Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Terungkap oleh Deri


__ADS_3

"Bunga...!!" seru Deri yang terus mengikuti langkahku.


Aku pun yang sudah tak sanggup lagi melangkah karena lemas akhirnya pun pasrah tiba di halaman depan rumah sakit. Tampak seorang Ferdi pun ikut membuntuti kami, namun dia urungkan untuk memberikan kesempatan pada aku dan Deri bicara berdua.


"Bunga.... aku udah tau semua sekarang, apa untungnya kamu menghindari aku terus??" tanya Deri menatap wajah Bunga yang tertunduk lesu.


"Sekarang katakan, beneran kan anak yang ada dalam kandungan kamu itu adalah anak aku??"


Bunga hanya terdiam kehabisan kata.


"Ayo jawab Bunga? kenapa kamu diam aja?" tanya Deri lagi yang hendak memegang pundakku lalu diurungkan.


"Aku nggak bisa jawab!" balasku mencoba menghindar.


"Coba jelasin kenapa bisa kamu tulis nama aku di buku periksa kamu sebagai nama suami? lantas kalo Si Arif itu suami kamu, mana dia sekarang? kenapa nggak nganterin kamu buat periksa? kamu bohong kan soal pernikahan kamu?"


"Iya, emang aku boong, lalu apa urusan kamu?? bukanya kita udah lama putus? bukanya sekarang kita udah nggak ada hubungan apa-apa?"


"Ya ada hubungannya lah, aku emang salah waktu itu, maafin aku Bunga.... nggak seharusnya dulu aku ninggalin kamu gitu aja tanpa tau kabar kamu...."


"Aku udah maafin kamu... jauh sebelum kita ketemu, jadi tolong jangan ganggu aku lagi, hidup aku udah cukup tenang tanpa kamu!"


"Tapi aku perlu tanggung jawab atas perbuatan aku sama kamu... aku mohon kasih aku kesempatan..."


"Kesempatan apa Deri?? kesempatan buat menyakiti aku lagi!!" jawabku ketus mencoba menahan sabar sambil menghela nafas panjang.


"Nggak Bunga, aku janji nggak akan nyakiti kamu lagi... tolong percaya aku".


"Aku percaya kamu kalo kamu udah nggak ganggu aku lagi, ngerti???"


"Bunga pliss...."


"Mau kamu apa?? hah?!" tanyaku yang mulai kesal.

__ADS_1


"Aku pingin nikahin kamu Bunga, seperti janjiku dulu... sekarang aku bakal nepati janji aku, aku mohon percaya aku..." ujar dirinya sangat memohon padaku.


"Ucapan kamu manis, semanis dulu saat kamu tipu aku... dan aku nggak akan jatuh pada hal yang salah untuk kedua kali".


Seketika Deri bersujud di hadapanku, memohon belas kasihan.


"Aku bakal lakuin apa aja Bunga, supaya aku dapet kesempatan buat tanggung jawab sama kamu, tolong jangan siksa aku atas dosaku.."


"Berdiri kamu!! jangan sembah aku, aku bukan Tuhan kamu, kalo mau minta ampun sama Allah sana!" ujarku ketus namun hampir luluh.


Kini air mataku tak terbendung lagi, aku mengingat kembali atas perlakuan buruk Deri padaku dulu. Aku mengenang segala perjalanan hidupku yang teramat terlunta-lunta dengan keadaanku dulu selepas ia putuskan dan dihinakan.


"Sembilan bulan Der...Sembilan bulan aku mengandung anak ini seorang diri... ke sana kemari perih menahan sakit karena aib... hidup terlunta-lunta tanpa ada yang peduli... hampir aku tak bisa makan dan menghidupi anak ini, tapi aku usaha sekuat tenagaku sampai Kak Arif dan salah satu temanku datang membantuku memberikan aku pekerjaan, hingga aku bisa bertahan sampe saat ini... lantas dengan gampang kamu datang katakan ingin nikah sama aku?? kemana aja kamu kemaren-kemaren?" tutur Bunga sembari sesekali menyeka air matanya yang mengalir deras.


"Maaf Bunga.... maaf... aku nggak tau kalo kamu hamil, andai aku tau sejak dulu, pasti aku udah cari kamu dari dulu"


"Laki-laki yang baik, nggak akan semudah itu meninggalkan wanita yang udah pernah dia tiduri!! apa kamu nggak inget bahkan kamu menghina aku waktu terakhir kita bicara!! aku wanita gampangan kan katamu, aku wanita rendahan!!! lalu ngapain sekarang kamu ajak aku menikah?? heh??" tanyaku dengan tangis tanpa henti.


"Cukup Bunga...cukup... iya aku khilaf, aku egois, mungkin ini bisa jadi pembelajaran buat aku, ini tamparan buat aku yang nggak seharusnya merendahkan perempuan".


"Karena apa?? apa karena kamu lebih milih sama Arif?"


"Apa kamu bilang?? jangan kamu sebut-sebut nama dia!! dia lelaki baik yang pernah aku temui!"


"Baik... baik.... aku mengerti, mungkin dia yang terbaik bagi kamu, dia juga lebih mapan dibanding aku, kalo itu pilihan kamu, aku akan coba mengerti, yang penting kamu bahagia, tapi aku mohon, jangan pisahkan aku sama anakku... kasih kesempatan buat aku kalo mau ketemu dan memberi dia nafkah semampuku" tutur Deri yang entah mengapa matanya berkaca-kaca lalu menangis layaknya aku.


Hingga kini aku dan Deri sama-sama menangis terisak begitu sedih.


"Kamu nggak perlu nafkahin dia ataupun menganggap dia anak kamu, yang jelas dia adalah nasab aku, bukan kamu, karena dia akan lahir di luar pernikahan" ujarku sembari mengelus perutku.


"Iya aku paham, tapi bagaimana pun naluriku sebagai ayah biologis aku ingin tetap bertanggung jawab padanya, tolong kasih aku kesempatan buat ikut menyayangi dia, selebihnya aku nggak akan ganggu kamu lagi dan kamu bakal lebih tenang, aku janji akan bebasin kamu nikah sama siapa aja..." ujar dia lagi memohon.


"Baik, kalo gitu sekarang kamu tinggalin aku sendiri, nanti kalo anakku udah lahir aku kabari kamu" ujarku sembari menyeka air mataku dan mencoba memberhentikan isakku.

__ADS_1


"Tapi aku harus nganter kamu pulang sampe rumah, aku harus pastiin kamu baik-baik aja, karena anak itu juga anak aku, jadi aku berhak menjaga, ayok kita sekarang ambil vitamin resep dokter tadi, sekalian aku yang akan tanggung biaya periksa hamil kamu mulai sekarang." ujar Deri sembari mengajakku kembali ke dalam rumah sakit menuju kasir.


Aku hanya mengangguk pasrah karena sudah lelah berdebat. Perutku pun sedari tadi berkontraksi, pertanda harus segera istirahat.


"Huft... huhh...huhh... " desahku menarik nafas panjang sembari mengelus perutku yang tengah berkontraksi palsu itu.


"Bunga, kamu kenapa? kamu pasti kecapean? yuk sini kita duduk dulu, pelan-pelan ya..." ajak Deri dengan lembut dan penuh perhatian padaku terlihat mengkhawatirkanku menuju kursi penunggu pasien.


"Ya Allah... lindungi hambamu ini agar tak tergiur dengan lelaki ini lagi ya Allah...." gumamku dalam hati berkecambuk.


"Aku mau pulang sekarang" ucapku pada Deri selepas menerima obat dan membayar tagihan rumah sakit.


"Oke, kamu tunggu sini bentar, aku jemput Ferdi dulu, biar kita antar kamu sampe rumah kamu"


"Aku bisa pulang sendiri, aku pesen ojek online aja" ujarku sembari mencoba berdiri dan bergegas melangkah pergi.


"Jangan Bunga... perut kamu udah gede banget, dokter sendiri bilang kamu harus kurangi aktivitas, kamu sayang kan sama bayi kita, biar aku antar kamu sama Ferdi pake mobil ya?" ujar Deri merayu.


"Anak aku, bukan anak kita, jangan kamu sebut-sebut lagi kayak gitu, aku nggak suka, karena kamu nggak pernah ada buat dia! paham kamu??" ujarku ketus.


"Iya maaf... iya aku ngerti,... oya itu Ferdi ke sini kebetulan, yuk kita pulang?"


"Fer, yok... balik? udahan kan elo?" tanya Deri pada Ferdi yang tiba-tiba muncul mendekati aku dan Deri.


"Iya udahan, nih dah beres ambil obatnya juga" balas dirinya sembari memamerkan sebuah kantong berisi obat miliknya.


"Kita anter Bunga ya?" ujar Deri pada Ferdi.


"Oke.... yuk, tunggu di depan ya, gua ambil mobil dulu di parkiran".


Akhirnya kami pergi bersama untuk mengantarku pulang ke ruko. Aku duduk di jok tengah, sementara Deri dan Ferdi duduk di depan. Sesekali Deri menengok ke belakang untuk memastikan aku baik-baik saja.


"Kamu tinggal dimana Bunga?" tanya Deri padaku.

__ADS_1


"Di Ruko tempat aku kerja yang tadi pagi kamu ke situ" sahutku.


"Oh... baiklah, Yok Fer, ke counter pertigaan deket rumah elo" ujar Deri memberitahu Ferdi.


__ADS_2