua?" tanyaku ketus.
"He em.... nanti nggak bersih dong kalo nggak dilepas semua...."
"Ihh....!" seruku yang akhirnya mau tak mau mulai membuja celana dalamnya. Tampaklah sekarang tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
Perlahan aku mulai mengelap tubuhnya menggunakan handuk yang kubasahi dengan air hangat tadi. Sampai tiba pada bagian tubuhnya yang paling sensitif dan terlihat menegang, aku pejamkan mataku tak sedikitpun berani melihatnya, meski tanganku merasakan pergesekan pada kulit bagian itu.
"Diem kamu....! senyam senyum terus!" ujarku semakin kesal padanya.
"Kog gitu sih sayang.... Yang ikhlas dong ngelayani suaminya yang lagi sakit....Biar dapet pahala loh...." ucap dirinya lembut dan merayu.
Bibirku pun semakin cemberut padanya. Ada perasaan sangat ikhlas di sana, namun juga rasa malu yang bertubi-tubi terhadapnya.
Setelah selesai aku bersihkan tubuhnya, lalu kupakaikan baju padanya. Kini Deri pun tampak semringah. Segera aku tinggalkan ia di dalam kamarnya seorang diri.
Waktu menunjukkan sudah siang hari. Setelah aku menidurkan Uwais ke dalam kamar, kini aku pun kembali ke kamar Deri untuk melihat keadaannya sekaligus membawakan makan siang untuknya.
Lagi-lagi ia tersenyum bahagia menyambut kehadiranku.
"Kenapa nggak tidur?" tanyaku sembari menaruh sepiring nasi di sampingnya.
"Udah tadi sebentar kog..." jawabnya.
Segera aku posisikan Deri setengah duduk agar mudah untuk makan. Namun tak disangka kakiku tersandung karpet yang menggulung di bawah ranjang milik Deri itu. Seketika tubuhku pun terpental mendindih tubuh deri dengan posisi bibirku tepat menempel pada bibirnya.
Mata kami saling bertatapan dengan jarak pandang yang begitu dekat. Dan jantungku berdetak sangat kencang atas kejadian ini.
Segera aku mencoba mengangkat tubuhku dari tubunnya, namun tak disangka tangannya menahanku agar kami tetap berpelukkan dan semakin erat.
Bibirnya yang menempel pada bibirku, membuat aku tak bisa berkutik dan tak berani berbicara apapun. Yang ada saat itu hanya perasaan gugup, bahkan sangat gugup. Terlebih ia mencoba ******* bibirku dengan lembut.
Seketika aku coba membuka mulutku hendak berteriak, namun justru ia gunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.
"Hhhhehh" Desahku yang hampir kehabisan nafas namun semakin membuat dirinya terus ******* bibirku membabi buta.
Aku pun membrontak dengan keras, akhirnya aku pukuli punggungnya dengan tanganku bertubi-tubi.
Tubuhnya yang lemah karena sakit sepertinya tak mampu menahan kerasnya pukulanku itu. Hingga akhirnya ia melepaskanku.
"Udah sakit masih aja nyuri kesempatan..... Dasar kamu....!!! Beraninya melanggar perjanjian!!" ketusku yang segera berlalu darinya dan menahan amarah yang memuncak.
Deri hanya terdiam melihatku pergi dan tersenyum santai.
__ADS_1